Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Part 159 MCS


__ADS_3

"Mami. Dewa mau bobo sama mami.." ucap bocah laki laki yang tiba tiba masuk ke kamar mami nya..


"Sini, sayang.."


Dewa lalu menghampiri mami nya. Luna tersenyum dan langsung mengangkat bocah itu dan menggendongnya naik ke atas tempat tidur nya yang berukuran king..


"Bagaimana hari ini di sekolah ??" tanya luna seraya memiringkan tubuhnya agar bisa dengan mudah menatap putranya yang berumur 4 tahun lebih itu..


"Mami, dewa mau punya papi.."


Deg!!


Jantung luna berdetak kencang mendengar ucapan sang anak. Entah apa yang terjadi hari ini pada putra nya, tapi dewa tiba tiba bicara seperti itu..


"Dewa kan sudah punya mami, memang nya dewa nggak suka kalau cuma ada mami bersama dewa di sini ??" tanya luna seraya mengusap kepala putranya..


"Suka mi. Tapi dewa mau punya papi. Teman teman dewa yang ada di sekolah semua nya punya papi. Hanya dewa yang tidak punya papi."


Luna memejamkan matanya merasa ikut bersedih mendengar cerita putra kecil nya..


"Kan mami sudah kasih tahu dewa. Papi saat ini sedang bekerja di luar negeri. Nanti kalau papi sudah banyak uang pasti papi akan datang pada kita, dan kita akan menjadi keluarga yang utuh seperti yang dewa inginkan.."


Dewa lalu menadahkan tangan mungil nya ke atas seraya berdoa.. "Ya Tuhan. Dewa nggak mau punya uang banyak. Dewa cuma mau papi datang menemui dewa dan mami di sini. Dewa mau punya papi, ya Tuhan. Dewa mau seperti teman teman dewa yang lain yang selalu di antarkan papi nya setiap hari. Dewa mohon, kabulkan permintaan dewa ini, Tuhan.."


Luna meneteskan air mata nya tapi sebelum dewa melihat nya menangis buru buru luna menyeka air mata nya itu. Luna pun mengecup pucuk kepala putra nya berkali kali..


"Ayo sekarang dewa bobo dulu ya.." kata luna seraya menaikkan selimut sampai batas dada putra nya lalu mulai mengusap usap kepala dewa untuk membuatnya rileks agar lebih cepat dewa memejamkan kedua mata nya..


**


Pov Dinda..


Aku tidak tahu sebenarnya status ku sekarang ini seperti apa. Aku bersuami tapi seperti tidak bersuami.


Aku memilih untuk meninggalkan nya tanpa kejelasan status di antara kami berdua. Aku meninggalkan nya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutku. Aku meninggalkan nya tanpa memberikan kenangan apapun pada pria itu.


Aku tidak membenci nya. Sama sekali tidak membenci suami ku sedikit pun. Justru aku membenci diri ku sendiri yang tidak bisa membuat suami ku kembali melihat ke arah ku. Aku membiarkan nya larut dalam trauma.


Aku ingin memeluk nya, sekali saja. Tapi dia tidak membiarkan aku melakukan itu. Aku lelah, Aku menyerah. Aku tidak mampu lagi memberikan ketenangan saat suami ku sedang kalut.


Aku memilih pergi. Aku tidak ingin menyusahkan nya lagi, dan lagi pula kami sudah tidak lagi bicara setelah kepergian mertua ku.

__ADS_1


Miris bukan ? Kami seperti orang asing yang tinggal di satu atap yang sama. Dia dengan kesibukan nya dan aku dengan duniaku. Setiap hari aku menahan air mata, aku sedang hamil tapi aku tidak punya siapapun untuk ku bersandar.


Orang tua ku ? Ah, sudahlah. Aku malu selalu mengadu pada mereka mengenai permasalahan rumah tangga kami. Kali ini aku menyimpan semua luka itu sendiri dan membawa luka itu pergi sejauh mungkin.


Ya, yang kurasakan luka. Tapi yang ku tunjukkan pada dunia adalah tawa. Nyatanya begitulah aku, aku ingin orang melihat ku pergi dengan tawa bukan air mata. Aku ingin terlihat baik baik saja di depan mereka. Aku ingin mereka tidak menyalahkan suami ku atas kepergian ku ini.


Sungguh, hati ini masih untuk lelaki itu. Tidak ada ruang kosong untuk nama yang lain selain nama nya. Bahkan aku menyematkan nama pria itu di nama putra kami. Dewantara Putra Bima. Ya, Dewa adalah putra bima, anak suami ku, anak laki laki yang di harapkan nya untuk menjadi penerus dan pewaris tahta keluarga Havidi.


Tapi itu semua sudah berlalu, aku sudah menjalani hidupku selama 5 tahun tanpa satu orang pun tahu siapa aku sebenarnya.


Apa aku merindukan nya ? Ya, tentu saja aku sangat merindu nya. Merindu pria yang tidak pernah hilang dari ingatan ku. Pria yang selalu ku sebut dalam doa ku di setiap malam. Pria yang tidak bisa ku gantikan dengan pria yang lain meskipun aku tahu ada seseorang yang jauh lebih baik dari diri nya.


Tapi kali ini hati ku terluka lagi, terluka karena ucapan putra kecil ku. Dewa ingin bertemu dengan papi nya tapi aku tidak bisa mengabulkan itu.


Aku bahkan tidak tahu saat ini dia berada dimana. Aku juga tidak tahu keadaan nya seperti apa.


Apa dia baik baik saja setelah kepergian ku ??


Atau....


Ah, sudahlah. Aku tidak ingin memikirkan hal hal buruk yang mungkin akan menjadi doa untuk nya.


*


*


Hari ini luna tidak ada jadwal operasi, tapi dia tetap harus ke rumah sakit untuk melihat perkembangan para pasien nya pasca operasi.


"Sus, hari ini setelah pulang dari sekolah langsung saja ke rumah sakit ya. Aku tunggu di ruangan kerja ku ya sus.." kata luna pada suster yang menjaga dewa.


"Baik nyonya.." jawab suster itu


"Dewa, mami berangkat ya. Kamu jangan nakal jangan menyusahkan sus ya. Nanti kita bertemu di rumah sakit, kita makan siang bersama, dewa mau kan ??" tanya luna pada putranya yang masih duduk di meja makan dan sedang menyelesaikan sarapan pagi nya. Dewa mengangguk pelan tanda mau dan mengerti ucapan mami nya barusan.


Setelah mengatakan itu, luna pun pergi lebih dulu seperti biasanya.


*Skip perjalanan..


"Morning, lun.." sapa jenifer yang juga baru turun dari mobil nya tepat di sebelah mobil milik luna..


"Morning too, jen.." balas luna seraya berjalan beriringan dengan gadis itu..

__ADS_1


"Gimana persiapan hari ini ??" tanya jenifer


"Semua sudah okay, doain ya jen semoga meeting hari ini lancar.." kata luna dengan wajah tegang.


Hari ini luna tidak ada jadwal operasi, tapi wanita itu ada jadwal meeting penting mengenai pasien yang sedang mereka observasi karena penyakit langka yang di derita si pasien tersebut. Dan di meeting hari ini luna di tunjuk untuk menjadi pembicara utama mewakili divisi nya yaitu dokter bedah jantung.


Luna merasa gugup, sebab ada beberapa kabar yang menyebutkan bahwa meeting hari ini termasuk sebagai salah satu dari ujian seleksi untuk mendapatkan beasiswa yang di lombakan.


Dan katanya hari ini sang pemilik rumah sakit pun akan datang untuk melihat bagaimana para dokter muda menyelesaikan masalah masalah yang sedang di hadapi di rumah sakit ini.


"Ya Tuhan, semoga meeting hari ini lancar dan tidak ada kendala apapun. Semoga luna bisa menyelesaikan meeting dengan hasil yang memuaskan. Amin.."


"Amin.." luna ikut mengaminkan doa yang di panjatkan jenifer di dalam lift..


Setelah itu luna dan jenifer pun berpisah, mereka masuk ke ruangan masing masing..


Tok tok tok..


Baru saja luna menjatuhkan bokong nya, tiba tiba pintu di ketuk dari luar..


"Selamat pagi, dokter luna.."


"Pagi, dokter daniel.." kata luna sedikit malas menjawab sapaan dokter pria tersebut..


Luna pun kembali duduk.. "Ada yang bisa saya bantu, dok ??" tanya luna tidak ingin berlama lama berdua dengan dokter daniel..


Dokter pria itu duduk di salah satu sofa yang tepat menghadap ke arah luna..


"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat mu saja.." jawab nya semakin membuat luna tidak nyaman


Luna berpura pura sibuk dengan dokumen dokumen nya..


"Maaf dokter daniel, saya sedikit sibuk mempersiapkan meeting pagi ini.." kata luna menoleh sebentar lalu kembali fokus pada benda yang ada di depan nya..


"Oh, iya. Aku sampai lupa. Kamu kan hari ini yang menjadi pembicara utama di meeting itu ??" tanya dokter daniel, luna mengangguk pelan..


"Ya sudah kalau begitu silahkan lanjutkan. Semoga berhasil, dokter luna.."


Luna tersenyum kecil..


Huh..

__ADS_1


"Kenapa sih setiap hari dia selalu datang ke ruangan ku..?? Apa kurang jelas selama ini bagaimana sikap ku pada nya..!!"


__ADS_2