
Setelah perbincangan panas itu, mereka berdua pun kembali diam.
Tok tok tok..
Suara pintu ruangan luna di ketuk dari luar..
Ceklek..
"Selamat pagi, dokter cantik.."
"Maaf dokter luna, tapi tadi saya sudah memberitahu bahwa hari ini anda tidak bisa di ganggu.." seorang suster begitu takut ketika melihat tatapan bima yang begitu tajam..
Luna pun bangun lalu menghampiri pasien spesial nya itu.. "Its okay sus, tidak apa apa.." ucap luna pada rekan nya..
"Selamat pagi juga, nyonya maria. Ada yang bisa saya bantu ??" tanya luna dengan ramah
"Dokter cantik. Bagaimana tawaran makan malam dengan cucu saya ?? Apa dokter cantik sudah mempertimbangkan nya ??" tanya nyonya maria tanpa basa basi..
__ADS_1
Luna langsung menatap ke arah bima. Entah kenapa dia reflek ingin tahu bagaimana wajah pria itu sekarang ketika mendengat ucapan nyonya maria barusan. Dan benar saja, kilatan kemarahan kembali terpancar di kedua manik mata nya.
"Nyonya maria, perkenalkan, ini suami saya.." Dari pada semakin salah paham, luna pun berinisiatif mengenalkan pasien spesial nya pada bima, sang suami.
Nyonya maria menatap bima dengan penuh tanda tanya. "Ini benar suami mu, dokter cantik ?? Sepertinya dia lebih lantas jadi ayah dati pada jadi suami.."
Deg
Bima melebarkan kedua mata nya. Sungguh dia sangat terkejut dengan ucapan nenek itu. Marah ? Tentu saja. Tapi apa yang bisa dia lakukan dengan nenek nenek ? Masa iya dia harus melawan nya dengan kekerasan ? Seandainya saja yang bicara seperti itu seorang pria, mungkin saat ini bima sudah merobek mulut pria itu.
Deg
Nyonya maria tidak percaya, luna seperti membentak nya .
"Dan mulai hari ini saya sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit ini. Jadi silahkan anda mencari lagi dokter bedah jantung selain saya. Terimakasih.."
Nyonya maria kembali mematung, "Bukan seperti itu maksud saya, dokter cantik!!" ucap nya saat tersadar dia sudah salah bicara.
__ADS_1
"Tidak apa apa, nyonya maria. Tapi sebaiknya anda keluar sekarang!!" luna kembali mengusir pasien spesial nya tersebut..
Brug!!
Luna menutup pintu cukup kencang sesaat setelah nyonya maria keluar dari ruangan nya..
"Sini..!" Bima memanggil sang istri dengan begitu lembut..
Luna yang tidak enak karena kejadian tadi pun langsung menghampiri tanpa banyak bertanya.. "Itu yang aku maksud. Banyak orang tua yang menyamar sebagai pasien hanya untuk menawarkan mu untuk menjadi menantu nya.. Aku tidak terima. Aku tidak ingin melihat hal seperti ini lagi, sayang. Apa kamu mengerti sekarang ??"
Luna hanya diam. Memang benar kejadian sepeti ini bukan hanya sekali dua kali terjadi pada nya. Bahkan sekelas dokter senior saja sangat menginginkan luna untuk menjadi istri nya.
Bima kembali membelai antara pipi dengan tulang leher sang istri..
"Aku sangat mencintai mu, sayang. Aku tidak ingin kehilangan mu lagi!! Tolong mengerti sekali ini saja.." bima kembali memohon dengan tatapan sayu nya.
"Kalau kamu memang ingin bekerja sebagai seorang dokter, maka kamu hanya boleh bekerja di rumah sakit milikku yang berada di negara kita. Jika tidak mau, maka tidak usah sekalian!! Bagaimana Apa kamu tetap mau menjadi dokter tapi di Indonesia, atau tidak sama sekali??"
__ADS_1