
"Pulang nak, kakakmu akan menikah."
Mata Lee melebar sempurna memandangi ponsel yang bergetar tersebut.
Menoleh Habibah dan ponsel bertuliskan pesan di tangannya bergantian. Dia sendiri menelan kasar ludahnya, memikirkan jika yang menikah adalah...
"Ayo pergi." Lee enggan bicara dan lebih memilih menarik Habibah kembali menuju mobilnya.
"Lee, aku harus tahu_"
"Kau akan tahu." jawab Lee malas mengatakan apapun.
Mobil mereka melaju kencang kali ini, pria bertopi itu tampak tegang dan hanya fokus pada jalanan.
"Lee." Habibah sungguh ingin bertanya, tapi sepertinya pria di sampingnya enggan bicara.
Tak sampai setengah jam, jarak yang harusnya lumayan jauh itu sudah di tempuh.
"Lee, ini rumah siapa?" tanya Habibah bingung.
"Ayo keluar." Lee merasa gerakan Habibah kurang cepat, dan ia membukakan pintu untuk wanita itu.
Tentu saja Habibah turun dengan bingung, untuk apa mereka datang ke sana.
Lampu halaman rumah mewah itu menyala terang, meski masih hujan tapi ada beberapa orang datang dengan pakaian rapi, dan sepertinya di dalam rumah itu sudah ramai.
"Lee." Habibah menoleh pria yang sejenak sibuk memegang ponselnya.
"Ayo." Lee menarik tangan kecil itu lagi, suka atau tidak suka terkadang ia tak peduli jika sedang terburu-buru.
"Lee, ini Acara pernikah_" ucapannya terhenti. Hati yang mulai kacau itu disertai dengan mata yang berkeliling curiga, mencari keberadaan seseorang yang kemudian ia menemukannya.
Seketika mata yang sendu itu membulat sempurna melihat seorang gadis duduk dengan pakaian putih membalut tubuhnya, dia terlihat sangat cantik dan senyum mengembang berdampingan dengan seorang lelaki yang sudah pasti sangat di kenalnya.
"Mas Bram."
Pemandangan yang membuat luruh hatinya.
Lee akan melangkah masuk namun Habibah mencegahnya, kakinya merasa kaku untuk melangkah ketika ucapan akad itu menggema melalui pengeras suara.
Begitu lantang terdengar seorang ayah mengucapkan Ijab untuk putri tercinta.
Ya, putrinya.....
Habibah menangis pilu menyaksikan ayahnya malah menikahkan orang lain.
"Saya terima nikah dan kawinnya Larisa binti_"
__ADS_1
"Berhenti."
Seketika semua orang menoleh ke arah Lee yang dengan berani menghentikan pernikahan Larisa.
Suasana mendadak hening, hanya Marisa yang terlihat marah dan berdiri.
"Lee." panggil Rudy Utama.
"Dia bukan anak kandungmu." Lee menunjuk Larisa dengan berani, membuat Marisa segera mendatanginya.
Plak
Tamparan keras menghampiri wajah Lee tanpa terduga, Marisa menatap nyalang kepadanya.
"Itu benar Nyonya Marisa, bahkan kami semua sudah tahu sejak lama. Jadi pernikahan ini tidak sah!"
"Diam kau." Marisa kembali lagi mengangkat tangannya ingin memukul lagi namun Lee menangkap tangan yang baginya tak seberapa kuat.
"Mama, Papa!" Larisa terlihat ketakutan, memandangi wajah Rudy Utama dan ibunya bergantian.
"Apa yang kau ucapkan?" tanya Rudy yang jelas sekali meyakini Larisa adalah putrinya.
"Dia bukan putri kandungmu." ulang Lee lagi semakin membuat orang yang hadir berbisik-bisik.
"Pergi kau dari sini, kau bukan siapa-siapa di rumah ini." Usir Marisa melihat Larisa yang semakin panik, bahkan mulai menangis.
"Marisa?" panggil Rudy kepada istrinya.
"Dia berbohong." jawab Marisa semakin marah kepada Lee.
"Tidak, aku tidak pernah berbohong. Belakangan aku tahu kau memalsukan hasil DNA di sebuah rumah sakit, dan yang mengerjakan semuanya adalah Dokter Harry, laki-laki yang menjadi kekasihmu ketika sebelum menikah dengan Rudy Utama.
"Jaga bicaramu! Aku tidak kenal dengan laki-laki bernama Harry, aku juga tidak pernah melakukan apapun!"
"Kau mengenalnya Marisa." Lee mengeluarkan sebuah foto dari saku jaketnya, dan memperlihatkan kepada wanita itu.
"Kau." Marisa ingin merebut foto yang sudah usang tersebut.
"Ini foto kau dan semua teman kalian saat itu, termasuk ibuku di dalamnya. Dan Dokter Harry."
"Dia berbohong, aku memang pernah menghadiri acara bersama banyak orang tapi aku tidak mengenal Harry. Rudy, kau harus percaya padaku, dia hanya ingin menyingkirkan aku. Dia membenciku!" teriak Marisa ingin Rudy percaya.
"Tentu saja aku membencimu. Hanya Rudy Utama yang bodoh tak bisa melihat betapa liciknya dirimu." Lee melempar foto tersebut kepada Rudy Utama.
Sedangkan di belakang tubuh pria itu, Habibah terus saja bersembunyi menghindari Bram yang ingin bicara.
"Habibah, aku ingin kita bicara." ucap Bram memohon.
__ADS_1
"Tidak perlu ada pembicaraan lagi antara kita Mas." jawabnya terus menghindar, bahkan ketika Bram ingin meraih tangannya dia menghindar tak mau disentuh.
"Mohon maaf, kami sedang dalam masalah keluarga." ucap Rudi kemudian kepada semua orang.
Serentak semua tamu pulang memberi privasi namun tetap berbisik-bisik ngeri.
"Rudy." Marisa berusaha meyakinkan suaminya.
"Aku tidak bisa percaya kepadamu sekarang." gumam Rudy menatap kecewa kepada foto usang tersebut.
"Papa, aku putrimu kan?" tanya Larisa terisak menangis.
"Bukan." sahut Lee dengan sengaja.
"Kau siapa hah!" Larisa mendekati Lee dengan marah dan berteriak.
"Aku putra Rudy Utama." jawab Lee dengan tersenyum menang.
"Akulah putri Rudy Utama, Ayahku. Kau bukan siapa-siapa!"
"Tentu saja aku anaknya, DNA lebih membuktikan." Lee tersenyum mengejek kali ini.
"Aku putrinya, bukan kau! Kau hanya laki-laki bodoh yang tidak punya pekerjaan, anak pengecut yang cacat, ibumu selingkuh dan tidak peduli padamu. Kau hanyalah anak yang tidak dianggap, tidak berguna dan aku tidak mau berbagi ayah dengan pria sepertimu!"
"Dan kau hanyalah anak hasil selingkuhan yang menumpang hidup kepada ayah orang lain. Kalian hidup enak dengan menipu, dan membuat orang lain menderita." balas Lee dengan tatapan tak kalah mengerikan.
"Tutup mulutmu." Marisa mendorong bahu Lee agar berhenti.
"Aku sudah mengirim hasil DNA kalian." Lee menunjuk ponsel Rudy di saku jas pria tersebut.
"Itu bohong." teriak Marisa dan Larisa bersamaan.
"Hasil DNA itu sudah ada sejak lama, ketika kau berada di rumah sakit melakukan operasi usus buntu di Singapura, tiga tahun yang lalu." jelas Lee semakin membuat semuanya terkejut.
Dan tak kalah terkejutnya, Rudy terduduk lemas melihat hasil DNA di Singapura itu.
"Kau menipuku." ucapnya pelan, menatap Marisa dan Larisa bergantian.
"Papa!" Larisa mendekati Rudy yang terduduk lemas, ia bersimpuh di kakinya dan menangis sejadi-jadinya, bahkan menjerit-jerit tidak terima.
"Aku anak Papa, aku anak Papa..." tangisnya memeluk kaki Rudy sangat erat sekali.
"Itu palsu, itu palsu Sayang." Marisa memenangkan Larisa, juga Rudy yang terlihat pucat. "Dia menipu Rudy, jika tidak Percaya kau bisa tes DNA ulang, kita ke rumah sakit sekarang." Marisa membujuk suaminya.
"Ide bagus. Kalian lakukan saja di Singapura, agar tidak ada tipu menipu, dan dokternya tidak bisa kau rayu." Lee tersenyum sinis.
"Jangan berani menantangku, kau hanya anak ingusan yang tidak tahu siapa aku sebenarnya." geram Marisa kepada Lee.
__ADS_1
"Aku sudah tahu semuanya."