
"Pergilah Marisa." perintah Rudy Utama setelah Lee keluar.
"Rudy, aku istrimu." ucapnya memohon.
"Sudah cukup kesalahanku di masa lalu dan aku ingin menebusnya." ucap Rudy dengan tetap menunduk.
"Kau melupakan kebersamaan kita?" Bujuknya lagi. Tentu Marisa tidak ingin keluar dari rumah itu, benci rasanya mendengar kata-kata seperti itu dari bibir Rudy Utama setelah semua yang dia lakukan selama ini.
"Aku tidak lupa, juga tentang Larisa."
"Rudy, jangan seperti ini. Aku sangat mencintaimu Rudy, bahkan aku yang membawa putramu kembali. Jika bukan karena aku, kau pasti sudah di tipu oleh mereka semua."
"Marisa, jujur saja ada hal yang mengganggu pikiranku." Rudy menatap wajah istrinya yang saat ini sendu dan takut.
"Apa yang mengganggu pikiran mu?" ucapnya pelan, memegang lengan Rudy Utama.
"Aku melihat Lee sangat melindungi Habibah." Dia menjeda ucapannya, semakin membuat Marisa khawatir.
"Aku rasa, Habibah tidak berbohong." wajah tuanya terlihat semakin menyesal.
"Tidak Rudy, dia bukan siapa-siapamu. Aku sudah bersusah payah membuktikan semuanya, dan itu semua demi dirimu." rayunya.
Rudy meninggalkan Marisa, menaiki anak tangga dan terlihat sangat kecewa padanya.
"Rudy, tunggu Sayang. Kau tidak boleh percaya begitu saja." Marisa meraih lengan Rudy.
"Tapi yang ku lihat mereka tidak saling membenci, bukankah harusnya Lee membenci Habibah jika memang gadis itu menipu? Tapi lihat mereka!"
"Mungkin saja putramu jatuh cinta dengan gadis yang sudah merebut kekasih putrimu!"
"Bukan, Larisa bukan putriku."
"Rudy!"
"Pantas saja saat operasi itu, darahku tidak cocok dengan Larisa." Rudy melanjutkan langkahnya, meninggalkan Marisa yang sangat kesal.
"Rudy!" panggilnya lagi.
"Pergilah, kemanapun asal jangan di rumah ini. Aku tidak mau Lee kembali dan kemudian pergi gara-gara kau masih di sini. Aku harus tau kebenaran tanpa campur tangan siapapun."
"Tapi Rudy!"
"Karena aku akan sangat marah jika terbukti kau berbohong, dan itu tidak akan lama lagi." Rudy Utama masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Membiarkan Marisa menarik nafas beratnya.
"Sial." ucapnya kemudian, merasa posisinya sudah tidak aman.
"Mama." suara rengekan Larisa terdengar menggema di bawah sana, membuat wanita berusia empat puluhan itu semakin pusing setengah mati.
__ADS_1
*
*
*
Matahari mulai berangkak naik, menyambut pagi yang sudah terlewatkan oleh Habibah. Pintu kamar di rumah sederhana itu masih tertutup rapat setelah semalam mereka pulang dengan melaju cepat, tanpa bicara keduanya memilih istirahat walaupun begitu sulit untuk terlelap.
Di luar rumah itu, Lee sudah bangun lebih dulu, memandangi bunga-bunga yang masih saja hidup meskipun tidak terurus.
Sebenarnya tak hanya memandang, tapi sedang larut dalam lamunan panjang.
"Apakah dia belum bangun?"
Suara ayahnya membuat ia menoleh, berhenti dari lamunan yang semakin lama semakin membuat nafasnya berat.
"Mungkin semalam dia terlalu banyak berpikir, sehingga di jam seperti ini dia masih tidur." Lee melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ya. Dia sangat kuat, seperti ibunya." Hiko mensejajarkan posisinya dengan Lee.
"Aku sudah mengusir Marisa." ucapnya menatap lurus bunga yang mekar itu lagi.
"Kau melakukannya?" tanya Hiko mengernyitkan keningnya.
"Ya, dan aku memperlihatkan foto lama yang ada di kamar Ibu. Juga tes DNA yang sempat ku minta dari pihak rumah sakit Singapura saat itu." jelas Lee masih terlihat rumit.
"Ah, Ayah benar-benar bangga padamu. Kau sudah bekerja keras melakukan amanah Tuan Raharja." Hiko tersenyum bangga.
"Semuanya bisa terjadi karena kehendak Tuhan, terlepas dari usaha manusia itu sendiri, ingin menjalani hidup yang baik atau malah yang buruk." Hiko menepuk lengan putranya.
"Tentu saja aku ingin hal yang baik Ayah. Juga untuk Habibah, dia sudah sangat menderita karena masa lalu yang rumit. Dan mau tak mau, kita harus terlibat dengan kehidupannya."
Hiko mengangguk. "Maafkan Ayah yang tidak bisa membantumu. Kau harus melakukan semuanya sendiri."
"Tidak apa-apa, yang terpenting dia dalam keadaan aman, meskipun tidak bahagia." ucap Lee menoleh ayahnya.
"Aku memang tidak bahagia." sahut Habibah tiba-tiba, entah sejak kapan ia berdiri di belakang kedua pria tersebut.
"Ha... Habibah." Lee manjadi gugup.
"Aku memang tidak bahagia saat ini, tapi aku bersyukur kau selalu ada bersamaku. Terimakasih banyak. Dan aku yakin ini akan segera berakhir." ungkapnya ikut berdiri dan mendekati Hiko.
"Tentu saja." jawab Hiko menyukai semangat yang terucap, walau mungkin hatinya sedang menangis. Dapat dilihat dari wajah yang kemudian menunduk itu, dia hanya berusaha menguatkan diri.
"Aku akan membantumu, apapun keputusan dan keinginanmu." ucap Lee seperti berjanji.
"Kau sudah banyak membantuku. Lagi pula sekarang aku bukan siapa-siapa, kau tidak perlu memaksakan diri untuk membantuku, apalagi karena kau kasihan dengan diriku ini." Habibah tersenyum sinis, bahkan keyakinan untuk bahagia itu sebenarnya tinggal sedikit.
__ADS_1
"Aku memang kasihan." jawabnya jujur.
"Aku ingin sekali mengatakan jika aku tak perlu dikasihani. Tapi nyatanya, aku memang butuh dikasihani olehmu." jawabnya terdengar sangat polos.
"Kau ingin aku melakukan apa?" tanya Lee tidak pernah berbasa-basi.
Habibah menatap pria di sebelahnya. Memandanginya sedikit lama.
"Katakan saja, termasuk jika kau ingin bercerai. Aku akan mengurus semuanya." ucapnya lagi meyakinkan Habibah.
Habibah tampak berpikir, matanya menatap langit-langit teras rumah tersebut, mencoba memikirkan ulang tapi rasanya sudah tak yakin.
"Jika ingin bertahan pun_"
"Aku ingin mengurus berkas gugatan." jawabnya menarik nafas berat.
"Jika sudah yakin, aku akan mengurusnya. Dan kau bisa pulang ke rumah Bibimu, menjauh untuk sementara dari semua ini."
"Bukan sementara Lee, tapi selamanya." Habibah kemudian berbalik kembali, masuk ke dalam kamarnya.
"Sebaiknya memang seperti itu. Karena Marisa tidak akan tinggal diam setelah apa yang terjadi." ucap Hiko kepada putranya.
Dan benar apa yang dikatakan Hiko, hanya keluar sebentar menuju kantor urusan agama, dan mereka melihat beberapa pasang mata sedang mengawasi di halaman kantor tersebut.
"Lee, aku merasa mereka_"
"Ayo masuk." Lee segera membuka pintu untuk Habibah.
"Aku takut Lee, mereka siapa? Mengapa sejak kita datang mereka tampak fokus memandang kita." Habibah masih bertanya, rasa takut membuatnya tak bisa diam.
"Sepertinya mereka memang sudah menargetkan KUA ini untuk menemukan kita." jawab Lee segera memutar setir mobilnya.
"Mereka siapa?" tanya Habibah lagi.
"Orang-orang Marisa."
"Hah!" Habibah menoleh mereka dan ternyata mengejar.
"Itu sebabnya keberadaan mu di rahasiakan. Ayah membawamu berlari dari rumah sakit ketika itu, tapi malah nyawa Ibumu yang melayang." jelas Lee tetap menatap jalanan, karena mobil mereka melaju kencang.
Dan tak terduga, di depan mereka malah sebuah mobil sengaja menghadang tak memberi jalan.
"Lee."
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like, komen, dan Vote nya ya... 🌹🌹🌹🌹