Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 23 (Honeymoon)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part (Honeymoon)


(PoV Rizki)


Sekitar jam lima pagi, setelah sholat Subuh, kami menempuh perjalanan ke Bogor, sengaja berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan, apalagi di daerah puncak yang seringkali terjadi macet parah.


Annisa terlihat sangat gembira, sepanjang perjalanan dia bersenandung melantunkan sholawat. Sejak awal berangkat, tangan kami saling berpegangan, sesekali dia mencium punggung tanganku dengan mesra.


Memasuki daerah Bogor, kami di manjakan dengan hamparan kebun teh yang hijau, udara begitu sejuk menelusup ke dalam pori-pori kulit.


Perjalanan dari Jakarta ke Bogor hanya sekitar tiga jam saja dengan menempuh jalan tol, beruntung jalanan masih lengang, sehingga kami bisa sampai ke tujuan lebih cepat.


Setibanya di hotel, kami di suguhkan dengan makanan khas sunda, Annisa terlihat lahap menyantap makanan yang terhidang di meja.


“Pelan-pelan makannya, nanti tersedak.”


Kataku kepadanya, aku mengelus kepalanya yang terturup hijab warna toska.


Annisa tersenyum, dia malah menyuapiku yang sedari tadi hanya memperhatikannya makan.


“Mas juga makan, jangan ngeliatin Nisa terus.”


“Iya, sayang.”


Sepertinya mulutku sudah terbiasa memanggilnya dengan kata sayang sejak pertempuran tadi malam.


Hotel yang kami tempati tidak terlalu glamor, namun sangat nyaman dan romantis.


Berada di daerah ketinggian, membuat view dari jendela kamar begitu cantik. Kami bisa melihat pemandangan kebun teh, dan danau kecil yang membuat pemandangan semakin indah.


Fasilitas yang kami dapat cukup lengkap, terdapat juga kolam renang pribadi yang cukup luas di sini.


Selepas makan, aku dan Annisa menikmati pemandangan indah dari balkon kamar, ditemani kehangatan kopi dan pelukan Annisa yang lebih hangat dari sinar mentari.


“Mas..”


“Iya, sayang?”


“Lagi, yuk”


Ujar Nisa dengan mencolek pipiku


“Masih pagi, kita baru sampai. Kamu nggak cape emang?”


“Hehe, enggak.” Ucapnya sedikit malu-malu


Aku tersenyum melihat tingkahnya, aku menggendong Annisa menuju ranjang berwarna putih elegant. Setelah membaringkan dia, aku menutup gorden dan mengunci pintu.


Semakin mendekat ke arahnya, jantungku semakin berdebar. Aku mendekati Annisa, menatapnya mesra, dan mengecup bibir mungilnya.


Dering telepon memekik dari dalam tas Annisa.


Fuih.. Menggangu saja! Batinku kesal.


Annisa tertawa melihat aku yang sudah terangsang, namun belum sempat melakukannya harus terhenti karena telepon itu.

__ADS_1


‘Kenapa dia nggak lupa ngecharger hp kayak biasanya, kan kalo begitu nggak akan ada yang ganggu.’ Aku menggerutu dalam hati.


“Assalamualaikum”


Sapa Annisa kepada si penelepon.


Aku mendekatkan telinga ke ponsel Annisa untuk menguping pembicaraannya dengan orang di seberang telepon.


“Waalaikumsalam anak Ummi, sehat-sehat kamu, Nak?”


Ternyata yang menelepon adalah Ummi.


Lama Annisa berbincang di telepon melepas rindu kepada Umminya.


Sejak memutuskan untuk ikut denganku merantau ke Jakarta, kami belum sempat pulang kampung lagi untuk mengunjungi keluarga.


Meski begitu, Ummi sering menelepon Annisa. Tapi kenapa harus sekarang menelepon? Momentnya sungguh sangat tidak tepat.


Lima belas menit berlalu, perbincangan mereka belum juga selesai. Aku merebahkan diri di pangkuan Annisa, dia membelai rambutku sambil sesekali tertawa mengejek.


Mulutnya mengisyaratkan ucapan sabar kepadaku.


“Iya,” Jawabku sedikit bete.


Sepertinya Ummi tidak mengetahui kalau kami sedang pergi honeymoon. Tentu saja kalau dia tahu tidak akan menelepon, Ummi selalu mengerti dan memberikan kami privasi.


Annisa pun sepertinya tidak berniat membertahu Ummi kalau kami sedang di Bogor.


Setengah jam berlalu, masih belum selesai juga. Ah, mataku malah semakin berat, hingga perlahan aku terlelap dan tidak mengetahui lagi percakapan mereka selanjutnya.


Aku terbangun saat Annisa mencumbu, dia menggodaku untuk melanjutkan hal yang tadi sempat tertunda.


Kenapa hari ini tiba-tiba ponselnya menjadi ramai dihubungi? biasanya tidak!


Annisa bahkan hanya memakai sedikit kuota perbulan karena saking jarangnya dia menggunakan ponsel.


Tapi hari ini? Kenapa tiba-tiba banyak yang menelepon di waktu yang tidak tepat.


Aku menghela nafas, beranjak turun dari ranjang dan mempersilakan Annisa mengangkat telepon. Namun, karena tahu aku sedikit bete, dia menyimpan ponselnya tanpa menghiraukan panggilan telepon.


Dia menarik tanganku yang hendak pergi,


“Maaf..” Ucapnya dengan muka menyesal.


Ponselnya berdering lagi beberapa kali, Annisa bendak mematikan ponsel, namun tiba-tiba sebuah chat masuk.


[Tolong angkat, ini penting.]


Nama Fatur terpampang jelas saat aku membaca chatnya.


“Angkat saja dulu,”


Nisa menggelengkan kepala.


“Nggak mau, kalo Mas marah, Nisa berdosa karena tidak segera melayani Mas.”

__ADS_1


Aku menenangkan diri, menghalau rasa bete yang mengganjal di hati.


Nisa wanita yang taat, dia tidak akan mau menerima telepon itu jika aku masih menunjukan rasa kesal.


Kutarik nafas panjang, dan tersenyum kepadanya.


“Angkat dulu sayang, katanya penting, itu kan masalah bisnis, Mas nggak marah, kok.”


Setelah dia memastikan bahwa aku benar-benar tidak bete, dia mengangkat telepon itu.


Aku tidak berniat menguping, kutinggalkan dia yang sedang membicarakan masalah pekerjaannya.


Air kolam yang jernih sedari tadi seolah menggodaku untuk berenang, segera aku menceburkan diri dan menikmati air jernih nan sejuk ini.


Ah, segar sekali.


Rasa kesal itu seketika hilang, berenang membuatku merasa menjadi tenang.


Meski sedikit dingin, tapi aku menikmatinya. Sudah lama aku tidak mencicipi olah raga ini, apalagi di kolam renang pribadi seperti ini.


Kolam ini letaknya berada tepat di sebelah balkon, persis berada di depan kamar, hanya terhalang pintu kaca, Annisa bisa dengan leluasa memperhatikanku dari dalam.


Sebenarnya aku merasa bete bukan karena tidak jadi bersenggama dengan Annisa, tapi karena yang menelepon adalah seorang pria.


Aku merasa cemburu, bukan tanpa alasan, sepertinya orang yang bernama Fatur itu menyukai Annisa.


Sebagai sama-sama lelaki, aku sangat paham gelagatnya.


Tapi aku tidak bisa menyuruh Annisa untuk menjauhinya, karena mereka sudah terikat dengan pekerjaan.


Meski aku tahu Annisa tidak mungkin melakukan hal-hal buruk di belakangku, tapi tetap saja aku merasa terganggu.


Annisa menghampiri setelah selesai menelepon dengan partner bisnisnya.


Sambil berjalan, perlahan dia membuka satu persatu baju yang dipakai, dia hanya menyisakan pakaian dalam saja.


Aku termangu menyaksikan pemandangan indah di hadapanku. Jantungku berdegup kencang.


Annisa ikut menceburkan diri ke dalam kolam, dia semakin mendekatiku, lalu memelukku dari belakang.


“Sudah Nisa matikan ponselnya, sekarang tidak akan ada yang bisa mengganggu kita lagi.”


Aku terkesima mendengarnya, dia paling paham dengan hal yang membuatku senang.


Kami tidak ingin menyia-nyiakan fasilitas dari hotel ini, dimana setiap sudutnya seolah di desain seromantis mungkin, sehingga hotel ini banyak di kunjungi pasangan yang hendak berbulan madu.


Lagi, kami hanyut dalam aktifitas menyenangkan ini. Bersenggama di tepi kolam yang disinari cahaya matahari pagi.


***


Tadinya aku dan Annisa berencana untuk jalan-jalan keliling Bogor, Annisa suka sekali jajan, dia memintaku untuk menemaninya kulineran, aku pun setuju.


Tapi, sekarang kami hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Bermesraan dengan Annisa lebih menyenangkan dari sekedar jalan-jalan.


Kami menikmati kebersamaan ini, hingga membuat kami malas untuk pergi keluar.

__ADS_1


Biarlah, masih ada hari esok untuk jalan-jalan dan mencicipi kulineran. Untuk sekarang, cukup di sini, menikmati honeymoon dalam suasana Bogor yang sejuk dan sunyi.


Bersambung...


__ADS_2