
*Hari berikutnya..
Tepat hari ke 4 bima belum juga membuka matanya..
"Sayang, hari ini kamu jangan kerumah sakit dulu ya.." ucap bunda duduk di sisi kamar tidur dinda.
Dinda sedang memoleskan make up tipis di wajahnya.
Bunda terus memperhatikan putrinya heran, kemarin dinda begitu terpukul melihat keadaan suami nya. Tapi pagi ini dinda berubah 180°, putrinya itu sudah rapi dengan memakai pakaian yang tidak pernah bunda lihat sebelumnya..
Padahal tanpa bunda tahu sejak kepulangan nya dari rumah sakit kemarin, dinda terus menangis di dalam kamarnya. Menyesali kebodohan nya yang memberikan izin pergi pada suaminya itu. Padahal jika berusaha melarang lebih keras sedikit lagi saja pada saat itu, mungkin hal ini tidak akan sampai terjadi.
Tapi bukan kah ada peribahasa yang mengatakan..
"Don't cry over spilled milk.."
(Jangan menangisi susu yang sudah tumpah)
Ya, dinda memutuskan untuk tidak mengingat lagi kejadian itu.
What's done is done..
Wanita itu lalu memikirkan satu ide yang mungkin bisa membuat suami nya itu membuka mata nya. Entah cara ini benar atau salah, yang jelas dinda akan mencoba nya hari ini.
Setelah selesai memoles wajahnya, dinda lalu bangun dari duduknya..
"Sayang, kenapa kamu berpakaian seperti itu ?" tanya bunda yang juga ikut bangun dan berdiri di hadapan putrinya..
Dinda tersenyum.. "Bun, hari ini hari terakhir aku pergi kerumah sakit. Setelah kedatangan ku hari ini om bima belum juga mau membuka matanya, aku tidak akan datang lagi kesana.." kata dinda membuat bunda nya semakin bingung..
Setelah mengatakan itu, dinda lalu keluar dari kamarnya.
Ayah yang berada di ruang keluarga pun sampai menyemburkan kopi nya melihat dinda berpakaian lain dari biasanya..
"Ayah, aku tunggu di mobil.." kata dinda sambil berlalu..
"Bun, ada apa dengan anak kita ?" tanya ayah khawatir..
Bunda mengangkat kedua bahunya, karena dia pun sama bingungnya dengan ayah.
*Di mobil..
"Maaf om..."
Tidak menunggu lama, ayah dan bunda pun masuk ke dalam mobil..
Bunda membawa selimut tipis lalu meletakkan selimut itu di atas paha dinda..
Dinda menoleh tapi tidak mengucapkan apa apa..
Seperti biasa, hanya butuh waktu 30 menit jika jalanan tidak macet untuk sampai di rumah sakit..
Saat dinda turun dari mobil, semua mata tertuju pada nya. Termasuk para pengawal yang berjaga di pintu masuk..
Ayah dan bunda pun bingung harus berbuat apa. Sementara dinda seolah tidak perduli dengan sekitarnya dia terus berjalan menuju lift..
"Astaga.. Apa gue gak salah lihat !! Itu bukannya istri bima ?" dokter tian yang baru saja tiba di tempat kerja nya melihat dinda masuk ke dalam lift..
Dalam sekejap lift yang membawa dinda sudah tiba di lantai 5 gedung rumah sakit tersebut..
__ADS_1
"Dad.." panggil dinda saat dia melihat dad yuda keluar dari dalam ruang perawatan bima..
Dad Yuda membelalakkan mata nya..
Jantungnya hampir copot. Baru pertama kali dia melihat menantunya memakai pakaian kurang bahan seperti itu..
Ayah yang berjalan di belakang dinda memberi kode dengan mengedipkan matanya agar sahabatnya itu tidak banyak bertanya..
"Sayang, kamu sudah datang.." ucap dad yuda berpura pura seolah tidak ada yang aneh dari menantu nya itu..
"Dad, apa aku boleh masuk ?" tanya dinda to the point dengan senyum manis nya.. Dia tidak ingin berlama lama berada di luar ruangan suaminya, karena ibu hamil itu pun sebenarnya tidak nyaman dengan tatapan semua orang padanya.
Dad yuda mengusap pucuk kepala menantu kesayangan nya itu dengan pelan dan lembut..
"Iya sayang, masuklah.." kata dad yuda menjawab
Setelah itu dinda masuk dan langsung menutup pintu ruangan..
Wanita itu lalu berjalan menghampiri suami nya. Dinda mengamati wajah suami nya dari dekat. Matanya tertutup sempurna.
Kira kira bima sedang bermimpi apa hingga membuat dia enggan untuk membuka matanya.
Lalu dinda mendekat ke samping suaminya, dia membungkukkan tubuhnya sedikit..
"Om, buka matamu..!!" bisik dinda tepat di telinga suaminya..
"Apa om tidak penasaran baju apa yang aku pakai hari ini ?" sambung nya lagi..
Setelah itu dinda lalu mundur beberapa langkah ke belakang..
"Bagus kan om ? Aku menyesal kenapa baru sekarang aku pakai, padahal aku sudah membeli baju ini sejak lama.."
Setelah itu dinda kembali melangkah menghampiri bima..
Dia menatap intens suaminya, dada nya terasa sesak dan sakit..
"OM.. AKU HAMIL..!!" bisik dinda lagi dengan mata berkaca kaca. Tapi dia sudah berjanji pada bayi di perutnya, jika mengatakan kabar berita ini dia tidak akan menangis..
Tanpa dinda sadari, untuk pertama kali nya jari jemari tangan bima bergerak.
"Aku hamil anak om..!! Jadi sebaiknya om cepat buka mata atau aku akan pergi dari hidup om selamanya dengan membawa anak om bersama ku..!! Aku juga akan menikah lagi dengan sugar daddy yang jauh lebih tampan dan kaya dari om..!!" bisik dinda panjang lebar
Lalu tiba tiba alat pendeteksi detak jantung Bima berbunyi sangat kencang..
Dinda yang terkejut pun langsung menekan tombol dekat tempat bima terbaring.
Sedetik kemudian dokter dan beberapa petugas medis lain langsung menerobos masuk ke dalam ruangan perawatan bima..
"Mohon maaf nyonya, sebaiknya anda menunggu di luar.." kata salah satu suster.
Dinda yang masih shock itu sampai tidak mendengar apa yang di ucapkan suster. Beruntung disana ada bunda. Bunda lalu membawa putrinya itu untuk keluar..
Semua orang yang tadi di luar menjadi panik saat dokter tiba tiba berlari dan masuk ke dalam ruangan bima.
Tapi tidak ada satupun dari mereka yang bertanya pada dinda apa sebenarnya yang tadi terjadi dalam ruangan itu.
Selang 40 menit lebih, dokter arnold baru keluar dari dalam ruangan bima. Semua orang langsung tegang, takut untuk mendengar kabar apa yang akan di sampai kan oleh dokter itu..
"Dokter Arnold, bagaimana keadaan putraku ?" tanya ayah berdiri menghadap dokter senior itu..
__ADS_1
Dokter Arnold membuka maskernya, dokter itu lalu tersenyum dengan mata berkaca kaca.
Dokter arnold mengatakan bahwa bima sudah sadar dari koma nya. Saat ini dia masih dalam keadaan lemah.
Dengan sisa tenaga nya dinda lalu berjalan mendekat ke arah dokter itu..
"Apa saya boleh masuk dokter ?" tanya dinda dengan air mata yang sudah menggenang..
"Silahkan nyonya, tapi sebaiknya jangan terlalu banyak di ajak bicara, mengingat kondisi nya yang belum stabil.." kata dokter arnold dengan senyuman penuh kelegaan di wajahnya. Karena memang dokter arnold lah yang bertanggung jawab atas semua tindakan medis yang dilakukan pada bima.
Semua orang langsung bersyukur saat itu juga saat mendengar bima sudah siuman. Apalagi dad yuda, dia yang sedari awal menemani bima dan sekalipun dad yuda belum pernah meninggalkan rumah sakit selama putra nya itu menjalani perawatan.
grep
Dad Yuda tiba tiba kembali memeluk menantunya.. "Terimakasih sayang. Dad tahu pasti kamu yang sudah membuat bima sadar dari koma nya.." kata dad yuda sambil memeluk dinda..
Dinda hany bisa meneteskan air mata nya, padahal dia sudah berjanji untuk tidak menangis hari ini..
Wanita itu lalu masuk kembali ke dalam ruang perawatan suami nya.
Dinda melihat tidak ada lagi alat alat yang di pasang di tubuh suami nya, hanya infus di tangan nya saja yang masih terpasang..
Dinda menggigit bibir bawahnya menahan tangisan nya..
Bima menoleh pelan saat mendengar suara pintu di geser. Dengan tatapan sendu laki laki itu berusaha mengulurkan tangan nya..
Dinda perlahan terus melangkah hingga dia sudah ada tepat di samping suaminya..
Hiks..hiks..
Dinda menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisan penuh syukur karena suami nya bisa kembali membuka mata nya..
"hey..hey..ssttt.." kata bima dengan suara yang hampir tidak terdengar..
Bima memaksakan menggerakkan tangannya, menarik tangan dinda hingga istri nya itu duduk di sampingnya..
Bima lalu membuka tangan dinda yang menutupi wajahnya..
Laki laki itu lalu merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum kecil..
Detik itu juga dinda langsung menjatuhkan dirinya di pelukan bima..
Dinda lalu naik ke atas tempat tidur itu. Seperti dejavu, mengingat saat dulu dinda sakit mereka pernah tidur di tempat yang sama seperti saat ini..
Bima menutupi tubuh dinda dengan selimut yang sama yang menutupi tubuhnya..
"Siapa yang mengizinkan kamu memakai pakaian seperti ini, hem..?" bisik bima lemah sambil mencubit pipi istrinya..
Saat ini bima menjadikan lengan nya sebagai bantal untuk istrinya..
"hiks..hiks.."
Dinda terus menangis menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suami nya, saking bahagianya dia tidak bisa berkata apapun lagi..
...****************...
Baju yang dipakai dinda untuk kerumah sakit pagi ini ..
__ADS_1
Baju yang paling tidak di sukai bima jika istrinya itu memakai pakaian seperti ini di luar rumah. Pakaian yang bisa mengekspose tubuhnya, memperlihatkan kaki jenjang nan mulus hingga memperlihatkan belahan dada nya yang begitu menggoda siapa saja yang melihat nya..