
"Pergi kau dari sini!" Marisa mengusir Lee, tangannya menunjuk tajam kepada pintu yang terbuka lebar.
Lee malah masuk dengan senyum sinis, tak ketinggalan Habibah terus saja mengikutinya.
"Aku adalah putra Rudy Utama. Kalian tidak berhak mengusirku dari sini."
"Kau bu_" Marisa menghentikan ucapannya melirik kiri dan kanan, Rudy dan semua orang sedang menatap kearahnya.
"Keluar dari rumahku!" ucap Lee dengan wajah dingin, mengacungkan telunjuk ke arah pintu, sama persis dengan yang di lakukan Marisa baru saja.
"Tidak! Kau tidak berhak mengusir Mama dan aku, ini rumahku!" teriak Larisa kemudian berbalik memeluk Rudy Utama kembali.
Sedangkan Marisa semakin geram menatap Lee yang tiba-tiba sok berkuasa. Dia tahu persis Lee bukan anak Rudy yang sebenarnya, tapi tidak mungkin pula dia mengungkapkan saat ini, karena sebelumnya dia sendiri yang mati-matian mengatakan bahwa Lee adalah putra Suaminya. 'Sial! Ternyata dia tidak bodoh seperti ibunya.' kesal Marisa di dalam hati.
"Aku tidak mau tahu, silahkan kalian pergi!"
"Papa!" Larisa menangis histeris memeluk ayahnya.
Membesarkan dan mencintainya sejak masih dalam kandungan, tentu membuat kesakitan sendiri melihat putri kesayangannya kini tak mau pergi. Meskipun hatinya sedang tersakiti oleh Marisa yang begitu tega membohongi hingga saat ini, 22 tahun lebih.
"Papa." ucapnya memohon.
"Lee, biarkan Larisa_"
"Kalau begitu aku yang pergi." sahutnya cepat, semakin membuat kedua orang wanita itu tercengang.
"Aku tidak mau pergi, ini rumahku! Dan aku sedang akan menikah." Larisa masih menangis memeluk Rudy ayahnya.
"Maaf Larisa, sepertinya kita belum bisa menikah saat ini." sahut Bram kemudian melepaskan kopiah di kepalanya.
"Bram!" Larisa menatap tajam Bram, mata yang sudah di penuhi air mata itu semakin membanjir. Marah, benci, kecewa, terluka, semuanya sedang menghampiri dirinya.
"Maaf. Aku ingin bicara dengan Habibah." Bram meraih tangan Habibah menariknya keluar rumah itu.
"Tidak Bram!" Larisa menyusul, berlari kecil dengan gaun yang panjang, dia sungguh tidak terima dengan batalnya akad di malam itu. Dapat dilihat dengan jelas, Larisa sedang sangat marah, ia meraih tangan Habibah agar menjauh dari Bram, memutuskan tangan yang memegangnya.
"Pergi, kau tidak punya tempat di sini!" teriaknya kepada Habibah.
"Aku memang akan pergi." jawabnya tidak lagi menangis atau bersedih.
"Ayo." Bram kembali meraih tangan Habibah.
"Bram!" dan Larisa menahan tangan Bram dan memegangnya. "Kau sudah berjanji akan menikahi aku, dulu kau berjanji akan menceraikan dia dan kembali padaku?" Larisa menangis.
"Aku mohon Larisa, mengertilah bahwa aku sudah menikah!"
__ADS_1
"Tapi kita sudah tidur bersama, kita sudah melakukannya." ucapnya dengan sengaja mengakui hal itu di depan Habibah. "Kau harus bertanggung jawab." sambungnya lagi pelan tapi penuh penekanan.
Bram mengusap kasar wajahnya, tidak menyangka Larisa akan mengakuinya di hadapan Habibah.
"Kau harus menikahinya." Habibah yang sejak tadi diam kini mulai bicara.
"Habibah, kau sudah tahu hal itu dan semua sudah kukatakan padamu. Demi apapun aku hanya akan menjadikanmu segalanya. Ini terjadi bukan karena aku sengaja." Bram mendekati Habibah yang hanya berdiri, tak ada reaksi berlebihan dari wanita yang belum genap enam bulan menjadi istrinya itu.
"Aku tahu Mas. Tapi terlepas dari itu semua, kau sudah melakukan kesalahan dan harus segera bertanggung jawab."
"Aku tahu Habibah, itu sebabnya aku mencoba untuk bertanggung jawab dan_"
"Menikahlah dengan Larisa, sekiranya kehadiranku malam ini bukan untuk mengganggu, tapi untuk berpamitan padamu." Menarik nafas berat dan enggan menatap lama wajah pria yang beberapa bulan ini menemani malam-malamnya.
"Berpamitan bagaimana Habibah, aku ingin kita pulang, ke rumah kita." Bram mendekati Habibah dengan tatapan memohon.
"Aku akan pulang ke tempat asalku, aku memang tidak pantas di sini. Kota besar ini bukan tempat orang seperti aku."
"Habibah, aku tidak mengizinkanmu pergi!" ucap Bram terdengar memohon.
"Aku tetap akan pulang Mas."
"Kalau begitu kita akan pergi bersama."
"Tidak."
"Aku ingin kita bercerai." Habibah segera berlalu, enggan terlalu lama berada di rumah orang.
"Habibah." Bram mengejar Habibah tanpa peduli Larisa yang saat ini sedang menangis.
Langkah cepat Habibah menuju mobil itu sempat terhenti, tapi kemudian ia melepaskan tangan Bram dan segera masuk. Tentu Larisa juga terus mencegah Bram menahan Habibah.
"Habibah, buka pintunya." Bram berusaha membuka pintu mobil, menepuk-nepuk pintu mobil tersebut walau percuma, Habibah menguncinya dari dalam.
Di dalam sana masih saja terjadi perdebatan antara Marisa dan dua orang laki-laki itu, Marisa tetap kukuh tak mau di usir begitu saja walaupun sudah terbukti bersalah.
"Aku yang membawamu masuk ke keluarga ayahmu. Tapi kau malah mengusirku." kesal Marisa kini lebih bisa mengendalikan dirinya, tak mungkin dia terus sombong dan melawan dalam posisi yang mulai kalah.
"Ya, ku harap kau tidak menyesal sudah membawaku menjadi anak tirimu." sindir Lee benar-benar membuat Marisa semakin muak.
"Aku butuh waktu untuk sendiri." ucap Rudy kemudian.
"Rudy, aku yang selalu mendampingi mu selama ini, jangan begitu tega kepadaku." ucapnya memohon, air matanya turun menetes setelah berpuluh tahun tak pernah menangis.
"Istirahatlah Ayah, aku pastikan mereka pergi di malam ini juga. Karena jika mereka masih di sini, aku tidak akan pernah pulang ke sini. Aku ti...dak su...di." ucapnya tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kau anak durhaka!" kesal Marisa mencari perhatian Rudy Utama.
Lee segera menuju mobil yang sudah tertutup rapat, tentu Habibah sedang menunggu dan berharap segera pergi.
"Habibah aku mohon beri aku waktu untuk bicara." Bram menepuk lagi kaca yang sangat dekat dengan Habibah. Dan Larisa sibuk melarang Bram mendekati mobil itu.
"Minggir!" suara Lee membuat dua orang itu menoleh.
"Buka mobilnya, aku ingin bicara dengan istriku." ucap Bram menatap dingin Lee yang tak pernah absen dari permasalahan yang menyangkut istrinya.
"Dia tidak mau, lebih baik kau turuti saja apa maunya." jawabnya tak peduli.
"Apa maksudmu?" Bram mendorong dada Lee hingga mundur sedikit.
"Maksudku kau sudah tidak dibutuhkan lagi olehnya."
Bugh
Bram sudah terlanjur emosi dan memukul wajah Lee hingga topi yang dipakainya terlepas.
Tentu pria itu tidak diam saja kali ini. Tangan yang sejak lama sudah gatal ingin membalas itu mengepal kuat. Hanya maju selangkah dan,_
Bugh, bugh, bugh...
Tubuh jangkung Bram terpental di pintu mobil itu.
"Bram." Larisa segera membantu tubuh yang limbung tersebut.
"Kau sudah memukul wajahku tiga kali, dan sekarang kita impas." ucapnya meminta Bram segera menyingkir.
"Kau pikir aku takut! Kau selalu saja ikut campur urusan Habibah. Kau bukan siapa-siapa!" marah Bram berdiri mengusap sebelah pipinya.
"Ya, sekarang kita bukan siapa-siapa, tidak ada lagi anak asisten dan nona majikan. Jadi jangan harap aku akan diam saja menerima pukulanmu." Lee mendorong Bram agar menjauh.
Bram kembali emosi dan ingin membalas, terlebih lagi melihat pria itu masuk ke dalam mobilnya.
"Bram, sudah!" Larisa menahan Bram sekuat tenaga, hingga mobil itu melaju meninggalkan rumah itu.
"Lepaskan aku Larisa." ucap Bram malah memarahi Larisa.
"Bram." ucapnya sedikit takut.
"Aku tidak akan menikahi mu." Bram membuang tangan Larisa, lalu melangkah pergi tak peduli.
"Bram!" Larisa menangis memanggil pria itu.
__ADS_1
Namun mobilnya tetap melaju.
"Braammmm...!" Larisa berlari mengejar, namun langkahnya tak akan bisa menyaingi mobil yang melaju seperti peluru.