
#Mengejar Cinta Suamiku part 32 (Benci Tapi Sayang)
“Ada apa ini?” Tanya Rizki penuh khawatir.
“Kenapa tidak ada yang menjawab?” Tambah Rizki membuyarkan lamunan Annisa.
“Tidak ada apa-apa, Mas. Tadi Nisa jatuh, tapi nggak kenapa-kenapa.” Sangkal Nisa.
“Benar yang diucapkan Mbak Nisa, Ra?” Rizki yang belum yakin dengan ucapan Nisa memastikan ulang bertanya kepada Naura yang sejak tadi diam menahan amarah.
Mata Nisa mendelik, mengisyaratkan agar Naura menjawab sesuai perkataan Nisa.
“I-i-iya.. Mas.” Naura sedikit gugup.
“Lantas kenapa kamu memegang gunting?” Rizki mulai curiga dan menatap ke arah Nisa berharap istrinya akan jujur dengan apa yang terjadi.
“Gunting punya Naura tadi jatuh, Nisa ambilkan. Sudah Mas jangan diperpanjang, Nisa pamit sholat dulu ya.”
Nisa menarik tangan Naura dan masuk ke dalam mushola.
“Kita bicarakan masalah ini di rumah.” Ucap Nisa kepada Naura.
Annisa tidak mau memperpanjang hal ini, dia khawatir apa yang dibayangkannya akan terjadi, Nisa takut Naura nekat dan melakukan hal-hal yang tidak diingkinkan seperti apa yang dia pikirkan tadi.
Naura yang masih marah tidak menjawab apa pun yang diucapkan Nisa, nasibnya kini diujung tanduk, Naura paham Nisa tidak akan memaafkannya setelah perbuatan yang tadi dia lakukan.
‘Tapi, kenapa Nisa tidak mengadukan kepada Rizki? Apa dia takut Rizki akan berbuat buruk kepadanya?’ Pikir Naura.
Selesai sholat dan beristirahat sebentar, mereka melanjutkan perjalanan. Didalam mobil tidak ada percakapan hangat yang biasa dilakukan.
Rizki sadar Naura dan istrinya sedang ada masalah. Dia mencoba mencairkan suasana dengan guyonannya, tapi Nisa malah terlihat tidak suka.
‘Apa aku melakukan kesalahan?’ Batin Rizki.
‘Tapi apa?’
Diamnya Nisa membuat Rizki mulai tidak nyaman, Rizki tahu jika Annisa marah senjatanya adalah diam.
Rizki terus menebak-nebak perlakuannya kepada Nisa sejak tadi pagi, tidak ada yang salah.
Sepulang dari hotel Nisa justru terlihat sangat bahagia, sebelum ke rest area tadi, Nisa juga sangat ceria.
Apa mungkin terjadi sesuatu saat mereka di tempat wudhu tadi? Seluruh pertanyaan dalam benaknya membuat Rizki frustrasi.
Setelah keluar tol, Rizki menepi di sebuah minimarket, dia mengajak Nisa turun, namun menyuruh Naura untuk tetap tinggal di dalam mobil, Rizki ingin bicara dengan istrinya berdua saja. Naura mengerti, dia tetap tinggal di dalam mobil menyaksikan Nisa dan Rizki.
Rizki masuk ke minimarket, sebentar kemudian dia keluar lagi dengan membawa coklat favorit Annisa dan segelas kopi latte.
Nisa masih diam, dia menolak semua pemberian Rizki.
Rizki duduk menghadap istrinya, hingga tubuhnya sejajar dengan Nisa, dia menatap lekat, menyadari ada kemarahan serius dari sorot matanya.
“Mas minta maaf kalau Mas udah bikin Nisa jadi semarah ini. Mas nggak tahu dimana letak kesalahan Mas kalo Nisa terus diam seperti ini.” Rizki berbicara dengan penuh kelembutan sambil memegang tangan Nisa.
Naura yang memperhatikan mereka dari dalam mobil terlihat sangat cemburu.
Rizki menarik nafas, menghalau semua rasa kesal karena Nisa tidak juga mau bicara kepadanya.
Meski kesal, namun Rizki selalu mengingat salah satu hadits Nabi yang didengarnya dari kajian,
“Berbuat baiklah pada para wanita. Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang namanya tulang rusuk, bagian atasnya itu bengkok. Jika engkau mencoba untuk meluruskannya (dengan kasar), engkau akan mematahkannya. Jika engkau membiarkannya, tetap saja tulang tersebut bengkok. Berbuat baiklah pada para wanita.” (HR. Bukhari, no. 3331 dan Muslim, no. 1468)
__ADS_1
Hadits ini mampu meredam saat dirinya sedang kesal kepada Nisa. Rizki memegang tegus anjuran dari Nabi tersebut agar dia tidak menyakiti hati istrinya, sebisa mungkin dia selalu bersikap manis saat Nisa merajuk.
Rizki memegang tangan Nisa, dia menciumi tangan itu dengan sepenuh hati. Rizki juga memeluk Nisa tanpa memperdulikan orang di sekitarnya.
“Mas minta maaf, ya.” Ucap Rizki kesekian kalinya.
“Kenapa Mas nggak jujur.” Nisa angkat bicara, namun membuat Rizki semakin bingung.
“Soal apa, sayang?”
“Naura pernah kasih Mas surat kan? Isinya dia meminta untuk dinikahi menjadi istri kedua? Kenapa Mas nggak bilang? Biasanya Mas selalu jujur soal apa pun, sekali pun kejujuran itu mengecewakan Nisa.”
Rizki kini paham, kenyataan yang disembunyikannya selama ini ternyata terbongkar.
Padahal, Rizki menutupi karena tidak ingin Nisa merasa sakit hati dan kecewa kepada orang yang paling dipercaya olehnya.
“Maafkan Mas, sayang. Mas nggak mau bikin kamu sakit hati. Saat itu kamu begitu mempercayai Naura, kamu selalu bilang ke Mas bahwa kamu menyayangi Naura seperti adikmu sendiri. Mas tidak ingin menghancurkan hubungan kamu dengannya, maka dari itu Mas mencoba menutupi semuanya. Maaf kalo ternyata hal ini sangat melukaimu sampai kamu semarah itu, Mas sungguh nggak bermaksud menutupinya.” Rizki menjelaskan dengan panjang lebar.
Nisa mendengarkannya dengan seksama, menatap mata Rizki, mencari kebenaran dari sorot mata sayu itu.
Nisa akhirnya luluh, dia menceritakan kejadian sebenarnya di rest area tadi, bahwa Naura mencoba menusuk dirinya dengan gunting. Rizki naik pitam, dia memicingkan mata, melihat tajam ke arah Naura yang masih berada di dalam mobil.
“Tapi Mas, ini bukan sepenuhnya salah Naura, Nisa duluan yang menampar dia.” Nisa membela Naura, dia takut Rizki akan memarahinya atau berbuat sesuatu yang bisa menyakiti Naura.
“Siapapun jika ada di posisimu pasti akan melakukan hal yang sama. Istri mana yang tidak marah saat wanita lain dengan terang-terangan memohon dinikahi oleh suaminya. Yang kamu lakukan sudah benar sayang.”
“Menurut Mas, Nisa harus bagaimana?”
“Sebaiknya kamu pecat dia, urusan pekerjaanmu nanti kita pikirkan lagi. Mas takut dia akan berbuat macam-macam lagi dan melukaimu. Sesampainya di rumah, kita langsung bicarakan ini dengannya.”
Nisa paham, meski berat tapi inilah yang terbaik. Bagaimana pun, Naura telah menggali kuburannya sendiri dengan melakukan hal yang akan mencelakai Nisa, dia tidak memikirkan dampak apa yang akan diterima olehnya jika saja Nisa dan Rizki melaporkannya ke polisi.
Mereka melanjutkan perjalanan, Nisa ingin segera sampai, dia sudah tidak nyaman melihat Naura di hadapannya.
““Allahumma shayyiban nafi’an.”
Ya Allah, curahkanlah air hujan yang bermanfaat. (HR Bukhari).
Ucap Nisa dan Rizki secara bersamaan.
***
Sesampainya di rumah, setelah ganti baju dan menenangkan diri sebentar, Nisa mengajak Naura untuk berbicara, mereka duduk di ruang tamu ditemani oleh Rizki.
Nisa membawa amplop berisi uang yang cukup banyak, dia ingin memberikan uang itu kepada Naura sebagai pesangon karena memberhentikannya secara sepihak.
Meski tidak terikat kontrak tertulis atas pekerjaan Naura, namun Nisa mengapresiasi pekerjaan Naura selama ini. Nisa juga begitu menyayanginya, namun hubungan itu harus berakhir dengan buruk.
“Mulai hari ini, saya memberhentikan kamu. Ini ada sedikit uang pesangon, sebagai apresiasi karena kerja kamu selama ini sangat bagus. Saya akui itu. Terimakasih untuk semuanya, dan saya memaafkan semua kesalahanmu. Anggap saja peristiwa di rest area tadi siang tidak pernah terjadi, dan saya akan menganggap bahwa kamu tidak pernah berbicara selancang itu.” Meski Nisa ingin memarahi dan memaki Naura, namun dia menahan semuanya. Emosi hanya akan membuat semua masalah menjadi tambah kacau.
“T-tapi, Mbak...”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan dan tidak perlu mencari alasan karena saya tidak akan merubah keputusan ini. Saya minta maaf untuk semua hal yang membuat kamu marah kepada saya.” Ucap Nisa, dia kemudian pergi meninggalkan Naura.
Naura termenung, perbuatannya tadi sudah sangat keterlaluan, dia sendiri menyadari hal itu, tapi lidahnya begitu kelu untuk meminta maaf.
Rizki berlalu menyusul istrinya tanpa berkata apa pun. Betapa perilaku Naura sungguh diluar dugaan, wanita yang dianggapnya pendiam dan baik hati, ternyata bisa setega itu kepada Nisa.
Naura meliriknya, dia menyusul Rizki dan memeluknya dari belakang, pelukannya sangat kuat, Rizki berontak beberapa kali namun dia tidak menghiraukannya.
“LEPASKAN!” Teriak Rizki dengan lantang.
__ADS_1
“Tolong seperti ini Mas, lima menit saja.” Ucap Naura. Rizki teringat kembali ucapan itu pernah dikatakan Nisa kepadanya saat Rizki pulang bekerja.
Rizki membayangkan hal itu, merasakan betapa Naura sangat mencintai dan mengejarnya sama seperti Nisa.
“LEPASKAN!” Rizki semakin marah, namun Naura masih tidak melepaskan pelukannya.
Teriakan itu terdengar oleh Nisa yang sudah berada di kamar sejak tadi, dia ingin menenangkan pikiran namun malah mendengar kegaduhan.
Nisa keluar dan membuka pintu, dia mendekati sumber suara, Nisa kaget melihat Naura yang nekat memeluk suaminya. Kesabaran Nisa habis, dia menarik Naura dengan paksa hingga berhasil melepaskan pelukannya.
“Mbak bunuh saja aku, daripada harus merasakan sakit karena ditolak Mas Rizki. Aku nggak sanggup, Mbak. Aku sangat mencinta Mas Rizki.” Naura histeris, dia berteriak mengucapkan hal-hal yang menyakiti hati Annisa.
Rizki menarik paksa Naura dan membawanya keluar rumah. Dia memanggil security komplek, kemudian security membawa Naura untuk diamankan, Rizki khawatir Naura akan menyakiti Nisa lagi.
“Kamu nggak papa kan sayang?” Ucap Rizki melihat Nisa yang duduk lemas di sofa.
“Kepala Nisa sakit Mas, mikirin tingkah Naura yang seperti itu. Kenapa dia sangat terobsesi kepada Mas?”
“Mungkin dia punya penyakit jiwa, sehingga membuat dia meledak-ledak saat marah.”
“Iya, bisa jadi. Mungkin juga efek luka masa kecilnya, karena dia kurang kasih sayang dan sering diperlakukan buruk oleh bibinya.” Ucap Nisa merasa iba.
“Tapi, untuk mengizinkan dia menikah denganmu adalah hal yang mustahil. Nisa nggak mau berbagi suami dengan siapapun. Jika saja dia meminta hal lain, Nisa akan berusaha mengabulkannya.” Lanjut Nisa dengan muka sedih. Rizki melihat Nisa begitu menyayangi Naura.
“Dan lagi, jika Mas dipaksa menikahinya, bukan hanya menyakiti hatimu, tapi menyakiti diri Mas sendiri, karena Mas akan melihat orang yang paling Mas cintai sedih setiap hari. Kadang, kita perlu untuk tidak memikirkan oranglain demi kebahagian kita sendiri. Itu bukan egois, itu adalah self reward. Karena kita juga perlu menyayangi diri kita sendiri.”
Rizki menghibur dengan mengelus kepala istrinya, membuat pemahaman agar Nisa tidak menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang dilakukannya kepada Naura.
Nisa bukan tipe orang yang akan menyakiti oranglain jika orang tersebut tidak mengusiknya, apalagi terhadap orang seperti Naura yang memiliki perjalanan hidup keras sejak kecil.
“Mas, lusa kita ke rumahnya Naura, ya?”
“Mau apa?” Rizki merasa heran.
“Barang-barang dia dan uang yang tadi Nisa kasih belum sempat dibawa. Kita kembalikan secara baik-baik.” Meski ragu, tapi Rizki menyetujui permintaan Nisa.
Semakin larut, Nisa terlihat gelisah, dia mengkhawatirkan Naura, dia takut terjadi sesuatu kepadanya.
Nisa mencoba menelfon Naura beberapa kali, tapi tidak diangkat.
“Mas coba telfon Naura, Nisa khawatir dia kenapa-kenapa.”
“Naura sudah dewasa sayang, sudah biarkan saja.” Rizki menolak.
“Tapi Mas, kalo lagi sedih dan putus asa, bisa aja seseorang jadi nekat. Tolong Mas, siapa tahu kalo Mas yang telfon bakal diangkat.” Ucap Nisa memohon lagi.
Meski enggan, namun Rizki menuruti kemauan istrinya, dia mengambil ponsel dan menekan nomor yang tetera di layar gawai milik Nisa.
Tuuutttt... Tutt.. Tutttt...
Tidak ada jawaban!
Rizki mencoba untuk ketiga kalinya, namun tetap tidak ada jawaban.
Nisa semakin khawatir.
“Mas, gimana kalo sekarang aja ke rumah Nauranya?”
Rizki kaget karena ini sudah malam. Rizki menolak dengan halus, dia membujuk Nisa untuk pergi besok pagi.
Merasa tidak ada pilihan, akhirnya Nisa menuruti perkataan Rizki.
__ADS_1
Bersambung...