
#Mengejar Cinta Suamiku part 6 (Penetapan Tanggal)
Sepulang dari kebun, bapak, ibu dan aku beristirahat menikmati senja di balkon rumah. Sambil mengobrol banyak hal, terutama tentang aku dan Annisa.
Menurut bapak, jika kami sudah cocok, alangkah baiknya jika pernikahan disegerakan. Ibu mengangguk tanda setuju.
Meski masih dihinggapi keraguan, tapi aku berada di posisi yang tidak mungkin menolak. Aku akan menuruti apapun keputusan bapak.
“Dulu, Bapak dan Ibu dari ta'aruf ke pernikahan juga tidak lama-lama.” Ucap bapak sambil menyeruput teh hangat yang dibuatkan ibu.
“Iya, Pak. Iki ikut saja yang terbaik menurut Bapak.”
“Kalau begitu, lebih baik malam ini kita sambangi rumah ummi Yuna, untuk menentukan tanggal pernikahan kalian” kini ucapan bapak benar-benar membuatku kaget. Secepat inikah?
“Kebetulan Ibumu sudah membelikan seperangkat perhiasan dan alat sholat untuk mas kawinnya.” Timpal bapak membuatku semakin kaget dibuatnya.
“T-tapi, Pak, apa tidak terlalu cepat?” tanyaku memastikan perkataan bapak barusan.
“Bukannya kamu sendiri toh yang minta secepatnya untuk menikah.” Ibu yang sedari tadi menyimak, kini ikut menimpali pembicaraan.
Sepertinya bapak serius dengan ucapannya menentukan tanggal pernikahan. Jika sudah seperti ini, tidak ada lagi celah untuk menolak.
Selepas isya nanti, kami akan berkunjung ke rumah Annisa untuk menentukan tanggal pernikahan.
***
Di rumah Annisa, kami sudah berkumpul. Terlihat sedikit ramai karena ada paman dan bibi Annisa yang ikut serta dalam obrolan serius ini.
Sementara itu, dari pihakku, bu’le dan pa’le dari bapak juga turut serta dalam pertemuan dua keluarga ini.
Setelah pihak keluarga Annisa memberi sedikit ucapan terimakasih atas maksud kedatangan kami, bapak kemudian angkat bicara untuk memperjelas niat kedatangannya.
“Bapak dan keluarga datang kemari bermaksud untuk menentukan tanggal pernikahan Annisa dan Rizki. Apakah dari Nisa sendiri sudah siap?” tanya bapak kepada Nisa yang dari tadi menyimak dengan seksama.
Malam ini, gamis berwarna krim dengan hijab panjang selutut membaluti tubuhnya. Jika saja aku bisa meminta, aku ingin Sheila yang berada di sana.
Aku ingin Sheila berada di posisi Annisa yang di khitbah langsung oleh bapak untuk diriku.
Jika saja itu terjadi, mungkin pertemuan dua keluarga ini akan menjadi momen yang paling membahagiakan untukku.
“InsyaAllah, dari awal Ibu dan Bapak datang kemari untuk mengkhitbah Nisa, sejak saat itu, Nisa sudah siap dan mantap. Sebab menikah adalah ibadah, dan tidak ada alasan bagi Nisa untuk menolaknya.”
Dia seorang gadis sholehah, cerdas, taat pada agama dan orangtuanya, aku mengakui itu. Terkadang, aku justru sedikit insecure melihat Nisa. Kupikir, gadis ini terlalu baik untukku.
Bukankah seharusnya aku bersyukur? Tapi, jika saja bisa menghentikan semua ini, aku lebih memilih untuk tidak menikahinya.
Di hati ini, sedikitpun tidak ada rasa suka padanya. Aku hanya mengagumi karakter Annisa yang lemah lembut dan cerdas lagi sholehah, hanya sebatas itu.
Tanggal sudah di tetapkan. Pernikahan ini akan berlangsung tiga minggu lagi.
__ADS_1
Tiga minggu lagi, kuharap cukup untuk memupuk sedikit rasa pada Annisa. Akan kucari hal menarik darinya yang bisa membuat hati ini berdesir.
Apapun itu, akan kucoba. Agar aku bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang suami kepadanya. Agar aku tidak mendzalimi wanita pilihan ibu dan bapak.
Sheila, inilah akhir kisah cinta kita. Menikah dengan pilihan masing-masing, memasrahkan diri menerima takdir, namun rasa masih tetap pada satu nama.
Kurasa, segala pengorbanan selama ini untuk mendapatkan dan mempertahankannya sudah begitu kuat, sudah semaksimal mungkin membahagiakan dia agar merasa beruntung dimiliki olehku.
Nyatanya tidak begitu! Harta tetaplah prioritas utama baginya, sehingga mengesampingkan cinta dan sampai hati menghianatiku dengan kejamnya.
Kini, aku disini, terjebak dalam kebohongan yang kubuat sendiri. Pernikahan ini adalah pengorbanan terakhir dariku untuknya.
Agar Sheila tetap mempertahankan rumah tangga mereka dan menyerah kepadaku.
Bagaimana pun, pria itu memiliki segala hal yang tidak aku punya. Segala hal yang dibutuhkan Sheila.
Semoga cinta pria itu untuk Sheila, sebesar cinta yang aku rasakan untuknya.
***
“Jadi, tiga minggu lagi, lu nikah, Ki?” tanya Ajis antusias.
Aku sudah kembali ke kota, dan kini aku berada di kosan dengan Ajis. Seperti biasa, dia selalu penasaran dengan apa yang terjadi.
Kuceritakan apa yang terjadi di kampung kepadanya, sesekali dia menimpali dan tertawa mendengarkan aku memaparkan yang terjadi selama aku di sana.
Benar yang dikatakan Ajis, harusnya aku lebih bersyukur karena mendapatkan seorang gadis yang lembut hatinya dan cerdas otaknya.
Tapi, ibarat kata sebuah rumah yang sudah memiliki penghuni tidak mungkin bisa dihuni oleh orang lain, kecuali penghuni pertama sudah keluar dari rumah tersebut.
“Lu udah tahu kan kalau dua hari yang lalu, Sheila datang kesini nyariin,?” tanya Ajis memecah lamunanku.
“Dia di sini nangis-nangis setelah dengar kalau lu mau nikah.” Sambungnya.
“Tahu, dia WA gua.” Jawabku singkat.
Kuhembuskan nafas panjang dan berbaring di atas kasur melepas segala penat, mencoba memejamkan mata untuk mencari keheningan, nyatanya tidak berhasil, otakku malah semakin berisik.
“Dia minta gua buat ngundang dia pas nikah. Menurut lu gimana, Jis?”
“Kalau lu mau denger saran gua, lebih baik jangan. Sheila udah dewasa, dia sudah bisa mengatur jalan hidupnya sendiri dengan ada atau tanpa adanya lu di hidup dia.” Tutur Ajis dengan serius.
“Kebohongan yang lu buat ke Sheila justru menjadi anugerah buat diri lu sendiri, Ki. Lu bisa ketemu calon yang seperti Annisa berkat kebohongan itu. Sekarang, mending fokus ke Annisa. Gua yakin, suatu hari nanti lu bisa mencintai dia.”
Semilir angin dari balik jendela membuat mataku semakin berat, akhirnya aku tidak bisa lagi mendengar yang dikatakan Ajis, dan terlelap dalam mimpi.
***
__ADS_1
Suara getaran dari ponsel membangun tidurku, kulirik jam yang melingkar di tangan, sudah pukul sebelas malam. Segera kuambil ponsel yang masih tersimpan di dalam tas.
‘Sheila’
Rupanya, sejak tadi dia terus menelepon. Entah ada hal apa hingga dia menghubungiku selarut ini.
Penasaran dengan apa yang dia katakan, akupun mengangkat telepon tersebut setelah sebelumnya acuhkan beberapa kali.
“Halo,” Sapaku kepada orang di sebrang telepon sana.
“Rupanya benar, kalian masih sering berhubungan. Dari dulu aku curiga karena istriku selalu mengunci ponselnya dengan password yang tidak aku ketahui. Kali ini, aku berhasil mengecek ponselnya, dan menemukan banyak chat antara kalian, juga panggilan keluat yang dipenuhi namamu.”
Aku tersentak mendengar suara lelaki di sana, seketika rasa kantuk hilang.
“Maaf, mungkin Anda salah paham. Anda bisa baca sendiri isi chat dari saya kepadanya, tidak ada yang macam-macam. Saya masih cukup waras, tidak akan mengganggu wanita yang sudah bersuami, sekalipun wanita tersebut adalah orang yang sangat saya cintai.” Jawabku tegas.
Hal yang aku takutkan sejak dulu, kini terjadi.
“Enyahlah dari hidup Sheila. Pergilah sejauh mungkin, hingga dia tidak bisa lagi menemukanmu. Jika tidak, kamu akan terima sendiri akibatnya.”
Belum sempat aku menjawab ucapannya, sambungan telepon terputus begitu saja.
Posisiku terancam, sesuatu yang buruk sepertinya akan terjadi. Tapi, semoga saja Sheila tidak apa-apa. Semoga dia tidak diperlakukan buruk oleh suaminya setelah apa yang dia lakukan kini terbongkar.
Sheila, kuharap dia memperlakukan kamu dengan baik meskipun dia sudah mengetahui semuanya.
Aku tidak bisa tidur lagi. Sungguh aku sangat mengkhawatirkan Sheila. Di malam yang hening ini, pikiranku dipenuhi Sheila.
Apakah dia tidak apa-apa? Akankah rumah tangganya tetap baik-baik saja?
Paginya, aku meminta tolong kepada Ajis untuk menelepon Sheila dan menanyakan apakah dia baik-baik saja? Meskipun masih terheran-heran, tapi Ajis menuruti permintaanku.
“Halo, Jis. Ada apa pagi-pagi begini menelepon?” terdengar suara Sheila disana baik-baik saja. Dari suaranya, nampak dia baru bangun tidur.
“Gak ada yang penting sih, tapi lu baik-baik aja kan, La?” tanya Ajis padanya.
“Iya, gua baik-baik aja kok. Kenapa emang?”
“Suami lu, gimana?” Ajis melontarkan lagi pertanyaan yang kusuruh.
“Kenapa tiba-tiba nanya suami gua? Dia gak kenapa-kenapa. Emangnya ada apa, sih?” Tanya Shela semakin heran.
“Gak apa-apa, kok. Syukur deh kalau gitu. Udah dulu ya, La. Gua mau sarapan.”
Ajis kemudian mematikan ponsel dan bertanya padaku apa yang terjadi.
Seperti biasa, aku menceritakan kejadian semalam kepada Ajis, dan dia menyuruhku untuk lebih berhati-hati.
Tapi, aku lega mendengar Sheila baik-baik saja. Pria itu pasti sangat mencintai Sheila, sehingga tidak memberi tahu kepada Sheila bahwa dia sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
Bersambung...