
#Mengejar Cinta Suamiku part 40 (End)
Syauqina terlihat gugup menunggu di ruang tamu ditemani ibu, bapak, Rizki juga Annisa, gamis hijau muda dengan balutan hijab panjang menambah kesan anggun dalam dirinya.
Di atas meja kue-kue sudah tertata rapi, air mineral kemasan gelas berjejer bersiap menyambut tamu.
Rizki melirik jam tangannya, sesekali menengok keluar jendela, menunggu orang yang dimaksud. Ya, Ajis hari ini berjanji akan datang mengutarakan niatnya mengkhitbah Syauqina.
Dalam waktu satu minggu, Qina memikirkan hal ini matang-matang, meminta petunjuk dari Allah melalui sholat istikharah, Qina juga meminta saran dari ibu dan bapak hingga akhirnya dia memiliki jawaban yang mantap.
Suara mobil terdengar berhenti, pria berkemeja coklat keluar memandu perjalanan, Rizki menyambut ramah. Ajis ditemani oleh ibu dan bapaknya.
"Assalamualaikum," Sapa Ajis sambil mengulurkan tangan menyapa sahabatnya.
"Waalaikumsalam." Rizki menyambut uluran tangan, dia memeluk Ajis, melepas semua kerinduan kepada sahabat baiknya itu.
Keluarga Ajis datang membawa beberapa macam bingkisan yang mereka sebut 'buah tangan', di dalamnya ada macam-macam kue khas Bandung, seperti bolu susu Lembang, bolen Kartika Asih, brownies Amanda, dan tidak lupa bakso buatan bapaknya Ajis yang cukup ternama di kota Bandung.
Mereka lalu duduk bersama di ruang tamu, sambil berbincang dan memperkenalkan diri.
Ajis biasa memanggil ibunya dengan sebutan Emak, dan memanggil bapaknya dengan panggilan Abah. Usia kedua orang tua Ajis tidak jauh berbeda dengan ibu dan bapak.
Setelah mengisi waktu dengan basa-basi, akhirnya percakapan tiba di point utama, Abahnya Ajis yang bernama Pak Dedi, atau biasa dipanggil Haji Dedi membuka pembicaraan.
"Jadi Pak, maksud saya datang kemari itu hendak melamar kan putri Bapak untuk anak saya, Ajis. Dia memang bukan anak pesantrenan seperti si Neng geulis, Hajar Syauqina, tapi saya bisa jamin bahwa anak saya ini pria baik-baik. Dia taat pada agama, tidak pernah meninggalkan sholat, dan lancar membaca Al-Qur’an, bahkan Pak, yang membuat saya terharu, selama enam bulan ini dia belajar di sekolah tahfidz untuk menghafalkan surat Ar-Rahman, dia berjanji jika Syauqina menerima lamarannya, dia akan menghadiahkan surat tersebut sebagai mas kawin."
Ucap Haji Dedi mengusap matanya yang mulai basah, tangannya menepuk-nepuk pundak Ajis dengan rasa bangga.
"Saya paham, anak Bapak adalah seorang gadis yang spesial, tidak hanya cantik tapi juga seorang hafidzah Al-Qur’an. Jika dilihat memang jauh perbedaannya, tapi saya berani jamin, Ajis sudah memenuhi standar orang beriman meskipun dia bukan seorang hafidz." Tambah Haji Dedi meyakinkan.
Bapak mengangguk-angguk menanggapi, sesekali meneguk kopi yang tersaji di atas meja.
"Saya sebagai orang tua, menyerahkan segala keputusan kepada Syauqina, karena dialah yang akan menjalani biduk rumah tangga. Apa pun keputusan yang diambil anak saya, akan saya dukung sepenuhnya." Bapak melirik Syauqina.
Kini, semua mata tertuju padanya, Qina yang sedari tadi menunduk malu, mengangkat wajah menyisir setiap orang yang menunggu jawabannya.
Matanya melirik Ajis, untuk beberapa detik pandangan mereka beradu, memunculkan desiran halus dalam dadanya, sejurus kemudian Ajis mengalihkan pandangan.
Hari ini Ajis terlihat rupawan, jauh sekali dari penampilan saat di rumah sakit dulu, mungkin karena sekarang dia lebih memperhatikan penampilannya.
Kemeja coklat dengan aksen batik melekat di tubuhnya yang tegap, membuat warna kulit sawo matang terlihat lebih cerah. Potongan rambut undercutnya dibaluri pomade, dia terlihat semakin gagah.
Debaran jantung Ajis semakin berdegup kencang, harap-harap cemas menunggu jawaban dari sang pujaan, kue-kue enak yang tersaji sama sekali tidak menarik perhatiannya.
Rizki menepuk paha Ajis mencairkan suasana, dia berbisik di telinganya "Jangan gugup, Bro." namun ucapan itu sama sekali tidak membantu, Ajis masih terlihat gugup.
Dalam diam, Ajis merapal kan doa di dalam sana, di dalam hati yang paling dalam. Berharap doanya selama ini akan dikabulkan.
Sejak hari itu, hari dimana Rizki menceritakan kepadanya tentang adik perempuan yang bersemangat ingin pesantren dan menjadi seorang hafidzah Ajis merasa kagum, hingga pada hari-hari berikutnya dia sering mendengar cerita tentang Syauqina membuatnya semakin jatuh cinta meski sama sekali belum pernah melihatnya.
Puncaknya saat Rizki terbaring di rumah sakit, tanpa sengaja dia bertemu dengan Syauqina, membuat rasa yang dimiliki semakin dalam kepadanya.
Saat itu, dia belum belum mempunyai keberanian mengutarakan perasaan, merasa dirinya terlalu memiliki perbedaan yang jauh dengan Syauqina.
Kemudian Ajis menceritakan semuanya kepada Abah, dari Abahlah dia mendapat dukungan untuk melamar Syauqina.
Abah menyuruh Ajis untuk percaya diri dan memantaskan diri. Kata Abah, lebih baik berikhtiar meski hasilnya mengecewakan, dari pada tidak sama sekali. Setidaknya sudah berikhtiar! Jika tidak mencoba, maka akan menyesalinya seumur hidup.
Ajis merenungkan ucapan Abah, mengumpulkan keberanian, hingga akhirnya menelepon Rizki dan mengutarakan isi hatinya.
"Baik, bismillah saya menerima lamaran Kak Ajis." Jawab Syauqina dengan malu-malu, sontak Ajis mendongakkan kepala, mengangkat kedua tangannya dan mengucap syukur atas jawaban yang diterima. Semua orang di sana terlihat bahagia, mereka mengucap hamdalah secara bersamaan.
Nisa dan Rizki menoleh, mengunci pandangan dengan mesra, memikirkan hal yang terjadi pada mereka dulu. Bedanya, saat itu Rizki melamarnya bukan atas dasar cinta atau ketertarikan semata, tapi karena terpaksa. Meski begitu, kini Rizki sangat mencinta istrinya.
Setelah mendengar jawaban Syauqina, Haji Dedi menyuruh Emak menyematkan cincin di jari manis calon menantunya.
Wajah Qina menghangat, sehangat hatinya. Dia tidak menyangka akan dipertemukan dengan jodohnya secepat ini. Saat mendengar ucapan Rizki tempo hari, desiran itu menghuni hatinya, seperti banyak kupu-kupu menari di dalam sana.
Cincin sudah melingkar dengan sempurna, membuat jari manis itu terlihat lebih manis. Pihak keluarga melanjutkan pembicaraan menentukan tanggal pernikahan.
__ADS_1
Hingga, ditetapkanlah satu tanggal itu. Hari pernikahan Ajis dan Syauqina.
***
Sebulan berlalu, pelaminan sudah terpasang di aula sebuah hotel ternama di kota Cirebon, dekorasinya cantik, secantik pengantin perempuan yang terlihat sangat tegang menantikan acara paling sakral, ijab qobul.
Sebentar lagi, dirinya akan menjadi seorang istri, hal yang sama sekali belum terlintas dalam benaknya.
Annisa datang menghampiri Qina di kamar rias, memperhatikannya dari ujung kaki hingga kepala, mengagumi kecantikan Syauqina yang membuatnya sangat pangling.
"Gugup ya?" Tanya Nisa
"Gugup banget, Mbak." Jawabnya.
"Mbak dulu juga begitu, tarik nafas dalam-dalam, dan keluarkan secara perlahan, Insyaallah manjur mengurangi kegugupan."
Nisa datang membawa nasi yang sudah di kepal-kepal dengan lauknya, agar memudahkan nasi itu masuk ke mulut tanpa mengganggu lipstik di bibir Syauqina.
"Makan dulu, ya. Mbak suapi, aaaa... " Nisa menyodorkan nasi kepal ke mulutnya, Qina membuka lebar-lebar menyambut nasi itu dengan lahap.
"Ibu kemana, Mbak?"
"Ibu sedang menjemput pengantin laki-laki."
"Sudah datang memangnya?" Qina terlihat kaget.
"Sudah, barusan."
Ucapan Nisa membuatnya tersedak, degup jantung semakin kencang, rasa gugup semakin dirasakan Syauqina.
Dengan segera Nisa menyodorkan air minum lalu menepuk punggungnya, menetralkan kembali tenggorokan Qina yang sempat tersedak makanan.
"Saya terima nikahnya Hajar Syauqina binti Bapak Darman Winarto dengan mas kawin surat Ar-Rahman, uang tunai 50 juta rupiah, seperangkat alat sholat, dan emas 24 karat seberat 100 gram dibayar tunai."
Para saksi menyambut ijab qobul itu dengan ucapan sah, membuat air mata bahagia Syauqina luruh seketika, dia memeluk Annisa yang sedari tadi menemaninya di kamar rias. Dengan perasaan haru, Nisa mengelus punggung adik iparnya.
"Selamat ya, Dek, sekarang sudah jadi istri. Semoga sakinnah, mawaddah, warahmah sampai tua." Ucap Nisa kemudian membacakan doa pengantin kepada adiknya. Syauqina mengamini.
Seluruh tamu undangan yang hadir dibuat terpana oleh merdu suara dan tartil bacaan setiap ayat, banyak teman-teman Qina yang merasa iri kepadanya.
Tidak hanya karena tampang Ajis yang manis, mas kawin yang diberikan pihak laki-laki membuktikan bahwa Syauqina sangat berarti untuknya, ditambah lantunan surat Ar-Rahman yang merdu membuat Syauqina menjadi perbincangan hangat.
Setelah selesai melantunkan surat Ar-Rahman, pembawa acara memanggil Syauqina untuk bersanding di pelaminan dengan Ajis.
Kecantikannya menghipnotis seluruh tamu undangan yang hadir. Tidak terkecuali Ajis, dia terus menatap istrinya penuh cinta. Kini pandangan mereka sudah halal, Ajis tidak melepas mata sedetikpun darinya.
"Coba sekarang salim dulu kepada suaminya." Kata pembawa acara perempuan itu saat Qina berhadapan dengan Ajis.
Ajis mengulurkan tangan, mempersilakan Syauqina untuk mencium tangannya.
Qina terlihat sangat gugup dan malu, ini kali pertama dalam hidupnya, momen dimana dia akan bersentuhan dengan laki-laki selain bapak dan Rizki.
Perlahan, Syauqina mengulurkan tangan, hingga tangan mereka saling bersentuhan, mengalirkan getaran seperti listrik, dia kaget dan langsung menarik kembali tangannya yang hampir menyatu dengan Ajis.
"Nggak bisa, takut." Ucapnya gugup.
"Nggak apa-apa, kan sudah halal." Ucap si pembawa acara meyakinkan.
Qina mencoba mengulurkan tangannya kembali, tangan yang gemetar dan terasa dingin menahan gugup.
Ajis tersenyum manis ke arahnya, membuat Qina menjadi salah tingkah, lagi-lagi tangan itu seolah ragu menjabat, seolah ragu untuk bersentuhan. Bukan karena Qina tidak suka, tapi karena kegugupan dalam dirinya yang sama sekali belum terjamah, seperti berlian yang terkubur di dalam tanah, berharga, tidak terlihat apalagi tersentuh oleh orang lain.
Syauqina menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian, mensugesti diri bahwa mereka sudah benar-benar halal, tidak perlu takut dan sungkan.
"Bismillah," Ucapnya dalam hati.
Tangannya terulur kembali menyambut tangan Ajis, semakin mendekat, hingga akhirnya menempel sempurna, dengan segera, Qina menarik tangan Ajis ke arah mulutnya, dan mencium punggung tangan itu dengan khidmat.
Desiran itu semakin menjalar ke seluruh tubuh, degup jantung sudah tidak bisa lagi digambarkan iramanya.
__ADS_1
Selepas sungkem, Ajis menempelkan tangan pada ubun-ubun Syauqina, dan merapal kan doa yang diajarkan Rasulullah,
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Setelah sampai di ujung kalimat, Ajis mencium kening Syauqina dengan penuh kasih sayang.
***
Di sebuah hotel, pengantin baru itu terlihat kikuk. Masing-masing duduk di tepian ranjang tanpa suara, Qina memainkan jari jemarinya menahan rasa malu karena berada sekamar dengan pria, dia bahkan belum berani membuka hijab panjang yang menutupi tubuhnya.
"Ekhemm.. Sudah makan?" Tanya Ajis basa-basi, dia tak kalah gugup berada satu kamar dengan seorang wanita yang sangat dicintainya.
"Sudah," Jawab Qina, dia tahu itu hanya pertanyaan basa-basi yang dilontarkan Ajis untuk mencairkan suasana.
"Kan tadi makan bersama sebelum masuk ke sini." Lanjut Qina tertawa kecil.
Ajis menggaruk kepala yang tidak gatal, pernyataan konyol. Padahal tadi mereka makan bersama dengan Rizki dan Annisa.
Jantung Ajis berdebar-debar, keringat dingin membanjiri tubuh, apalagi setelah pandangan mereka bertemu, saling menatap dalam diam.
Perlahan, Ajis memberanikan diri mendekati wajah istrinya. Menarik hijab panjang dengan perlahan, hingga terbuka menyibak rambut panjang Syauqina yang hitam dan wangi.
Ajis mendekatkan wajah, seolah paham dengan maksud suaminya, Qina menutup mata, bersiap menyambut bibir Ajis yang akan segera melu-mat bibirnya.
Ajis tersenyum, dia mencolek hidung mancung istrinya lalu mengacak-ngacak rambut penuh sayang.
"Sholat Isya dulu, kita kan belum sholat. Aku takut kebablasan" Ucap Ajis mengulurkan tangannya mengajak Qina berwudhu.
Qina tersipu malu, menyambut uluran tangan Ajis lalu bangun dari tepian ranjang menuju toilet, kemudian mereka melaksanakan sholat Isya berjamaah dengan khusu.
Ini kali pertama bagi Ajis menjadi imam dari orang yang dicintainya, begitupun dengan Qina, ini kali pertama dia di imami laki-laki asing, namun sudah sukses merebut hatinya.
Selesai sholat, Qina mengganti gamis dengan pakaian yang diberikan Annisa, sebuah lingerie sangat seksi.
Awalnya dia ragu, tapi akhirnya Qina memberanikan diri menyambut syahwat suaminya.
Membiarkan Ajis menumpahkan nafsu di tubuhnya, meraih banyak pahala dengan cara yang menyenangkan.
Ajis terpana menatap Qina yang sudah bersiap dengan pakaian seksi itu. Tubuh indah nan mulus dengan hiasan lingerie membuat tubuhnya bergetar, dengan rasa panas yang kian menjalar. Tidak lupa, mereka membaca doa terlebih dahulu.
“Allahumma jannibnaasy syaythoona, wajannibisy syaythoona maa rozaqtanaa.”
Artinya: Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.
Ajis mendekap Syauqina erat dalam pelukan, mengelus rambut panjangnya hingga perlahan turun ke bibir, Ajis membenamkan hidung ke leher Syauqina menikmati aroma tubuhnya, lalu mengecup dan menyesap pelan menyisakan warna merah, membuat sensasi yang sulit di artikan.
Tubuh Qina menegang, sesuatu dibawah sana terasa keras mengenainya, dengan segenap keberanian dia menyentuh benda keras itu, menimbulkan rintihan pelan dari mulut Ajis.
Qina menurunkan tubuh, bertumpu pada lutut, dia mengu-lum pusaka milik Ajis dengan lembut, membuat Ajis semakin melayang dibuatnya.
Ajis merasakan dirinya yang semakin di kuasai syahwat, dia menghentikan Qina, menggendong ke atas ranjang, mencum-bui setiap tubuhnya tanpa terlewat.
"Bolehkah di masukkan sekarang?" Bisik Ajis di telinga Qina yang sedari tadi tersengal menikmati sentuhan. Qina mengangguk, "Pelan-pelan, ya." Lirihnya.
Mendapat lampu hijau, Ajis mulai memasukkan dengan sangat pelan hingga akhirnya merobek selaput dara, mengeluarkan darah keperawa-nan, mereka menikmati malam pengantin itu dengan penuh cinta.
***
Bulan berganti, tahun berlalu.
Annisa sudah melahirkan seorang anak perempuan yang lucu. Kini mereka tinggal di sebuah rumah besar, di belakang rumah tersebut di tumbuhi banyak bunga.
Rumah hasil usaha Rizki yang semakin lancar dan besar. Ditengah kesibukannya mengasuh anak, Nisa juga mengelola toko online miliknya, kini Annisa sudah mempunyai empat karyawan.
Syauqina sudah tidak lagi membantu, dia sendiri sibuk mengelola kedai bakso milik Ajis yang lokasinya berada di pusat kota Cirebon.
Mereka bahagia dengan kehidupannya masing-masing.
__ADS_1
-SELESAI-