
*Readers..
gak kerasa ya kita udah sampai di Part 100 MCS 🥰
Aku akan kasih bonus, Part 100 ini akan menjadi part terpanjang dari semua part sebelumnya..
Jangan pernah bosen ya untuk dukung karya author ini. Meskipun masih banyak typo dan penggunaan kata atau kalimat yang kurang tepat, harap para readers memaklumi nya ya karena ini benar benar karya pertama author.
Aku pun masih belajar untuk menjadi penulis yang lebih baik lagi ke depan nya..
Terimakasih sekali lagi 🤗..
eittsss .. jangan lupa ya gift dan vote nya ðŸ¤
Love you bestie 💜🌹☕
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
*Di lain tempat..
Bunda sudah selesai membuatkan bubur kesukaan putrinya. Wanita itu pun segera masuk ke dalam kamar dinda dengan nampan berisi bubur, buah dan air hangat.
Bunda meletakkan nampan tersebut di atas nakas..
"sayang, bangun nak.." kata bunda membangunkan putri ya seraya mengusap lengan dinda pelan..
Dinda yang memang hanya memejamkan mata pun langsung kembali terjaga.
Wanita itu lalu memposisikan dirinya untuk duduk.
"Bun, aku gak laper..!" katanya dengan lemah..
"Sayang, biarpun kamu gak laper tapi kamu harus tetap makan. Karena bayi yang ada di perut kamu juga butuh asupan.."
Dinda kembali memegang perutnya.
"Besok kita kerumah sakit ya ? Kita periksakan kandungan kamu.." kata bunda lagi..
Dinda buru buru menggeleng..
"Nggak bun. Aku mau ke rumah sakit sama mas bima. Aku mau dia yang pertama kali melihat anak nya ini.." kata dinda..
"Yaudah kalau gitu sekarang kamu makan dulu. Nanti kalau mas bima mu pulang ternyata kamu malah sakit, bagaimana ?"
Percakapan pun berakhir. Dinda akhirnya mau makan bubur itu. Suapan demi suapan hingga tidak terasa semangkuk bubur habis tanpa sisa.
Bunda tersenyum melihat putrinya kembali bersemangat. Bunda lalu memberikan obat yang tadi di resepkan oleh dokter andrea.
Setelah memastikan putrinya itu meminum obatnya, bunda pun segera keluar dari kamar itu. Dia membiarkan dinda untuk beristirahat.
"Bun.." Ayah memanggil suaminya untuk masuk ke dalam kamar
"Kenapa ?" tanya bunda saat sudah berada di dalam kamar tamu..
"Bima bun.."
"hah ? Bima kenapa ayah ?"
"Bima kritis bun, dada kiri nya terkena tembakan senjata api. Saat ini dokter sedang berusaha untuk mengeluarkan peluru itu.."
Kaki bunda tiba tiba lemas hingga tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Dengan sigap ayah menahan tubuh istrinya saat akan terjatuh.
Laki laki itu lalu membawa wanita nya ke atas tempat tidur..
"Astaga yah. Dosa apa yang kita perbuat..? Kenapa putri kita terus di timpa kemalangan seperti ini..hiks..hiks.."
"Sssttt, bun jangan bicara seperti itu. Ini sudah suratan takdir. Kita do'akan saja semoga anak dan menantu kita bisa melewati cobaan ini." kata ayah yang duduk di sisi ranjang..
"Yah, jangan katakan apapun pada dinda ya. Bunda takut kabar ini akan membahayakan janin yang ada dalam kandungan nya.." kata bunda lagi
**
*Di ruang tunggu rumah sakit..
Dokter pun keluar dari ruangan operasi setelah lebih dari 5 jam mereka habiskan di dalam ruangan itu untuk mengangkat peluru yang bersarang di dada kiri bima,
Dokter lalu meminta Tuan Yuda sebagai wali dari pasien nya untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Bagaimana keadaan putra saya dokter ?" tanya tuan yuda..
"Kondisi nya belum stabil. Sangat sulit untuk mengeluarkan peluru itu karena letak nya hampir mengenai jantung pasien." kata dokter senior yang mengoperasi bima..
Tuan Yuda lalu menanyakan apakah dengan kondisi bima saat ini memungkinkan untuk dia membawa bima kembali ke tanah air.
Dokter pun mengatakan, bisa saja. Tapi dengan syarat semua alat yang terpasang di tubuh bima harus tetap terpasang. Dan dokter itu pun meminta agar ada dokter yang mengontrol bima selama perjalanan.
Tuan Yuda pun menyanggupi setelah menandatangi berkas berkas untuk melengkapi izin kepulangan bima dari rumah sakit tersebut.
Tuan Yuda lalu menghubungi dokter di rumah sakit nya yang ada di kota J untuk berangkat detik ini juga ke negara paman sam tersebut.
Setelah itu tuan yuda kembali ke tempat dimana para sahabat putra nya menunggu..
Tuan Yuda memberitahu pada mereka bahwa dia akan membawa bima pulang secepatnya.
"Om. Sepertinya aku akan kembali lebih dulu..!! Aku akan menunggu bima di indonesia.." ucap diki pada tuan yuda
"Riko, David. Kalian juga ikutlah pulang bersama diki.."
"Maaf tuan saya akan tetap disini.." kata david memotong
"Kalau begitu, kamu riko, pulang lah bersama diki. Jangan membantah..!!" tegas tuan yuda melihat ke arah riko..
Riko pun mau tidak mau mematuhi perintah Om yuda tersebut.
Setelah berpamitan, riko dan diki segera menuju ke bandara..
"Kenapa dari tadi kau hanya diam ?" tanya riko heran, padahal setau riko tadi sahabat nya itu sudah menghubungi wanitanya tapi kenapa malah murung seperti tidak bersemangat..
"Sepertinya dia marah padaku.." kata diki pelan
"Tentu saja dia marah. Kau itu bagaimana ? Dari kemarin aku sudah mengingatkan mu untuk mengabari dia, tapi kau terlalu fokus untuk menyelamatkan bima. Aku tahu saat itu memang keselamatan bima yang utama, tapi kau tetap salah.." kata riko panjang lebar membuat diki langsung menatap ke arah nya.
Baru kali ini dia mendengar ucapan yang serius dari sahabatnya itu. biasanya riko hanya akan mengatakan hal yang tidak penting.
"Aku yakin selama beberapa hari ini sudah ada laki laki yang mengantri untuk menggantikan posisi mu di hatinya.."
Plak
Diki memukul kepala riko kencang..
"haissh.." riko mengusap kepalanya dengan wajah kesal
"Maka nya jangan bicara sembarangan..!!" bentak diki tidak suka.
"Tidak percaya, yasudah."
Tiba tiba saja setelah mendengar ucapan sahabat nya tadi diki menjadi tidak tenang. Dia takut sesuatu yang riko ucapkan benar terjadi.
"Maafin aku cha. Please tunggu aku sebentar lagi.."
**
Pagi hari nya..
Tok..Tok..
"Cha. bangun..!" ibu mengetuk pintu kamar chacha
eughh..
Chacha baru bangun jam 10 pagi. Karena setelah diki menghubungi nya semalam, gadis itu malah tidak bisa tidur.
__ADS_1
Tok..Tok..Tok..
"Cha.. buka dong pintu nya.." ibu sedikit berteriak
"Ngapain sih bu ? Chacha masih ngantuk.." kata chacha yang masih mengumpulkan kesadaran nya..
"Cepetan buka dulu..!!"
Dengan malas chacha pun turun dari kasurnya, lalu berjalan ke arah pintu kamar..
Ceklek..
Hooamm..
Chacha menguap panjang..
"ck, kamu ini..!! Anak gadis bangun nya siang terus.."
"Apaan sih bu ? pagi pagi udah marah marah..!" kata chacha dengan mata terpejam..
"Cepetan mandi..!! Di bawah ada andrew..!!" ucap ibu setengah berbisik..
"hah ? Ngapain dia kesini..?" tanya chacha terkejut
Plak
ibu memukul punggung chacha..
"aduh, sakit bu.." kata chacha seraya mengusap punggung nya..
"Udah jangan banyak tanya. Kamu mandi terus dandan yang cantik..!!" kata ibu lagi lalu mendorong tubuh putrinya untuk masuk kembali ke dalam rumah..
*Di lantai bawah..
"nak andrew. Maaf ya tunggu sebentar chacha nya lagi mandi dulu.." kata ibu menghampiri bayu
Bayu tersenyum.. "Iya tante.." kata bayu
"nak andrew sekarang kegiatan nya apa selain bisnis ?" tanya ibu seraya menemani bayu duduk di ruang tamu sambil menunggu chacha
"aku bisnis sambil kuliah tan, ambil S2 di singapore.." jawab bayu
"Wah.. hebat ya masih muda tapi pencapaian nya udah banyak.." ucap ibu memuji bayu..
"ah tante bisa aja..!"
"Tante juga pengennya chacha kuliah lagi. tante pengen dia jadi dokter muda sesuai dengan jurusan kuliah nya dulu.."
"Terus kenapa chacha gak lanjutin ?" tanya bayu..
"Gak tau tuh. Katanya gak mau nyusahin tante lagi. Padahal nama nya orang tua pasti apapun akan dilakukan untuk anak nya ya. Meskipun harus keluar biaya besar.."
Ya, bukan rahasia umum lagi jika jurusan kedokteran adalah jurusan dengan biaya tertinggi.
Bayu tersenyum bangga. Chacha begitu memikirkan ibu nya, padahal jika chacha melanjutkan kuliah pun rasanya bisa saja melihat keluarga chacha yang bukan orang dari kalangan yang tidak mampu.
ehem..
Chacha berdehem memotong percakapan bayu dan ibu nya..
Bayu dan ibu pun langsung menoleh..
"Cantik.." batin bayu
Padahal chacha saat ini hanya memakai kaos oversize berwarna salem dan celana pendek di atas lutut..
"Kak bayu ih. Ngapain sih kesini pagi pagi..!! Chacha masih ngantuk tau..!!"
"hush.. kamu ini..!!" ibu bangun lalu mencubit pinggang chacha pelan..
"nak andrew maaf ya. Chacha emang gitu anak nya kalau ngomong suka nggak di saring dulu.." kata ibu merasa tidak enak karena ucapan chacha..
Nilai plus dari bayu untuk chacha bertambah. Pertama kemarin saat pertama kali mereka bertemu lagi, bayu melihat chacha begitu cantik dan menggemaskan, kedua senyum chacha membuat bayu semalaman membayangkan betapa indah nya senyuman itu, ketiga sekarang chacha masih sama seperti dulu saat mereka kuliah. Gadis itu akan mengatakan apa yang ada di pikiran nya tanpa memfilternya dulu.
Ibu lalu pamit pada andrew. Wanita itu masuk kembali ke dalam meninggalkan chacha dan bayu agar mereka bisa mengobrol dengan nyaman..
Chacha lalu duduk di salah satu sofa ruang tamu nya..
"Kak bayu, ada apa ?" tanya chacha
"Gak ada apa apa. Emang aku gak boleh kesini ?" tanya bayu dengan tatapan begitu intens
"boleh. tapi..."
Bayu tersenyum melihat chacha yang salah tingkah..
"Kamu tenang aja cha. Aku kesini juga disuruh mami. Mami ngajak kamu makan malam dirumah.."
"Ngajak makan malam tapi kak bayu jam segini udah dirumah chacha ?? Astaga..." kata chacha menggelengkan kepala
"he..he.." bayu cengengesan.. "Ya dari pada terlambat mending jemput lebih cepat kan.." kata bayu ngeles
"ck.." chacha memutar bola mata nya malas .
"Kamu belum sarapan kan ? emm mau makan di rumah apa di luar ?"
"Kenapa ?" tanya chacha tidak mengerti
"Kalau di luar, ayo kita berangkat sekarang..!" jawab bayu..
"Yeee, enak aja main berangkat berangkat. Kan chacha belum bilang setuju.." kata chacha sambil cemberut
"Kamu harus setuju. Mami udah pesan makan malam buat kita loh. kasian kan kalau kamu gak datang?"
Chacha terdiam..
Gadis labil itu jadi serba salah. Chacha tidak mau memberikan harapan kosong pada bayu dan keluarga nya. Meskipun chacha juga belum punya ikatan dengan lelaki manapun termasuk diki.
"Yaudah chacha ganti baju dulu.." kata chacha lalu bangun dari duduk nya dan segera melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya lagi. Dia jadi tidak enak karena mendengar tante rini sudah menyiapkan makan malam untuk nya. Bagaimana pun dia harus menghargai niat baik sahabat dari ibu nya itu.
Tanpa di duga, ibu mengekor putrinya di belakang..
Ibu menahan pintu kamar saat chacha akan menutup pintu tersebut..
"Ih ibu, bikin kaget aja.!!" kata chacha dengan wajah terkejut
Ibu lalu ikut masuk ke dalam kamar..
"Andrew mau ngajak kamu kemana ?" tanya ibu duduk di sisi tempat tidur chacha..
Chacha membuka lemari nya, lalu mengambil kaos oversize berwarna putih dan celana boyfriend jeans favoritnya..
Tanpa menjawab pertanyaan ibu nya tadi, chacha dengan cueknya berganti baju di depan sang ibu..
"Cha.. Kamu mau kemana ?" tanya ibu lagi..
"ck, ibu pasti udah tahu kan chacha mau kemana..!" kata chacha lalu dia pun segera memakai sepatu sneaker nya..
Chacha menoleh sekilas ke ibu nya sambil memakai sepatu.. "Tante rini ngajak chacha makan malam. Pasti ibu tahu kan ?"
Ibu diam tidak bicara lagi. Sebenarnya memang benar, kedua orang tua itu yang merencanakan acara makan malam ini. Tujuan nya ya apa lagi kalau bukan ingin membuat chacha dan bayu lebih akrab lagi..
Cupp
Meski kesal, tapi chacha tetap mencium pipi ibu nya seperti biasa..
"Chacha berangkat bu.." kata chacha lalu keluar lebih dulu dari kamarnya..
"Cha, tunggu..!" ibu menahan tangan putrinya .
"Kenapa lagi bu ??" tanya chacha malas
__ADS_1
"Kamu mau makan malam tapi kenapa pakaian kamu seperti itu ?"
Chacha lalu melihat penampilan nya sendiri.. "Emang kenapa sama baju chacha ?"
"ck, Setidak nya kamu pakai dress dong cha. Masa makan malam pakai celana sobek sobek gitu..!! Gak sopan dong cha.."
"Ibu. Chacha cuma mau cari sarapan doang sebentar. Lagian acara nya juga nanti malam. Chacha bisa balik lagi buat ganti baju.." kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum turun dari lantai 2 kamarnya.
*Di ruang tamu..
Bayu terbengong saat melihat chacha yang sudah berganti baju..
"Kemana aja gue selama ini. Ternyata chacha emang tipe gue banget.." batin bayu menatap chacha tanpa berkedip. Bayu memang menyukai wanita yang berpakaian simple. Tidak memakai make up tebal tapi wajahnya tetap terlihat segar.
"Kak. Ayo.! Kenapa malah bengong sih.." ketus chacha
"eh iya.. sorry sorry.." bayu lalu bangun dari duduknya..
"Nyokap mana cha ?" tanya bayu
"bentar.." kata chacha pada bayu..
Lalu.. "Bu.." panggil chacha sedikit berteriak
Ibu datang dari dalam.. "eh, mau pada kemana ini ?" tanya ibu basa basi. Pura pura tidak tahu
Bayu lalu meminta izin untuk mengajak chacha makan di luar. Tentu saja, ibu dengan senang hati langsung mengizinkan nya.
Setelah pamit, mobil yang di kendarai bayu itu pun dengan cepat meninggalkan kediaman chacha..
Ibu melihat kepergian mobil bayu dengan tersenyum bahagia ..
**
Di ruang tunggu rumah sakit..
"Kenapa kamu tidak memberitahu hal ini padaku sebelum nya ?" Tuan yuda mengintrogasi david, asisten pribadi putra nya..
"Maaf Tuan.." kata david menundukkan kepalanya..
"Seharusnya kejadian ini bisa di cegah..!! Sekarang lihatlah.. Bima bahkan belum sadar sampai sekarang..!!" lanjutnya lagi menyesalkan kejadian yang menimpa putra nya itu ..
"Maafkan saya Tuan.." kata david lagi tanpa berani mendongakkan kepalanya..
David jadi bingung harus mengambil keputusan seperti apa saat itu. Bima, bos nya itu sudah tahu bahwa dia menjadi kaki tangan daddy nya. Memberitahukan pada orang tua itu semua kegiatan bima di luar maupun di dalam kantor.
David ingat betul betapa marah nya bima saat mengetahui hal tersebut. David pun merasa bersalah karena telah berani mengkhianati bos sekaligus teman nya itu.
"Sudahlah. Semua sudah terjadi..!! Kita berdoa saja. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali..!!"
**
*Di Bandara..
Setelah menempuh penerbangan panjangnya..
Diki dan Riko sudah menginjakkan kakinya lagi di tanah air..
Mereka berpisah di bandara. Masing masing dari mereka menaiki taksi yang berbeda. Karena apartemen riko dan diki yang juga berlawanan arah nya.
Pukul 1 siang, diki tiba di apartemen nya.
Tanpa beristirahat terlebih dulu, diki memilih untuk langsung membersihkan dirinya.
Setelah menghabiskan waktu kurang dari 10 menit di kamar mandi, diki pun keluar dengan hanya memakai handuk yang dia lilitkan sebatas pinggang.
Diki lalu mengambil ponselnya yang tadi sempat dia isi daya sebelum mandi..
Laki laki tersebut langsung menghubungi nomor chacha. Dia ingin mengajak gadis nya tersebut untuk bertemu.
"Cha. Kamu dimana ?" tanya diki saat terhubung dengan nomor chacha..
📞 Di luar
📞 Aku jemput ya. Kamu sama siapa ?
📞 Temen.
Kak diki selesaikan saja urusan kakak. Gak usah perduliin chacha lagi. Chacha gak apa apa ko.
emmm.. udah ya kak.. Chacha matiin..
deg
tut..tut..tut..
Sambungan telepon itu di akhiri sepihak oleh chacha..
Diki melempar ponselnya ke atas kasur. Dengan terburu buru diki segera memakai pakaian nya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan chacha.
Masa hanya dalam waktu 4 hari mereka tanpa komunikasi sikap chacha menjadi sangat berbeda.
Entah chacha yang masih labil atau diki yang kurang peka. Mereka sama sama punya pandangan nya masing masing tentang masalah ini.
Setelah selesai berpakaian, diki lalu pergi meninggalkan apartemen nya.
*Di jalan raya tepatnya di dalam mobil diki..
Diki terus mencoba menghubungi chacha sambil mengemudi. Tapi gadisnya itu seolah enggan mengangkat telepon dari dia. Padahal nomornya aktif.
Tiinn..Tiinn..
Diki tidak sabaran terus mengklakson mobil di depan nya.
"BRENGSEK..!!" umpat diki sambil memukul setir mobilnya..
**
Chacha saat ini sedang berada di dalam mobil bayu. Setelah sarapan di jam makan siang tadi, mereka sekarang menuju ke rumah bayu.
Bayu yang mendengar obrolan chacha di telepon tadi pun mengerutkan kening nya. Mau bertanya tapi takut gadis itu mengira dia terlalu ingin tahu urusan pribadi nya. Meskipun mereka di jodohkan, tapi bayu merasa mereka berdua belum sepenuh nya setuju dengan rencana kedua orang tua mereka.
Ponsel chacha terus berdering..
"Kenapa nggak di angkat cha..?" tanya bayu, dia melihat chacha hanya memandangi ponselnya tanpa berniat menjawab panggilan tersebut..
"Memang dari siapa ?" tanya bayu lagi "Pacar kamu ya ?"
Chacha menggeleng..
Ya, memang benar. Chacha dan diki tidak ada ikatan apapun. Pacaran pun mereka tidak. Laki laki itu hanya menjanjikan chacha, bahwa dia akan melamar chacha setelah kepulangan nya nanti.
"Kak. kayanya malam ini chacha gak bisa makan malam dirumah kak bayu.." kata chacha
"Loh.. Kenapa cha ?" tanya bayu kaget
"Chacha mau pulang aja. kepala chacha tiba tiba pusing..!!" jawab chacha seraya memijat kening nya..
"Astaga..!! Ko kamu gak bilang sih ? Aku antar ke dokter aja ya ?" tanya bayu lagi
Chacha menggeleng.. "Kayanya chacha cuma butuh istirahat aja kak. Soalnya semalam chacha gak bisa tidur.."
Bayu khawatir melihat wajah chacha yang tiba tiba pucat. Dengan cepat laki laki itu segera memutar balik arah mobilnya.
"Kamu tidur dulu aja. nanti kalau udah sampai aku bangunin."
Tanpa menjawab chacha pun langsung memejam kan matanya. Entah kenapa kepala nya tiba tiba pusing, bahkan perut nya pun sedikit nyeri. Mungkin karena dia yang hari ini sedang datang bulan hari pertama. Atau mungkin karena dia yang terlalu banyak memikirkan laki laki yang tidak memikirkan perasaan nya.
...****************...
__ADS_1