Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 37 (Bridal Shower)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 37 (Bridal Shower)


Rizki beristirahat sekitar satu minggu sebelum melanjutkan rencana yang sudah tersusun rapi, menghabiskan banyak waktu dengan Annisa dan keluarga, seolah menikmati kebersamaan yang hilang saat berada di kota rantauan.


 Angin malam berhembus menelusup ke dalam kulit, menjatuhkan daun yang sudah menguning dari ranting, suara jangkrik berdenging seolah menggemakan takbir di malam yang hening ini, sehening pikiran Rizki yang sedang menikmati suasana malam di halaman depan.


 Sesekali menengok ke arah pintu gerbang, menyisir setiap sudut jalan mencari sosok yang ada dalam pikiran, Nisa. Istrinya pamit sejak jam tujuh malam tadi, ada janji bertemu dengan teman-teman untuk melepas rindu. Tiga jam berlalu, dia masih belum pulang juga, menyisakan kekhawatiran di hati Rizki.


 Sebenarnya dia bukan tidak mau mengantar, hanya saja Nisa menolak untuk ditemani, takut Rizki bosan katanya, dan lagi Nisa khawatir teman-temannya tidak akan nyaman jika dirinya mengikut sertakan Rizki dalam pertemuan mereka.


 Saat terdengar suara mobil mendekat, dengan cepat gerbang dibuka, berharap dia mendapat sosok istrinya di balik sana. Nyatanya, kekecewaan lah yang didapat karena orang itu bukan orang yang diharapkan kedatangannya, hanya seseorang yang kebetulan lewat.


 Rizki mengusap rambut merasa sedikit frustasi dengan rasa khawatir yang sedari tadi mengganggunya, untuk kesekian kali dia menengok jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan, rasa khawatir semakin memuncak saat nomor Nisa tidak bisa dihubungi.


 Merasa tidak bisa lagi menunggu dengan tenang, Rizki masuk ke dalam rumah mengambil jaket dan kunci motor, lalu mengeluarkan dari garasi, helm sudah terpasang erat di kepala, motor sudah menyala, sedetik kemudian Rizki menarik gas dari tangan kanannya, tapi tiba-tiba terhenti saat seorang wanita membuka gerbang dan mengucap salam.


 Rasa khawatir dan frustasi yang dirasakan seketika hilang saat mendapati sosok istrinya.


“Assalamualaikum, Mas maaf pulangnya telat.” Nisa menyambut tangan suami dan mengecupnya.


 “Waalaikumsalam, baru mau disusul, khawatir soalnya di teleponin nggak aktif terus.”


 “Iya, maaf sayang tadi baterainya habis, tadi siang lupa ngecas.” Nisa menelungkup kan tangan di hadapan suaminya, memohon maaf diiringi mimik muka menyesal.


 “Kenapa telat?”


 “Tadi ada acara dadakan, sayang. Nggak enak kalo nolak.”


 “Boleh tau acara apa?”


 “Bridal shower, Mas. Salah satu sahabat Nisa lusa akan menikah. Jadi tadi teman-teman bikin acara mendadak ngasih surprise bridal shower. Pulangnya, Nisa mampir ke panti asuhan yang selama ini sering Nisa kunjungi sama Abi. Kebetulan di sana ada acara pengajian, jadi sekalian di suruh ngisi acara untuk membacakan murotal oleh ibu pengasuh. Nisa nggak enak kalo nolak.” Ucapnya panjang lebar, menjelaskan setiap kejadian dengan detail, berharap bisa meredakan rasa marah Rizki, meski dia tidak menunjukkan rasa kesal tapi Nisa bisa membaca jelas dari raut wajah suaminya.


Benar saja, mendengar penjelasan itu membuat Rizki luluh, ada rasa menyesal saat dirinya sudah berpikir yang tidak-tidak, berpikir bahwa istrinya asyik-asyik makan di cafe, mengobrol, bercanda sambil menertawakan hal receh dengan teman-teman hingga membuatnya lupa waktu.


‘Astagfirullah’ gumamnya dalam hati. Rasa kesal seketika hilang berganti dengan rasa menyesal, tapi dia lebih banyak merasa bangga kepada Nisa, bagaimana tidak? Istrinya itu selalu berbuat kebaikan di manapun dirinya berada.


 “Ya sudah, ayo masuk. Ini udah malam.”


 “Mas udah nggak marah kan?”


 “Enggak.”


 “Kok bilang nggaknya ketus begitu sih, Mas?”


 “Loh,terus harus bagaimana?”


 “Senyumnya mana?”


 Rizki menarik bibirnya hingga kelihatan gigi, memamerkan kepada Nisa memberikan senyum yang diminta.


 “Itumah nyengir bukan senyum, iiih.” Rengek Nisa manja.


Rizki menarik napas, menyunggingkan senyum yang dipaksakan, demi istrinya kadang hal-hal konyol seperti ini tetap harus dilakukan.


Nisa tersenyum gembira dengan tepuk tangan melihat ekspresi suaminya. Dia mencubit kedua pipi yang ditumbuhi jambang tipis dengan gemas membuat Rizki sedikit kesakitan.


Mereka masuk ke dalam rumah, hening. Tidak ada ummi yang biasa duduk di depan televisi menyaksikan kajian dari sebuah stasiun swasta. Mungkin sudah tidur karena jarum jam sudah memperlihatkan angka 11 malam.


Sesampainya di kamar, Nisa melucuti seluruh pakaian yang menutupi dengan sempurna seluruh lekuk tubuh, hijab sedengkul yang membalut kepala sejak tadi pun sudah dia satukan dalam tumpukan pakaian kotor. Kini, dia bersiap mandi meluruhkan segala keringat dan rasa lelahnya.


Dibawah kucuran air shower hangat, Nisa memikirkan perkataan salah satu temannya. Teman yang tidak begitu akrab tapi berusaha terlihat akrab karena berada di circle yang sama, dia bertanya seolah mengolok-olok,


“Kok belum hamil-hamil sih, kamu? Kan sudah mau dua tahun menikah loh.” Kalimat itu terngiang di telinganya, mengganggu pikirannya, pertanyaan yang sebenarnya dia sendiri sudah tahu jawabannya, tapi sengaja bertanya seolah ingin mengolok-olok dia di hadapan teman-teman lainnya.


Lalu memangnya kenapa kalau belum hamil? Kehamilan sepenuhnya hak Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, layaknya mati menciptakan pun sepenuhnya kuasa Allah.


Manusia memang kebanyakan seperti itu, sibuk menyoroti orang lain tapi lupa dengan cahayanya sendiri.


Biasanya Nisa tidak pernah memikirkan apa pun omongan orang lain, karena mereka hanya menilai sebatas apa yang dilihat, tidak penting memikirkan omongan orang yang tidak tau apa-apa dengan kehidupan kita. Buang-buang waktu!

__ADS_1


Tapi kali ini berbeda, kalimat itu begitu menancap dalam di hati, membuat sesak dada seolah ditindih benda sangat besar, meluruhkan air mata yang menyatu dalam kucuran shower di atas kepalanya.


“Mas ayo besok kita ke dokter.” Ucap Nisa tiba-tiba saat keluar dari kamar mandi, handuk yang dililitkan ke rambutnya bertengger di atas kepala.


Tubuh semampai yang hanya dibalut handuk kimono menimbulkan getaran halus di dada Rizki, membuat semacam pikiran erotis di otaknya. Segera ia tepis pikiran itu, dan fokus pada ucapan Nisa.


“Kamu sakit?” Rizki menempelkan punggung tangan di kening Annisa mengecek suhu tubuh untuk memastikan dia demam atau tidak.


“Tapi nggak panas.” Lanjutnya heran.


“Yang sakit bukan di sana, tapi di sini.” Tangan Rizki diraih Nisa, sedetik kemudian ditempelkan pada dada Nisa hingga detak jantungnya bisa terasa oleh tangan kekar itu.


“Kamu sakit jantung?” Rizki melonjak kaget.


“Astagfirullah, Mas.. Mas.” Nisa mulai terlihat bete, ucapan temannya itu terus terngiang di telinganya. Ditambah kelakuan Rizki membuat suasana hati dia semakin buruk.


Rizki melongo, memikirkan kembali apa yang telah diperbuatnya hingga membuat Nisa bete, tapi dia tidak menemukan letak kesalahannya. Rizki tidak mengerti.


Rizki menarik tangan Nisa hingga tubuh itu berbalik dan mendarat di pelukannya.


“Maaf.” Ucap Rizki, meski dia tidak tahu dimana letak kesalahannya, meminta maaf adalah pilihan yang tepat.


“Dada Nisa sesak banget, rasanya sakit banget hati ini tuh sakit.” Lirihnya sambil memukul-mukul pelan dada bidang Rizki yang kekar dan kotak-kotak seperti roti sobek.


“Kenapa sayang? Maafin Mas kalau ada ucapan yang nyakitin hati kamu.” Rizki membelai punggung istrinya. Punggung yang hanya tertutupi sehelai kain handuk.


“Bukan Mas, tapi temen Nisa tadi nyebelin banget. Dia tanya kenapa aku belum hamil padahal udah mau dua tahun menikah.” Ucap Nisa di sela-sela isak tangisnya.


“Loh, terus Nisa jawab apa?”


 Nisa menggeleng, seolah mengatakan “Tidak menjawab apa-apa.” Dari gerakan kepalanya.


“Harusnya Nisa jawab gini,


“Tidak tahu, coba bisa bantu tanyakan pada Tuhan? Aku sendiri juga sangat penasaran.”


“Iya, ya. Kenapa tadi nggak kepikiran jawab begitu.” Ucap Nisa membuat Rizki tersenyum gemas.


“Yasudah, daripada memikirkan omongan orang yang nggak penting, mendingan kita tidur. Ini sudah malam. Toh kalo sudah waktunya tidak akan sulit bagi Allah menciptakan janin di rahimmu.”


“Tapi besok kita ke dokter, ya.” Rengek Nisa.


 “Dokter kandungan?” Tanya Rizki memastikan.


 “Iya, kita konsultasi untuk program hamil.”


 “Oke sayang, yasudah yuk tidur biar besok pergi ke dokternya dalam keadaan fresh.” Rizki memapah Nisa ke tempat tidur.


Keduanya membaringkan badan di atas kasur empuk dengan sprei warna biru muda. Kepala Annisa menelungkup di atas dada dekat ketiak Rizki, bantal ternyaman bagi Nisa.


Nisa memperhatikan wajah suaminya yang terlihat dari pinggir. Telunjuknya menyusuri setiap bagian di wajah tampan itu, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, dan bibir yang seksi.


Sentuhan telunjuk Nisa membuat dentuman keras di jantungnya, memberikan rasa panas yang menjalar dari kaki hingga kepala.


“Nakal ya telunjuknya.” Rizki meraih dan memasukan telunjuk Nisa ke dalam mulutnya hendak digigit, sejurus kemudian Nisa menarik tangannya sambil menjerit kecil.


“Awwhhhh...” Lirihnya disertai tawa.


“Syuuuuuutttt..” Rizki menempelkan telunjuk di bibir mungil Annisa, mengisyaratkan agar dia berhenti merintih.


“Nanti kalau kedengaran ummi malu. Disangka lagi ngapain.” Bisik Rizki.


Nisa tertawa, tingkahnya semakin menjadi, dia merintih beberapa kali dengan suara cukup keras.


“Awh.. Emmhh.. Ahhh...” Rintihannya menirukan suara seorang wanita yang sedang menikmati senggama.


Mendengar itu, malah membuat Rizki terangsang. Apalagi tubuh Nisa hanya dibalut handuk membuat liar sorot matanya menyusuri seluruh bagian tubuh perempuan cantik yang sedari tadi menggodanya.


“Awas kamu ya, sini kamu.” Rizki mencoba menangkap Nisa yang sedari tadi menghindarinya. Mirip anak kecil yang sedang main kejar tangkap.

__ADS_1


Nisa tertawa, gerakannya yang lincah membuat Rizki kesulitan menangkap.


“Ayo sini tangkap kalau bisa.” Nisa malah semakin menjauh dan sulit ditangkap, membuat Rizki semakin tertantang.


Rizki berdiri menaruh kedua tangan di pinggang, memperhatikan Annisa sambil menyiapkan strategi untuk menangkapnya. Dari sebrang, Nisa seolah tertawa meledek karena sudah berhasil mengerjai Rizki.


“Sayang, itu dibelakang kamu ada kecoa.” Tukas Rizki dengan muka serius.


Nisa panik dan berlari hingga meloncat ke pangkuan Rizki. “Kena kamu!” Rizki tertawa puas. Menyadari dirinya sudah ditipu, Nisa mendelik sinis.


 “iiih, Mas mah curang.” Ucapnya hendak menurunkan diri dari pangkuan.


“Jangan harap bisa turun setelah kamu membuat Mas seberga-irah ini. Persiapkan dirimu, semalaman ini nggak akan Mas kasih ampun.” Rizki menyeringai penuh kemenangan.


Posisi Nisa yang berada di pangkuan suaminya sudah tidak bisa berkutik. Seolah menantang, Nisa mengunci kaki yang melingkar di atas pinggul Rizki, mengeratkan pelukan hingga membuat posisi bibir Nisa sangat dekat.


Rizki menyambut bibir mungil itu, meng-ulumnya dengan lembut. Tidak lupa, mereka terlebih dahulu membaca doa dan memohon agar segera dititipkan janin dalam rahim Annisa.


***


Matahari sudah naik, menebarkan cahaya ke setiap penjuru bumi. Hilir mudik manusia sudah memenuhi jalan sejak subuh tadi.


Rizki dan Annisa menepikan mobil di sebuah klinik dua lantai. Di dalam sana, ada sebuah apotek cukup besar juga komplit menyediakan macam-macam obat. Lebih ke dalam lagi, ada ruangan bagi masing-masing dokter yang buka praktek di sana.


Mereka memasuki sebuah ruangan dokter yang di depan pintunya tertulis Dr. Sofie Fadilah, spOG.


Tidak menunggu lama, seorang dokter separuh baya menyapa dengan ramah. Menanyakan keluhan apa, dan melakukan sesi tanya jawab untuk mengetahui lebih mendetail apa yang terjadi kepada kami.


Sebelum melakukan tindakan lebih lanjut, dokter memutuskan untuk melakukan USG tranvaginal terlebih dahulu untuk melihat kondisi rahim Nisa, baru setelah itu bisa diputuskan apakah perlu pemeriksaan lebih lanjut atau tidak.


Seorang suster membantu Nisa duduk di kursi pemeriksaan, di sebelahnya terdapat layar untuk melihat kondisi rahim. USG yang dilakukan adalah empat dimensi sehingga memunculkan hasil yang terlihat cukup jelas.


Setelah mengoleskan gel pada alat USG tranvaginal yang cukup panjang dan berdiameter bulat menyerupai pe-nis, hanya saja bentuknya lebih kecil, dokter lalu memasukan alat itu ke va-gina Annisa, dia meringis saat benda itu menerobos masuk.


Rizki bergidik ngeri, membayangkan Nisa yang sedang kesakitan karena alat itu mengucek-ngucek rahimnya, menelusuri setiap bagian dengan teliti seolah dokter tidak ingin melewatkan apapun yang ada di dalam rahim Nisa.


Alat itu berhenti di salah satu sisi rahim, dari layar nampak setitik bulatan kecil yang entah itu apa.


Dokter mengernyit, mendekatkan wajah ke arah layar lebih dekat lagi, seperti sedang memastikan apa yang dilihatnya itu tidak salah.


Rizki sedari tadi tidak paham dengan apa yang terpampang di layar hanya diam menunggu penjelasan dokter.


Dalam hatinya sedikit khawatir melihat ekspresi dokter yang sangat serius menatap bulatan di rahim Nisa.


Rizki tidak melepaskan genggaman tangan istrinya. Terlihat dari raut wajah Nisa sedang kesakitan, dalam hati merasa khawatir jika saja sesuatu buruk terjadi di rahimnya.


Ekspresi dokter yang serius menatap layar membuat pikiran-pikiran buruk berkelebatan dalam pikiran.


"Sebentar ya, Bu. Tahan sedikit sakitnya, ini saya lagi memastikan sesuatu." Ucap dokter dengan suara halus.


Rizki dan Nisa beradu pandang, keduanya hanyut dalam kekhawatiran. Hendak bertanya apa yang terjadi, tapi dokter sendiri seperti belum yakin dengan apa yang dilihatnya.


Ada apa dengan Annisa? Mungkinkah ada sesuatu buruk di rahimnya? Apakah dia sering sakit perut akhir-akhir ini karena bulatan yang tadi ada di layar itu?


Otak Rizki penuh sesak oleh banyak pertanyaan yang belum terjawab.


Dokter mencetak foto bulatan itu di sehelai kertas, di sana banyak keterangan lain yang tidak dipahami artinya.


Selesai meng-print foto, dokter membereskan peralatan, mengemas seluruhnya ke tempat semula.


"Sudah selesai ya, Bu. Mari, boleh turun dan duduk lagi di kursi biar saya jelaskan." Dokter berlalu ke meja kerjanya diikuti suster.


Aku memapah Annisa untuk menyusul mereka. Debar di dada ini, semakin kencang saat mendengar dokter akan menjelaskan semuanya.


"Jadi, istri saya ini kenapa Dok?" Tanya Rizki penuh penasaran.


Bersambung...


 

__ADS_1


__ADS_2