Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Resmi bercerai


__ADS_3

Hanya bisa menarik nafas mendengar penolakan untuk bercerai.


"Allah membenci perceraian." suara Syafitri membuat Habibah menoleh, kali ini mereka menggunakan mobil milik pamannya.


"Apakah menyiksa diri sendiri tidak termasuk dosa?" tanya Habibah membela dirinya. "Dan ada yang tersiksa hatinya selain aku, wanita yang juga mencintai Mas Bram." sambung Habibah lagi.


"Tapi itu bukan salahmu, dia sudah tahu sejak awal jika Bram dan dirimu sudah menikah. Lagipula, harusnya dia lebih menjaga dirinya, tidak sembarang menyerahkan diri kepada laki-laki yang sudah beristri."


Habibah menoleh sahabatnya tersebut.


"Dia masih mencintaimu."


"Aku pun masih mencintainya. Tapi tujuan menikah bukan hanya sekedar cinta, tapi kepada ketenangan batin yang paling utama. Mencintai atau dicintai, bahkan ketika kami menikah aku tidak tahu laki-laki seperti apa yang akan aku nikahi. Dan akhirnya aku jatuh cinta, dan dia tidak. Lalu setelah semuanya terjadi, apakah aku harus mempertahankan Mas Bram hanya karena dia mengaku mencintaiku? Aku menjadi tidak yakin dengan pernikahan kami yang seperti ini."


Bukan perkara tak mau mendengarkan nasehat orang, namun apa yang sudah ia lalui tidak semudah ucapan bijak, enak terdengar, lalu bahagia kerena ikhlas.


Kenyataannya, setelah apa yang dilakukan Habibah, apa yang di perjuangkan Habibah, Bram masih saja tak bisa tegas jika sudah berhadapan dengan Larisa.


Hingga persidangan ke tiga.


"Hakim sudah memutuskan, saudara Bram Aditya dan saudari Habibah binti Rudy Utama, resmi bercerai."


Langit seolah runtuh.


Jika saat proses perceraian hatinya masih sekuat besi, entah mengapa saat mendengar kata resmi bercerai hatinya lemah, pecah sakit berkeping-keping.


'Akhirnya, aku benar-benar kehilanganmu Mas Bram.'


Ingin rasanya menangis meraung-raung, menjerit-jerit meluapkan rasa sakit dan sedih tak terkira. Bayangan pernah bahagia itu hadir begitu saja, berputar-putar di dalam otaknya.


"Habibah."


Seseorang memanggilnya. Berharap itu adalah Bram yang datang dan dapat melihat wajahnya untuk yang terakhir. Tapi sungguh itu bukan.


"Aku ingin bicara denganmu." Rudy Utama mendekatinya.


Suasananya hati yang kacau itu semakin terasa menyesak dada. Untuk apa kiranya Rudy Utama mendatangi Habibah setelah semua yang terjadi.


Habibah berjalan pelan menuju rindang pohon halaman kantor urusan agama tersebut, mengisyaratkan bahwa ia hanya bisa berbicara sebentar.


"Marisa sudah ku usir." ucap Rudy Utama memulai pembicaraan setelah duduk bersama.


Habibah tak juga menoleh, tertunduk lesu dan tak peduli dengan apapun yang terjadi di keluarga ayahnya.

__ADS_1


"Larisa memang bukan anakku." ucapnya lagi seolah kesulitan mengungkapkan seluruh isi hatinya.


Habibah juga enggan menoleh.


"Maafkan Ayah." ucap Rudy bergetar menahan tangis.


Sedikit menggugah kata-katanya, Habibah mengangkat wajahnya dan menatap Rudy Utama.


"Lee benar, Hiko benar. Kau adalah putriku yang sebentar, anak dari istri yang sudah aku sia-siakan. Mayra Azahra." Air mata jatuh menetes dari mata tua Rudy Utama.


Terlambat.


"Andaikan saja sejak awal aku percaya bahwa kau putriku, mungkin pernikahanmu dengan Bram tidak akan hancur seperti ini." Dia benar-benar menangis.


Entahlah, kali ini Habibah enggan mengeluarkan air mata, hanya melihat dan menyaksikan seorang ayah sedang menyesal.


"Maafkan aku Nak, aku sudah terlalu jahat. Menyia-nyiakan dirimu, menyakiti hatimu, menghukum mu ke dalam penjara, merampas rumahmu, mengambil semua milikmu, dan Bram." dia terkekeh dalam tangisnya, menyesal dan sungguh merasa bersalah.


"Aku sudah memaafkan Ayah." jawab Habibah pelan sekali.


Rudy semakin menangis, meraih tangan Habibah. Tapi kemudian dia memeluknya sangat erat sambil menangis menyesali dirinya sendiri.


Sejenak, sampai tangis pria itu mulai mereda. "Ayo kita pulang." ucap Rudy Utama pelan, mengajak Habibah walaupun tak yakin itu akan berhasil.


"Kalau begitu kita akan pulang ke rumah kita." Rudy menghapus sisa air mata di wajahnya.


"Tidak ayah." Membuat Rudy urung beranjak.


"Kalau begitu ke rumahmu Nak, rumah Kakek yang dia berikan." bujuk Rudy.


"Tidak Ayah, itu semua milikmu. Dan aku akan kembali ke pesantren untuk membantu Bibi."


"Tapi rumahmu di sini Nak, di sana kau tidak memiliki apa-apa." Rudy meraih tangan Habibah lagi.


"Aku tidak butuh apa-apa Ayah. Aku hanya ingin memenangkan diri, dan itu hanya aku temukan di rumah Bibi, bersama anak-anak yang sedang belajar ilmu agama, tanpa didampingi orang tua. Sejak kecil, merekalah yang membuat aku merasa tidak sendirian." ungkap Habibah apa adanya, walaupun tidak bermaksud menyindir Rudy Utama, tapi jelas sekali hatinya merasa sakit mendengar ungkapan anaknya demikian kesepian, kekurangan, dan tidak bahagia.


"Lalu Ayahmu ini akan sendirian." wajah yang biasanya tenang itu berubah sendu.


"Untuk sekarang, aku ingin pulang ke rumah Bibi. Hatiku sedang tidak baik-baik saja." ungkap Habibah lagi.


Rudy begitu kecewa mendengar keinginan Habibah, namun tak bisa melakukan apa-apa.


"Kalau Ayah memiliki waktu, datanglah ke rumah Bibi." Habibah beranjak, meraih tangan Rudy Utama dan mencium punggungnya. "Assalamualaikum Ayah." ucapnya tanpa menunggu Jawaban, dia berjalan cepat menuju mobil pamannya.

__ADS_1


"Habibah." panggil Rudy namun tak di dengar lagi.


Teringat beberapa waktu yang lalu, Rudy mengabaikan panggilan 'Ayah' yang terdengar begitu menyedihkan. Rasanya ini belum seberapa dibandingkan ketika itu dia tak peduli dengan Habibah, dan membiarkan ia sendiri di penjara.


"Maafkan Ayah Nak." ucapnya melihat mobil yang dinaiki Habibah mulai menjauh.


Di dalam mobil itu, Habibah duduk melamin sesekali air matanya jatuh. Bram, satu nama itu masih saja mengisi hatinya yang patah, sempat bertanya di dalam hati mengapa dia tidak datang di Persidangan terkahir. Dan Ayah mertua yang selalu mendukungnya, mendadak mereka semua hilang tanpa kabar.


Semuanya telah usai, menarik dan membuang nafas berat itu, menata hati mulai detik ini. Melupakan semuanya...


*


*


*


Berbagai macam sholawat terdengar merdu, mengalun bergantian seirama dengan suara anak-anak beda usia. Dari yang kecil hingga beranjak dewasa, mereka duduk rapi menikmati nada dan bibir yang terus bergerak melantunkan pujian untuk Imam umat Islam tersebut.


Tiga bulan sudah berlalu setelah persidangan terakhir.


"Masa Iddah mu sudah selesai Habibah." ucap Bibi Rumini yang selalu perhatian kepada Habibah.


"Iya Bibi. Alhamdulillah." sahut Habibah sudah lebih baik, galau yang melanda berangsur menghilang setelah tiga bulan.


"Kamu sudah bisa memilih salah satu ustadz yang sejak beberapa bulan ini menunggu masa Iddahmu berlalu." Bibi berkata serius meskipun sambil tersenyum lebar.


"Ah, kalau yang itu, Habibah harus memikirkan lagi." jawabnya menunduk.


"Bibi doakan semoga Allah memberi jodoh yang baik untukmu setelah semua yang terjadi." ucap Bibi lagi.


"Assalamualaikum Nyai." seorang siswa berdiri di depan pintu ruangan pribadi para ustadzah itu.


"Wa'alaikum salam. Ada apa Sri?" tanya Rumini kepada santrinya.


"Ada kiriman untuk Ustadzah Habibah Nyai." jawabnya sangat sopan, masuk memberikan rangkaian bunga mawar begitu cantik, dan sebuah kotak yang entah apa isinya.


"Dari siapa ini?" tanya Habibah melihat nama pada rangkaian bunga tersebut tapi tak ditemukan pengirimnya.


"Tidak tahu ustadzah." jawab Sri kemudian permisi keluar.


Habibah melihat kotak yang berlabel salah satu jasa pengiriman itu. Dan tertulis nama pengirim yang Habibah tidak mengenalnya.


"Lendra."

__ADS_1


__ADS_2