Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 18 (Kecewa)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part (Kecewa)


Annisa tertidur di sofa ruang tamu dengan masih menggunakan mukena dan memegang Al-Qur’an di tangannya.


Suara ketukan pintu membangunkan dirinya yang sedang terbuai dalam mimpi indah bertemu Ummi. Dia mengucek mata sebelum akhirnya bangkit dari tempat duduk untuk membuka pintu.


Hatinya masih diliputi rasa kecewa, mengapa Rizki tega meninggalkan sendirian di tempat rantauan ini, hanya demi teman-temannya, dimana tidak ada siapa pun yang bisa menemani Annisa di sini selain suaminya sendiri.


“Assalamualaikum” Ucap Rizki dibalik pintu, beberapa kali Rizki mengetuk meminta di bukakan pintu kepada Annisa karena dia lupa membawa kunci cadangan.


“Waalaikumsalam,”


Nisa melipat mukena dan menyimpannya di nakas bersamaan dengan Al-Qur’an yang diberikan Rizki sebagai maskawin, lalu beranjak membuka pintu.


Jarum jam sudah menunjukan pukul 02.00 pagi, Nisa kaget mendapati suaminya yang pulang selarut ini.


“Baru pulang, Mas? Mau Nisa bikinin teh?”


Meskipun rasa kesal masih menyelimuti diri Annisa, namun dia tetap bersikap manis kepada suaminya.


Nisa tidak ingin rasa kesal mengendalikan dirinya, hingga membuatnya bersikap tidak baik kepada suaminya.


“Nggak, Nis. Masih kenyang.”


Rizki berjalan lunglai mendekati sofa, kemudian merebahkan diri di sana.


Nisa memperhatikan Rizki tanpa berkata apa pun, dia tahu ada yang tidak beres dengan suaminya.


Tidak ingin memperkeruh suasana, Nisa beranjak ke kamar dan mengambil selimut, dia lalu menyungkupkan selimut tersebut di tubuh suaminya.


“Maaf, Mas ganggu tidur kamu, tadi lupa bawa kunci cadangan.”


Rizki berkata tanpa menoleh kepada Annisa, khawatir dia akan melihat memar di hidungnya akibat pukulan di cafe tadi.


“Iya, Mas. Nggak papa.”


“Nisa marah?”


Rizki bertanya demikian karena merasa Annisa bersikap berbeda dari biasanya.


“Nggak Mas” Nisa menjawab seperlunya.


Rizki semakin yakin bahwa Annisa sedang marah kepadanya, dia paham, itu semua karena dirinya yang lebih memilih pergi dengan teman-temannya daripada makan di rumah dengan Annisa, ditambah dirinya yang pulang ke rumah semalam ini, istri mana yang tidak akan marah?


Meskipun keadaan sesungguhnya berbeda dengan apa yang diketahui Annisa.


Rizki bangun dan mendekati Annisa, menarik tubuh mungil wanita itu agar posisi duduk Nisa menghadap ke arahnya.


Annisa kaget melihat luka di wajah Rizki. Dia mengelus pelan memastikan separah apa luka tersebut.

__ADS_1


Rizki mengaduh saat tangan Nisa mengenai bagian wajah yang terluka.


“Ini kenapa, Mas? Kok bisa begini?”


“Nisa mau Mas bohong, atau jujur?”


Annisa yang sedari awal merasa bahwa Rizki membohonginya kini semakin yakin bahwa firasatnya tidak salah.


“Nisa pernah bilang kan, Nisa lebih suka Mas terbuka, sekalipun hal itu membuat Nisa kecewa.”


“Tapi, Mas mau Nisa janji satu hal,”


“Apa itu, Mas?”


“Janji Nisa nggak akan marah dengan apa yang akan Mas jelaskan,”


“Nisa juga manusia biasa Mas, Nisa janji nggak akan marah, tapi Nisa nggak bisa berjanji tidak akan kecewa.”


Rizki paham karakter Annisa, dia pandai mengendalikan diri sekalipun sedang tersulut emosi, Nisa juga memiliki hati yang lapang, dia mudah memafkan siapa saja yang menyakiti hatinya.


Sebab itulah Rizki tidak mau menyembunyikan apa pun dari Annisa, karena itu akan membuat dirinya merasa bersalah.


Ditengah suasana malam yang sunyi, dimana bulan mengintip dari balik jendela, menyaksikan dua orang manusia yang sedang hanyut dalam pikirannya masing-masing.


Rizki masih merenungi perkataan yang tepat agar tidak begitu menyakiti hati Annisa.


Annisa yang menebak-nebak kejadian apa yang menimpa suaminya hingga baru pulang selarut ini, apakah dia di rampok? Atau dia bertengkar dengan temannya? Tapi kenapa Rizki menyuruhnya agar tidak marah?


Rizki lalu menjelaskan sedetail mungkin kepada Nisa tentang kejadian di cafe.


Mendengar hal itu, membuat dada Annisa semakin sesak. Rasa khawatir berubah menjadi rasa marah.


Haruskah Rizki menemui mantan di belakangnya dengan alasan pergi dengan teman-teman? Mengapa dia tidak memilih jujur sejak awal bahwa Sheila mengancamnya?


Tidak cukupkah perlakuan Rizki selama ini yang membuatnya lelah menahan marah? Mengapa harus menemui Sheila? Mengapa harus berbohong kepadanya?


Mengapa Rizki harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa Sheila? Sedangkan apa yang menimpa Sheila adalah pilihannya sendiri.


Mengapa harus Rizki? Sheila mempunyai keluarga dan sahabat yang bisa dijadikan tempat curhat.


Dari semua pikiran dalam benaknya, Annisa mendapatkan satu jawaban, bahwa hal ini terjadi karena Rizki dan Sheila sama-sama belum move on dari masa lalunya.


“Maafkan Mas, Nisa.”


Dia menggenggam tangan istrinya dengan erat, berharap hal itu bisa mengurangi rasa marah Annisa kepadanya.


Nisa bungkam, tenggorkannya tercekat menahan geram. Matanya menatap kosong ke arah Rizki, seolah rasa cintanya selama ini tertindih rasa kecewa yang diberikan Rizki berulang kali.


Annisa tidak tahan lagi, dia menangis dalam diam. Air matanya luruh membasahi pipi.

__ADS_1


“Maaf, Nisa tidak bisa menepati janji untuk tidak marah. Yang Mas lakukan sekarang benar-benar menghancurkan hati Nisa.”


Annisa pergi meninggalkan Rizki dan rasa menyesalnya. Dia menutup pintu kamar dan mengunci dari dalam. Untuk malam ini, dan pertama kalinya dia enggan berdekatan dengan Rizki.


Dalam tangisnya dipelukan bantal, Nisa mengingat Ummi dan Abi, meminta maaf bahwa dirinya tidak bisa tetap bersikap baik saat kecewa kepada suami seperti yang selalu di amanahkan oleh Ummi.


Ingatannya menjelajah saat dimana Abi masih hidup, Nisa sering melihat Abi memperlakukan Ummi dengan istimewa.


Annisa ingat betul betapa Abi sangat mencintai Ummi, Nisa merasa iri karena dirinya tidak seberuntung Ummi.


Rizki merenung, mencermati setiap perlakuannya yang sudah banyak menyakiti hati Annisa.


Dia gagal menepati janjinya untuk tidak menyakiti hati Annisa, ‘maafkan Rizki, Ummi’ ucapnya dalam batin.


***


“Mas, bangun, sebentar lagi Adzan subuh. Nanti telat ke Masjid”


Annisa membangungkan Rizki yang terlihat sangat kelelahan hingga membuatnya tidur di sofa dalam keadaan duduk bersandar.


Luka di wajahnya sudah di obati oleh Annisa saat suaminya sedang terlelap.


Rizki menggeliat, matanya terbuka dan mendapati Annisa tersenyum manis di hadapannya.


“Maafkan Nisa ya, Mas. Semalam Nisa dibutakan oleh rasa cemburu sampai nggak bisa berpikir positif. Harusnya Nisa mengapresiasi kejujuran Mas, Nisa tahu itu juga berat untuk Mas.”


Inilah kelebihan Annisa yang sangat disukai oleh Rizki, ditengah umurnya yang masih muda, Nisa mampu bersikap dewasa.


Memandang sisi baik dari hal yang menyakitkan dirinya, mencerna ulang setiap permasalahan agar mendapatkan alasan untuk memaafkan orang yang sudah membuatnya kecewa.


Tanpa berbicara lagi, Rizki menarik tubuh Nisa dalam pelukannya. Mengelus rambut Nisa dengan lembut, sambil tidak henti mengucapkan terimakasih karena sudah berulang kali memaafkan dirinya.


Annisa kaget, namun menikmati pelukan hangat suaminya. Kini dia tahu Rizki bersungguh-sungguh menyesali perbuatan semalam.


Dalam pelukan Rizki, Nisa berdoa, semoga kesabaran yang dilakukannya sekarang akan membuahkan hasil yang lebih indah dari doa-doa yang dipanjatkan.


Adzan Subuh mengalun merdu dari Masjid, membuat Rizki melepaskan pelukannya. Dia pamit kepada Annisa karena akan bersiap-siap untuk sholat Subuh berjamaah.


Rizki hendak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun langkahnya terhenti dan berbalik ke arah Annisa, Rizki mendekat hingga berjarak satu senti saja dari wajah istrinya.


Muachhhh...


Sebuah ciuman mesra mendarat di kening Annisa,


“Sekali lagi terimakasih, karena selalu bersabar menghadapi Mas” Ucap Rizki ditelinga Annisa.


Nisa kaget, dia mematung, masih belum percaya dengan apa yang dialaminya. Seketika tangannya meraba kening bekas ciuman Rizki, dadanya berdebar seperti kupu-kupu yang berterbangan.


Annisa tersenyum senang, merasa bahwa kini sudah ada kemajuan baik dalam hubungannya dengan Rizki.

__ADS_1


 


Bersambung...


__ADS_2