
#Mengejar Cinta Suamiku part 21 (Moment Indah)
“Jadi, semuanya disesuaikan dengan sample ya, Kak.”
Annisa memberikan sebuah sample gamis dan hijab model terbaru yang sudah di desain olehnya.
“Siap, nanti kita proofing, ya. Kalo udah oke dan menurut kamu nggak ada yang kurang, kita produksi dengan target quantity.”
“Oke, Kak. Terimakasih, ya.”
“Iya, sama-sama. Semoga lancar terus orderannya biar kerjasama kita juga berjalan lancar.”
“Aamiin, Kak.”
Nisa sedang bertemu dengan Fatur untuk membicarakan tentang produk yang akan dikerjakan.
Mall yang berdiri sepuluh lantai ini terlihat ramai dengan pengunjung.
Terlebih, para muda-mudi yang antusias untuk menonton film terbaru yang tayang secara premier di bioskop yang letaknya berada di lantai paling atas.
Di salah satu cafe mall tersebut, Annisa dan Fatur terlihat serius membicarakan tentang pekerjaan.
Sesekali Fatur mencuri pandang kepada wanita yang dikaguminya.
“Kira-kira kalo hasil proofing udah oke, dari pengerjaan ke finishing berapa lama?”
“Seribu piece barang dalam sebulan kita sanggup, kok. Tergantung target yang kamu kasih ke kita aja.”
“Good job, Nisa suka punya partner kerja yang sat set sat set begini, hehe”
Fatur tersenyum lebar menanggapi ucapan Annisa. Sebentar lagi meeting ini selesai, namun dia belum mau berpisah dengannya.
Terpikir dalam benak lelaki itu untuk mengajak Nisa nonton film. Tapi, dia takut Nisa akan menolak.
Sebisa mungkin dia mencari cara, agar mendapat waktu bersamanya lebih lama.
Minuman yang dipesan sudah tersisa beberapa teguk saja, itu menandakan bahwa pertemuan mereka sudah cukup lama, namun terasa sangat singkat bagi Fatur.
“Mau lihat Jakarta Fashion Week di lantai tiga nggak? Banyak karya dari desainer terkenal, loh.”
Fatur yang tahu Annisa suka fashion, mencoba menggunakan alasan tersebut agar bisa menikmati waktu bersamanya lebih lama.
“Emang udah mulai, Kak?”
“Udah dari kemarin.”
Annisa terlihat antusias, tapi terlihat gusar karena sebentar lagi jam pulang kerja suaminya.
Annisa seorang wanita berilmu, dia paham jika hendak pergi haruslah dengan izin suaminya terlebih dahulu.
Dia menengok jarum pada jam yang melingkar di tangannya. Satu jam lagi, Rizki akan sampai di rumah.
__ADS_1
“Maaf Kak, tapi saya harus segera pulang.” Annisa mengemasi semua perlengkapan yang dibawanya.
Lagi-lagi, Fatur harus menelan kecewa karena selalu ditolak saat mengajak Nisa pergi.
Jika bukan soal pekerjaan, sepertinya dia juga tidak akan mau bertemu di sini.
Hatinya racau, harga dirinya dipertaruhkan. Dia semakin terobsesi untuk mendapatkan Annisa.
Bagaimana bisa dia selalu menolaknya. Dengan ketampanan yang dimiliki dan karir yang sukses, dia merupakan laki-laki idaman bagi para wanita.
Banyak followersnya yang tergila-gila, menyatakan cinta hingga mengiriminya banyak kado demi menarik simpati.
Namun, Annisa wanita yang dikerjar malah mengabaikannya, seolah pesona dan segala materi yang selalu dibanggakan oleh Fatur tidak berarti apa pun bagi Annisa.
“Nisa duluan ya, Kak. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Annisa sudah pergi meninggalkan Fatur, dia terlihat semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.
Fatur termenung, harus dengan cara apalagi dirinya mendapatkan Annisa?
Semakin ke sini, rasanya dia semakin sulit untuk ditebak, apalagi dimiliki.
Namun, semakin diabaikan, justru membuat Fatur semakin bertekad untuk memiliki Annisa.
***
Hari ini, Nisa menggunakan baju tidur pendek dengan celana sepaha yang memamerkan kulit mulusnya.
Meskipun setiap keluar rumah tubuhnya ditutupi gamis dan hijab panjang, namun dia tidak pernah lupa merawat diri.
Dalam seminggu, dia melakukan tiga sampai empat kali luluran. Tidak lupa, Nisa juga sering mengoleskan body lotion yang membuat wangi seluruh tubuhnya.
Disamping merawat diri, dia melakukan itu demi menyenangkan suaminya.
Annisa selalu mengingat hadits yang menerangkan bahwa sebaik-baik wanita adalah yang pandai menyenangkan hati suami.
Pada saat itu, Abu Hurairah yang merupakan sahabat Nabi, bertanya kepadanya,
“Wahai Rasulullah, siapakah wanita yang paling baik?”
Lalu, Rasulullah SAW bersabda,
“(Sebaik-baik wanita) yaitu yang paling menyenangkan jika dipandang suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. Nasa’i dan Ahmad).
Tentulah ada ganjaran besar dan derajat mulia saat kita mampu menerapkan hadits tersebut dalam hidup yang kita jalani sebagai seorang istri.
Itulah sebabnya, Annisa selalu berusaha menyenangkan hati Rizki dan memuaskan pandangan suaminya dengan cara merawat diri.
Sebuah tabloid remaja muslim menemani Annisa sebagai penghilang bosan. Dia membalik setiap halaman tanpa melewatkan satu pun berita.
__ADS_1
Annisa merupakan orang yang suka membaca, mulai dari buku ensiklopedia, novel dengan berbagai genre, terlebih buku islami yang memiliki banyak pesan moral di dalamnya.
Jika ada waktu luang, Nisa selalu memanfaatkannya dengan membaca buku. Dia memang berbeda dari kebanyakan wanita lain yang lebih asyik berseluncur di dunia maya.
Annisa juga orang yang sangat menyukai drama Korea, sesekali dia menonton secara marathon drama favoritnya untuk menghilangkan kejenuhan.
Suara motor terdengar memasuki garasi, Annisa bersembunyi di belakang pintu yang sengaja tidak dikunci.
“Assalamualaikum”
Sapa Rizki dengan membuka pintu, namun dia tidak menjumpai Annisa yang biasanya selalu menyambut kedatangan Rizki dengan senyuman hangat.
Annisa yang sedari tadi bersembunyi di belakang pintu langsung memeluk suaminya dari belakang.
“Waalaikumsalam, kesayangan Nisa.”
Rizki yang kaget dengan refleks akan melepaskan diri dari pelukan Annisa, namun gagal, karena Nisa mendekapnya dengan sangat erat.
“Boleh seperti ini lima menit aja, jangan berontak, Nisa nyaman.”
Mendengar hal itu, Rizki diam mematung, membiarkan Annisa menikmati pelukan yang membuatnya nyaman.
“Mas kotor, belum mandi dan ganti baju. Pasti bau apek, ya?”
“Biarin, Nisa suka..”
Baiklah, sepertinya Rizki harus tetap berdiri seperti ini meski kakinya sedikit pegal karena menopang tubuh Annisa yang cukup berat.
Lima menit kemudian, Nisa melepaskan pelukannya. Terlanjur merasa nyaman, Rizki menarik tangan Annisa untuk tetap memeluknya seperti ini.
“Tambah lima menit lagi, boleh? Mas juga nyaman.”
Kini, Rizki mulai terus terang dengan apa yang dia rasakan. Annisa tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan di tubuh kekar suaminya.
Bagi Annisa, ini adalah moment paling indah sejak pernikahannya dengan Rizki. Moment dimana hati Rizki sudah mulai terbuka untuknya.
“Besok jadi pergi?”
“Jadi, Mas sudah ambil cuti. Besok kita berangkat. Packingnya udah selesai?”
“Belum sempat, malam ini Nisa bereskan semuanya, biar besok pagi bisa langsung berangkat.”
“Nanti Mas bantu.”
“Terimakasih,”
“Iya.”
Matahari sudah terbenam, menyisakan cahaya senja yang masuk menembus jendela.
Senja yang begitu syahdu, sesyahdu rasa yang membuat kedua manusia ini jatuh cinta, hingga membuat mereka menjadi ketergantungan satu sama lainnya.
__ADS_1
Bersambung...