Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Balasan untuk Marisa


__ADS_3

Hening beberapa bulan ternyata tak setenang dugaan Habibah.


Di kota besar itu, Marisa masih sibuk mencari pembenaran atas kesalahan yang sudah terjadi. Namun Lee dan Rudy Utama tak melepaskan ia begitu saja.


"Kau menabrak Ayahku hingga kehilangan kaki, cacat seumur hidup." tunjuk Lee tepat di wajah Marisa.


"Apa maksudmu, aku bahkan tidak mengenal ayahmu ketika itu!" Marisa balas memarahinya.


"Kau melakukannya Marisa, mobil yang kau gunakan sudah kau buang di tepi jurang, dan aku menemukannya!" Lee membuat Marisa semakin takut.


"Marisa." panggil Rudy menatap tajam istrinya. "Kali ini kau sudah tidak bisa mengelak, Kita bukan hanya bercerai, tapi kau akan segera menerima hukuman atas semua yang sudah kau lakukan."


"Itu hanya tuduhan Rudy, kalian tidak memiliki bukti."


"Apakah pengakuan Frans belum cukup?" kesal Rudy Marissa tak juga mau mengaku.


"Frans?" Marisa sangat terkejut, hal tak terduga terjadi setelah puluhan tahun lalu semuanya tertutup rapat.


"Di hari sidang perceraian Habibah, Frans datang memohon untuk tidak membuat Bram dan Habibah bercerai. Dan akhirnya aku tahu satu hal, kalian pernah bersekongkol untuk mengambil banyak sekali uang ayahku."


"Itu tidak benar!" bantah Marisa.


"Tapi Frans sudah mengaku, kau ingkar janji setelah mendapatkan tanda tangan Hiko, asisten yang paling Ayah percaya saat itu. Dan kau membuatnya cacat karena ingin memanfaatkan Frans."


"Itu tidak benar, kau mengada-ada." Marisa terduduk meski menyangkal.


"Kau pikir mengapa Frans tidak muncul akhir-akhir ini?" Rudy menatap Marisa.


Tentu saja Marisa bisa menebak, Frans dalam masalah besar.


Marisa menelan ludahnya sendiri, dia tidak menyangka Frans akan mengakui hal yang akan membuat dirinya sulit. Itu sama artinya dengan bunuh diri.


Pintu terbuka lebar dengan dua orang petugas kepolisian siap membawa Marisa.


"Rudy, apa maksudmu?" Marisa berdiri dan menjauh dari polisi tersebut, menoleh anak tangga di rumahnya itu ingin menghindar.


"Dia sudah menghabisi istriku." ucap Rudy kepada dua orang polisi tersebut.


"Dia juga membuat ayahku kecelakaan dan kehilangan kakinya." tambah Lee dengan mata penuh kebencian terhadap Marisa.


"Itu hanya tuduhan Pak, mereka hanya tidak menyukai kehadiranku." Marisa masih menyangkal.


"Dokter Harry sudah mengaku atas kasus penipuan, pemalsuan hasil tes DNA. Nyonya Marisa tetap akan di tahan." Salah seorang polisi menjelaskan.


"Rudy, kau tidak bisa seperti ini. Dua puluh tahun aku mendampingi mu, Dua puluh tahunan kita melalui semua dalam susah dan senang, harusnya kau memberikan aku kesempatan." Marisa meraih lengan Rudy Utama.


"Jika itu satu kesalahan, tapi yang kau lakukan sudah terlalu banyak." Rudy menepis tangan Marisa, dan meminta polisi segera membawanya.

__ADS_1


"Rudy, tolong maafkan aku. Aku tidak mau dipenjara." ucapnya sambil menangis.


Rudy tidak perduli, malah memanggil dua orang bodyguardnya dan meminta membereskan rumah Marisa tersebut. "Buang semua barang Marisa." perintahnya.


"Harusnya kau lakukan ini sejak lama." ucap Lee melangkah keluar, merasa tugasnya sudah selesai.


"Tunggu." Rudy menghentikan langkahnya.


Lee menoleh, membuang nafas kasar.


"Terimakasih untuk semua. Aku membebaskan ibumu, aku tahu dia terbakar cemburu karena Marisa selalu mengatakan bahwa Mayra selingkuh dengan ayahmu." ucap Rudy kepada anak laki-laki yang juga tertekan dengan kerumitan keluarganya itu.


"Kau boleh menghukumnya jika kau menemukannya suatu saat nanti." jawab Lee tak menoleh lagi.


Meninggalkan Rudy yang masih saja memandangi dirinya dengan banyak berpikir.


Anak-anak yang besar tanpa orang tua yang lengkap, memiliki kekecewaan sendiri di dalam hatinya. Walaupun tidak mereka katakan secara langsung, tapi sikap dan wajah mereka tak bisa berbohong.


Rudy tertunduk lemas saat ini, akhirnya setelah beberapa bulan ia menyelidiki semua kejahatan Marisa, dia bisa bernafas lega.


Mungkin hukuman penjara belum setimpal dengan apa yang sudah Marisa lakukan kepada istri dan anaknya, tapi paling tidak ini semua mengurangi rasa bersalahnya kepada Habibah.


Ya, Habibah yang beberapa waktu ini masih saja tak memberi celah untuk Rudy Utama. Bahkan menolak untuk menerima apapun darinya.


Teringat Bram, dia jadi berpikir tentang laki-laki yang saat ini sedang berduka tersebut.


*


*


*


Di kamar sederhana itu, Habibah baru saja selesai menunaikan shalat seperti biasa, dan duduk sejenak beristirahat setelah mengajar di kelas anak-anak santri sedari pagi.


Jauh dari kemewahan, tapi dekat dengan ketenangan.


Begitulah suasana di sana, dia sudah terlalu terbiasa dengan tempat itu. Bahkan udara di sana jauh membuat lega daripada ketika menikah dengan Bram Aditya yang pernah mencintainya.


Habibah menggeleng pelan, tak mau mengingat walaupun terkadang melintas dengan sendirinya, kenangan itu terlanjur mengisi sebagian hatinya.


"Apa kabar Mas Bram?" ucapnya menatap langit yang terik pukul 13:00 saat itu.


Tersenyum kecut ketika bayangan Larisa juga ikut hadir menyapu kerinduan itu hingga tak bersisa.


"Assalamualaikum Kak Habibah." seorang ustadzah muda mengetuk kamar sederhananya.


"Wa'alaikum salam." jawabnya kemudian beranjak membuka pintu.

__ADS_1


"Kak Habibah dipanggil Nyai." ucapnya kepada Habibah.


"Oh, baiklah." kemudian menutup pintu kamarnya dan bergegas keluar.


"Sepertinya ada tamu yang datang." ucap Yuni ustadzah muda tersebut.


"Siapa Dek?" melambatkan langkahnya.


"Seorang laki-laki Kak." jawabnya menoleh Habibah.


Habibah menahan lengan Yuni, sedikit ragu untuk menemui Bibinya. Mengingat ada beberapa orang yang sempat datang melamar.


"Akan lebih baik jika di lihat, dan di hadapi." ucap Yuni mengerti kebingungan Habibah.


Habibah tak jadi bicara, melanjutkan langkahnya bersama Yuni menuju ruang tamu.


Habibah berdiri sejenak mencoba mendengar seperti apa suara laki-laki yang datang. "Astaghfirullah." Kemudian dia melangkah masuk, sadar jika yang dilakukannya salah.


"Habibah, ini ada yang datang mencari mu Nak."


Habibah menatap laki-laki yang datang adalah orang yang tidak asing baginya.


"Assalamualaikum, Habibah." ucapnya sedikit terbata.


"Wa'alaikum salam." jawab Habibah berada dalam kecanggungan yang sama.


"Kalau begitu Bibi tinggal kebelakang." Bibi Rumini mengerti ada yang serius diantara mereka. Wanita paruh baya itu meminta Yuni duduk di kursi yang lain, menemani Habibah di ruangan itu.


Berdiri kaku, teringat terakhir kali bertemu keduanya dalam suasana tidak baik.


"Apa kabarmu?" ucap Pria itu belum juga duduk, menatap Habibah enggan berkedip.


"Aku baik-baik saja." jawab Habibah kemudian mempersilahkan ia duduk.


"Semua sudah ku bereskan, hanya ibuku yang masih dalam pencarian. Terakhir ku dengar, ia berada di Australia, tapi belum juga di temukan, hanya seorang perawat yang sudah ditangkap." jelas Lee berharap Habibah mengerti bahwa ia benar-benar ingin semuanya dibalas adil.


"Lalu istri ayahku?" tanya Habibah ingin tahu.


"Dia di tahan." jawab Lee tersenyum sedikit. Dia yakin Habibah akan senang mendengar pembunuh ibunya mendapat balasan.


Dan benar, Habibah tersenyum sedikit.


"Aku datang untuk meminta maaf, aku tak akan bisa tenang sebelum kau memberikan maaf untukku." ucapnya dengan wajah serius.


"Aku tidak menyalahkan mu. Saat itu aku hanya kecewa, masalahku begitu banyak sekali. Termasuk perpisahan ku dengan Mas Bram." jawabnya menunduk.


"Kau masih mencintainya?"

__ADS_1


__ADS_2