Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Ingin kembali


__ADS_3

Hari-hari berikutnya sungguh terasa sepi, ternyata Lee datang untuk berpamitan, bahwa tugasnya di keluarga Habibah sudah selesai dan tidak ingin terlibat lagi dalam masalah apapun.


Belakangan pula Rudy Utama juga sering datang mengunjungi Habibah dengan banyak alasan. Selain rindu dan ingin lebih dekat dengan Bibi Rumini sekeluarga, pria itu juga menyumbang banyak hal, tak hanya uang tapi juga berbagai macam kebutuhan pesantren.


Entahlah, jika untuk kembali ke kota rasanya Habibah masih butuh waktu lebih lama untuk berpikir. Terlalu banyak masalah di keluarga itu dulu, bukannya bahagia yang ia dapat malah hati yang semakin terluka.


"Ayah hanya memiliki dirimu Nak, pikirkanlah kapan kau akan siap pulang dan mengurus semua milikmu."


Ucapan itu selalu terdengar setiap kali ia datang berkunjung.


Hingga hari itu, tak sengaja Rudy bercerita tentang Bram, mantan ibu mertuanya sudah meninggal.


"Ibu." ucap Habibah mengingat sosok wanita yang baik itu.


Rudy bisa menebak jika Habibah ingin sekali mendatangi makam ibu mertuanya.


"Aku ingin berziarah ke makam Ibu." ungkapnya kemudian dengan wajah sedih.


"Baiklah, kita akan ke sana." Tentu Rudy Utama sangat menyukai keinginan putrinya. Berharap dia menginap di rumahnya sendiri.


Dua setengah jam mobil Rudy Utama melaju membawa Habibah pulang ke kota, walaupun tujuan utamanya adalah berziarah kepada ibu mertua.


"Kita langsung ke pemakaman saja." pinta Habibah kepada sopir ayahnya.


"Baik Nona." jawab sopir itu begitu sopan. Andaikan saja sejak awal Habibah diakui sebagai anak, Habibah hanya bisa menarik nafas setelah semua yang terjadi.


Mobil mereka memasuki area pemakaman di pinggiran kota.


Habibah segera turun dan mengikuti arahan sopir tersebut menemukan makan ibu mertuanya.


"Di sana Nona." ucap sopir pribadi Rudy itu menunjuk sedikit naik melewati pohon.


Habibah mengangguk, kemudian berjalan lebih dulu. Sungguh nama yang tertera di batu nisan itu membuat matanya berembun.


"Ibu." panggilnya pelan.


Sesak di dada mengingat bagaimana wanita yang memang sakit-sakitan itu begitu baik, boleh dikatakan ia hanya ingin Habibah menjadi istri anaknya.

__ADS_1


"Maafkan Habibah tidak bisa menjaga Ibu di saat terakhir." ucapnya lagi mengusap air mata, ada sesal atas perpisahan yang Habibah pun tak menginginkannya.


"Nona tunggu sebentar, aku akan membeli bunga di bawah sana." sopir itu kemudian berlalu, sengaja memberi waktu untuk Habibah, juga Rudy hanya menunggu di bawah pohon tak jauh dari sana.


Tangan halusnya meraih rumput yang mulai tumbuh, mengusap pusara wanita yang pernah membagi kasih sayang padanya.


Sungguh pernikahan yang rumit itu menyisakan banyak kisah, salah satunya mengenal orang tua yang baik.


"Habibah?"


Seolah terkejut seseorang sedang memanggilnya.


Dan tak kalah terkejut pula Habibah yang mendengar suara itu, hatinya mendadak kacau dengan jantung berdetak tak karuan.


Habibah berdiri dan menoleh perlahan.


Mata keduanya bertemu, sebelum akhirnya melihat bersama siapa dia datang.


"Apa kabar?" ucapnya terlihat sendu, mata hitamnya tak bisa berpaling dari wajah cantik Habibah.


Sama, Habibah pula dalam kecanggungan jika mengingat mereka pernah bersama lalu berpisah. "Alhamdulillah, aku baik-baik saja Mas Bram." jawabnya halus.


"Maaf aku baru tahu hari ini jika ibu sudah meninggal. Andaikan aku tahu sejak awal, maka aku pasti akan datang ikut mengurus Ibu." ucap Habibah tulus.


"Dia meninggal karena dirimu." seseorang yang sejak tadi hanya diam kini menyahut, wanita yang berdiri di samping Bram itu menatap sinis kepada Habibah.


"Larisa jaga sikapmu." tegur Bram tak ingin Larisa membuat masalah.


Habibah hanya tersenyum, tak mau terlibat masalah apapun dengan anak kesayangan Rudy Utama itu. Dia ingat betul bagaimana perangai Larisa, dan sekarang pun masih sama.


"Kalau begitu aku permisi." ucap Habibah kemudian melangkah melewati keduanya, walau biat hati masih ingin berlama-lama tapi tak nyaman rasanya ketika ada Bram dan Larisa.


"Habibah, aku ingin bicara sebentar." Bram menyusul dan meraih tangan Habibah.


"Aku harus kembali ke pesantren Mas. Dan ku rasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi diantara kita." Habibah melepaskan tangannya.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Larisa." jelasnya seolah takut Habibah salah paham. "Dia hanya sedang membutuhkan teman, dia diusir ayahmu dan ibunya sedang dipenjara. Sama sepertimu, dia ingin ikut berziarah ke makam Ibu."

__ADS_1


"Memang sebaiknya kalian menikah, tidak baik membiarkan dosa itu berlarut tanpa tanggung jawab yang jelas."


"Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku tidak pernah menginginkan kita berpisah." ucap Bram penuh penyesalan.


"Aku pun tak ingin kita berpisah Mas, tapi ada baiknya kita saling menjauh saat ini dan mengoreksi diri masing-masing. Jika Allah memberi jodoh untuk kita berdua, maka suatu saat kita akan bertemu juga."


"Bagaimana jodoh bisa menyatukan kita, jika kau tidak memberi celah untuk aku mendekatimu Habibah, yang menginginkan kita berjodoh hanyalah aku saja."


"Mungkin, sekarang hatiku masih tertutup, tidak tahu nanti. Allah maha membolak-balikkan hati. Sekarang tidak, bisa saja berubah iya suatu saat nanti."


"Maafkan aku Habibah." ucap Bram semakin menyesal.


"Ayo kita pulang."


Rudy mendekati Habibah, sedikit melirik Larisa yang saat ini menatapnya sendu, langkahnya terburu-buru mendekat kepada Rudy Utama.


"Papa." panggilnya pelan, wajah cantik dan sombong itu terlihat memohon.


"Larisa." ucap Rudy juga terlihat sedih, bagaimanapun juga mereka sudah menjadi ayah dan anak sejak masih dalam kandungan Marisa.


Memeluk Rudy Utama sangat erat, teringat ketika dulu selalu bermanja-manja kepada ayahnya. Tapi sekarang malah menjadi orang asing.


"Papa harus pulang." Ucap Rudy kemudian melepaskan pelukan Larisa dengan sejuta rasa. Sungguh dia tidak bersalah, tapi Habibah juga tidak berdosa, dan ibu dan anak itu sudah keterlaluan dalam menghancurkan kehidupan Habibah putrinya.


"Aku ingin kita seperti dulu Papa." ungkap Larisa memegang lengan Rudy Utama.


"Kau harus terbiasa dengan keadaan ini. Rumah yang kau tempati tidak Papa ambil karena Papa menyayangimu. Tapi untuk kembali seperti dulu tentu tidak bisa. Papa harus menjaga perasaan Habibah, putri kandung Papa." tegas Rudy tak mau Habibah tersakiti lagi, bisa datang ke kota saja sudah membuat Rudy beruntung meskipun alasannya adalah mendatangi makam ibu mertuanya.


Tatapan tak suka Larisa sungguh jelas terlihat kepada Habibah, dia tidak terima dengan keadaan seperti ini.


Begitu pula Habibah, jika boleh jujur ia ingin membalas apa yang pernah ia lakukan. Menghina, merendahkan, dan banyak lagi yang sudah dilakukan Larisa kepada Habibah.


'Astaghfirullah' Habibah membuang jauh-jauh pikiran seperti itu, jangan sampai dia menjadi sombong seperti Larisa setelah sekarang posisi mereka bertukar.


"Ayo Nak, kita pulang." ajak Rudy lagi meninggalkan Bram dan Larisa.


"Iya Ayah." jawab Habibah lembut sekali. Sungguh posisi yang membuat Larisa semakin iri.

__ADS_1


Bram pun berlalu meninggalkan pemakaman dengan perasaan sangat kacau. Sejak awal dia tak mau bercerai, hanya saja keadaan ibunya semakin parah dan membuat ia tak bisa hadir di persidangan terakhir.


Dia benar-benar tidak tahu harus bersyukur atau malah menyesal dengan pertemuan tak sengaja ini.


__ADS_2