Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 34 (Majelis Ilmu)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 34 (Majelis Ilmu)


Nisa memegang sebuah buku novel pembangun jiwa karya penulis favorit, lembar perlembar buku dibaca dengan seksama, pada setiap kalimat tersirat banyak makna, buku yang memiliki 420 halaman itu sudah menemani keseharian Nisa yang sedang hiatus dari pekerjaannya.


Menikmati hari-hari dengan santai, sepulang dari kampus kadang nongkrong dengan teman untuk menikmati kopi kesukaannya.


Tidak jarang, dia pergi ke spa, memanjakan diri dengan pijatan terapis perempuan. Dia menikmati banyak waktu dengan melakukan hal yang diingankannya. Benar apa yang diucapkan Rizki, bahwa dia perlu menyayangi dirinya sendiri.


"Seru banget baca bukunya, sampai Mas panggil nggak nyaut." Rizki membuyarkan kekhusuan Nisa yang sedang asyik membaca buku.


"Emang Mas manggil ya? Maaf, Nisa nggak dengar."


"Nggak papa, sayang."


"Ada apa memangnya?" Tanya Nisa penasaran.


"Nggak ada apa-apa,"


"Tapi sepertinya ada yang mau Mas bicarakan." Ucap Nisa menebak ekspresi wajah suaminya.


"Besok ada kajian Ustadz Khalid Basalamah, di Masjid Annur, kita datang ke sana buat ikut majelisnya, mau nggak?"


Yang dimaksud Rizki adalah Ustadz favorit Annisa, dia seringkali mengikuti setiap kajiannya lewat online, semua dakwahnya disampaikan secara halus dan mudah dimengerti, Nisa seringkali berharap bisa mengikuti kajiannya secara langsung.


Akhirnya doanya itu terkabul, Ustadz tersebut akan mengisi kajian di salah satu Masjid yang tidak jauh dari rumah mereka, hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 20 menit saja.


"Hah, serius Mas?" Nisa melongo tidak percaya.


"Iya, ini Mas lihat langsung dari IG resminya."


"MasyaAllah.. Tabarakallah, akhirnya kita bisa mengikuti kajiannya secara langsung."


Nisa antusias mendengar berita dari suaminya. Seperti halnya para fans yang gembira bertemu sang idola, begitulah yang dirasakan Annisa.


Awal mula dia mengenal Ustadz Khalid adalah saat dirinya kehilangan Abi, keterpurukan dan kesedihan yang mendalam saat Abinya meninggal membuat semangat hidup Nisa hilang.


Seringkali dia tidak menerima takdir ini, Abi adalah orang yang paling berharga baginya saat itu, namun harus diambil Tuhan di saat dirinya belum bisa membuat Abi bangga.


Saat kondisi Nisa down seperti ini, tiba-tiba potongan ceramah Ustadz Khalid Basalamah muncul di reels akun Instagramnya, isi ceramah tersebut membicarakan tentang kematian, dalam video itu, ada seorang jamaah yang bertanya kepadanya melalui surat.


Dalam surat itu, jamaah menceritakan bahwa dirinya sedang dilanda kesedihan karena anaknya meninggal, di akhir kalimat, dia meminta nasihat untuk menyikapi kesedihannya tersebut. Hal sama yang dirasakan Annisa saat itu.


Dalam video berdurasi sekitar lima menit, Ustadz Khalid berkata:


"Jangan bersedih, banyak point yang selalu saya ingatkan (tentang kematian) yang pertama adalah, kita bukan pemilik (nyawa) anak itu, sekarang saya tanya, apa kita yang tancapin rambut di kepalanya? Kita punya andil di satu helai rambutnya? Nggak ada! Anak ini lahir, mau putih mau hitam, laki-laki atau perempuan Allah yang ciptakan maka pemiliknya pun bisa mengambilnya, jangan dianggap itu adalah milik kita, (anak) itu bukan milik kita, diri kitapun bukan milik kita ini miliknya Allah SWT. Itu point yang pertama.


*Yang kedua, siapapun yang meninggal mau anak kecil, atau orangtua itu bukan hilang, tapi pindah alam ke akhirat. Kita sebagai orang yang beriman tahu kita akan menuju ke sana, (nanti) pasti ketemu, bukan nggak ketemu, cuma mereka mendahului kita, yang penting tiket kita sama (yaitu) iman dan amal sholeh.


Dahulu, Kakak saya sangat terpuruk saat anaknya meninggal karena tertabrak mobil di jalan tol, anak tersebut tewas di tempat, tidak ada yang bisa menghiburnya, saya coba berbicara dengan Kakak saya, saya bilang bahwa Hamid (nama anak Kakaknya Ustadz Khalid) tidak hilang, dia hanya pindah alam ke akhirat, contohnya seperti ini, tujuan kita sama-sama mau pergi ke Surabaya, tiket anak ini jam sembilan pagi, saya sama Kakak mungkin tiketnya jam tiga siang nanti, kita sama-sama ke sana kok, yang penting tiketnya sama, (setelah saya berbicara seperti itu) baru dia (merasa) tenang, Subhanallah.


Tugas kita sekarang sebagai seorang yang beriman perbanyak amal buat dia, karena dia sudah baligh. Apa yang harus dilakukan? Hamid punya motor, jual dan sedekahkan ke Masjid atas nama dia, pakaiannya kasih ke teman-temannya yang miskin, shodaqohkan atas nama dia. Kakak saya alhamdulillah langsung semangat*.


Jadi nggak usah sedih (secara berlebihan) tinggal kita sekarang bagaimana memperbanyak amal sholeh buat diri kita, supaya kita juga bisa punya derajat tinggi di surga (agar berkumpul kembali bersama keluarga)."


Penggalan video ceramah yang tidak lebih dari lima menit itu membawa makna dalam bagi Annisa, bahwa kematian adalah sepenuhnya hak Allah.


DIA yang menciptakan, dan DIA juga berhak mengambil kapan saja. Tidak berhak bagi Nisa merutuk takdir yang sudah digariskan, terlebih meratapi kematian seseorang meskipun itu adalah orang yang paling dicintainya.


Sejak saat itu, Annisa selalu jatuh cinta pada setiap ceramah Ustadz lulusan Universitas Islam Madinah itu. Setelah mendengar video itu pula, Annisa lebih bersemangat bershodaqoh untuk Abinya.

__ADS_1


Itulah yang bisa diperbuat untuk membuktikan rasa cinta sekaligus bakti kepada Abi setelah mereka terpisah alam.


Nisa semakin tidak sabar menantikan hari esok, tentu dia tahu betul setiap ceramah Ustadz Khalid selalu penuh sesak oleh jamaah, tidak mungkin baginya bisa melihat dari dekat.


Tapi, mengidolakan seorang pendakwah tidak sama seperti mengidolakan para artis, dimana fans akan histeris dan bangga saat bisa melihat idolanya dari dekat, apalagi jika berhasil berfoto bersama untuk dijadikan ajang pamer di sosial media. Bukan seperti itu, mengidolakan pendakwah tidak perlu berfoto, tidak perlu menatap wajahnya, sekedar duduk di majelis dan mendengarkan langsung kajian yang dibawakan olehnya saja sudah membawa kepuasan tersendiri, ajaibnya hal ini membuat candu, sekali mendatangi majelis akan ketagihan lagi, dan lagi.


Rizki berbinar melihat istrinya begitu bahagia, senyum merekah yang sempat hilang saat bertubi-tubi cobaan datang menghantam hidupnya.


Betapa bahagia Nisa sangat sederhana, tidak meminta barang mewah atau keduniawian lainnya, hal seperti ini saja sudah membuat dia sebahagia ini.


Annisa menyiapkan baju gamis berwarna hitam, juga hijab sebetis dengan warna yang sama, tidak lupa Nisa juga menyiapkan cadar Yaman warna senada, Nisa ingin menggunakan cadar sebagaimana kebanyakan jamaah wanita lainnya saat menghadiri majelis, meskipun dalam keseharian dirinya tidak menggunakan cadar.


Annisa belum mampu untuk melangkah ke tahap itu, dia takut tidak bisa istiqomah, dia merasa dirinya belum pantas memakai cadar yang menjadi simbol puncaknya keimanan seorang wanita.


"Tolong pilihkan juga baju buat Mas ya sayang." Rizki merecoki Nisa yang sedari tadi sangat antusias menghadiri kajian besok hingga melupakan buku favoritnya yang sedang dibaca sejak pagi.


"Beres, Mas." Jawabnya sumringah sambil mengangkat jempol.


Meski pakaian mereka sudah rapih, Annisa menyetrika ulang baju yang akan dipakai besok. Annisa mengingat salah satu ayat Al-Qur’an yang sering diceritakan oleh Abinya. Saat itu dia bertanya, "Kenapa Abi selalu pakai baju bagus kalo mau ke Masjid?" Tanya Nisa kecil karena merasa heran Abi selalu memakai pakaian paling bagus saat akan pergi sholat berjamaah di Masjid.


Abi membacakan salah satu ayat Al-Qur’an yang artinya:


“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap kali (memasuki) Masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)


Dari jawaban Abinya Nisa jadi paham bahwa memakai pakaian bagus saat memasuki Masjid adalah anjuran langsung dari Allah.


***


Tema kajian hari ini adalah 'Kiat Motivasi Melewati Cobaan Hidup' kajian hari ini seolah diperuntukan bagi dirinya yang akhir-akhir ini banyak diterpa cobaan berat silih berganti.


Dalam kumpulan majelis ilmu, Annisa duduk diantara para akhwat bercadar lain, mereka seperti para bidadari surga yang sedang berkumpul untuk bermunajat kepada Rabb-Nya.


Semua jamaah menyimak dengan khidmat setiap ucapan yang keluar dari mulut Ustadz Khalid. Tidak ada bising, tidak ada orang yang mengobrol dengan jamaah lain, semua hanyut dalam majelis ilmu.


"Bagaimana cara melewati cobaan? Baik, saya akan mencoba memberikan beberapa kiat." Ucap sang Ustadz saat menjelaskan point utama dari tema kajian hari ini.


"Yang pertama, anda meyakini (ayat ini)," Ustadz Khalid membacakan ayat dari QS. Attaubah ayat 51 yang artinya berbunyi,


'Katakanlah (Muhammad), tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.'


"(Jika) Memang Allah takdirkan ada di detik ini, di waktu ini, sedang ada cobaan seperti itu. Tetapi, ini harus dikemas dengan ayat yang lain, yaitu:


''Maka sesungguhnya di setiap kesulitan itu ada kemudahan [5], Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan [6].' (QS. Asy-Syarh : ayat 5 dan 6)"


Nisa menangis tersedu-sedu, ayat itu seolah salju yang masuk menyejukan hatinya.


Tangisan yang hanya diketahui oleh dirinya, air mata yang mengalir di balik cadar hitam seolah gunung api yang meledak mengeluarkan segala bebannya.


"Butuh kesabaran! Butuh kesabaran akhi dan ukhti." Kata Ustadz Khalid melanjutkan ceramahnya.


"Yakinlah, Allah tidak akan membuat kita susah, tapi cobaan datang apalagi bukan kepada anda sendiri.


Selanjutnya saya sarankan untuk mengingat sunnah Nabi SAW kalau kita sedang diberikan cobaan, lihat orang yang lebih susah (umpamanya) kalau kita pincang Naudzubillah, buntung kakinya satu, lihat orang yang buntung kakinya dua, selalu (melihat) orang yang lebih susah sehingga kita selalu tahu nikmat Allah begitu besar kepada kita."


Nyes..


Kata-kata itu menyejukkan sekaligus menampar Nisa. Merasa cobaannya begitu berat, padahal ada orang di luar sana yang diberikan cobaan lebih berat.


Nisa merenungi setiap kejadian menyakitkan yang hadir dalam hidupnya, barangkali setelah semua ini akan ada kebahagian indah yang tidak pernah dibayangkan olehnya.

__ADS_1


Janji Allah itu pasti, Nisa sangat meyakini ayat yang dibacakan oleh Ustadz Khalid.


''Maka sesungguhnya di setiap kesulitan itu ada kemudahan [5], Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan [6].' (QS. Asy-Syarh : ayat 5 dan 6)"


Ayat itu terngiang di telinganya, masuk kedalam otak, dan sampai di lubuk hati. Seluruh kejadian yang menyesakkan seolah bersatu menjadi kolase video yang diputar dalam pikiran Annisa.


Mulai cobaan terberat saat Abinya meninggal, hingga membuat dirinya kehilangan semangat hidup, lalu saat Rizki mengalami kecelakaan dan membuatnya koma, meski saat itu belum menikah, tapi Annisa sudah mendambakan Rizki saat pertama kali bertemu dengannya malam itu, malam dimana Rizki menyelamatkannya dari ketakutan, sejak saat itu Nisa selalu berdoa agar dipertemukan kembali dengannya, dengan orang yang selalu mengganggu pikirannya, sehingga membuat dia tidak berhenti berdoa, karena cinta yang sesungguhnya, adalah cinta yang selalu tersemat di dalam doa.


Nisa juga mengingat saat dirinya mengalami kecelakaan hingga membuatnya amnesia hingga sama sekali tidak mengingat suaminya.


Lalu hal mengerikan datang mengujinya lewat Fatur, yang mencoba melecehkannya.


Hampir satu tahun semenjak kejadian mengerikan itu, cobaan datang mengujinya lewat Naura, orang yang dia sayangi seperti adik sendiri ternyata mengecewakannya, bahkan dengan nekat nyaris melukai dengan gunting yang dibawanya.


Semua kelebatan dari kejadian-kejadian itu datang sebagai cobaan dalam hidupnya membuat tangis Annisa semakin menjadi.


Dia menutup mulutnya dengan tangan, menyembunyikan sesak yang dikeluarkan lewat air mata.


'Ya Rabbi, aku percaya seluruh cobaan ini datang bukan tanpa alasan. Ampuni hamba jika ini datang akibat dosa-dosa hamba, dan berikan hikmah yang indah atas semua yang sudah terjadi. Sesungguhnya Engkau maha menepati janji.' Lirih Annisa dalam hati.


Satu setengah jam sudah Ustadz memaparkan kajiannya, ditambah lagi setengah jam di isi dengan sesi tanya jawab, dua jam yang terasa sangat singkat bagi Annisa.


Tidak ada satupun ceramah yang dilewatkan oleh, semua disimak dan dicerna baik-baik, sesekali mencatat bagian penting dari isi ceramah Ustadz favoritnya.


Seluruh jamaah bubar setelah Ustadz selesai menutup kajian dengan hamdalah dan ucapan salam. Tapi tidak dengan Nisa, dia masih duduk di majelis, membiarkan dirinya berlama-lama merasakan suasana Masjid yang sangat menyejukkan hatinya.


Jika bisa meminta, dia ingin kajian ini diperpanjang beberapa jam kedepan, Nisa seperti seseorang yang sedang kehausan, dia haus ilmu, dia haus nasihat, dia haus akan motivasi hidup, sampai kajian berdurasi dua jam ini terasa seperti dua menit baginya.


Ponsel bergetar dari dalam tas slempang miliknya, Nisa tahu itu adalah suaminya. Rizki pasti khawatir karena Nisa belum kembali ke mobil.


Masjid sudah kosong, kajian sudah selesai setengah jam yang lalu, bagaimana Rizki tidak khawatir?


Nisa mengangkat telepon setelah membiarkannya bergetar beberapa kali.


"Iya Mas, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam sayang, kamu dimana? Ini Mas dari tadi nunggu kamu di parkiran."


"Iya Mas, tadi jalan keluar Masjid penuh sekali, Nisa nunggu di dalam sampai kosong sambil dzikir. Jujur Nisa masih betah." Jawabnya.


"Mas khawatir kamu kenapa-kenapa. Alhamdulillah kalo memang itu alasannya nggak papa, Mas tunggu di mobil sampai kamu mau pulang, ya."


"Baik, Mas. Terimakasih atas pengertiannya."


Setelah pamitan, Rizki menutup telepon, membiarkan istrinya menikmati suasana yang tidak bisa dijelaskan dengan pena.


Tidak hanya Nisa, Rizki juga merasakan hal yang sama. Kenyamanan saat duduk di majelis tadi tidak bisa diumpakan dengan kata-kata.


Sepertinya perasaan ini akan membuat mereka kecanduan untuk terus menimba ilmu, tidak hanya dari Ustadz favorit saja, tapi dari para pendakwah lainnya.


Tidak hanya ilmu yang mereka dapat, tapi juga ketenangan jiwa yang tidak bisa mereka rasakan bahkan saat sedang liburan, atau saat healing, bahkan saat berkonsultasi dengan psikiater, tidak ada ketenangan jiwa sedahsyat ini.


Benarlah apa yang tertulis dalam Al-Qur’an bahwa sebaik-baik penyembuh bagi penyakit hati adalah ayat-ayat Allah.


“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus ayat 57).


Maha Besar Allah dengan segala firmannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2