Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 29 (Menuntut Maaf)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 29 (Menuntut Maaf)


[Seperti janjiku tempo hari, aku mengundang kamu dan Rizki untuk makan malam di Skynight hotel The Princess jam delapan malam.]


Annis menerima pesan dari nomor baru, dilihat isi pesannya sudah bisa ditebak yang mengirim adalah Pak Alex, suaminya Sheila.


[Baik, Pak.] balas Nisa tanpa ragu.


Nisa melanjutkan aktifitasnya yang sedang mengemas seluruh pesanan. Karena di sini dia tidak memiliki pegawai, segalanya dikerjakan sendiri, kadang dibantu Rizki jika dia sudah pulang bekerja.


Tumpukan resi yang sudah di print di sesuaikan dengan detail pesanannya, Nisa terlihat kelelahan karena semakin hari pesanannya semakin banyak.


Sejak putus kontrak dengan Fatur, Nisa sempat kesulitan memenuhi pesanan karena stok dagangannya yang semakin menipis. Beruntung Rizki membantunya mencari partner baru untuk Nisa, bersama partner barunya, Nisa bisa memproduksi banyak stok.


Tumpukan plastik, dan lakban berceceran membuat ruang kerja Annisa berantakan, dia mulai kewalahan mengerjakan semua pesanan sendirian, dari mulai merekap sampai packing.


Dia memustuskan akan mencari pegawai untuk membantunya, tentu dengan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Rizki.


Suara mobil terdengar memasuki garasi, Nisa menebak itu suaminya, dengan cepat dia menghambur menuju pintu depan dan menyambut Rizki.


“Assalamualaikum, sayang.” Sapa Rizki saat mendapati Annisa membuka pintu.


“Waalaikumsalam, cintaa.”


Rizki mengecup kening, hidung, bibir, dan kedua pipi istrinya, ini adalah ritual yang tidak pernah dilupakan oleh Rizki saat hendak berangkat kerja, dan sepulang bekerja.


Melakukan ritual seperti ini sebelum berangkat kerja akan membuatnya semangat, dan melakukannya sepulang bekerja bisa membuatnya menghilangkan penat.


Nisa membawakan tas Rizki dan menaruhnya di nakas. Tidak lupa, dia membawakan air minum untuk suaminya, meskipun Nisa sedang sibuk, tapi melayani suami menjadi prioritas utama yang tidak pernah dilupakan.


“Tumben Mas baru jam empat sore udah pulang?” Tanya Nisa yang heran karena Rizki pulang setengah jam lebih cepat dari biasanya.


“Iya, lagi nyantai aja kerjanya, jadi bisa pulang cepat.”


Nisa mengangguk, “Pak Alex malam ini mengundang kita makan malam, Mas.”


“Oh, ya? Jam berapa katanya?”


“Jam delapan malam, di restoran Skynight hotel The Princess.”


“Kamu jawab gimana?”


“Nisa iya-in Mas.”


“Oyasudah, nanti kita berangkat.”


“T-tapi.. Kerjaan Nisa masih banyak Mas. Sepertinya Nisa mulai kewalahan mengurus sendiri pesanan yang masuk.”


“Menurut Mas sebaiknya kamu cari pegawai biar ngga terlalu capek begini.” Ucap Rizki sambil memijit bahu Annisa.

__ADS_1


“Nggak perlu memijit, Mas juga pasti lebih capek.”


“Nggak papa sayang, capek Mas hilang saat melihat senyum kamu tadi.”


“Iish, gombal banget. Nanti Mas bantu Nisa cari pegawai ya.” Lirik Nisa.


“Boleh, sayang. Nanti Mas bantu,”


“Thankyou sayangku.” Ucap Nisa gembira.


“You’e welcome, honey.” Rizki mengecup kepala istrinya.


Setelah istirahat dan berbincang sebentar, Rizki membantu Annisa mengemasi pesanan agar bisa segera dikirim, terlebih malam ini mereka sudah janji untuk makan malam dengan Pak Alex dan Sheila.


Dalam hati Rizki bertanya, mengapa bisa Sheila keguguran? Apakah dia masih menderita dengan pernikahannya?


Seharusnya tidak! Saat bertemu Pak Alex di rumah sakit, terlihat dia sangat khawatir dengan kondisi Sheila, dia begitu mencintai Sheila, Pak Alex rela melakukan apa pun demi istrinya. Semoga Sheila sudah benar-benar berubah.


Sudah tiga bulan sejak pertemuan dengan Pak Alex di rumah sakit tempo hari, Nisa dan Rizki bahkan sudah lupa pernah meminta untuk diundang makan malam bersama.


Ternyata Pak Alex tipe orang yang tidak ingkar janji, hari ini dia mengundang Rizki dan Nisa untuk makan malam di sebuah restoran mewah.


Keadaan Annisa sekarang sudah jauh lebih baik setelah rutin konsultasi dengan psikiater. Nisa sudah memaafkan Fatur dan melupakan kejadian waktu itu. Meski sudah memaafkan, namun Annisa tidak mau bertemu lagi dengan Fatur.


Baginya Fatur adalah mimpi buruk, Nisa menyesal pernah mengenal Fatur. Meskipun Nisa sempat mengakui Fatur itu baik, tapi kebaikannya tersebut memiliki maksud tertentu.


Rizki dan Nisa sudah selesai mengemas semua pesanan, sebentar lagi paket mereka siap di pick-up oleh pihak ekspedisi.


Rizki juga membuka jasa perbaikan mesin apa saja saat libur bekerja, tidak disangka dia mendapatkan banyak klien. Dari hasil kerja paruh waktu tersebut, tabungannya sudah terkumpul cukup banyak.


Bahkan jika mereka mau, rumah yang tempati kini bisa saja mereka beli. Tapi Nisa dan Rizki tidak berpikir untuk menetap di sana selamanya. Mereka punya kampung halaman yang sangat dicintai, kelak mereka ingin menghabiskan waktu di sana bersama anak cucunya.


Matahari sudah terbenam, Azan maghrib berkumandang, Rizki pergi ke masjid untuk sholat Maghrib berjamaah.


Sedangkan Annisa sedang mempersiapkan baju untuk dinner dengan Pak Alex dan Sheila. Nisa merasa deg-degan memikirkan pertemuannya dengan Sheila, wanita yang dulu sangat dicintai oleh suaminya.


Tidak dipungkiri, Nisa sempat merasa benci kepadanya, dia manusia biasa yang bisa terbakar api cemburu.


Bahkan, rasa dendamnya sempat membuat dia berpikir untuk tidak mendonorkan darah. Namun, Annisa berpikir ulang, rasa simpatinya lebih besar dari rasa marahnya terhadap Sheila.


***


Rizki memarkirkan mobil di besment hotel The Princess, hotel bintang lima yang cukup terkenal di Kota Jakarta.


Dia membukakan pintu mobil agar Annisa bisa keluar dengan mudah. Malam ini, Nisa cantik sekali. Dia memakai gaun warna Lilac dengan manik-manik di sekitar pinggangnya. Hijab panjang yang terulur hingga sepinggul tidak mengurangi keanggunan Nisa malam ini.


Sedangkan Rizki datang memakai kemeja warna senada dengan istrinya, dibalut dengan jas hitam membuat penampilan Rizki lebih tampan dari biasanya.


Mereka menghampiri resepsionis dan memberitahukan maksud kedatangannya, salah satu staff lalu mengantarkan mereka ke sebuah restoran di lantai paling atas. Pak Alex memesan ruangan VVIP yang sangat nyaman dan privat.

__ADS_1


Setibanya di sana, Pak Alex dan Sheila menyambut dengan senyuman ramah.


Para pelayan memundurkan kursi mempersilakan Rizki dan Annisa untuk duduk, lalu memajukannya kembali saat mereka hendak duduk, mereka dilayani seperti seorang raja dan ratu. Tidak heran, karena VVIP di fasilitasi demikian.


Meja makan yang besar dan panjang sudah di penuhi banyak makanan mewah, lilin-lilin yang berada di atas meja membuat suasana candy light dinner ini terasa lebih nyaman.


Yang paling menarik adalah pemandangan malam dari atas ketinggian hotel ini, lampu-lampu yang bertebaran terlihat seperti hamparan bintang. Cantik sekali!


“Terimakasih sudah menepati janji untuk datang.” Ucap Alex membuka percakapan.


“Terimakasih juga sudah menepati janji untuk mengundang kami makan.” Nisa menimpali.


Annisa melirik Sheila yang malam ini tidak kalah cantik darinya. Gaun selutut berwarna putih, rambut panjang yang dibiarkan tergerai membuat Sheila terlihat seperti seorang putri. Annisa kini paham mengapa dulu Rizki tergila-gila padanya.


Tapi Nisa tidak merasa insecure, dia cantik dengan versinya sendiri. Dia bisa membuat Rizki jatuh cinta dengan penampilannya di rumah yang seperti artis-artis Korea.


Mereka lalu makan bersama ditemani dengan perbincangan basa-basi.


Dari mulai appetizer, main course, hingga dessert dari restoran ini benar-benar memanjakan lidah. Tidak rugi Alex memesan layanan VVIP, selain dilayani dengan maksimal, makanan yang enak, ruangannya pun sangat privat membuat mereka leluasa.


“Sekali lagi saya berterimakasih, berkat Mbak Nisa, istri saya bisa melewati masa kritis.” Ucap Alex


“Sama-sama, Pak. Tapi, tujuan saya ingin di undang makan bersama bukan untuk menerima ucapan terimakasih Bapak.” Nisa mulai berbicara serius.


“Lantas?” Alex tidak mengerti. Begitupun dengan Sheila dan Rizki.


“Tujuan saya ingin bertemu kalian adalah, pertama saya ingin meminta maaf kepada Mbak Sheila, karena saya pernah membenci Mbak saat kalian masih belum bisa melupakan satu sama lainnya, bahkan, Mbak beberapa kali membuat ulah, dengan menemui suami saya secara diam-diam tanpa diketahui oleh saya dan Pak Alex. Jujur itu semua membuat saya marah dan menaruh rasa benci kepada Mbak. Tapi sekarang, saya ingin membuang semua rasa benci itu, saya ingin berdamai dengan masa lalu dan meminta maaf kepada Mbak secara langsung. Inilah tujuan utama saya ingin bertemu kalian.


Kedua, saya menuntut permintaan maaf dari Pak Alex kepada Mas Rizki karena dulu pernah memukulnya tanpa tabayyun terlebih dahulu. Saya sangat tidak terima suami saya dipukul atas kesalahan Mbak Sheila, saya yakin Pak Alex sudah mendengar penjelasannya langsung dari istri Bapak bahwa malam itu suami saya dijebak. Sekarang, saya menuntut Bapak untuk meminta maaf kepada suami saya.”


Mendengar hal itu, mata Sheila berkaca-kaca, dia teringat semua kesalahannya kepada Rizki dan Annisa. Meskipun dia banyak menyakiti Nisa, tapi Nisa tetap baik kepadanya dan memutuskan untuk menolongnya saat kondisi dia sedang kritis, ini membuat Sheila sangat menyesali segala perbuatannya.


“Sebenarnya sudah lama saya ingin minta maaf, tapi belum ketemu waktu yang tepat. Saya sungguh minta maaf kepadamu Rizki, malam itu saya tidak bisa berpikir jernih. Suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya bersama pria lain? Sekali lagi saya minta maaf, sekiranya permintaan maaf saya ini tidak cukup, lakukan apa pun untuk membuat kalian memaafkan saya.” Alex berkata dengan penuh penyesalan, terlihat dari wajahnya dia benar-benar menyesali perbuatannya kepada Rizki.


“Tidak apa-apa Pak, saya sudah memaafkan meski Bapak tidak memintanya.” Jawab Rizki.


“Aku juga memohon keridhoan hati kalian untuk mengampuni semua kesalahanku selama ini, terlebih kepadamu Nisa. Aku sangat menyesal.” Sheila bersimpuh di hadapan Annisa, dia menangis tersedu-sedu menyesali semua kesalahannya.


“Bangun Mbak, tidak boleh seperti ini.” Annisa merangkul Sheila untuk bangun dan kembali mendudukkannya di kursi.


“Saya sudah memaafkan Mbak jauh sebelum ini. Hari ini, mari kita sama-sama menghilangkan segala kemarahan, kebencian, kecemburuan, dan penyesalan yang terjadi diantara kita akibat masa lalu Mbak dan Mas Rizki. Mari sama-sama berdamai dengan masa lalu, agar kita bisa menjalani kehidupan dengan perasaan tentram, yang terpenting tidak ada dosa diantara kita karena sudah saling memaafkan satu sama lain.”


Mereka mengangguk menyetujui ucapan Annisa. Malam ini, segala dendam telah usai, segala kesalahan telah saling di maafkan, dan segala permasalahan telah terselesaikan.


Annisa merasa lega, pun dengan yang lainnya. Mereka saling mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi, mereka meyakini bahwa semua ini adalah takdir yang sudah tertulis.


Jangankan kisah mereka yang berliku, daun yang jatuh, dan ranting yang patah saja sudah ada ketentuannya.


Allah sudah mengatur semuanya sesuai dengan catatan hamba di buku Lauhul Mahfudz.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2