Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 14 (Cinta Dalam Doa)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 14 (Cinta Dalam Doa)


(PoV Annisa)


‘Seandainya cinta bisa kau taruh di hati mana pun yang kau mau, tentu aku ingin dia yang mereguknya terlebih dahulu.’


Aku terharu saat membaca caption di Instagramnya Mas Rizki.


Di situ, dia meng-upload foto candid diriku yang tampak dari belakang.


Sepertinya, foto ini dia ambil sewaktu kami berada di supermarket kemarin, saat aku sedang memilih buah untuk Ibu.


Aku juga senang, sekarang Mas Rizki tidak seketus dulu. Meski dia belum mencintaiku, tapi aku selalu merasa bahagia saat berada di sampingnya.


Aku menitipkan cinta ini di dalam doa. Setiap waktu, setiap aku bersujud kepada Rabb-ku. Sebab, hanya DIA-Lah pemilik cinta yang tidak akan mengabaikan siapa saja yang mencintai-Nya.


Tempo hari, saat Mas Rizki menceritakan Sheila, hatiku sangat hancur mendengarnya. Kukira, akulah cinta pertamanya, seperti dia yang menjadi cinta pertamaku, tapi nyatanya?


Tapi biarlah, Allah saja tidak pernah melihat awal hidup hamba-Nya. Allah saja yang pemilik kehidupan, kelak mengadili setiap hamba dengan melihat seperti apa akhir kehidupannya.


Lalu aku yang sama-sama sebatas hamba, haruskah mempermasalahkan masa lalunya?


Tidak!


Tidak akan pernah!


Karena dia adalah jalan pintasku menuju surga.


Aku pernah mendengar satu hadits yang merupakan kabar gembira bagi para istri apabila bisa bersabar dari suami yang tidak memenuhi hak istrinya dengan baik. Kata Rasulullah,


“Jika seorang wanita selalu menjaga Shalat lima waktu, juga berpuasa (di bulan Ramadhan), menjaga *********** (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat kepada suaminya, maka dikatakan kepada wanita ini, “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad)


Sangat menggiurkan memang. Itu adalah balasan bagi istri – istri yang bersabar saat di perlakukan tidak baik, namun tetap bersikap baik, dan menjalankan kewajibannya dengan baik pula.


Tapi menjalaninya tidak semudah teori. Itulah mengapa balasannya surga, karena surga itu mahal, tidak bisa ditebus dengan seisi dunia, menebus surga hanya bisa dilakukan dengan ketakwaan kepada-NYA.


Aku ingin meraih surga itu melalui dia, dan juga meraihnya bersama dengan dia. Aku ingin dia menjadi cinta pertama di dunia dan juga kelak di jannah-NYA.


Aku sangat mencinta Mas Rizki, terutama saat menatap matanya yang sayu dengan bulu mata lentik nyaris seperti memakai eyelash.


Dari segi fisik, aku sangat bersyukur disandingkan dengan lelaki tampan. Meski bagiku fisik itu bukan prioritas utama, tapi dikirim Mas Rizki yang memiliki fisik tampan oleh Allah, seperti mendapat bonus.


Dia tinggi, sekitar 170cm, badannya ideal, terutama di bagian dadanya sangat seksi, kotak-kotak seperti roti sobek.


Aku pernah melihatnya sekali, waktu itu kami disuruh ganti gaun pengantin untuk sesi pemotretan keluarga. Rasanya seperti mendapat lotre melihat Mas Rizki bertelanjang dada.


Tapi Mas Rizki seperti tidak suka aku memperhatikannya terus, jadi aku keluar kamar lebih dahulu, dan membiarkan dia mengganti bajunya dengan nyaman tanpa terganggu oleh pandanganku.


Aku juga tidak akan melupakan momen saat mencium tangannya, menatapnya, dan juga ciuman dia di keningku ketika selesai akad waktu itu.

__ADS_1


Mas Rizki, andai Mas tahu betapa setiap waktu aku menyebut namamu, meminta agar secepatnya Allah menumbuhkan cinta di hatimu.


Cinta yang halal, cinta kepada yang haknya, cinta yang selalu terucap dalam doa. Agar melalui pernikahan ini Allah Ridho, agar pernikahan ini menjadi ladang pahala untuk kehidupan kita berikutnya.


Tidak apa-apa, Mas. Jika sekarang kamu tidak bisa menyentuhku, sesiapnya kamu pun aku mampu menunggu.


Asal kamu tetap di sini bersamaku, asal kamu tetap taat kepada Rob-Mu, itu sudah cukup.


Dari pada kamu harus ‘melakukannya’ karena terpaksa. Silakan kamu kumpulkan dulu benih-benih cinta, akan kupupuki dan kusirami benih itu setiap hari, agar ia tumbuh dengan cepat, dengan lebat, hingga kamu tidak bisa jauh-jauh dariku.


***


“Ngapain hp diajak senyum-senyum? Emang dia bisa diajak bercanda?”


Mas Rizki tiba-tiba muncul di kamar tanpa terdengar suara pintu. Entah aku yang terlalu khusu dengan ponsel, atau dia yang masuk dengan mengendap-ngendap.


“Lagi mandangin foto pujaan hati.” Jawabku dengan cuek, berharap dia akan cemburu.


Sebenarnya dari tadi, aku sedang melihat foto-foto Mas Rizki yang banyak bertengger di akun Instagramnya.


“Oh.” Jawabnya tanpa penasaran sedikitpun.


Dia mengambil jaket dan kunci motornya.


“Mau kemana?”


“Mau malam mingguan.”


Dia melirik ke arahku.


“Bukannya lagi mandangin foto pujaan hati?”


Aku menahan tawa mendengar ucapannya yang sedikit ketus, apakah dia cemburu?


“Mau lihat?“ Kataku


“Dih, ngapain. Nggak penting buat ...”


“Nih. Ini pujaan hati Nisa sejak setahun lalu. Cinta pertama Nisa, sejak awal pertemuan yang tidak di sengaja malam itu.” Jawabku memotong ucapannya.


Dia mengernyit, melihat foto yang kuperlihatkan kepadanya.


“Dih, jelek gitu cowoknya. Bisa-bisanya kamu suka sama dia.”


Sontak aku tertawa mendengar guyonannya yang mengatai fotonya sendiri.


Tidak disangka sosok Mas Rizki memiliki sisi yang humoris. Meskipun tetap dengan muka juteknya, bagiku itu membuat dia semakin manis.


“Jadi ikut, nggak?”

__ADS_1


“Jadi, Mas. Boleh Nisa ganti baju dulu sebentar?”


“Janji gak lebih dari lima menit, ya. Kalo telat, Mas tinggal.”


Dia pergi meninggalkanku di kamar. Kenapa harus keluar? Padahal dia nggak akan berdosa meskipun tetap di sini melihatku ganti baju.


Dengan cepat, aku mengganti baju tidur dengan gamis dan hijab favorit. Memoles sedikit bedak dan lipbalm, lalu pergi menyusul Mas Rizki yang sudah menunggu di halaman.


***


Kami berkeliling kota untuk menghilangkan kegabutan, sebelum akhirnya memilih singgah di sebuah rumah makan favoritnya Mas Rizki.


Makanan di sini enak, terlebih ditemani oleh Mas Rizki, membuat terasa semakin nikmat.


“Minggu depan Mas harus kembali bekerja. Kamu mau ikut ke Jakarta, atau tetap di sini?”


“Ibarat kata suami itu kepala, dan istri adalah ekornya, Nisa pasti ikut kemana pun Mas pergi.”


“Kuliah kamu? Bukannya sudah mendaftar ke Universitas favorit?“


“Nggak masalah, Nisa bisa kuliah di Jakarta. Kebetulan banyak juga temen Nisa yang kuliah di sana.”


“Usaha kamu?”


“Usaha Nisa kan online, Mas. Bisa di kerjakan darimana aja hehe”


“Terus Ummi gimana?”


Aku terdiam sejenak. Ummi adalah kelemahanku, aku tidak pernah berjauhan dengannya, kecuali saat mondok. Itu pun, Ummi sering datang seminggu sekali.


Tapi saat ini, suami sudah lebih berhak atas diriku, daripada Ummiku sendiri.


“Kita bisa sering-sering pulang untuk mengunjungi Ummi dan Ibu. Lagi pula, sekarang Mas lebih berhak atas diri Nisa.”


“Baik kalo begitu, nanti Mas urus semuanya. Nisa nggak menyesal kan menikah sama Mas?”


“Kok Mas ngomongnya gitu?”


“Mas belum punya apa-apa untuk bisa dibanggakan saat ini. Tapi, suatu saat, Mas janji akan membuat kamu bahagia.”


“Nisa menantikan saat itu, Mas”


“Terimakasih."


Aku mengangguk dan tersenyum manis kepadanya.


Akibat dihianati oleh Sheila, Mas Rizki menjadi orang yang insecure dengan hidupnya.


Dan aku bertekad mengembalikan lagi kepercayaan dirinya. Hingga dia meraih kesuksesan dan membuat Sheila menyesal telah menyia-nyiakan laki-laki sebaik ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2