
#Mengerjar Cinta Suamiku part 38 (Kabar Gembira)
"Sudah selesai ya, Bu. Mari, boleh turun dan duduk lagi di kursi biar saya jelaskan." Dokter berlalu ke meja kerjanya diikuti suster.
Aku memapah Annisa untuk menyusul mereka. Debar di dada ini, semakin kencang saat mendengar dokter akan menjelaskan semuanya.
"Jadi, istri saya ini kenapa Dok?" Tanya Rizki penuh penasaran.
***
"Tenang dulu, Pak. Biarkan istrinya duduk dengan nyaman dulu, jangan panik." Ucap dokter melihat Annisa begitu gelisah. Tidak terkecuali Rizki sedari tadi jantungnya berdegup menahan khawatir sekaligus penasaran.
Suster yang melihat tersenyum dengan tingkah mereka, dokter melirik sesekali untuk memastikan apakah Rizki dan Nisa sudah bisa menguasai diri atau belum.
"Baik, kalau sudah tenang saya jelaskan ya, Pak, Bu." Dokter membetulkan duduknya, mengamati ekspresi suami istri di hadapannya yang terlihat sangat tegang.
"Iya, Dok." Jawab Rizki. Tangannya menggenggam erat tangan Annisa yang terasa dingin menahan gugup. Rizki berusaha menenangkan meski dirinya mengalami hal sama.
"Jadi, dalam rahim Ibu Annisa ada kantong janin yang sudah berusia dua minggu." Ucap dokter tanpa mengalihkan tatapannya dari mereka.
Rizki dan Annisa saling menoleh, mereka beradu pandang mencerna makna ucapan dokter perempuan di hadapannya.
"Maksudnya bagaimana, Dok?" Nisa angkat suara, mendengar kata janin membuat jantungnya berdegup lebih kencang.
Dia memiliki sedikit pengetahuan tentang kehamilan, adanya kantong janin berarti dirinya sedang dalam keadaan hamil, Nisa bertanya untuk memastikan tebakannya itu benar atau tidak.
Rizki memicingkan mata, mengernyitkan dahi, dia menyenderkan tubuhnya di kursi, merasa semakin penasaran dengan ucapakan dokter yang masih saja belum dia mengerti.
"Ibu Annisa sedang hamil, usia kandungannya baru berusia dua minggu." Ucap dokter membuat Rizki dan Annisa terkejut.
Keduanya melongo, sejurus kemudian menguasai diri dan mengucap hamdalah atas karunia besar yang terjadi ditengah cobaan hidup yang sedang mereka jalani.
Bagaimana tidak bahagia? Kedatangan mereka ke sini bermaksud untuk melakukan program hamil ternyata membawa kabar gembira bagi keduanya.
Hal yang sudah mereka tunggu sejak lama, kabar yang akan menjadi antusias para keluarga, dengan hadirnya cucu pertama bagi bapak, ibu dan ummi sudah pasti kabar mengejutkan ini akan membuat mereka sangat bahagia.
"Ini serius kan, Dok?" Rizki bertanya kembali seperti tidak yakin, bukan, tapi dia meyakinkan diri bahwa yang didengarnya adalah kenyataan.
"Betul, Pak. Selamat, Anda akan menjadi seorang ayah, tapi.." Ucapan dokter terhenti, merubah wajah yang tadinya bahagia menjadi penuh tanya.
"Tapi apa, Dok?" Nisa dibuat tegang dengan ucapan 'tapi' yang keluar dari mulut dokter. Wanita berjas putih dengan stetoskop yang melingkar di lehernya menghela nafas sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Tapi kandungan Ibu Annisa lemah, itulah alasan belakangan ini perut bagian bawahnya sakit, dan keram, untung tidak sampai keluar flek. Untuk mengantisipasi hal buruk lainnya, Bu Annisa harus full bedrest, tidak boleh mengerjakan aktifitas apa pun, apalagi aktifitas berat." Dokter menjelaskan dengan muka serius agar keduanya lebih berhati-hati demi janin yang ada di rahim Annisa.
"Saya akan memberikan obat penguat kandungan, ini bisa membantu hingga 50% sisanya Bu Annisa sendiri yang harus memperhatikan kondisinya dengan cara seperti yang saya bilang tadi, full bedrest. Saya juga akan memberikan vitamin agar janin bisa berkembang dengan baik. Jika nanti keluar flek coklat, segera ke rumah sakit. Tapi, semoga itu tidak terjadi. Bu Annisa harus benar-benar istirahat, ya." Lanjutnya menegaskan kalimat itu.
"Baik, Dok. Saya mengerti." Jawab Annisa.
"Apa ada hal lain yang tidak boleh dilakukan istri saya, Dok?" Tanya Rizki dengan perasaan was-was mendengar kehamilan Nisa yang lemah. Dia akan melakukan apa pun agar istrinya menuruti seluruh anjuran dokter.
"Baik, untuk hal lain saya anjurkan untuk tidak melakukan hubungan badan terlebih dahulu hingga kandungannya kuat, jika dirasa 'kepepet' lakukan dengan pelan-pelan, sepelan mungkin ya, Pak."
"Kalau dari segi makanan, Dok? Apakah ada yang dilarang?"
"Untuk makanan tidak ada yang dilarang, tapi usahakan agar tidak memakan makanan mentah, hindari juga makanan setengah matang."
"Baik, Dok. Terimakasih banyak." Nisa dan Rizki pamit setelah menanyakan banyak hal. Mereka menyusuri lobby menuju apotek depan untuk mengambil obat yang sudah di resepkan oleh dokter.
__ADS_1
Dalam langkah, Nisa seperti melayang, mengingat kalimat dokter yang memberi tahu kehamilannya membuat dia sangat bahagia, sebentar lagi akan menjadi ibu, melahirkan anak dari seorang lelaki yang sangat dicintainya, lelaki yang menjadi cinta pertamanya.
"Mas, ini bukan mimpi kan?" Nisa bertanya.
"Bukan sayang, ini bukan mimpi, ini kenyataan yang indah. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu." Rizki mengelus mesra perut Nisa, meski belum ada perubahan dari perutnya yang masih datar, tapi mengetahui di dalam sana ada kehidupan membuat perut Nisa terlihat istimewa di matanya.
Nisa masih belum percaya, dia menghentikan langkah, berjalan ke arah dinding bercat putih, membenturkan kepalanya untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.
"Awwh.. Sakiiit." Ucapnya sambil mengelus kening yang terbentur ke dinding cukup keras, bukannya meringis Nisa malah tersenyum bahagia.
"Ternyata ini beneran bukan mimpi," Tambahnya melirik Rizki yang sedari tadi memperhatikan dan menahan tawa melihat tingkah konyol istrinya.
Mereka melanjutkan langkah menuju apotek, menyodorkan kertas resep di kotak yang sudah tersedia. Lalu duduk menunggu nama Nisa dipanggil untuk pengambilan obat.
Andai kabar ini lebih cepat diketahui, mungkin malam tadi dia akan mematahkan ucapan yang membuatnya kesal semalaman. Nisa akan menjawab dengan lantang bahwa dirinya sedang hamil di depan temannya yang bertanya seolah mengolok-olok itu.
Tapi, jika saja temannya itu tidak berkata demikian, tidak mungkin hari ini akan berada di sini, tempat yang awalnya didatangi untuk berkonsultasi melakukan program hamil, jika saja ucapan itu tidak bercokol di hati hingga membuat Nisa jengkel, tidak mungkin dirinya akan mendatangi klinik ini dan bertemu dokter Sofie.
Nisa berpikir ulang, rasa kesal yang awalnya membekas di hati sekarang mulai pudar berganti dengan rasa syukur. Berkat teman yang berbicara seperti itu kepadanya, dia bisa mengetahui lebih awal tentang kandungannya yang lemah, dia bisa mengetahui lebih cepat dirinya sedang hamil, membuatnya bisa lebih berhati-hati saat beraktifitas.
Biasanya Nisa rutin cek menggunakan testpack saat telat haid, tapi kali ini tidak, karena jadwal haid masih satu minggu lagi, ditambah siklus haid yang berantakan membuat dirinya merasa malas melakukan tespack yang hasilnya selalu menunjukkan satu garis. Tapi dengan alat canggih, kehamilannya sudah terdeteksi sejak dini. Nisa bersyukur, sangat bersyukur dan berterimakasih kepada temannya itu.
Bahwa benar, di setiap hal yang menyedihkan, ada kebahagian yang tersimpan didalamnya. Bahwa di setiap rasa sakit, ada hal yang menyenangkan di baliknya. Allah tidak akan salah dalam meletakkan takdir.
"Bu Annisa" Apoteker memanggil namanya, membuyarkan seluruh pikiran yang sejak tadi menenggelamkan. Rizki bangkit dari kursi dan bergegas mengambil obat.
Setelah selesai, mereka berlalu menuju parkiran untuk pulang dengan perasaan gembira, membawa kabar yang akan membuat ummi dan mertuanya bangga. Apalagi, bapak paling antusias menunggu kehamilan Nisa, bapak yang sering berharap agar mereka lekas dikaruniai anak.
Mobil menyisir jalanan, melewati gedung-gedung yang berdiri tinggi. Hijab Nisa menari diterpa angin masuk melalui celah jendela mobil yang dibiarkan sedikit terbuka.
Senyum Nisa masih menyungging sejak tadi, membayangkan kabar bahagia yang akan menjadi pengumuman penting bagi keluarganya, begitupun dengan Rizki, melihat istrinya bahagia membuat dirinya semakin bahagia.
Nisa merogoh dompet dari dalam tas, mengeluarkan lembaran uang sepuluh ribuan beberapa lembar, dia membuka kaca mobil lebar-lebar, memanggil para anak jalanan yang kulitnya menghitam dibakar cahaya matahari, mereka berlari antusias mendekat sumber suara, Nisa menyodorkan selembar uang dan sebuah coklat terkenal dengan ukuran besar kepada setiap anak jalanan yang jumlahnya sekitar lima belas orang, sambil membagikan coklat dan uang Nisa tidak lupa berkata, "Doain kandungan Mbak sehat sampe lahiran, ya." Kepada setiap anak, ada yang menanggapi dengan senyum, banyak pula yang langsung mendoakan Annisa agar harapannya terkabul.
Mereka terlihat bahagia meski hanya menerima selembar uang sepuluh ribu dan sebatang coklat, uang yang bagi kita mungkin tidak seberapa, tapi bagi mereka sangat berharga. Begitupun dengan Annisa yang terlihat bertambah bahagia setelah berbagi. Meski dalam zahir memberi itu akan mengurangi, faktanya dengan memberi justru Allah akan menambah.
Menambah rasa syukur, menambah bahagia karena membuat orang lain bahagia, menambah rezeki yang tidak terduga. Sejatinya, memberi itu akan menambah banyak keuntungan bukan mengurangi, bisa dibilang, memberi itu adalah investasi jalur langit.
Rizki memandangi Nisa, terkagum-kagum dengan apa yang diperbuatnya, dalam suka duka, dalam keadaan sempit atau lapang, dia tidak pernah lupa untuk berbagi.
"Coklat favorit kamu jadi habis, mau beli lagi? Kita mampir di minimarket depan sebelum pulang?" Rizki menawari, dia paham betul Nisa sangat menyukai coklat hingga tidak pernah lupa menyimpan banyak stok di mobil untuk menemani perjalanan kemanapun dirinya pergi.
"Nanti aja, Nisa nggak sabar pengen cepet-cepet sampai rumah memberitahukan kabar bahagia ini." Kata Nisa dengan senyum mengembang.
Mobil kembali melaju, dia menyenderkan kepala di pundak suaminya, menikmati perjalanan yang diiringi terik matahari tapi terasa menyejukkan baginya, mungkin efek kabar gembira ini.
***
"Alhamdulillah, MasyaAllah, Tabarakallahu, Ummi mau punya cucu. Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah.." Seru ummi terlihat sangat bahagia memandangi hasil USG yang di print oleh dokter tadi.
Ummi lalu memeluk Annisa, menciuminya dengan bangga. Sesekali mengusap perut dan mendoakannya. Rizki menelepon bapak dan ibu memberitahukan kabar ini, di seberang telepon mereka pun terdengar sangat bahagia, apalagi bapak.
Tidak lama mereka datang ke rumah membawa banyak buah dan sayuran, juga susu hamil dan beberapa cemilan. Bapak dan ibu menghambur ke kamar Nisa dan memeluknya serta mendoakan janin yang ada dalam rahim.
"Bapakmu sampai jingkrak-jingkrak mendengar kabar ini, Nak." Ucap ibu tersenyum memandangi bapak, dari raut wajah ibu tidak kalah bahagia, tapi ibu bukan orang yang pandai mengekspresikan rasa gembira seperti bapak yang sampai jingkrak-jingkrak.
Syauqina tidak melepaskan pelukan kakak iparnya, dia menangis haru mendapat kabar bahagia ini. Adik Rizki ini sudah pulang dari pondok karena pandemi ini, hingga terpaksa membuatnya melakukan kegiatan belajar di rumah secara online. Pondok di tutup untuk waktu yang belum di tentukan, membuat Syauqina pulang ke rumah membawa banyak barang.
__ADS_1
"Dedek, baik-baik ya. Delapan bulan lagi ketemu, nanti main sama tante, kita beli eskrim dan coklat yang banyak." Ucap Qina mengelus perut Nisa.
Semua orang tersenyum mendengarnya, mereka bahagia menyambut janin yang tumbuh dalam perut Annisa.
***
Karena dokter menyuruh Nisa untuk bedrest, Rizki mengambil alih seluruh hal yang biasa dikerjakan oleh Annisa, bahkan untuk ke kamar mandi saja dia tidak rela membiarkan istrinya memakai tenaga, dia menggendong Nisa ke kamar mandi, begitupun saat Nisa hendak wudhu, dia menggendong Nisa penuh kasih sayang.
"Padahal nggak gini-gini amat lah Mas, kalau sekedar jalan ke kamar mandi kan nggak dilarang." Tolak Nisa
"Sudah jangan banyak protes, Mas nggak mau kamu capek. Lagian kan ini bukan cuma untuk kamu, tapi untuk anak kita." Sangkal Rizki dengan telaten mengurusi istrinya.
Tidak hanya itu, Rizki juga mengambilkan makan saat Nisa lapar dan menyuapinya, mengambilkan minum, dan mengambilkan apa pun yang dibutuhkan Annisa.
Dia setia 24 jam menunggui istrinya, seolah dunianya sekarang hanya ada Nisa, Nisa, dan Nisa saja. Dia tidak peduli dengan yang lainnya.
"Mas, bukannya jam sepuluh ini ada janji ketemu pemilik properti yang mau disewa untuk usaha Mas, kok belum siap-siap? Satu jam lagi loh waktunya, belum di jalan kalau macet gimana?"
"Mas nggak bisa, biar nanti di jadwalkan ulang aja, Mas khawatir nggak ada yang jagain kamu. Ummi belum pulang."
"Nggak papa, Nisa bisa ambil sendiri kalau butuh sesuatu. Jangan mudah membatalkan janji seperti itu, zalim namanya. kita tidak tahu orang itu sudah meninggalkan apa demi bisa menepati janji bertemu dengan Mas, bisa saja dia juga sedang ada di posisi berat untuk berangkat seperti Mas sekarang, tapi tetap berangkat karena tidak mau menyepelekan waktu orang lain." Ucap Nisa sedikit memberi nasihat, membujuk agar Rizki mau pergi.
Mendengar hal itu Rizki pun akhirnya setuju, dia mengambil ponsel yang sedari tadi tergeletak di nakas, matanya sibuk menyisir kontak, setelah menemukan orang yang di maksud, dia memencet tombol telepon dan menyalakan loudspeaker.
"Assalamualaikum," Sapa seorang wanita di sana yang tak lain adalah adiknya, Syauqina.
"Waalaikumsalam, Dek kamu sibuk nggak?"
"Lagi sekolah daring, Mas. Kenapa?"
"Bisa ke sini? Temani Mbakmu, Mas ada urusan penting nggak bisa dibatalkan."
Nisa menggeleng, mengisyaratkan tidak perlu menganggu adiknya yang sedang sekolah, meski melalui daring, tetap saja dia sedang belajar, apalagi sebentar lagi ujian kelulusan.
Tapi Rizki tidak menghiraukannya, dia terus meminta Syauqina untuk datang.
"Beres, Mas. Qina meluncur sekarang, tunggu ya."
"Oke, makasih ya Dek."
Klik.. Sambungan telepon terputus.
Rizki bergegas mempersiapkan meeting hari ini, meski sebenarnya dia tidak ingin pergi karena mengkhawatirkan istrinya, tapi pertemuan ini juga penting. Dia tidak bisa menunda lagi, terlebih Nisa juga terus menyuruhnya untuk pergi.
Sekitar lima belas menit kemudian, Qina datang menenteng buku dan laptop dalam tasnya.
"Qina ijin pakai meja kerja Mbak untuk daring, boleh?" Tanyanya setelah sampai di kamar Nisa.
"Pakai aja sana cepet nanti ketinggalan materi." Ucap Nisa.
Qina lalu mempersiapkan laptop dan membuka buku, juga mengambil pulpen, melanjutkan aktifitas daring yang sempat terjeda karena menempuh perjalanan ke sini.
"Mas pergi ya, jagain Mbakmu yang bener." Tukas Rizki kepada adiknya, dia juga pamit kepada Annisa.
"Ayah pergi dulu ya sayang, jangan rewel dulu. Kasian Bunda," Bisik Rizki di depan perut Nisa, lalu mencium perut yang masih datar itu.
Nisa tersenyum memperhatikan suaminya, sesekali mengelus rambut halus yang beraroma shampo.
__ADS_1
Bersambung...