
#Mengejar Cinta Suamiku part 26 (Mengejar Cinta Annisa)
Rizki terbangun saat mendengar suara Nisa yang sedang sibuk di dapur.
Aroma wangi masakan menyeruak menusuk hidung membuat perut keroncongan.
Masih jam tiga pagi tapi dia sudah sesibuk ini. Rizki bangkit hendak membantu Annisa, mana mungkin dia tega asyik-asyik tidur, sementara istrinya sudah sibuk di dapur.
“Kenapa masak sepagi ini?” Tanya Rizki
“Menyiapkan untuk sahur, Ummi dan aku mau puasa.” Jawab Nisa tanpa menoleh ke arahnya.
Rizki lupa kalau ini hari kamis. Ummi dan Nisa memang seringkali puasa sunnah, seperti puasa senin, kamis, dan puasa ayyamul bidh, yaitu puasa sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulannya di kalender Hijriyah.
Rizki berdiri di samping Annisa, memperhatikan istrinya yang fokus berkutat dengan wajan.
“Ada yang bisa Mas bantu?”
Nisa menoleh sebentar, “Mas bantu makan aja.” Jawabnya.
Rizki celingak celinguk mencari sesuatu, membuka laci, menyisir setiap sudut dapur. Nisa merasa heran melihat tingkah suaminya.
“Cari apa, sih Mas?”
“Cuka dimana, ya Nis?”
“Sebentar aku ambilkan,” Annisa menghampiri rak yang berada di dekat kulkas.
“Nih, Mas. Buat apa emang?”
“Bukan cuka yang kayak gitu, Mas nggak suka,” Rizki menggeleng.
“Lah, terus maunya cuka apa?” Tanya Nisa sedikit kesal.
“Cuka cama kamu!” Tegas Rizki sambil mengulurkan jari membentuk bentuk love.
Krikk.. Krikk.. Kriikkk
Bukannya tersipu dengan gombalan Rizki, Nisa malah mendelik.
Ummi tertawa mendengar gombalan menantunya, tanpa mereka sadari, Ummi berada di dapur sedari tadi memperhatikan keduanya.
Rizki merasa malu karena dipergoki mertuanya, dia menggaruk kepala dan pamit ke meja makan untuk menyiapkan piring.
Ketiganya berada di meja makan untuk menyantap sahur bersama, masakan yang di hidangkan Annisa begitu memanjakan lidah, Rizki yang rindu dengan masakan Nisa menyantapnya dengan lahap.
“Ummi pulang selepas Subuh, kalian jaga diri baik-baik, ya. Nisa jangan lupa dengan pesan Ummi.”
“Kenapa Ummi nggak tinggal di sini aja?” Nisa sedikit sedih.
“Loh, ya nggak bisa. Ummi juga punya tanggung jawab di kampung. Kalo di sini terus yang ngurus toko siapa?”
“Ummi juga jaga diri baik-baik, ya. Jangan terus-terusan kerja sampai lupa makan.”
“Iya, Nak.”
***
Sudah hampir satu bulan sejak Ummi pulang kampung meninggalkan Rizki dan Annisa, namun hubungan Rizki dan Nisa masih belum menemukan titik terang.
[Pulang kuliah jam berapa?]
Rizki yang sedang istirahat di tempat kerjanya mengirim chat kepada Nisa, sebenarnya dia melakukan itu karena rindu.
15 menit menunggu, tidak ada respon darinya, padahal chat yang dikirim sudah dibaca oleh Nisa.
[Jangan lupa makan]
Tetap tidak ada balasan.
Rizki mulai putus asa, semakin ke sini, hubungannya dengan Annisa semakin renggang.
Segala cara dia lakukan untuk mengambil hati Annisa, namun belum juga mendapatkan respon yang baik.
Rizki tahu, kini dia menjadi orang asing bagi Annisa, sebisa mungkin Rizki akan membuat Annisa jatuh cinta lagi kepadanya, namun ternyata tidak semudah itu.
Nisa adalah tipe wanita yang cuek kepada laki-laki. Dia menghabiskan waktu dengan kuliah dan bekerja mengurus toko online miliknya.
Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi Rizki untuk mendapatkan hati istrinya.
Meskipun Nisa telah berubah, tapi dia tetap tidak lupa melakukan kewajibannya sebagai istri, dia melayani Rizki dengan baik, dari memasak, menyiapkan baju kerja Rizki, dan hal-hal lainnya.
Tapi, itu bukan yang diingankan oleh Rizki, karena dia sendiri juga mampu mengerjakan itu semua, yang di ingankan Rizki yakni istrinya kembali seperti dulu lagi,
mencintainya, memperhatikannya, bersikap manis dan manja, dan hal lain yang membuat Rizki jatuh cinta kepada Nisa.
Sejak ingatannya hilang, Nisa menjadi sosok yang dingin, dia berbicara dengan Rizki hanya seperlunya saja.
Rizki hanya bersama raga Annisa, tapi tidak dengan hatinya.
***
Di kampus, Annisa memperhatikan penjelasan dosen dengan sangat baik. Setengah jam lagi kelas berakhir, rencananya dia akan ke perpustakaan umum untuk mengembalikan buku yang minggu lalu dipinjam.
Setelah kelas selesai, dia membereskan buku dan laptopnya ke dalam tas, hari ini dia tidak membawa kendaraan karena tadi pagi berangkat menggunakan ojek online.
__ADS_1
Nisa bergegas keluar kampus hendak menuju halte bus, namun saat melewati parkiran, dia melihat Rizki tengah duduk di kursi taman seolah menunggunya, Nisa mendekati Rizki, dia tersenyum lebar melihat kedatangan Annisa.
“Tumben Mas jam segini udah pulang?”
Meskipun masih belum seperti dulu, tapi kini Nisa sudah bersikap biasa tanpa berbicara formal kepadanya.
“Iya, kebetulan lagi pulang cepat, jadi Mas jemput kamu.”
“Tapi aku mau pergi ke perpustakaan umum dulu.”
“Nggak masalah, Mas antarkan ke sana.”
Rizki membukakan pintu mobil menyuruh Nisa untuk masuk.
Nisa berjalan mendekati mobil hendak masuk, namun seorang lelaki yang baru turun dari mobil sport berwarna hitam memanggilnya.
“Nisa...”
Rizki melirik sumber suara.
Fatur berjalan ke arah mereka, membawa sebucket bunga dan coklat kesukaan Annisa.
“Selamat untuk penjualan produknya yang sudah mencapai sepuluh ribu pieces untuk bulan ini.” Fatur menyerahkan bunga dan coklat tersebut.
“Semoga bulan depan bisa closing di lima puluh ribu piece, ya” Tambahnya.
Rizki yang tidak tahu apa-apa hanya bengong menyaksikan keduanya.
Rizki merasa insecure kepada Fatur karena dia lebih memperhatikan Annisa dibandingkan dirinya.
“Terimakasih, Kak. Aamiin, semoga kita bisa closing lebih banyak lagi.” Jawab Nisa dengan senyum.
Senyum yang selalu Rizki rindukan. Dulu, senyuman itu hanya untuknya, namun kini Rizki justru jarang melihat Nisa tersenyum saat sedang bersamanya.
“Kamu mau kemana? Pergi sama aku aja, yuk?”
Rizki merasa kesal karena merasa dirinya tidak di hargai.
Sadar dengan hal itu, Fatur menyeringai dan melihat Rizki dengan tatapan sinis.
Melihat suasana sedikit tegang, Annisa menarik tangan Rizki mengajaknya untuk segera pergi.
“Aku pergi sama Mas Rizki aja, Kak. Terimakasih tawarannya, kami pergi dulu ya, Kak. Assalamualaikum” Pamit Nisa kepada Fatur.
Fatur yang merasa kalah mengepalkan tangannya, melihat ke arah Rizki dengan sorot mata penuh kemarahan.
Namun Rizki tidak menghiraukannya, dia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Fatur.
Di dalam mobil, Rizki menenangkan diri menahan emosi.
Mobil melaju menyusuri jalanan di Kota Jakarta yang mulai mendung, sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama bungkam membuat hening suasana di dalam mobil.
“Mas, tolong berhenti di sana.” Ucap Nisa menunjuk ke arah emperan toko, di sana ada anak-anak jalanan tengah asyik bercanda.
Rizki menepikan mobilnya tanpa bertanya.
Nisa meraih bunga dan coklat di jok belakang. Dia turun dari mobil dan menghampiri anak tersebut.
Rizki memperhatikan dia dari dalam mobil, namun sejurus kemudian perasaannya tersentuh saat Nisa memberikan bunga dan coklat pemberian Fatur kepada anak-anak itu.
Jumlah coklatnya sangat banyak, sehingga Annisa membagi-bagikannya kepada anak-anak lain yang berada di sekitar sana.
Rizki yang sedari tadi memperhatikan di dalam mobil tersenyum melihat yang dilakukan istrinya. Dia paham alasan Annisa melakukan itu karena jiwa sosialnya yang tinggi.Ini kesekian kalinya Rizki melihat hal positif dari istrinya.
Annisa sudah kembali ke dalam mobil.
“Mas tahu kamu itu sangat dermawan, tapi itu kan hadiah dari orang lain. Kalau orangnya tahu pasti kesal.”
“Lebih baik oranglain yang kesal, dari pada suami sendiri.” Ucap Nisa
Rizki termangu mendengar ucapan istrinya. Rupanya dia melakukan itu karena tidak mau Rizki marah.
“Maafkan Mas yang nggak sepeka Fatur.”
“Saat aku melihat foto-foto kita yang diambil sebelum aku amnesia, di foto itu terlihat jelas bahwa kita saling mencintai, aku yakin ada alasan tertentu yang membuatku jatuh hati kepada Mas.”
Rizki tersentuh mendengarnya, dia menoleh dan tersenyum, matanya berkaca-kaca, namun dengan segera dia menghapusnya agar tidak terlihat oleh Annisa.
Dalam hatinya, betapa dia sangat merindukan Nisa. Setiap hari dia tidak pernah berhenti berdoa agar ingatan Nisa bisa segera pulih. Rizki rindu momen-momen saat Nisa bermanja kepadanya.
Mereka tiba di tempat yang dituju, bangunan empat lantai berdiri kokoh, banyak orang hilir mudik membawa buku.
Nisa sedang mencari beberapa buku yang dibutuhkan, Rizki mengikutinya dari belakang sambil sesekali menarik buku dari rak untuk membaca sinopsisnya.
Di sisi lain, Rizki melihat sepasang siswa dan siswi SMA sedang bertengkar di antara lorong rak buku, perbincangan mereka pelan, namun terlihat sengit.
Tiba-tiba siswa pria itu mendorong siswi berambut panjang itu dengan keras hingga tubuh yang sedikit gemuk itu membentur rak buku di belakangnya.
Rak buku itu akan terjatuh, Rizki yang melihat Annisa ada di balik rak itu, dengan cepat berlari menarik tangan Annisa untuk menghindarinya.
Bruuukkkkkk....
Rak besar yang memuat banyak buku itu terjatuh membentur lantai dengan keras, jika telat satu detik saja, sudah pasti tubuh Rizki dan Annisa akan tertindih.
Semua orang yang berada di sana kaget, dan menghampiri untuk melihat apa yang terjadi. Para petugas dengan sigap membereskan buku yang berceceran.
__ADS_1
Satpam yang bertugas membawa kedua remaja itu untuk dimintai keterangan dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Nisa duduk di salah satu meja baca, dia masih terlihat kaget dengan kejadian tadi. Jika saja Rizki tidak menyelamatkannya, entah bagaimana nasibnya kini.
“Mas, terimakasih ya.”
“Iya, Nis.”
Perpustakaan ditutup lebih cepat akibat kejadian tadi. Semua pengunjung bubar, termasuk Nisa dan Rizki.
Di luar, hujan turun sangat deras diiringi petir. Annisa terlihat ketakutan, dia memejamkan mata untuk menghalau rasa takutnya.
Rizki mengerti dengan ketakutan yang dirasakan istrinya, dengan sigap, Rizki memegang erat tangan Annisa dan menggandengnya ke mobil.
Dalam perjalanan pulang, Nisa terus menutup kuping dengan tangannya, trauma itu selalu menghantui Annisa saat cuaca hujan dan petir seperti ini.
Rizki menepikan mobil, memeluk Annisa yang terlihat sangat gugup.
Malam semakin larut, namun hujan masih belum juga reda. Annisa dan Rizki masih menepi, menunggu suasana hati Annisa sedikit lebih baik sebelum melanjutkan perjalanan.
Rizki tidak tega melihat Annisa gemetar ketakutan saat mobil melaju menerobos hujan, apalagi jalanan mulai sepi dan gelap.
Seorang wanita berhenti di depan mobil mereka, terlihat dia kebingungan karena motornya tidak bisa di nyalakan.
Berkali-kali mencoba menstater, namun motor itu tetap tidak menyala. Dia menengok jam tangan, sepertinya sedang terburu-buru, tapi dia kebingungan karena motornya tak juga menyala.
Rizki melihat dari dalam mobil, dia meminta izin kepada Annisa untuk menolong wanita itu.
“Boleh Mas tinggal sebentar? Kasihan Mbak yang di sana sepertinya lagi buru-buru, tapi motornya malah mogok.”
Annisa menengok ke arah yang di maksud oleh Rizki, karena sudah merasa lebih baik, Nisa mengizinkan Rizki untuk menolong wanita itu.
Rizki turun dan berbincang dengan pemilik motor, tidak lama, dia menepikan motor ke halaman mini market dan membentulkan motor itu di sana, Nisa memperhatikan mereka dari dalam mobil.
Melihat hal itu membuat Annisa terbayang dengan kejadian yang sama, bayangan yang muncul dalam pikirannya membuat dia sekilas mengingat masa lalu saat seorang pria menolongnya yang sedang ketakutan.
Nisa memegang kepala, dia mencoba menemukan bayangan lain untuk mengingat semuanya, kepalanya terasa sakit, namun Nisa tidak menyerah. Dia bersikeras mengingat hal yang muncul dalam bayangannya tadi.
Dia yakin itu adalah kenangan, bukan hanya hayalan. Dia yakin bahwa dirinya pernah melewati masa itu hingga membuat bayangan tersebut muncul dalam pikirannya.
Sekuat tenaga Nisa berusaha fokus, meski kepalanya terasa seperti ditusuk, namun dia ingin mengingat lagi semuanya, Nisa ingin kembali mengingat orang yang dicintainya.
Saat kepalanya terasa sangat sakit, Rizki datang kedalam mobil dan memeluknya. Dia mengelus-ngelus kepala Nisa sambil tidak henti menenangkannya.
Dalam pelukannya, Nisa mendengar detak jantung Rizki, pikiran Nisa kembali melayang, dia mengingat masa-masa dirinya yang sering tertidur di dada Rizki, detak jantung itu mengingatkan kembali kenangan mereka berdua.
Perlahan momen-momen itu muncul di pikiran Nisa, momen kebersamaannya dengan Rizki.
Satu persatu, kenangan manis yang pernah dilewatinya dengan Rizki diingat oleh Annisa.
Meski kepalanya terasa sangat sakit, namun Nisa merasa senang karena kini ingatannya sudah kembali.
Dia sudah mengingat kembali orang yang dicintainya ini. Nisa langsung membalas pelukan suaminya, dia memeluk dengan sangat erat, membuat Rizki heran.
“Apa sakitnya semakin parah? Kita ke rumah sakit, ya.”
Nisa menggeleng, dia terus memeluk Rizki dengan kuat.
“Nisa baik-baik aja, kan?” Tanya Rizki dengan khawatir.
Dia mengangguk, Nisa masih belum mau melepaskan pelukannya.
Setelah ingatannya pulih, Nisa merasa sangat merindukan suaminya.
Kini Annisa mengingat semuanya, pikirannya kembali menuju masa lalu saat dia bertemu Rizki, saat pernikahan mereka, saat Nisa berusaha mendapatkan cinta Rizki, saat mereka sudah mulai jatuh cinta, saat malam pertama mereka, saat kebersamaan mereka di bogor, hingga saat-saat ketika dirinya kehilangan ingatan.
Memori itu seolah diputar dalam otaknya satu persatu, dia mengingat semuanya tanpa terkecuali.
Nisa merasa bahagia, memeluk Rizki dengan erat dan mencium keningnya.
Rizki yang kebingungan menerka-nerka apakah ingatan istrinya sudah kembali?
“Apa kamu sudah mengingat semuanya?” Tanya Rizki penasaran.
Annisa mengangguk tanpa melepas pelukannya.
“Apa kamu sudah benar-benar ingat dengan semuanya?” Rizki kembali bertanya untuk meyakinkan jawaban Annisa.
Nisa mendongakan kepalanya dan menatap Rizki.
“Iya, Mas. Nisa udah ingat semuanya. Maafkan Nisa karena sempat melupakan Mas. Orang yang paling penting dalam hidup Nisa.” Ucap Nisa dengan senyuman manisnya.
Akhirnya senyuman itu kembali, senyuman yang selalu dirindukan oleh Rizki.
“MasyaAllah.. Allahuakbar.. Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimush sholihaat ( Segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.), Terimakasih yaAllah, Terimakasih.” Ucap Rizki mengucap syukur tiada henti.
Dia mencium kening Annisa, menatapnya dengan penuh syukur. Akhirnya doanya terkabul, akhirnya Allah memberikan keajaiban dengan mengembalikan ingatan istrinya.
“Terimakasih sayang, terimakasih sudah berusaha untuk kembali mengingat Mas.” Ucap Rizki dengan suara gemetar menahan tangis bahagia.
“Terimakasih juga Mas mau bersabar menunggu Nisa.”
Hujan mulai reda, awan malam yang menutupi bulan perlahan hilang menyibak keindahannya yang bulat sempurna dihiasi cahaya terang.
Nisa dan Rizki melanjutkan perjalanan untuk pulang. Mereka terlihat saling merindukan, hingga tidak melepaskan genggaman tangan.
__ADS_1
Bersambung...