Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Part 174 MCS


__ADS_3

"DINDA..." chacha terlonjak kaget melihat seseorang di depan nya.


Untuk beberapa saat mereka saling diam dan hanya berbicara melalui tatapan mata. Kedua manik mata mereka sudah sama sama berair. Tinggal menunggu beberapa detik lagi sampai air mata itu jatuh membasahi kedua belah pipi mereka..


Luna berdiri dari duduk nya, lalu perlahan mulai berjalan menghampiri chacha..


"Cha.. Hiks..hiks.."


Grep


Luna langsung memeluk chacha. Tapi chacha yang masih terkejut tidak bisaa menggerakkan anggota tubuh nya. Tatapan nya masih kosong.


"By (Maksudnya baby, panggilan diki pada chacha) , Ada siapa ??" tanya diki dari arah dalam..


Deg


Tak kalah terkejut, diki kini pun mematung seperti chacha. Melihat seseorang yang telah lama di cari nya sekarang berdiri tepat di hadapan nya dan sedang memeluk erat sang istri.


Bima hanya diam menyimak. Seperti saat istri nya itu bertemu dengan kedua orang tua nya beberapa hari lalu, bima hanya diam dan memberikan waktu bagi mereka untuk saling melepas rindu.


"DINDA..." suara bariton diki menyadarkan chacha dari lamunan nya..


Deg


Chacha seketika itu langsung melingkarkan tangan nya di tubuh sahabatnya sebelum dinda benar benar melepaskan pelukan itu.. "Hiks..hiks. Dinda, kamu kemana aja selama ini ??" Tangis chacha pun pecah.


Diki berjalan menghampiri bima.. "Itu sungguh dinda ?? Apa aku sedang bermimpi ??" gumam nya seraya menjatuhkan bokong di samping bima dan kini kedua nya tengah melihat istri istri mereka yang sedang menangis sesenggukan..


Plak..

__ADS_1


Bima memukul paha diki lumayan keras..


"AH..!!" Pekik diki saat merasakan sakit akibat pukulan itu seraya memberikan tatapan tajam pada bima..


"Kalau kau merasa sakit tanda nya ini bukan mimpi.." ucap bima tanpa rasa bersalah..


Bima lalu bangun dan menghampiri kedua wanita yang masih saling memeluk itu..


"Cukup!! Jangan menangis lagi. Aku tidak mau melihat kamu menangis seperti itu!!" Bima melepaskan tangan sang istri dari tubuh chacha, lalu mulai menghapus jejak air mata di wajah istri nya.


"Tapi ini bukan air mata kesedihan, om.."


"Astaga!! suami mu itu benar benar menyebalkan sekali. Menangis saja tidak boleh!!" cibir chacha seraya menghapus jejak air mata nya sendiri dengan kasar.


Bima memutar bola mata nya malas, "Lihat suami mu. Dia jauh lebih menyebalkan dari ku!!"


Deg


Luna (Aku nulisnya pakai nama Luna ya, bukan Dinda.) baru menyadari ketika diki mengatakan itu. Mata nya pun langsung tertuju pada perut sahabatnya yang sudah membesar.


Luna menutup mulut nya yang terbuka sedikit karena terkejut.. "Cha, kamu..." ucap nya tanpa bisa menyelesaikan kalimat nya..


Chacha mengangguk sambil tersenyum..


Kembali luna menghampiri chacha, lalu mengusap perut chacha dengan tangan yang gemetar.. "Sudah berapa bulan ??" tanya luna penasaran,


"Sudah bulan nya, tinggal menghitung hari.." jawab chacha..


"Mom..." suara panggilan dari arah belakang..

__ADS_1


Deg


Luna kembali terkejut ketika melihat seorang anak perempuan yang mungkin usia nya di bawah dewa datang dan menghampiri chacha..


"Mom..." kembali anak itu mengulangi ucapan nya..


"Sayang, kamu main sama dad dulu ya.." ucap chacha pada anak perempuan itu..


Diki pun langsung mengangkat anak itu dalam gendongan nya.. "Ayo, sekarang gantian kamu main sama daddy ya.." ucap nya yang semakin membuat luna membeku.


"Cha...." ujar nya menuntut penjelasan..


Sebelum pergi masuk kembali ke dalam, diki mengajak bima untuk meninggalkan istri istri mereka. Diki ingin istri nya itu memiliki waktu berdua dengan sahabat nya..


Awalnya bima menolak, sebab dia tidak mau jauh jauh dari istri nya lagi. Mungkin pria itu trauma karena dulu ketika luna pergi dari nya, bima sedang tidak ada di rumah dan tidak tahu apapun yang dilakukan wanita nya. Tapi setelah luna memberikan pengertian dan berjanji tidak akan pergi kemana pun akhirnya bima pun mengizinkan.


"Cha, jadi ini anak kedua kamu ??" tanya luna sangat antusias..


Chacha mengangguk.. "he'em.."


"Wah.. Aku tidak menyangka banyak yang aku lewatkan selama ini.."


Chacha kembali bersedih.. "Tentu saja. Kamu pergi sangat lama dinda. Kamu pergi 5 tahun." chacha mengangkat kelima jari tangannya tepat di depan wajah sahabat nya tersebut..


"Maafkan aku, cha." luna menunduk dan kembali menahan air mata nya lagi.


Chacha lalu memeluk luna sekilas.. "Sekarang kamu harus berjanji padaku!! Kamu tidak akan pernah pergi lagi!!" chacha menuntut luna untuk berikrar dan menyebutkan apa yang ingin dia dengar..


Luna membalas pelukan chacha.. "AKU JANJI TIDAK AKAN PERNAH PERGI LAGI!!" ujar luna dengan penuh keyakinan seraya mengangkat jari kelingking nya untuk di tautkan dengan jari kelingking sahabat nya..

__ADS_1


__ADS_2