Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 16 (Merantau)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 16 (Merantau)


Kami sudah tiba di Jakarta, meninggalkan kampung halaman tercinta, dan juga keluarga.


Annisa pergi diiringi tangis Ummi, Annisa mencoba menegarkan Ummi meski hatinya sendiri berat meninggalkannya sendirian.


“Iki janji akan sering mengajak Nisa pulang dan menginap di sini.”


Mendengar ucapanku, Ummi terlihat sedikit tenang. Setelah berpamitan juga kepada keluargaku, kami pergi dengan mengendarai mobil Annisa yang dibeli beberapa bulan lalu dari hasil jualannya.


Bukan tanpa alasan, Nisa menyuruhku membawa mobil karena harus membawa barang-barang kami yang cukup banyak, ditambah barang dagangan Annisa yang masih menyimpan banyak stok.


Setibanya di Jakarta, aku dan Annisa langsung mencari rumah kontrakan yang lokasinya tidak jauh dari tempat kerjaku.


Sebelumnya aku sudah pamit kepada Ajis, dengan membawa barang-barangku dari kosan. Ajis janji akan sering berkunjung ke rumah baru kami nanti.


Setelah mencari ke beberapa tempat, dan bertanya kepada teman-teman, akhirnya kami menemukan sebuah rumah cukup luas, lengkap dengan barang-barang di dalamnya.


Bertempat di sebuah perumahan yang tidak terlalu ramai, namun tetap strategis, karena tidak jauh dari sekolah, pasar dan Masjid, yang terpenting, rumah ini tidak terlalu jauh dari tempat kerjaku.


Rumah yang kami huni merupakan bangunan baru, meskipun tidak mewah, tapi rapi dan nyaman. Ada dua kamar yang cukup luas, dapur, ruang tv, ruang tamu, mushola, dan taman belakang yang menyatu dengan tempat jemuran. Di area depan, terdapat garasi dan teras dengan taman kecil yang di tanami banyak bunga.


Selepas serah terima kunci dengan pemilik, aku dan Annisa langsung membereskan barang-barang yang kami bawa.


Situasi ini masih terasa canggung bagiku, karena hanya ada aku dan Annisa saja di sini. Begitu pun dengan Annisa, yang terlihat kikuk.


“Semoga betah, ya. Meskipun tidak ada Ummi di sini.”


“Selama ada Mas, Nisa pasti betah kok.”


Dia tersenyum kepadaku, aku pun membalas senyumnya. Seperti janjiku sebelumnya, meskipun aku tidak mencintai Annisa, aku akan memperlakukannya dengan baik. Terlebih, di kota ini, dia tidak memiliki siapa pun selain diriku.


***


Siang ini terasa panas bagi Annisa yang sedang berada di supermarket untuk membeli sayuran dan beberapa stok makanan untuk di rumah, tentu saja Annisa sudah terlebih dahulu pamit kepada Rizki yang sedang berada di tempat kerja.


Prakkkk...


Annisa menjatuhkan buah yang dibawanya saat seorang pria tidak sengaja menabrak dia dari belakang. Nisa berjongkok hendak mengambil buah itu, di waktu yang bersamaan, pria tersebut melakukan hal yang sama, hingga tangan mereka saling beradu.


Dengan sigap, Annisa langsung meloloskan tangannya, merasa tidak enak, pria itu langsung meminta maaf dan membantu membereskan buah milik Nisa.

__ADS_1


Setelah selesai, Nisa langsung pergi tanpa menengok ke arah pria yang telah menabraknya.


Berbeda dengan Annisa, pria itu justru merasa tertarik melihat wajah Annisa yang manis. Dia terus memperhatikan Annisa yang sudah berlalu mendorong troli belanja.


“Semoga suatu saat bisa ketemu dia lagi,” Ucapnya dalam hati.


Sepulang dari supermarket, Nisa tidak langsung pulang. Dia mencari toko kain untuk model hijab baru yang akan dibuatnya.


Karena di sini Nisa tidak punya pekerja, terpaksa dia harus mencari tempat maklun untuk membantunya produksi.


Rencananya, dia akan mulai mencari, setelah selesai membuat sempel dari hijab dan baju model terbaru yang akan diluncurkan di toko online miliknya.


Rizki sudah memfasilitasi segala yang dibutuhkan Annisa, dari mulai mesin jahit dan lain sebagainya.


Tiba di sebuah toko, seorang pria menyapa Annisa yang sedang asyik memilih kain.


“Eh, ketemu lagi di sini, Mbak.” Ucapnya


“Maaf, siapa ya?”


“Yang tadi di supermarket, sekali lagi saya minta maaf ya, Mbak. Karena ke asyikan main hp sampai gak lihat di depan ada Mbak.”


“Oh, iya nggak papa, Mas”


Namun, Nisa menolak dengan menelungkupkan tangannya di depan dada.


“Maaf, saya sedang sibuk memilih kain, permisi.” Ucap Nisa sedikit jutek.


Apa yang Nisa lakukan justru membuat Fatur semakin tertarik kepada Annisa.


“Sedang mencari kain apa? Biar saya bantu, kebetulan toko ini milik saya,”


Nisa menoleh dan menyebutkan kain yang dibutuhkan, mereka lalu menuju tempat kain itu berada.


Merasa cocok, mereka lalu membicarakan soal harga. Setelah deal, Nisa langsung melakukan pembayaran.


“Sudah punya berapa karyawan, Mbak?”


“Kebetulan belum, apa Mas tahu tempat maklun daerah sini? Saya perlu bantuan untuk memproduksi produk saya, karena saya baru, jadi belum begitu tahu.”


Nisa bertanya kepadanya bukan tanpa alasan, karena Nisa tahu kalau tukang kain pasti memiliki benyak kenalan orang konveksi.

__ADS_1


“Mmm ... Butuh skala besar atau kecil?”


“Tidak terlalu banyak, sih. Biasanya hanya produksi sekitar seribu sampai dua ribu pcs perbulan.”


“Harus ditanyakan dulu soal rate-nya, dan biar saya bandingkan dulu dari beberapa kenalan saya, mana yang harganya lebih menguntungkan untuk Mbak, selain itu saya juga harus memastikan dulu hasil produksinya memuaskan, saya nggak mau mengecewakan Mbak dengan merekomendasikan tempat yang salah. Boleh minta nomor WhatsApp biar nanti saya kabarin langsung kalau sudah dapat infonya.”


Annisa lalu menuliskan nomornya di kertas, dan memberikannya kepada Fatur.


Hari mulai petang, Rizki sudah di rumah dan merasa panik karena Annisa belum pulang.


Dia beberapa kali menelepon, tapi tidak kunjung diangkat. Lalu Rizki memutuskan untuk mencari Annisa, dia mengambil jaket dan kunci motornya.


Saat hendak keluar, terdengar suara mobil Annisa datang memasuki garasi. Dengan cepat, Rizki menyimpan kembali kunci motor dan melepas jaketnya, lalu menghambur keluar menemui Annisa yang baru selesai memarkir mobil.


“Assalamualaikum, maaf Mas, tadi jalanan macet banget” Sapa Annisa sambil mencium tangan suaminya.


“Nggak papa karena sekarang sudah sampai rumah. Tadi Mas teleponin terus karena khawatir, takut kamu nyasar.” Rizki membantu Nisa mengeluarkan belanjaan dari mobil dan membawanya ke dapur.


“Nisa nggak tahu Mas nelepon, karena hpnya di tas dan di silent. Lupa dari semalam belum dikembalikan ke mode dering, maaf udah bikin khawatir.”


“Iya, Mas kan udah bilang nggak papa. Bay the way, kamu tahu darimana jalan menuju supermarket itu? Mas kira kamu naik taksi online.”


“Kan sekarang udah ada Google Maps, Mas. Jadi nggak sulit untuk mencari tempat yang mau kita tuju, hehe.”


“Owalah, Iya. Mas lupa.”


“Yasudah, Nisa mau mandi dulu ya, Mas. Setelah itu Nisa mau masak buat makan malam kita.”


“Nggak usah masak, Nis. Malam ini, teman-teman ngajakin makan di luar, katanya merayakan pernikahan Mas. Mau ikut?”


Annisa terdiam, dia sedikit kecewa mendengar apa yang dikatakan Rizki.


Padahal, Nisa sudah semangat memasak dengan membeli beberapa macam sayuran, juga daging. Rencananya, dia akan memasak makanan kesukaan Rizki, Nisa sudah senang saat membayangkan dia akan makan malam berdua dengan suaminya.


Tanpa diduga, Rizki malah memilih makan di luar dengan teman-temannya.


“Oh, yasudah kalo Mas mau pergi, Nisa di rumah aja, Mas.”


“Yakin, nggak ikut?”


“Nggak, Mas.”

__ADS_1


Nisa pamit hendak mandi kepada suaminya, tanpa disadari, Rizki sudah mematahkan hati Annisa.


Bersambung...


__ADS_2