
"Larisa."
Bram memanggil gadis yang tertunduk itu, semenjak pulang dari pemakaman ia tak bicara walaupun sepatah kata.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa, tapi aku hanya butuh waktu sebentar untuk melepaskan beban yang begitu berat, setelah kepergian Ibu, dan perceraian ku." ucap Bram menyandar di jok mobil yang sudah berhenti itu.
Larisa menoleh sedikit. Kemudian menangis sedih hingga bergoyang kedua bahunya.
"Aku tahu, kau selalu setia mencintaiku walaupun aku pernah menikah dan mencintai Habibah. Dan sungguh aku menghargai itu." ucap Bram lagi semakin membuat Larisa terkekeh sakit, larut dalam tangisnya. "Kau tahu, ikatan pernikahan itu memang tak sama dengan hubungan dekat kita. Seperti jari dan kuku, ketika kukunya terlepas maka sakitnya seperti ingin membunuh. Kau tidak akan paham seperti apa rasanya." Bram menatap jalanan yang lurus. "Sulit bagiku untuk melupakan Habibah."
"Aku juga merasakan sakit Bram, aku benar-benar tidak bisa kehilangan dirimu. Aku benar-benar ingin mati jika harus hidup tanpa dirimu." tangisnya masih tak berhenti.
Bram menoleh gadis yang terisak di sampingnya. "Ya, aku juga merasakan hal yang sama ketika harus menikahi Habibah atas permintaan Ayah."
"Tidak Bram, kau tidak tahu. Rasanya aku sudah gila ketika membayangkan orang yang aku cintai tinggal serumah dengan wanita lain, satu kamar dengannya dan mencintai."
"Larisa! Aku ingin kau jujur padaku."
Larisa berhenti sedikit dari tangisannya.
"Apakah malam itu kita melakukannya?" tanya Bram sungguh berharap Larisa jujur.
Mata keduanya beradu, ada kekhawatiran di wajah Larisa. Sedikit menebak bahwa bisa saja Larisa berbohong.
"Tidak perlu berbohong Larisa, aku sangat menghargai perasaanmu. Tapi aku juga masih punya hak untuk memperjuangkan_"
"Apalagi yang akan kau perjuangkan Bram, kalian sudah berpisah."
"Dan itu salahku." Bram masih bersikeras ingin tahu jawaban Larisa.
Larisa menangis tergugu, dia benar-benar kehilangan cinta Bram yang begitu besar selama ini. Tidak tahu harus seperti apa lagi mempertahankan dirinya.
"Kita melakukannya Bram."
Membuat Bram mengusap wajahnya.
*
*
*
Hari itu, Rudy Utama mengunjungi Habibah seperti biasa, setiap akhir pekan menjadi tugas rutin Rudy untuk menemui putrinya.
"Assalamualaikum Ayah." Habibah mendekati Ayahnya yang baru saja turun dari mobil.
"Wa'alaikum salam Sayang." Rudy memeluk Habibah sedikit. Rindu dan kesepian membuatnya selalu ingin datang ke sana.
Duduk bersama di ruang tamu rumah Bibi Rumini, Rudy Utama membahas semua hal kepada kedua suami istri yang membesarkan anaknya tersebut.
"Ustadzah Habibah, ponsel ustadzah berbunyi." Yuni memberikan ponsel Habibah yang masih berdering.
"Terimakasih." Habibah segera melihat panggilan tersebut, baru saja ia akan mengucapkan salam panggilannya sudah berhenti.
Satu pesan singkat terlihat di layar bagian atas.
"Assalamualaikum Habibah."
Habibah menautkan alisnya. "Wa'alaikum salam." balasnya tak kalah singkat.
__ADS_1
"Aku ingin datang menemui mu. Tapi..."
Habibah tersenyum sedikit. "Apakah kau sudah kehilangan keberanian?" balas Habibah lagi.
Habibah menunggu pesan berikutnya, Namun tak ada lagi pesan masuk.
"Apakah dia marah?" gumam Habibah sendiri, berkali-kali ia melihat ponselnya namun tetap tak ada lagi pesan.
"Atau jangan-jangan bukan dia!" mata beningnya melihat ke kiri dan kanan.
Habibah jadi gelisah memikirkannya, bahkan posisi duduknya terlihat serba salah.
"Ada apa?" tak sadar jika saat ini Rudy Utama sudah ada di dekatnya.
"Ayah." Habibah menggeser duduknya agar Rudy bisa ikut duduk bersebelahan di sofa yang luas tersebut.
"Ada apa?" Rudy melirik ponsel yang di genggam anaknya.
"Ayah, siapa asisten Ayah saat ini?" tanya Habibah tiba-tiba.
Rudy menautkan alisnya. "Ada, seorang laki-laki muda." jawabnya mengangguk-angguk.
"Oh." Habibah kembali berpikir.
"Kapan anak Ayah pulang?" tanya Rudy Utama pelan, dia takut dengan penolakan yang sudah di dengar berkali-kali. Tapi tak akan menyerah.
"Aku akan menyelesaikan sesuatu terlebih dahulu, lalu aku akan pulang." jawabnya sangat yakin, tak ada keraguan di wajahnya.
"Benarkah?" Rudy tertawa haru, suaranya sedikit bergetar.
"Ya." jawabnya lagi.
"Ah, emmm... Itu..." Habibah menggaruk keningnya.
"Apakah itu calon menantu Ayah?" tanya Rudy Utama menatap wajah Habibah.
"Tidak Ayah, hanya... seseorang." jawabnya gugup.
Rudy tersenyum, memahami jika anaknya juga memiliki privasi. "Baiklah, Ayah harap itu segera selesai." ucapnya tersenyum senang.
Rasa penasaran yang semakin mengganggu, tidurnya menjadi tak nyenyak pada akhir-akhir ini. Entah mengapa, seseorang yang membuatnya menduga-duga itu sedikit membuatnya lupa akan Bram yang beberapa waktu lalu amat dicintainya, cinta pertama, cinta yang ia kejar dengan sepenuh hati.
Nafasnya menjadi berat jika mengingat bagaimana beberapa bulan lalu ia begitu gigih memperjuangkan cinta yang hanya sebelah tangan.
Duduk melamun di bawah langit yang bertabur bintang, Habibah memikirkan banyak hal, Bram yang masih mengharap dirinya.
"Boleh Bibi bicara padamu?"
Habibah menoleh Bibinya tersebut. "Iya Bibi."
Rumini duduk mendekati Habibah. "Kau memikirkan seseorang, atau dua orang?" tanya Bibi sangat memahami.
Habibah tersenyum malu.
"Cinta pertama memang sangat sulit di lupakan, begitu kata orang."
Habibah tahu yang dimaksud Bibi adalah Bram.
"Tapi, jika ada laki-laki yang bisa mencintaimu sepenuh hati, tidak mengikut sertakan nama wanita lain dalam pernikahan kalian, dalam artian dia setia. Kau harus memikirkan untuk menerimanya. Wanita butuh kenyamanan dalam menjalankan rumah tangga, dan itu hanya di dapat dari laki-laki yang bertanggung jawab, lahir dan batin. Bukan laki-laki yang tidak bisa jauh dari masa lalu."
__ADS_1
"Sekalipun dia menyesalinya Bi?" tanya Habibah merasa tak yakin akan perasaannya sendiri.
"Kesempatan kedua." Ucap Bibi tersenyum. "Tentu saja kau boleh memberikan kesempatan ke dua."
Habibah jadi berpikir lagi.
"Tidak baik hidup sendiri bagi wanita yang sudah pernah menikah, Bibi yakin kau mengenal pria yang selalu mengirimi mu bunga itu. Boleh memilih jika kau yakin dia lebih baik daripada Bram, mantan suamimu."
Habibah mendongak langit yang tinggi, matanya mengabur dengan rasa yang semakin berat.
"Serahkan kepada Allah semuanya, sholat dan mengadu hanya kepada-Nya. Yakinlah, apapun yang terjadi nanti adalah yang terbaik." nasehat Bibi lagi.
"Terimakasih Bibi."
Tak mau larut dalam kebingungan, Habibah tak menunda sholatnya malam itu.
Tak lupa menyematkan dua buah nama di dalam doanya. Hingga tertidur dan subuh menjelang.
ALLAHU AKBAR.. ALLAHU AKBAR...
ALLAAAAHU AKBAR.. ALLAAAHU AKBAR...
Mata yang tertutup rapat itu mulai terbuka mendengar azan subuh yang berbeda dari biasanya.
Suaranya merdu dan membuat hatinya bergetar. "Siapa dia?" ucapnya seraya bangun dan memasang telinga.
Tak hanya Habibah, tapi hampir semua santri sedang bertanya-tanya akan suara merdu tapi asing di telinga.
Hingga semua santri sudah berkumpul di mesjid pesantren tersebut, tak terkecuali Bibi Rumini dan Habibah.
Tak dapat di tutupi rasa penasaran itu, mata para santri sesekali mencuri pandang pada orang yang berdiri di depan sana namun tidak tau siapa.
"Siapa ya Kak?" tanya Yuni yang sudah bersiap dengan mukena terpasang rapi, berdiri bersama ustadzah lainnya.
Habibah menggeleng, sedangkan Bibi Rumini hanya tersenyum mendengar bisikan-bisik para ustadzah muda tersebut.
"Suaranya membuat jatuh cinta." sahut Syafitri tak ketinggalan menyahut sambil mengulum senyum.
Habibah pun berpikiran sama, tapi status yang sudah pernah menikah ini sungguh tak mau mengatakan hal yang sangat mustahil, pilihan pria sempurna ada banyak di sana. Tentu para gadis yang cantik dan belum tersentuh akan lebih dulu di lirik dibandingkan dirinya.
Hingga sholat usai dan dilanjutkan para santri mengaji dan belajar ilmu agama lainnya, berbagai kitab mereka bawa dan di bahas bersama-sama.
"Kak Habibah, Nyai meminta Kakak keruang tamu sekarang." Yuni menyampaikan, dan menggantikan Habibah mengajar para santri di pagi itu.
"Terimakasih."
Berjalan menuju ruang tamu, kantor para guru itu tak seberapa jauh.
Langkahnya biasa, wajahnya teduh terlihat seperti biasa. Tangan halusnya mulai mengetuk pintu.
"Masuk lah Nak." perintah Bibi dari dalam sana.
"Assalamualaikum Bi_"
ucapannya terhenti ketika bola mata indahnya menatap seseorang yang tentu tidak asing baginya. Dia datang dengan sangat berbeda walaupun dengan wajah yang sama.
Di kepalanya tak lagi topi polos berwarna coklat tapi berganti dengan kopiah biru tua.
Wajahnya tak lagi di tutupi masker jika bertemu orang baru, tapi terlihat tampan tanpa kumis di bibir merahnya.
__ADS_1