Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Dia bukan anakmu


__ADS_3

Sementara Frans baru saja mendapatkan kabar tentang keberadaan rekannya, pria berkumis putih itu tersenyum senang di sela kekhawatiran yang ia rasakan. Dengan bertemunya Rudy dan Hiko akan membuat semuanya cepat selesai.


"Lee, pergilah ke kantor Media Utama, ayahmu ada di sana bersama Rudy." ucapnya melalui ponsel yang tak pernah lepas dari tangannya sejak semalam.


"Terimakasih Paman."


Namun tak langsung ke kantor tersebut, merasa ayahnya aman. Ia berputar arah menuju rumah Habibah untuk menjemputnya. Jika ada orang yang harus hadir di sana bukanlah dia atau siapapun, tentu Habibah adalah intinya.


Sedangkan di rumah itu, Habibah masih meringkuk di ranjang tanpa selimut. Sepertinya ia baru saja tertidur lantaran lelah dan lapar juga terlalu lama menangis.


Subuh yang biasanya ia sudah bangun dan sholat, kali ini ia benar-benar tak mendengar suara adzan berkumandang.


"Kita harus segera ke kantor Media Utama." samar terdengar suara Lee di luar, tapi bukanlah nyata bagi Habibah melainkan sedang bermimpi.


"Untuk apa membawanya ke sana, dia tidak akan suka berada di sana." jawab Bram tanpa melihat wajah Lee yang tegak di hadapannya.


"Ayahku juga ayahmu ada di sana sekarang, kita harus segera membawa Habibah agar semuanya ini selesai." kesal Lee benar-benar tak pernah sependapat dengan Bram.


Bram mendongak pria itu, dengan posisi duduk lemas menyandar di pintu kamar Habibah tak beranjak dari semalam.


"Minggir dia harus bangun." kesal Lee tak mendapat respon dari Bram.


"Aku bisa membangunkan istriku! Kau tidak perlu berlagak lebih dekat dengannya." Bram segera berdiri dan menatap tak suka kepada Lee yang mendekati pintu tersebut.


"Bagus kalau kau bisa membangunkannya." Lee memilih menyandar di dinding menunggu dengan tak yakin.


"Habibah." Bram mengetuk pintunya. "Habibah bangunlah sayang."


Lee menatap malas kepada pria yang memanggil sayang tersebut.


Tak ada jawaban, tapi Bram yakin Habibah sudah bangun. Beberapa bulan menjadi suaminya membuat Bram tahu semua kebiasaan Habibah. Dia akan mudah bangun sekali dibangunkan.


"Habibah, bangunlah. Kita harus segera ke kantor Media Utama karena ada hal penting yang menyangkut dirimu." jelas Bram menempelkan telinganya di pintu.


Benar saja, tak lama setelahnya terdengar pintu di buka dari dalam.


"Bersiaplah, kita harus segera datang. Ayah sudah ada di sana." tanpa basa-basi Lee berbicara diantara suasana bingung pasangan suami istri tersebut.


"Kita akan pergi bersama." sambung Bram menatap wajah Habibah yang kemudian kembali masuk dan menutup pintunya.


"Sebaiknya kita segera sampai." ucap Lee sudah tidak sabar ingin segera pergi, terlebih lagi Habibah sudah keluar dengan tas ditangannya.


"Bersamaku." sahut Bram meraih tangan Habibah.

__ADS_1


"Bersamaku dan kau boleh ikut." sahut Lee lagi.


Bram mengepalkan tangannya, merasa selalu saja kalah jika Lee sudah berkata.


"Kita pergi bersama Mas." pelan Habibah tak mau memperpanjang masalah.


Remang fajar mulai berlalu, jalanan sepi mulai ramai dengan banyak kendaraan yang turun ke jalanan. Mobil berwarna hitam itu melaju lumayan kencang dengan hati yang was-was beberapa orang di dalamnya.


Habibah meremas jarinya sendiri, berkali-kali ia menarik nafas menguatkan hati dan mengumpulkan keberanian untuk kemungkinan yang akan terjadi.


Berharap, dia akan segera mendapatkan pengakuan sebagai seorang anak yang lahir dari pernikahan yang sah, memiliki ibu dan ayah yang utuh.


Bram meraih tangan yang keduanya dingin tersebut, berusaha memberikan kenyamanan walaupun dengan rasa bersalah masih menguasainya. "Semua akan baik-baik saja." ucapnya kepada Habibah.


Wanita itu kemudian menunduk.


"Kita sudah sampai." Lee segera turun diikutinya kedua orang suami istri di belakangnya.


Langkah yang setengah berlari itu masih terasa lambat bagi ketiganya, terutama Habibah yang ingin segera bertemu Rudy Utama.


Di dalam sana, Hiko masih duduk menyandar berhadapan dengan Rudy yang semakin penasaran.


"Katakan Hiko, aku ingin tahu dimana putriku." ucapnya memohon, tak ada lagi kemarahan di wajahnya setelah pembicaraan yang panjang.


Rudy menatap lurus wajah tua Hiko, dia mencoba memutar ingatannya tentang waktu yang sudah berlalu.


Satu orang melintas dalam ingatannya, wanita yang mirip seperti Mayra istrinya.


"Habibah." ucapnya pelan, mata yang mulai keriputnya itu mengeluarkan air mata.


Hiko tersenyum senang, menghembus nafas lega pada akhirnya.


Terdengar langkah terburu-buru dan pintu ruangan itu di ketuk.


Rudy beranjak, menghapus sebutir air mata dan membuka pintunya.


"Ayah."


suara Lee langsung terdengar menerobos masuk mencari keberadaan Hiko ayahnya.


"Aku di sini." jawab pria itu duduk tenang, karena memang tak ada yang bisa dia lakukan.


Sementara di pintu tersebut, Rudy sedang terpaku melihat wajah cantik polos tanpa polesan tersebut.

__ADS_1


Wajahnya halus, bibirnya merah dengan sorot mata lembut sama persis seperti Mayra.


"Dialah putrimu." jelas Hiko lagi di tengah keterpakuan keduanya.


Rasanya begitu sulit menelan ludah, pria itu bahkan tak mampu berkedip melihat wajah yang sungguh membuatnya ingin menangis.


"Kau." ucap Rudy perlahan melangkah.


Suara langkah yang juga mendekati mereka terdengar berhenti, sepertinya pertemuan kedua ayah dan anak di itu cukup membuat heboh.


"Dia putrimu." suara Frans terdengar sangat jelas.


Rudy semakin mendekati Habibah meraba wajah sendu itu dengan lembut. Hatinya berkecamuk hebat dengan pengakuan dua asisten ayahnya itu. Dengan tangan bergetar Rudy memegang bahu Habibah, matanya tak bisa berpaling. "Putriku." ucapnya tertahan.


Habibah menghambur memeluk Rudy, namun belum keduanya saling mendekap, seseorang datang memisahkan lagi.


"Dia bukan putrimu Rudy, dia anak Hiko!" teriak Marisa menarik bahu Habibah dan mendorongnya menjauh.


"Marisa!" bentak Rudy kali ini. Dia kembali mendekati Habibah.


"Sudah kukatakan dia bukan anakmu!" Marisa menghalanginya.


"Dia putriku Marisa. Hari itu kau ada di rumah sakit bukan?" Rudy menatap marah kepada istrinya tersebut.


"A...aku."


"Mengapa kau tidak mengatakan hal itu padaku?" tanya Rudy dengan tatapan tajam.


"Karena anakmu meninggal." jawabnya menantang tatapan suaminya.


Rudy tersenyum sinis.


"Aku tidak berbohong, dan jika ada bayi lain di rumah sakit hari itu. Bukanlah wanita ini." Marisa menunjuk Habibah.


"Dia berbohong." Hiko menyahut dari dalam ruangan Rudy.


"Kau yang berbohong!" Marisa balas membentak.


"Aku tidak berbohong." Hiko tak menyerah.


"Kalaupun ada bayi lain di rumah sakit itu, jenis kelaminnya laki-laki." Marisa memberikan kertas dari rumah sakit kepada Rudy Utama.


"Dia berbohong, bayi laki-laki itu adalah putraku. Lee." Hiko menarik tangan Lee dan memperlihatkan kepada Rudy yang juga menoleh dirinya.

__ADS_1


"Kau yang berbohong. Kau sengaja memberikan anakmu agar menjadi pewaris Media Utama? Bagus sekali." Marisa mendekati Hiko yang sudah sangat emosi.


__ADS_2