
Ucap syukur terdengar serentak dari banyak undangan yang datang. Bibi Rumini beserta suami dan semua ustadz ustadzah hadir di sana. ikut merasakan bahagia yang tak terkira dengan kehidupan baru Habibah yang luar biasa.
Rumini sungguh bersyukur, sekaligus terharu Habibah menemani mereka dari sejak masih bayi.
Tak kalah senang Rudy Utama dapat menikahkan anak kandungnya. Dan Hiko yang juga tidak menyangka akan dapatkan menantu dari wanita yang baik dan sabar, dia sangat mengenal Mayra menantu Raharja tersebut.
"Apakah kepemimpinan akan langsung di berikan kepada anak atau menantu Anda?"
Tak kalah sibuk awak media datang mengorek informasi dan berita bagus untuk publikasi yang menghasilkan uang.
"Tidak, putriku belum bersedia. Dia akan ikut suaminya bekerja di perusahaan sahabatku." Rudy menunjuk seorang pengusaha yang ikut hadir di sana.
"Terimakasih, aku tidak menyangka akan memiliki pegawai yang merupakan menantu dari pemimpin Media Utama." ucap Laki-laki itu senang, dia tersenyum kepada seluruh pers yang datang.
"Dan terimakasih sudah menjadi istriku." Lee memeluk pinggang ramping itu dengan begitu lembut, hangat dan terlihat serasi.
"Terimakasih sudah menerima diriku." Habibah juga tersenyum manis, matanya tak lagi sendu.
Lapas ijab Kabul yang sudah terucap baru saja membuat ia sangat bahagia, kelegaan itu datang begitu saja. Apalagi melihat wajah tampan Lee yang mendadak terlihat berwibawa dan gagah setelah ijab kabul itu.
Dahsyatnya janji suci di hadapan Allah, menenteramkan hati, menyejukkan jiwa, mengendalikan pandangan mata.
Senyum menghias tanpa henti di bibir keduanya.
Sementara di rumah yang lain, Larisa sibuk membuang barang-barang milik Habibah yang masih tersisa. Dia marah dan kesal, hingga menjerit dan mengamuk.
"Kendalikan istrimu Bram!" perintah Frans kepada anaknya.
Bram mendengus kesal, langsung menuju kamarnya dan menyaksikan Larisa menangis dan berteriak.
"Aku benci wanita yang sudah merebut milikku." marahnya.
"Mau tidak mau kau harus menerima jika dia adalah yang pertama bagiku." ucap Bram hanya berdiri saja.
"Aku juga yang pertama Bram!" Teriaknya.
"Tapi kau sudah menipuku, kita tidak pernah melakukannya malam itu. Dan tak seharusnya kau membuang barang milik Habibah, karena yang bersalah adalah dirimu." jelas Bram lagi.
"Aku hanya ingin kita seperti dulu Bram."
"Ya, aku tahu. Tapi jika kau terus seperti ini? Aku rasa lebih baik kita ber_."
"Bram!"
Larisa sungguh takut Bram menjatuhkan talak padanya.
"Sebaiknya kau menurut."
"Dia sudah menikah Bram, bercerai denganku tidak akan membuat kalian kembali." gumam Larisa.
"Menikah?" Bram sangat terkejut.
"Ya." Larisa menunjuk undang yang ia sembunyikan.
__ADS_1
"Kau!" kesal Bram kepada Larisa.
Ia segera pergi, meluncur ke rumah besar Rudy Utama. Ternyata Larisa mengamuk bukan sebab barang milik Habibah itu, tapi karena Habibah menikah dengan pesta yang besar.
Bram menyetir dengan terburu-buru.
"Habibah." lirihnya menatap jalanan dengan mata mengembun.
Hingga tiba di rumah yang memiliki halaman luas itu.
Bram segera turun dan masuk tanpa peduli beberapa orang yang menanyakan undangan padanya.
Langkahnya lebih cepat, matanya mencari keberadaan istri yang pernah ia sia-siakan itu.
Deg
Hatinya seperti tertusuk pedang yang tajam, nafasnya berhenti melihat betapa wanita itu sangat cantik dan bahagia di sana, berdua dengan laki-laki yang terlihat tak melepaskan tangannya.
Bram berdiri kaku, tanpa sadar air matanya turun menetes. Bayangan kebahagiaan itu melintas menggoda, sakitnya tak bisa diungkapkan karena kehilangan, Habibah sudah milik orang.
Dia berbalik tanpa bertemu muka, tak sanggup rasanya melihat wajah itu lagi dari dekat. Hatinya sungguh hancur karena pernikahan yang akhirnya sudah berakhir.
"Maafkan aku Habibah.
*
*
*
Habibah tak lagi tinggal di pesantren atau di rumah mewah ayahnya. Ikut kemana suaminya melangkah, mengharap bahagia dan berkah selaku menyertai mereka, Allah selalu bersama orang yang ikhlas dan sabar.
"Maaf, aku hanya bisa memberikan gaji delapan juta saja untuk kebutuhan kita." ucap Lee di hati pertama ia menerima gaji setelah menikah.
Habibah tersenyum manis sekali, memeluk suaminya begitu erat.
"Bahkan ketika aku masih di pesantren, aku hanya menerima uang satu juta sebagai bayaran jasa mengajar setiap bulan. Dan aku sangat ikhlas. Apalagi sekarang, yang memberikan uang adalah suamiku, berkah dan bahagia ketika menerima nafkah halal darimu. Aku hanya di rumah saja, sedangkan setiap hari kau yang bekerja." ucapnya dengan wajah berseri-seri.
"Terimakasih." Lee memeluknya erat, mengecup keningnya dan seluruh wajahnya. "Aku sangat bahagia memilikimu." sambungnya lagi.
"Aku juga, terimakasih sudah menjadi suaminya sempurna untukku. Aku sangat-sangat bahagia menjadi istrimu. Aku ingin selamanya bersamamu.
"Ya. Kita memang akan selalu bersama." Lee semakin memeluknya erat.
"Aku mencintaimu." Habibah mengucapkan kata keramat itu lebih dulu.
"Aku sangat mencintaimu." Lee tak menyia-nyiakan waktu bersama mereka, libur yang hanya di dapat lima lima hari dalam satu bulan itu ia habiskan untuk menemani sang istri, menikmati waktu berdua walaupun tanpa bulan madu seperti anak-anak pengusaha lainnya.
Asalkan hati bahagia, setiap hari adalah bulan madu yang indah...
Bangun di pagi hari yang cerah, hati yang lega dan perasaan yang tentram dalam pelukan hangat pria yang tanpa sadar Allah sudah mengaturnya untuk selalu bersama.
Andaikan tahu sejak awal bahwa dia adalah jodoh sebenarnya, maka tak akan ada duka yang singgah teramat lama...
__ADS_1
Tapi, begitulah rencana Allah kepada seseorang, imannya sedikit, ujiannya juga sedikit. Keimanannya baik, derajatnya tinggi, ujiannya juga tak kalah tinggi.
Begitu pula dengan orang yang istimewa, ujiannya juga lebih istimewa.
Percaya bahwa ada bahagia seusai derita, hujan tak selamanya membuat bumi menjadi gelap, ada terang setelahnya.
Layaknya siang dan malam, semua yang ada di bumi ini akan berjalan bergantian. Sedih dan senang, tawa dan air mata. Semuanya karunia yang harus di rasa, sabar adalah kuncinya.
"Lee, aku hamil." ucapnya di pagi itu, keluar dari kamar mandi dengan membawa alat tes di tangannya.
"Hamil!" Lee Bagun tanpa aba-aba, menatap wajah yang begitu cantik alami mendekati dirinya.
"Iya. Aku sedang mengandung anakmu." ucapnya dengan mata yang mulai basah.
"Aku?" Lee seakan tak percaya, kemudian memeluk tubuh ramping Habibah begitu erat.
"Kita akan punya anak!" seru Habibah menikmati pelukan yang semakin erat.
"Anak ku, anak kita."
Lee sungguh bahagia, di usia pernikahan yang masih baru, ia sudah mendapatkan bonus dari pernikahan mereka.
"Ayah pasti akan sangat senang." Lee meraih ponselnya sambil terus memeluk dan menciumi Habibah.
"Aku kesulitan bernapas." Habibah mencoba lepas dari pelukan itu.
"Maaf sayang, aku terlalu bahagia. Aku mencintaimu, aku mencintai, aku sangat mencintaimu..."
Lee kembali memeluknya, mengangkat tubuh kecil itu dan menggendongnya dengan sangat bahagia.
"Aku takut jatuh." Habibah semakin memeluk suaminya.
"Aku tidak akan pernah menjatuhkan mu, aku bersedia sakit demi anak dan istriku.
"Demi Allah, aku bahagia memilikimu." Habibah meneteskan air mata di sela pelukan hangat suami yang sangat mencintainya.
.
.
.
...#Tamat#...
...***...
...🌟🌟🌟🌟🌟...
...Selamat hari raya idul Fitri.....
...Mohon maaf lahir dan batin...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1