
Dokter Arnold, dokter senior yang bekerja di rumah sakit milik tuan yuda dan bima pun sudah tiba di rumah sakit tempat bima di rawat saat ini..
"Bagaimana ?" tanya Tuan Yuda saat dokter arnold keluar dari ruangan dokter rumah sakit tersebut..
Dokter Arnold lalu menjelaskan secara detail bagaimana kondisi bima saat ini. Meski bima belum siuman, tapi kondisi fisik nya cukup memungkinkan untuk melakukan penerbangan menuju tanah air.
Setelah melakukan percakapan yang cukup serius antara Tuan Yuda dan Dokter Arnold, mereka memutuskan untuk membawa bima kembali saat ini juga.
Pesawat pribadi mereka pun sudah menunggu di bandara.
"David. Kau bawa mobil ku. Aku akan bersama dengan dokter arnold di dalam ambulance.." kata tuan Yuda.
"Baik tuan.." jawab david
Setelah itu mereka pun segera menuju bandara..
**
Di lain tempat dan di waktu yang berbeda..
Huooekk.. Huooekk..
Dinda sudah 2 kali memuntahkan makanan nya. Wajahnya semakin pucat.
Bunda memijat dengan sabar tengkuk belakang putrinya. Ayah pun saat ini dengan siaga berada di kamar Dinda. Takut sesuatu yang buruk seperti tadi terjadi lagi .
"Nak, kita kerumah sakit sekarang ya.." kata ayah sambil memegang tubuh dinda, membantu nya berjalan menuju tempat tidur..
Dinda menggeleng.. "Nggak yah.." kata nya pelan
Dia lalu berbaring di kasur nya. Bunda memijat kaki dinda pelan. Dulu saat hamil dinda pun bunda ingat betul dia begitu kesulitan di awal kehamilan nya. Seperti dinda saat ini, bunda juga selalu memuntahkan semua makanan yang masuk.
Tapi bunda lebih beruntung, saat itu ayah selalu menemani nya. Sedang putrinya, suami nya saja belum tahu dinda mengandung buah hati mereka.
Dinda lalu memejamkan matanya. Dia begitu lemah, karena 2 kali makan bubur 2 kali juga dia memuntahkan bubur tersebut.
Bunda lalu mengajak ayah keluar.
"sayang. kamu kangen ya sama daddy ?" Dinda mengelus perutnya mengajak bicara janin nya yang masih berbentuk segumpal darah itu..
"Mommy juga kangen. Kita doakan daddy cepet pulang ya sayang.." sambung nya lagi
Entah dari mana datang nya sebutan daddy dan mommy itu. Dinda hanya spontan saja menyebut kan panggilan tersebut..
*Di luar kamar..
Ayah baru saja dapat kabar dari sahabatnya, bahwa bima akan di bawa pulang hari ini.
"Siapa yah ?" tanya bunda saat sambungan telepon itu berakhir..
"Yuda. Dia bilang bima akan dibawa pulang hari ini. Dia akan di rawat di rumah sakit milik keluarga nya."
__ADS_1
Bunda mengangguk.. "Kita harus memberitahukan dinda secepat nya ayah. Mungkin dengan adanya dinda di sisi bima bisa membuat dia lebih cepat sadar dari koma nya.."
Ayah setuju dengan yang di katakan istrinya, tapi kondisi dinda saat ini pun seperti nya belum memungkin kan untuk mereka memberitahukan kabar buruk ini. Ayah takut akan terjadi apa apa pada janin yang di kandung putri nya itu.
**
*Di rumah chacha..
Mobil bayu baru saja tiba di depan rumah chacha..
"Makasih ya kak." ucap chacha saat mobil bayu berhenti "Kak bayu nggak usah turun, chacha mau langsung istirahat.." kata chacha lagi dengan wajah pucat..
"Kamu yakin ? Aku antar sampai dalam ya ?" bayu merasa khawatir takut terjadi apa apa pada chacha sebelum dia sampai ke dalam rumah nya..
Chacha menggeleng.. "Chacha gak apa apa kak, cuma pusing sedikit.." jawab chacha, "Yaudah, chacha turun ya. Sekali lagi makasih dan tolong sampaikan maaf chacha sama tante rini ya kak.."
Gadis itu lalu turun dari mobil bayu setelah bayu menganggukkan kepala nya. Bayu pun segera melajukan mobil nya lagi untuk pulang dan memberitahukan pada mami nya bahwa chacha tidak bisa makan malam bersama malam ini.
deg
Chacha melihat mobil diki melaju ke arah rumah nya tepat saat mobil bayu pergi..
Chacha segera membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah..
"CHA.." teriak diki setelah turun dari mobil, laki laki itu buru buru menghampiri chacha saat dia melihat chacha dengan sengaja menghindari nya padahal tadi gadis itu sudah melihat mobil diki melaju ke arah rumah nya.
Chacha terus melangkah sampai akhirnya diki menahan tangan chacha..
"Kak diki mau apa kesini ?" tanya chacha tanpa menoleh..
"Bukan urusan kakak..!!" ketus chacha.
"Urusan aku..!! Kamu lupa, kamu itu calon istri aku..!!" kata diki tak kalah sengit..
"Oh.. jadi chacha calon istri kak diki ? Terus kemana aja calon suami chacha ini sampai tidak ada kabar selama 4 hari ini, hah ?" tanya chacha setelah dia membalikkan tubuh nya menatap tajam ke arah diki..
deg
"Kenapa wajahnya pucat sekali..!! Apa dia sakit ??"
"Kamu kenapa cha ? Kamu sakit ?" tanya diki menangkup wajah chacha..
Chacha lalu melepaskan tangan diki. "Jangan sok perhatian, Chacha gak butuh..!!" kata chacha lalu dia beranjak meninggalkan diki..
"Cha, please. Jangan kaya gini..!!" diki kembali menahan tangan chacha..
"Lepasin..!! Kak diki pulang aja sana, atau pergi lagi aja gak usah perduliin chacha.." Chacha menghempaskan tangan diki dengan kasar..
"Bener kamu ingin aku pergi..??"
deg
__ADS_1
Chacha menghentikan langkahnya. Tiba tiba saja air mata nya sudah jatuh membasahi kedua pipinya..
"YA.." kata chacha dengan suara bergetar..
Kepala chacha semakin pusing, bahkan chacha melihat sekeliling seperti semua nya berputar putar..
Dari arah belakang diki melihat gestur tubuh chacha yang tidak beres. Chacha beberapa kali menguatkan kaki nya untuk tetap berdiri..
Diki lalu maju menghampiri chacha, saat diki sudah di dekat chacha gadis itu tiba tiba ambruk. Untung diki sigap menahan tubuh kecil chacha hingga gadis itu jatuh tepat di depan nya..
"Cha..sayang..hey.. bangun cha..!!" ucap diki sambil menepuk nepuk pipi chacha pelan.. "sayang kamu kenapa..??" sambung diki lagi semakin panik karena chacha tidak membuka mata nya .
Mendengar keributan dari depan rumah nya, ibu tiba tiba keluar..
"ASTAGA.. CHACHA..!!" Teriak ibu berlari menghampiri chacha..
"Kamu siapa ?" tanya ibu heran kenapa chacha ada di pelukan laki laki yang tidak dia kenal..
"Boleh saya bawa chacha ke dalam dulu tante ?" tanya diki,
Karena panik, Ibu lalu mengangguk, diki segera mengangkat tubuh chacha yang ringan itu ala bridal.
"Langsung saja ke atas. Kamar chacha di lantai 2.." kata ibu lagi saat diki sudah masuk ke dalam rumah nya..
Tanpa menjawab ucapan ibu, diki hanya terus melangkahkan kaki nya hingga sampai ke depan kamar chacha. Ibu lalu membukakan pintu kamar, dan diki pun segera membawa chacha ke dalam kamar.
Kamar itu cukup luas dengan di dominasi oleh warna rose pink.
Diki segera merebahkan tubuh chacha di atas kasur. Laki laki itu lalu duduk di sisi ranjang chacha, dengan wajah begitu khawatir diki terus menggenggam tangan chacha. Bahkan diki seperti tidak sadar bahwa di kamar itu juga ada orang tua chacha..
ekhem..ekhem..
Ibu sengaja berdehem..
Diki menoleh ke arah suara itu dan seketika dia langsung bangun dari duduknya..
"Kamu siapa ?" tanya ibu..
"Perkenalkan tante, saya diki." kata diki mengulurkan tangan nya di depan ibu..
Ibu menatap diki penuh tanya, tadi bukan nya chacha pergi bersama andrew kenapa anak gadis nya itu malah pulang dengan lelaki yang berbeda..
Wanita itu lalu mengulurkan tangan membalas uluran tangan dari diki.
"Kamu teman nya chacha ?" tanya ibu lagi,
"Bukan..!!" jawab diki cepat
"Terus kamu siapa ?"
__ADS_1
"Saya calon suami chacha, tante..!!"
...****************...