
#Mengejar Cinta Suamiku part 39 (Kabar Mengejutkan)
Setelah pertemuan tempo hari, Rizki merasa cocok dengan ruko yang akan disewa. Selain tempatnya strategis, harga sewa dari properti tersebut tidak begitu memberatkannya.
Tiga bulan sudah Rizki menjalankan usaha, ditemani dua orang karyawan dan empat orang montir di bengkel miliknya yang cukup besar. Dalam satu ruko itu Rizki menyediakan banyak sparepart mobil, juga sparepart motor sesuai impiannya dulu.
Sama sekali tidak dibayangkan olehnya meski sedang kondisi pandemi tapi usahanya berjalan lancar, melampaui ekspektasi. Dalam tiga bulan Rizki dibuat kewalahan dengan kesibukannya di bengkel.
Kehamilan Nisa sudah memasuki bulan ke empat, namun mual muntah masih menyerang, tapi dia menikmati segala prosesnya.
Setiap pagi, perutnya seperti di obok-obok mengeluarkan seluruh isi, apalagi jika mencium aroma sabun, bawang, dan aroma nasi yang baru saja matang, hidungnya menjadi lebih sensitif bahkan saat dirinya tidur.
Tidak ada makanan yang dicerna perutnya kecuali buah-buahan, coklat yang selama ini menjadi favoritnya berbalik menjadi salah satu dari sekian banyak makanan yang dibenci Annisa.
Pernah suatu hari Nisa menangis, bukan karena jengkel dengan kehamilannya, tapi karena dia berpikir betapa tidak mudahnya menjadi seorang ibu, wajar saja jika Allah meletakkan surga dibawah telapak kakinya, karena perjuangan di awal kehamilan saja sudah segini berat, ini hanya permulaan dari ketidak mudahan lainnya yang dijalani seorang ibu.
Dia teringat ummi, membayangkan dulu saat mengandungnya ummi melewati fase yang sama, apalagi ketika melahirkan, ummi mati-matian mengeluarkan segenap tenaga, mempertaruhkan nyawa, berjuang antara hidup dan mati karena bayinya terlilit placenta, setelah berhasil melahirkan Nisa, ummi pingsan karena kehabisan tenaga, dia menghabiskan dua labu cairan infus hingga dirinya bisa benar-benar pulih. Begitulah yang Annisa dengar dari cerita Abi.
Wajahnya menghangat membayangkan kejadian yang dialami ummi, matanya terasa panas, air mata berdesakan keluar membasahi pipi. Nisa menghampiri ummi, lirih dia berkata dalam pelukannya memohon ampun atas semua tindakan yang pernah menyakiti hati ummi, baik yang disadari ataupun yang tidak di sadari, dia memohon ampun karena belum bisa membahagiakannya.
Ummi memeluknya erat, mengelus kepala Nisa yang tertutup hijab, dia mengelus punggung Nisa yang merunduk padanya.
"Nak, kamu sudah membahagiakan Ummi dan Abi sejak pertama kali kamu hadir di rahim ini. Dari kecil kamulah yang menjadi penyemangat, penghibur dan pelepas penat Ummi juga Abi, beranjak dewasa kamu menjadi anak berbakti yang tidak pernah membantah. Tidak ada celah bagi Ummi untuk tidak memaafkan mu, karena kamu tidak memiliki kesalahan apapun yang perlu dimaafkan. Ummi lah yang seharusnya meminta maaf jika selama ini terlalu keras dalam mendidik mu." Haru ummi berkata kepada anaknya.
Untuk sesaat, mereka hanyut dalam pelukan, saling menumpahkan kasih sayang. Air mata yang jatuh menandakan bahwa ada cinta yang besar di dalam sana.
***
"Untuk hari ini pengiriman berapa pieces, Qin?" Tanya Annisa kepada adik iparnya yang sedang sibuk merekap pesanan.
Ya, Annisa sudah kembali menjalankan toko online yang dikelola oleh Syauqina. Meski sempat hiatus dalam beberapa bulan, tapi karena banyaknya permintaan dari para reseller, Nisa memutuskan untuk kembali berjualan.
Tentu dengan izin dari suaminya terlebih dulu, awalnya Rizki sempat tidak mengizinkan, khawatir Nisa akan kecapean, tapi karena Nisa terus merajuk akhirnya dia mengizinkannya.
"Sekitar 83 pieces, Mbak."
"Alhamdulillah, lumayan lah ya karena kita baru buka toko dua mingguan ini, semoga bulan depan bisa closing lebih banyak lagi."
"Aamiin, Mbak." Sahut Syauqina tanpa menghentikan pandangannya dari layar komputer.
Nisa menyukai kinerja adik iparnya yang cekatan dan penuh semangat dalam mempelajari materi tentang sistem marketing yang diajarkan oleh Nisa.
Kini setelah menguasai semua tentang marketing dan lain sebagainya, Nisa mempercayakan sepenuhnya kepada Syauqina. Nisa hanya fokus pada kehamilannya, dan juga mengejar materi di kampus yang sempat terhenti karena kandungannya yang lemah.
Kini, Rizki dan Annisa tinggal menghuni ruko tersebut, ruko tiga lantai bercat putih, di bagian bawah sudah pasti digunakan sebagai toko Rizki, lantai kedua memiliki tiga kamar yang masing-masing memiliki toilet di dalamnya, satu ruang tv cukup besar, dapur, kamar mandi tamu, dan balkon yang menghadap langsung ke pusat kota, menampilkan pemandangan hilir mudik yang tidak berhenti dari pagi hingga malam hari.
Lantai ke tiga, terdapat area kosong tanpa sekat, di ujungnya ada ruangan besar yang digunakan sebagai tempat kerja Syauqina, sedangkan bagian luar di isi oleh stok jualan Rizki dan rak dengan partisi kotak-kotak sebagai tempat untuk menaruh produk milik Annisa.
Di lantai tiga memiliki rooftop, yang dibatasi dengan pintu dan jendela kaca, rooftop ini di dekorasi sangat nyaman, ada banyak tanaman bunga yang memanjakan mata, lantainya ditutupi dengan rumput sintetis, Nisa juga meletakkan ayunan gantung dari rotan sebagai tempat bersantai, kolam ikan kecil di sudut rooftop membuatnya semakin terlihat cantik. Ruang kerja yang berhadapan langsung bersekat kaca bisa menembus pandangan ke luar sana. Itulah kenapa Nisa menggunakan lantai tiga sebagai tempat kerja, agar Syauqina betah karena lantai tiga merupakan tempat ternyaman dari keseluruhan ruangan di ruko tersebut.
Rizki merebahkan diri di atas ranjang, dari pagi kakinya tidak berhenti berjalan ke sana kemari melayani pelanggan karena karyawannya kewalahan.
"Sini kakinya lurusin," Ucap Nisa yang datang membawa susu jahe di tangannya, menyimpan di nakas lalu duduk di tepian ranjang menghadap suaminya yang sedang kelelahan.
"Untuk apa, sayang?"
"Mau dipijit, pasti pegal kan mondar-mandir terus?"
"Nggak usah sayang, nggak papa."
Nisa tidak menghiraukan perkataan suaminya, dia menarik paksa kaki yang panjang itu ke pangkuan dan memijitnya penuh sayang.
"Ehmm.. Enaknya." Ucap Rizki menikmati pijatan itu, kakinya memang sangat pegal, sejak pagi hingga sore hampir tidak ada waktu untuk sekedar melemaskan otot-otot kaki yang kaku karena berdiri dan mondar-mandir sepanjang hari, meski begitu dia sangat menikmati pekerjaannya, salah, maksudnya usahanya.
"Gimana pesanan hari ini?" Rizki membuka percakapan.
"Kata Qina hari ini packing 83 pieces orderan." Jawab Nisa.
"Alhamdulillah, baru dua minggu loh itu."
"Iya, Mas. Ternyata benar yang Mas katakan dulu, kalau pelanggan puas dengan produk kita pasti akan kembali meskipun sempat tutup toko lumayan lama."
__ADS_1
"Iya, yang terpenting itu adalah rezeki." Ucap Rizki
"Sudah, sini tidur." Rizki menepuk dadanya menyuruh Nisa untuk tidur di sana.
Nisa menuruti, dia merebahkan diri di atas dada bidang Rizki dengan posisi saling berhadapan. Rizki mengelus perut Nisa yang sudah mulai terlihat membuncit.
"Dedek sayang, sudah tidur belum? Ayah boleh jenguk ya?" Ucap Rizki sedikit berbisik, Nisa hanya tertawa mendengarkan.
"Katanya capek." Timpal Nisa.
"Untuk urusan ranjang, Mas nggak kenal capek." Rizki bangkit, kini dia berada di atas tubuh Nisa, memandanginya lekat-lekat.
Tangannya menyusur pipi, turun ke bibir memberikan sentuhan yang membuat bulu-bulu Nisa meremang, Rizki semakin mendekat hingga akhirnya melu-mat bibirnya dengan mesra.
Debar jantung keduanya semakin kencang, nafasnya tersengal seiring syahwat yang semakin besar.
Dengan diawali doa terlebih dahulu, mereka bersengga-ma dibawah sinar rembulan yang mengintip dari celah jendela kamar.
***
Sinar matahari menelusup menembus kaca, mengisi ruangan kerja Syauqina dengan cahaya hangatnya. Hari ini Qina datang lebih pagi dengan motor matic bekas sekolah Rizki dulu.
Nisa dan Rizki sudah beberapa kali menyuruhnya untuk tinggal di sini, tapi dia selalu menolak dengan alasan tidak mau berpisah dengan ibu dan bapak.
Rizki sedang bersiap membuka toko, sedangkan Annisa sedang memasak untuk sarapan. Setiap pagi, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, tapi tidak lupa berkumpul bersama di ruang makan untuk mengisi perut sebagai sumber energi.
"Sarapan dulu, Mas. Tolong panggilkan Qina, ya." Ucap Nisa ketika mendapati Rizki memeluknya dari belakang.
"Oke, sayang." Dia mengecup kening istrinya kemudian berlalu menaiki anak tangga menuju lantai tiga untuk memanggil adiknya sarapan bersama.
Karena masih mual mencium aroma bawang, Nisa memasak tanpa menggunakan bumbu tersebut, tapi makanan yang dibuatnya tetap memanjakan mulut.
Nasi goreng, roti selai, kebab serta susu hangat sudah tersaji di meja makan sebagai menu sarapan. Mereka berdoa bersama sebelum bersantap.
Dering ponsel Rizki memecah keseriusan mereka yang sedang mengobrol sambil sesekali bercanda. Nama si penelepon di layar membuat Rizki sumringah.
"Assalamualaikum, Bro. Apakabar?" Sapa Rizki kepada seseorang di seberang telepon.
"Sehat Alhamdulillah."
"Lancar bengkelnya?"
"Alhamdulillah di luar ekspektasi, gua sampai kewalahan tiap hari mondar-mandir melayani pembeli. Lu sendiri gimana?"
"Alhamdulillah kuliner bakso kayaknya masih jadi primadona, sama kayak lu, kedai gua juga nggak pernah sepi."
"Main-main sini lah Jis, kangen gua."
"Iya, rencananya minggu depan mau ngecek lokasi buat cabang di Cirebon, ntar gua mampir, ya."
"MasyaAllah.. Keren lu udah buka cabang di sini. Siap gua tunggu."
"Oh, ya Ki ehmm.." Pembicaraan Ajis berhenti seolah ragu.
"Kenapa? Kok dari suaranya kayak gugup begitu, kalau ada yang mau lu sampaikan, bilang aja nggak usah ragu."
"Hehe, iya. Soal adik lu, Ki." Ucap Ajis masih terdengar ragu.
Mendengar kata 'adik' Rizki pamit dari meja makan lalu melanjutkan pembicaraan di balkon, dia paham Ajis akan membicarakan tentang Syauqina.
"Syauqina? Kenapa emang?" Rizki penasaran.
"Dia, udah ada yang khitbah belum?" Meski ragu, akhirnya pertanyaan itu sukses keluar dari mulut Ajis.
Rizki mulai paham arah pembicaraan Ajis, dia tersenyum mengetahui Ajis naksir Syauqina, pantas saja dulu Ajis seringkali bertanya hal-hal tentang adiknya.
Ajis pernah dua kali bertemu Syauqina, itupun hanya sekilas, pertama saat Syauqina menemani Rizki di rumah sakit ketika mengalami kecelakaan, kedua saat Rizki dan Annisa menikah.
Tapi Ajis seringkali mendengar cerita Syauqina dari Rizki, tentang kepribadiannya, tentang semangatnya menghafal Al-Qur’an, dan hal-hal lain yang mungkin membuat Ajis tertarik kepadanya.
"Ki," Ajis memanggil membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Eh, iya Jis. Belum kok, dia masih sendiri, kenapa emang?" Tanya Rizki pura-pura tidak mengerti.
"Mmmm.. Itu,. Anu.. Ki.." Suara Ajis terdengar gugup lagi.
"Lu naksir dia?" Gereget karena Ajis tidak kunjung mengaku, akhirnya Rizki menembaknya dengan pertanyaan itu.
"Iya Ki, rencananya minggu depan gua mau ke sana untuk mengutarakan niat ini. Maaf, Ki gua udah coba buang jauh-jauh perasaan ini, takut lu nggak setuju. Tapi semakin gua coba buang, semakin kepikiran. Setidaknya kalo gua udah jujur ke lu soal ini, gua nggak penasaran lagi karena udah usaha." Ucap Ajis sedikit tidak enak.
"Lok, kok gitu? Alasan gua buat nggak setujunya kenapa? Lu orang baik, taat agama, nggak ada alasan buat gua menentang, apalagi lu sahabat baik gua. Tapi, masalah menerima atau nggak, gua serahkan sepenuhnya ke Syauqina, karena yang akan menjalaninya dia, gua nggak mau maksa."
Ya, Rizki sudah mengenal Ajis sejak lama, tidak ada balasan baginya menentang keinginan Ajis untuk menikahi Syauqina. Ajis sudah memenuhi standart laki-laki yang taat agama.
Ajis terdengar senang mendengar ucapan Rizki yang memberikan lampu hijau. Di sana, wajah yang tadinya gugup berubah gembira, menyunggingkan senyum lebar, selebar kesempatannya menikahi Syauqina karena sudah mendapat izin dari Rizki.
"Begini aja Bro, gua bilang dulu ke Qina tentang niatan lu, sambil ngasih kesempatan ke dia untuk berpikir, dan shalat istikharah. Jadi saat lu ke sini, dia sudah menyiapkan jawabannya. Gimana?"
"Setuju!" Sahut Ajis dengan antusias.
Rizki kembali ke meja makan, menatap adiknya ysng sudah dewasa. Qina baru selesai ujian kelulusan, padahal masih lekat dalam ingatan Rizki saat dirinya menggendong adiknya untuk memetik mangga.
"Kenapa ngeliatin terus?" Kata Qina memutus pandangan Rizki.
"Dek, kamu udah besar sekarang." Rizki terharu.
Annisa dan Qina saling bertemu pandang, merasa heran mendengar ucapan Rizki barusan.
"Ada apa, Mas? Kok jadi mellow gitu?" Tanya Nisa heran, padahal sebelum mengangkat telepon mereka tertawa bersama mendengar candaannya.
"Selesai sarapan, kita bicara dulu sebentar. Mas tunggu di ruang keluarga." Ucap Rizki kepada Syauqina dan istrinya.
Mereka berkumpul di ruang keluarga seperti yang diperintahkan oleh Rizki.
"Dek, menurut kamu apa definisi menikah?" Tanya Rizki kepada Syauqina.
"Menikah adalah ibadah, menikah adalah separuh agama, menikah adalah sunnah yang paling dianjurkan oleh Rasulullah SAW." Jawab Syauqina tanpa bertanya.
"Lalu, apa keutamaan seorang istri yang sholehah?" Rizki kembali bertanya.
"Dapat masuk surga dari pintu mana saja yang dia mau. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Apabila seorang istri menjaga shalatnya, puasa (Ramadhan)-nya, menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya, maka dikatakan kepada wanita tersebut, masuklah engkau ke Surga dari pintu mana pun yang engkau sukai.” [HR. Ahmad]." Syauqina menjawab dengan membacakan dalil yang diketahuinya.
"Wanita mana saja yang mati, lantas suaminya ridha atasnya, maka ia akan masuk surga. [HR. Al-Tirmidzi]." Lanjut Syauqina.
Meski dia tidak mengerti dengan pertanyaan kakaknya, tapi Syauqina menjawab dengan patuh.
"Baik, terakhir, dalam hal apa kamu harus menuruti perintahnya?"
"Segala hal, kecuali yang bertentangan dengan hukum Allah dan sesuatu yang dapat mencelakai diri."
"Kamu sudah memahami segala ilmunya. Sekarang, gimana kalo tiba-tiba ada seorang lelaki baik, taat agama, dan begitu menyayangi orang tua datang untuk mengkhitbahmu?"
Syauqina tersentak mendengar ucapan Kakaknya, dia mendongak menatap netra hitam Rizki, memastikan keseriusan dalam ucapannya.
Nisa yang tidak kalah kaget, menatap Rizki dan Syauqina secara bergantian, sedari tadi Nisa tidak berkomentar, dia paham bahwa pembicaraan ini bukan ranahnya.
"Boleh Qina tahu siapa orangnya?" Gadis berhijab ungu itu terlihat penasaran.
"Seseorang yang sangat Mas kenal, bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Kamu pernah bertemu dengannya dua kali."
Qina memicingkan mata, menelusuri bayangan orang yang di definisikan oleh Kakaknya. Tiba-tiba dia teringat seorang pria yang ditemuinya di rumah sakit. Salah satu pria yang datang dari sekian banyak teman-teman Rizki.
Tapi, pria itu berbeda, dia dengan setia menunggu di rumah sakit sampai Rizki pulih, datang setiap pulang bekerja, dan pergi saat hendak bekerja pula.
"Apakah Kak Ajis?" Tebak Syauqina. Rizki mengangguk membenarkan.
"Kamu pikirkanlah dulu baik-baik, sholat istikharah meminta petunjuk dari Allah. Seminggu lagi, dia akan datang ke sini. Siapkan jawabanmu saat dia berkunjung."
Meski terlihat masih tidak percaya, tapi inilah kenyataannya. Ada desir di dalam sana yang sulit diartikan maknanya.
Bersambung...
__ADS_1