Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Rindu tempat asal


__ADS_3

Lengkap sudah.


Tak peduli seberapa rumit keributan di luar sana, tanpa penangguhan atau perlawanan Habibah menutup mulutnya rapat-rapat, mengikuti kemana polisi wanita itu membawanya.


'Jeruji yang dingin pun tak ketinggalan ingin berdekatan dengan diriku.' Habibah tak lagi menangisi betapa malang kehidupannya.


Benar-benar sendirian kali ini. Bram sedang kerepotan mengurus Ayah dan kemungkinan akan menyeret ibunya.


'Aku sadar, dan benar-benar sadar hidupku hanya sendiri.' Habibah menari nafas, melipat rok yang mengembang menutupi betis yang tak terlihat kecuali Bram suaminya. Ia duduk rapi di dalam garis besi yang bisu. Dapat di pastikan malam-malam selanjutnya dia akan sangat kedinginan.


"Ini sudah mencapai akhir. Tak akan ada penyesalan dan penasaran akan hasil dari usahaku untuk menggapai harapan, Ayah memang bukan milikku."


Merasa lega walau baru saja tersakiti.


Dapat didengar riuh orang bersitegang di luar sana, mereka sedang berusaha untuk bebas.


Namun tak terdengar salah satu dari mereka menyebut nama Habibah.


"Tuduhan dan bukti sudah sangat kuat, menggelapkan uang, menyembunyikan identitas putra dari pengusaha Rudy Utama. Ayah Saudara tidak bisa bebas dari hukuman kecuali pihak Rudy Utama menarik tuntutan."


"Tapi Aku adalah anaknya." ucap Lee benar-benar sedih melihat Hiko hanya menurut dengan kondisi yang tak berdaya.


"Apapun posisi Anda, di sini Saudara Lee sebagai korban."


"Ayah tidak apa-apa, malah Ayah khawatir dengan Habibah." ucap Hiko menenangkan putranya.


Lee tampak berpikir, sebenarnya sejak tadi ia khawatir. Tapi tak mungkin rasanya meninggalkan ayahnya.


"Lihatlah keadaannya walaupun sebentar." perintah Hiko kepada anaknya tersebut, pria tua itu terlihat tenang di dorong seorang anggota polisi menuju ruang tahanan.


"Baiklah Ayah." jawab Lee kemudian meninggalkan ayahnya di depan pintu ruangan itu.


Pria yang jarang tersenyum, tampak semakin terlihat dingin. Masalah yang tadinya hanya fokus kepada Habibah saja, kini melebar dan melibatkan semua orang termasuk ayahnya, dan dirinya.


Selama ini Lee merasa selalu kesepian hanya memiliki ayah, tapi bagaimana dengan Habibah. Dia kesulitan membayangkan bagaimana rasanya menjadi wanita itu.


Langkah Lee melambat ketika matanya menangkap sosok yang duduk seperti santri sedang mendengar ceramah.


Tangannya berpangku keduanya di atas kaki yang melipat. Wajahnya mendongak menatap ke luar ruangan, polos dan tidak sedang menangis.

__ADS_1


"Habibah." panggilnya pelan.


Dia menoleh tak kalah pelan, entah jika sudah tak memiliki kekuatan untuk bergerak. Atau kekecewaan sedang memukul hatinya hingga malas melakukan apa-apa.


"Kau baik-baik saja?" tanya Lee kemudian duduk menekuk kakinya hingga sejajar dengan gadis itu.


Habibah menatap pria yang kini melihat dirinya dengan tatapan iba.


"Aku baik-baik saja." jawabnya, yang kemudian mereka saling berpandangan.


Lalu Habibah menunduk, mencubit ujung jarinya sendiri, menandakan dia sedang tidak tahu harus bagaimana.


"Aku akan berusaha mengeluarkan mu dari sini." Pria itu berkata seperti janji.


Habibah tetap menunduk, bahkan tersenyum tipis menertawai nasibnya sendiri.


"Aku bukan putra ayahmu, kau tidak perlu takut aku akan memanfaatkan keadaan." ucap Lee lagi menebak keputusasaan gadis di hadapannya.


Tapi membuat ia menatap lagi. "Aku malah lebih senang kau yang mengambil ayahku daripada Larisa." jawabnya pelan.


Lee menautkan alisnya, tapi kemudian dia terlihat sedang berpikir keras. "Aku tahu bagaimana cara mengeluarkan mu juga Ayah dari sini." ucapnya kemudian.


"Asal bukan memohon kepada dua orang wanita itu." kesal Habibah tak bisa berpura-pura baik mengingat Marisa yang Kejam.


Lee merogoh kantong celananya meraih sesuatu dan memberikannya kepada Habibah.


"Kau seperti anak kecil." Habibah menertawai permen dan roti kering jajanan anak-anak yang diberikan Lee kepadanya.


"Aku hanya punya itu." jawabnya menggaruk kepala dengan serba salah.


Habibah membuka bungkusan kecil tersebut. Kerumitan yang terjadi sejak kemarin, membuat ia lupa makan, belum makan hingga saat ini.


"Terimakasih." ucapnya memasukkan roti sebesar lingkaran ibu jari dan telunjuk tersebut.


"Paling tidak ada yang masuk di dalam perut kita." Lee tersenyum tipis, menertawai diri mereka yang kelaparan dan tak punya waktu untuk makan.


"Suamimu sedang sibuk, mencari pengacara untuk membebaskan_"


"Jangan bicarakan tentang apapun." ucapnya menatap makanan kecil itu di tangannya. "Aku sedang memikirkan akhir dari hubungan ini. Percuma rasanya aku bertahan tapi tidak dianggap. Baik ayahku, juga suamiku. Rasanya keberadaanku ini benar-benar tidak berarti."

__ADS_1


Lee mendengarkannya, entah karena mereka memiliki nasib yang sama, sehingga pria itu sedikit dapat memahami perasaan Habibah.


"Aku rindu pesantren tempat asalku." dia tersenyum kecut.


Malam tanpa selimut, hanya pakaian yang tertutup saja sedikit membuatnya beruntung hijab yang menjuntai itu sedikit menghalau angin ketika subuh menjelang dan menjadi tempat kedua tangannya rapat bersembunyi.


Teringat malam-malam bersama Bram yang terasa hangat, hingga subuh ini pria berstatuskan suaminya itu belum terlihat.


*


*


*


Satu Minggu sudah berlalu, Rudy Utama masih di landa kebingungan. Menghukum beberapa orang sekaligus tak membuatnya lega, malah ada yang mengganjal di dalam hatinya.


Lee, dia mengingat potongan nama yang bahkan nama lengkapnya dia tidak tahu. Rasa penasaran akan sosok anak laki-laki tersebut membuatnya gelisah, belum lagi rasa bersalah yang menyiksa dirinya lantaran tak pernah tahu akan keberadaan anaknya sendiri.


"Mengapa kau tidak memberitahu aku sejak awal jika Mayra hamil dan melahirkan anakku?" tanya Rudy kepada Marisa istrinya.


"Aku pernah menemuinya dan dia malah mengusirku. Aku tidak tahu dia hamil. Hingga akhirnya aku mendatangi rumah sakit itu untuk bertemu istri Hiko. Kau tahu sendiri jika dia sering berkumpul denganku dan teman-teman lainnya saat itu, bisa dikatakan kami berteman. Dan tidak sengaja melihat istrimu melahirkan." jelasnya terlihat meyakinkan.


Rudy menatap curiga.


"Aku mendengar jika bayimu meninggal. Karena rasa penasaran, aku melihat ke ruangan bayi dan bayi yang ada di sana adalah bayi laki-laki. Dan ternyata benar, dia putramu."


Rudy beranjak dari duduknya, meraih kunci mobil dan ponsel yang terletak di atas meja.


"Kau mau kemana?" Marisa seperti ingin mencegah.


"Aku ingin bertemu dengan putraku." berlalu tanpa menoleh Marisa.


Satu-satunya tempat yang akan dia kunjung adalah kantor polisi tempat dimana Hiko dan yang lainya di tahan.


"Dia terlalu misterius. Hiko keterlaluan membuat anakku menjadi sangat tertutup dan sulit ditemukan." kesal Rudy terus melaju menuju kantor polisi.


Tepat sekali dugaannya, pria muda yang gemar memaki topi tersebut baru saja masuk membawa dua kotak makanan.


Rasa penasaran dengan setiap yang di lakukan Lee, ia turun dan mengikutinya, mengamati semua yang dia lakukan.

__ADS_1


Dan hal yang membuat Rudy Utama semakin heran sekaligus kagum bersamaan, Lee memberikan makanan untuk Habibah setelah ayahnya. Dia terlihat sangat baik pada kedua orang tersebut. "Bukankah harusnya dia membenci keduanya?"


__ADS_2