
"Ko ada makanan di sini ??" tanya dinda setelah dia keluar dari kamar mandi..
"Tadi ada seorang wanita tua yang membawakan makanan ini.." jawab bima sekenanya..
Dinda mengerutkan keningnya.. "Wanita tua..??" beo dinda..
Tiba tiba ada tangan melingkar di perutnya.. "Sudahlah, jangan di pikirkan.." kata bima menaruh dagu nya di bahu sang istri..
"Kamu harum sekali, sayang..." bisik bima..
"Tentu saja harum. Kan aku baru mandi.." jawab dinda
Dengan paksa dinda lalu melepaskan tangan suami nya dari atas perutnya.. "aku mau pakai baju, dingin.." katanya lagi lalu berjalan menuju lemari pakaian nya..
"eh, tunggu tunggu.. Kalau yang bawa makanan ini si bibi, berarti ayah dan bunda pasti tahu dong ada kamu di kamar ku ??" tanya dinda dengan wajah cemas..
Bima hanya menyunggingkan senyumnya..
"Ahhhh... Pasti ayah dan bunda tahu kan ??" tanya dinda lagi..
"Memang nya kenapa kalau mereka tahu, hem ??" tanya bima sambil melangkah menghampiri sang istri.
"Aku tadi sudah bertemu dengan ayah dan bunda, sayang.." ujar bima seraya menyelipkan anak rambut di belakang telinga dinda.. "Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah membujuk mereka agar mengizinkan aku bersama kamu disini.."
"Terus...??"
"Ya tentu saja ayah dan bunda mengizinkan. Karena kamu itu masih istri ku. Istri kecil ku, hem.." jawab bima lagi sambil mencubit kecil ujung hidung mungil sang istri..
__ADS_1
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Itu urusanku. Sekarang lebih baik kamu pakai baju, karena aku sudah tidak tahan ingin sekali menarik handuk yang melilit tubuh mu itu.." kata bima dengan membalikkan paksa tubuh sang istri agar kembali menghadap ke depan lemari..
*
*
Di sisi lain..
Pagi harinya di kediaman chacha..
Tok tok tok..
"Cha, buka pintu nya sayang..."
Tok tok tok..
Ibu kembali mengetuk ngetuk pintu kamar anak perempuan nya itu.
Ya, ibu. Ibu atau nyonya aneth semalam pulang kerumah nya. Niatnya dia ingin tidur di rumah itu bersama dengan sang suami. Tapi betapa terkejutnya ibu ketika melihat mobil menantinya ada di halaman rumah.
Flashback On..
Setelah acara pernikahan yang sangat sederhana itu selesai di laksanakan, nyonya anetha memutuskan untuk tidak tidur di hotel lagi. Wanita itu merasa bosan berada di hotel beberapa hari terakhir ini. Jadi dia mengajak sang suami untuk kerumah nya, rumah yang dulu dia berikan pada nyonya anetha sebagai harta gono gini.
"Mas, bukankah itu mobil diki.."
"Iya sayang. Benar, itu mobil menantu kita.." jawab tuan bara
__ADS_1
"Ternyata mereka ada di sini.." sambungnya lagi
Setelah memarkirkan mobilnya di samping mobil diki, nyonya anetha dan tuan bara pun melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah..
"Mas, kamu masuk saja ke kamar, istirahat dulu. Kamarnya yang itu.." kata ibu sambil menunjuk satu kamar, kamar yang sama yang pernah menjadi saksi malam panas mereka puluhan tahun yang lalu..
"Kamu mau kemana, sayang ??" tanya tuan bara
"Aku ingin mengecek ke kamar chacha, mereka ada di sini atau hanya mobil nya saja..." kata ibu menjelaskan
"Sepertinya tidak perlu, sayang. Lebih baik kita istirahat sekarang.."
"Sebentar ya, aku janji hanya sebentar.." jawab ibu
Setelah itu ibu pun langsung naik ke lantai 2..
"Ahh, kak.. Pel-anpelan kak.. Masih sakit.. emmphhtt.."
Deg!!
Tangan ibu sampai menggantung, belum sempat ibu mengetuk sudah di kejutkan dengan suara suara yang ambigu seperti itu..
"Sudah ku bilang kan tadi tidak perlu, hem ??" ujar tuan bara dengan melingkarkan tangan nya di depan dada sang istri, memeluk nyonya anetha dari belakang..
"Yuk, kita turun. Jangan ganggu mereka.." ucap nya lagi sambil mengajak sang istri berjalan menuju tangga..
Sementara ibu masih sangat shock mendengar ucapan putri nya sendiri.
__ADS_1
"Mas, sepertinya kita harus membuat setiap kamar di rumah ini kedap suara..."