Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 15 (Misteri Boneka Beruang)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 15 (Misteri Boneka Beruang)


Sudah hari ketiga belas sejak pernikahanku dengan Annisa. Sekedar mengisi waktu luang, biasanya aku membantu Ummi di pasar.


Tapi seringnya Ummi menyuruhku di rumah saja menemani Annisa. Hari cuti tinggal satu hari lagi, besok aku harus kembali ke dalam rutinitas bekerja.


Semenjak tinggal di rumah ini, aku rutin mengikuti kajian yang di adakan bakda subuh. Setiap dua hari sekali, materinya berbeda. Ada tafsir, aqidah, yang paling aku suka adalah kajian fikih yang menjabarkan adab dan hukum, terutama adab-adab dalam pernikahan.


Seperti kebetulan, pertama ikut kajian di Masjid tersebut, yang dikaji adalah tentang pernikahan. Ustadz menjabarkan hak-hak istri yang harus di penuhi suami.


Aku merasa sangat ditampar mendengarnya, sebab belum ada satu pun hak Annisa yang aku tunaikan.


“Mas lagi ngapain bengong di balkon sendirian? Annisa cariin Mas kemana-mana, ternyata disini”


“Lagi pengen ngadem aja. Kenapa memangnya? kok nyariin?”


“Mau pinjam hp, boleh?” dia mengulurkan tangannya mengisyaratkan meminta.


“Buat apa? Mas sudah blokir nomor Sheila kok, gak usah khawatir pakai ngecek hp segala.”


“Astagfirullah, sama istri sendiri suudzon. Nisa nggak akan cek apa pun Mas. Kalo nggak percaya, dipola aja dulu kalau gitu sosmednya biar Nisa gak bisa lihat.” Kata dia dengan nada manja.


“Yasudah, nih. Nggak perlulah pakai dipola segala. Memangnya mau apa sih?”


“RAHASIA.”


Setelah meraih hp dari tanganku, dia pergi ke dalam rumah. Ternyata benar yang dikatakan Ummi, bahwa sebenarnya Annisa adalah perempuan yang manja.


Dibalik manjanya, Annisa juga memiliki pemikiran yang matang. Dia selalu bersikap tenang saat menghadapi masalah, atau sesuatu yang membuatnya kecewa.


Jika saja hal yang menimpa Annisa itu terjadi pada Sheila, aku tidak yakin dia akan memaafkanku seperti Nisa.


Aku mulai menyukai saat-saat mengobrol dengan Annisa. Selalu saja ada tinggkah dia yang membuatku ingin tertawa.


Ada saja lelucon yang dia lakukan, apalagi saat kita sama-sama insomnia malam hari, Annisa bisa semalaman mengoceh.


Menceritakan apa pun yang ingin dia ceritakan, tentang masa sekolahnya, teman-temannya, dan saat dimana Abinya masih ada.


Ketika menceritakan Abi, Nisa begitu bersemangat, sesekali dia mengusap air mata saat mengingat masa-masa itu.


Tapi, dari semua ceritanya itu, ada satu hal yang mengganggu pikiranku ketika melihat sebuah boneka beruang yang sangat besar tersimpan di gudang, Nisa dan Ummi sama sekali belum pernah menceritakan tentang itu.


Yang membuatku heran, kenapa boneka sebagus itu dibiarkan saja di dalam gudang, seperti tidak di inginkan. Pasti ada alasan dan sesuatu dibalik boneka lucu itu.


Karena penasaran, aku bertanya kepada Ummi. Kemudian Ummi bercerita, bahwa dua bulan sebelum aku mengkhitbah Annisa, ada seorang pria yang datang untuk melamar Annisa.


Pria itu seorang pilot, dia adalah teman dari pamannya Annisa. Tapi Nisa menolaknya, aku tanya kenapa dia menolaknya? Kata Ummi, Nisa merasa tidak cocok.


Pria itu terus mengejar Annisa, setiap minggu dia selalu mengirimkan hadiah untuknya lewat ekspedisi. Dari mulai baju, perhiasan, termasuk boneka beruang yang aku lihat di gudang.


“Nih, Mas hp-nya. Makasih, ya,”


Belum juga kujawab dia langsung pergi kembali masuk ke dalam rumah.


Penasaran dengan apa yang dilakukan Annisa di ponselku, segera aku mengecek benda canggih ini.


Ternyata Annisa menggunakan hp-ku untuk selfie. Malah, salah satu fotonya dijadikan wallpaper.


Kupandangi satu persatu foto dia yang diambil dengan berbagai macam gaya. Kuakui Annisa sangat cantik dan manis, kenapa dari awal aku tidak menyadarinya, ya?


Drrtt... Drttrrt.. Drrrttrrtt

__ADS_1


Hp bergetar menandakan chat masuk.


[Lain kali, kalau mau foto Nisa, minta aja langsung, nggak usah curi-curi foto kayak kemarin waktu di supermarket. Kan udah halal. Jangankan foto, yang lain juga boleh]


Tergugu membaca pesannya, aku sampai senyum-senyum sendiri.


[Ketahuan suka stalking IG Mas, ya? Wuh dasar cewek manis]


Send..


[Tapi sayangnya kepo.]


Send..


[Biarin, toh keponya sama suami sendiri. Awas loh nanti cinta]


Lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri seperti orang gila saat membaca chatnya.


[Mau dong, cintanya spesial pake sayang, ya. Cabenya dikit, sayangnya dibanyakin]


Send...


Annisa tidak membalas. Tapi, tak lama dia mengirimkan foto screenshot e-ticket penginapan, lengkap dengan liburannya di Bogor.


[Ini kado pernikahan dari sahabat Nisa, Mas. Mau di apakan?]


Deg...


Bagaimana ini? Hotel? Liburan? Berdua?


[Expier kapan tiketnya?]


Send...


[Kita lihat nanti, ya.]


[Oke]


[Sini keluar, temenin Mas ngobrol]


Tidak lama, dia keluar dengan senyum malu-malu.


“Oh, jadi tadi sengaja dandan cantik karena mau selfie, ya?”


Ucapku menggodanya, dia tersipu malu.


“Hehe, nggak khusus untuk selfie aja, sih. Ini khusus buat Mas”


Ucapnya sedikit berbisik.


“Mas boleh tanya sesuatu?”


“Boleh, tanya apa?”


“Kenapa Nisa menolak lamaran dari orang yang ngasih boneka beruang itu? Mas dengar, dia seorang pilot, kan?”


Karena masih penasaran, aku pun bertanya kepada Annisa langsung. Dia tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaanku.


“Pasti Ummi ya, yang bilang ke Mas soal itu?”


“Mas yang tanya duluan, karena penasaran dari awal ke gudang lihat boneka beruang sebesar dan sebagus itu cuma dijadikan penghuni gudang. Kenapa Nisa menolaknya?”

__ADS_1


“Pertama, karena Nisa merasa tidak cocok, kedua, karena Nisa masih berharap bisa bertemu lagi dengan orang yang menolong Nisa pada malam itu, dan soal dia seorang pilot, buat Nisa nggak penting.


Untuk apa banyak uang, tapi Nisa sering tinggal-tinggal. Annisa kepingin kayak Abi dan Ummi. Meskipun hidup sederhana, tapi kemana-mana selalu bersama.


Sama-sama dalam menuntut ilmu, saling mendahulukan bangun malam untuk membangunkan pasangannya sholat Tahajud.


Sama-sama saling mengingatkan perihal ketakwaan kepada Allah. Adakah yang lebih indah dari hubungan seperti Ummi dan Abi? Itulah kenapa Annisa meminta dicarikan suami oleh Ummi.


Karena Nisa percaya, Ummi tidak akan salah dalam mencarikan jodoh untuk Nisa. Dan sekarang, jodoh Nisa di sini, jodoh yang sesuai dengan harapan dan doa yang selalu Nisa panjatkan.”


Aku tidak mampu berkata-kata lagi mendengar ucapan Annisa, mereka sangat mempercayaiku. Padahal aku hanya orang beruntung yang ditutupi aibnya oleh Allah. Jika saja Ummi tahu alasan aku menikahi Annisa, aku yakin Ummi pasti akan sangat kecewa.


***


Kali ini kami sedang berada di kamar, Annisa memintaku untuk membantu membuka kado-kado pernikahan dari teman-temannya.


Annisa baru sempat membuka kado-kado ini karena kemarin masih sibuk ke sana-kemari mengurusi Ibuku yang sakit, ditambah orderannya yang menumpuk setiap harinya.


Ada dia di keluargaku membuat suasana semakin hangat. Apalagi adik perempuanku satu-satunya yang kemarin izin pulang beberapa hari dari pesantren, begitu menyukai Annisa.


Dari keseluruhan, isinya macam-macam. Ada seprei, handuk, makeup, alat masak, dan masih banyak lagi yang Annisa dapat dari hasil kado pernikahan kami.


Kado sudah terbuka semua, hanya tersisa satu saja yang ada di tanganku. Kotaknya kecil, sampul kadonya bermotif bunga mawar.


Kulihat Annisa sibuk membereskan sampul kado yang berserakan.


Aku membuka kado terakhir yang berada di tanganku, isinya seperti baju, dibungkus plastik, lalu kubuka plastik itu, penasaran dengan model bajunya, sebab, aku baru tahu ada orang yang memberi sepotong baju saja di hari pernikahan.


Tapi tunggu.. Kenapa model bajunya begini? Baju model apa ini, aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.


Warna bajunya baby pink kesukaan Annisa, kainnya seperti sutra dihiasi renda-renda hitam di atas cuping dada.


Meski kainnya tebal, tapi baju ini sangat menerawang, ditambah baju ini sangat pendek sekali, jika dipakai Annisa mungkin hanya sebatas paha atas. Aku baru pertama kalinya melihat baju seperti ini, seksi sekali, membuatku sedikit geli membayangkan Annisa memakai baju ini.


“Ini baju apa, Nis? Ada ya, orang yang ngado beginian?” Aku bertanya padanya sambil memperlihatkan baju itu.


Mata Annisa terbelalak, pipinya memerah, sepertinya dia malu, dia terkekeh geli.


“Dari siapa kado itu, Mas? MasyaAllah, ibadah tuh yang ngasih.”


“Dari Dewi, ini ada suratnya juga,”


“Bacain aja, Mas, Tolong ya.”


Aku termenung sesaat ketika membaca pesan di kertas itu. Geli sekali isi pesannya.


“Senjata malam pertama. Semoga sukses dan langsung membuahkan anak, ya. From Dewi & Azka”


Meski ragu, aku membacakannya juga. Annisa cekikikan sendiri mendengar isi pesan itu.


Kenapa melihat dia tertawa, aku jadi ikut merasa senang, ya?


“Itu namanya Lingerie, Mas. Kebetulan Dewi emang dropshippernya. Jangan dikira, meskipun bajunya pendek begitu, tapi ini mahal lho, Mas.” Kata Annisa setelah selesai meredakan tawanya.


“Yang namanya senjata, dimana-mana pasti mahal, Nis.”


 Kataku menggodanya. Annisa tersenyum genit, menghampiri dan mencubit pinggangku.


Tidak sakit, justru malah menimbulkan debaran di jantungku. Aku segera pamit keluar pada Annisa dengan alasan ingin ke WC. Padahal, aku hanya ingin menenangkan diriku yang mulai salah tingkah di depan Annisa. Jantungku seperti di tabuh keras saat aku di dekatnya.


Apakah aku mulai menyukainya?

__ADS_1


Bersambung....


 


__ADS_2