Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 12 (Mengungkap Kebenaran)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 12 (Mengungkap Kebenaran)


Selepas Ummi pergi, aku masih menunggu Annisa yang masih sibuk membereskan rumah.


Rencananya, setelah dia selesai, aku akan mengajak Annisa ke kamar untuk menjelaskan padanya tentang Sheila. Rasanya membicarakan masalah rumah tangga di kamar akan lebih nyaman karena privasinya lebih terjamin.


Sedikit gugup dengan apa yang akan aku beritahukan kepadanya. Aku takut Annisa akan marah dan memberitahu ummi.


Kalau itu terjadi, pasti ummi sakit hati dan akan kecewa kepada ibu dan bapak.


Ummi pasti akan merasa ditipu oleh keluargaku. Semoga saja Annisa bisa memaafkanku. Annisa manusia biasa, dia pasti akan kecewa dan sakit hati, tapi semoga saja dia bisa mengerti, meski aku sebenarnya tidak yakin.


Setelah dia selesai, aku segera mengajaknya ke kamar.


“Ini sudah siang, Mas. Ada pegawai Nisa lho di depan. Genit banget jam segini ngajak-ngajak ke kamar.” Sahut Annisa di ikuti tawa renyahnya.


Polos sekali anak ini. Kurasa dia terlalu percaya diri. Jika aku ingin melakukannya, sudah kulakukan malam tadi.


“Ada yang mau Mas bicarakan. Ngeres kali pikiranmu itu, Nis.” Aku berlalu sambil memberi isyarat kepadanya supaya dia mengikutiku.


Aku paham dia kebingungan, dan penasaran dengan apa yang akan aku bicarakan. Annisa membuntutiku dari belakang.


Dia lalu duduk di kursi rias menghadapku yang duduk di ubin. Tapi tak lama, dia pun turun ke bawah dan duduk di hadapanku. Kurasa dia pindah tempat duduk untuk menghormatiku.


Aku tidak tahu harus mulai dari mana, gadis ini terlalu baik untuk menjadi pelampiasanku.


Tapi, entah kenapa hatiku masih saja belum bisa mengenyahkan Sheila. Mungkin karena tiga tahun bersamanya yang terasa sangat manis bagiku.


“Ada apa sih, Mas? Serius begitu mukanya?” Nada bicara Annisa selalu lembut, tidak pernah aku mendengarnya meninggikan suara ketika dia berbicara padaku. Sekalipun berkali-kali aku ketus kepadanya.


“Nis, Mas tahu kalau cerita ini akan membuat kamu kecewa sama Mas. Tapi tetap harus Mas katakan. Mas tidak mau kamu tahu ini justru dari mulut orang lain. Karena itu akan membuat rasa bersalah Mas bertambah dua kali lipat kepadamu.”


Lagi-lagi bibir mungil itu menyungging, senyum itu selalu membuat dia lebih manis.


“Annisa senang kalau Mas mau terbuka apa pun kepada Nisa, sekalipun kejujuran itu akan membuat Nisa kecewa.”


“Baik, Mas akan ceritakan semuanya kepada kamu. Dan Mas akan menerima segala konsekuensinya. Sebenarnya, Mas menikahi kamu untuk menghindari Sheila.


Kamu tahu wanita yang mau peluk Mas di resepsi pernikahan kita waktu itu? Itu mantan pacar Mas. Dulu, dia menikah dengan laki-laki yang baru sebulan dipacarinya dibelakang Mas.


Hanya karena laki-laki itu lebih mapan dari Mas. Kebersamaan kami selama tiga tahun seperti tidak ada artinya buat dia. Tapi setelah beberapa bulan dia menikah, dia hadir lagi ke kehidupan Mas.


Dia bilang ingin kembali. Dia bilang masih belum bisa melupakan kebersamaan kami. Entah apa alasan tepatnya, tapi Mas tidak sampai hati kalaulah nanti melihat rumah tangganya hancur gara-gara dia masih berharap bisa kembali lagi menjalin hubungan dengan Mas.

__ADS_1


Apalagi suaminya adalah orang baik-baik. Mas tahu siapa suaminya Sheila, karena dia manager di perusahaan tempat Mas bekerja.


Lalu Mas bilang kepada Sheila bahwa Mas akan menikah. Mas lakukan itu agar dia tidak mengganggu Mas lagi dengan chat-chatnya.


Diluar dugaan, dia malah mengancam Mas, katanya kalau Mas berbohong, dia justru akan melepaskan suaminya dan meminta Mas kembali kepadanya.


Mas tidak ingin menjadi penyebab berakhirnya rumah tangga orang lain, apa lagi dia orang yang Mas cintai.


Lalu, Mas meminta ibu mencarikan jodoh buat Mas. Sampai akhirnya ketemu kamu. Mas sungguh minta maaf sudah menjadikan kamu pelampiasan di dalam hidup Mas.


Nisa boleh lakukan apa pun untuk meluapkan kekecewaan kepada Mas. Tapi tolong, jangan sampai ini menggangu pernikahan kita. Mas janji akan berusaha menjadi lebih baik lagi.”


Meski awalnya berat, tapi aku merasa lega sudah menceritakan semua kepadanya.


Lagi-lagi Annisa tersenyum, dia menatapku dalam-dalam. Tangannya memegang pipiku, dia semakin mendekat, dan bibir mungilnya mendarat di keningku. Aku kaget, tapi tidak bisa menolak. Setelah itu dia duduk kembali di hadapanku.


“Alhamdulillah, itu cara Allah menjauhkan Mas dari zina. Karena, berpacaran sebelum menikah adalah perilaku mendekati zina. Meskipun tidak melakukan hubungan seksual, tapi memandang, memegang tangan, pelukan, dan hal-hal lainnya yang dilakukan saat pacaran itu belum halal, justru itu berdosa. Sebaliknya, jika hal-hal itu dilakukan setelah menikah, justru akan mendatangkan pahala. Dan yang terpenting, itu cara Allah mempertemukan kita.” Jawab Annisa dengan lembut.


Gadis ini, hatinya terbuat dari apa? Dia tidak marah sedikit pun kepadaku, justru malah semakin bersikap manis.


“Husss, Mas selama pacaran dengan Sheila tidak pernah macam-macam. Cuma pernah khilaf pelukan waktu dia terima Mas jadi pacarnya karena terlalu bahagia sampai mambuat Mas hilang kendali dan reflek memeluknya.”


“Jangan dikira pelukan, menyentuh tangan saja kalau belum halal balasannya di tusuk besi panas lho, Mas. Kecuali....” Nisa mengentikan ucapannya dan meraih tanganku kemudian menggenggamnya dengan erat.


Jika saja yang berada di hadapanku ini adalah Sheila, mungkin aku sudah memeluknya. Aku mencoba menatap mata Annisa, berharap bisa menumbuhkan sedikit cinta dari sana.


Tapi tetap saja, saat aku bersamanya, aku malah memikirkan Sheila. Pikiranku selalu saja memprotes segala takdir ini.


Aku tidak bisa begitu saja melepaskan tanganku dari genggamannya, itu pasti akan menyakiti hati Annisa.


Sebisa mungkin bibirku tersenyum, aku mencoba bersikap manis kepadanya.


“Terimakasih” Ucapku lirih.


“Terima kasih untuk apa Mas?” Kini Annisa sudah melepaskan tanganku, namun dia masih menatapku dengan penuh cinta, meskipun pasti kejujuranku ini sudah mengecewakannya.


“Untuk hati yang selalu kamu jaga agar dia menetap kepada yang semestinya. Untuk diri yang kamu jaga agar dia hanya dinikmati untuk yang haknya saja. Nisa, mau kan bantu Mas untuk mengalihkan cinta Mas dari Sheila kepadamu? Tentang malam pertama kita, bersabarlah sebentar lagi. Agar kita sama-sama bisa ‘menikmatinya’ dengan cinta. Agar ‘melakukannya’ bisa membuahkan pahala yang besar. Maafkan Mas yang sudah salah jalan dan terjerumus ke dalam hubungan pacaran. Maafkan Mas sudah lebih dulu memberikan hati kepada oranglain. Maafkan Mas yang tidak pandai menjaga diri dan hati Mas seperti kamu.”


Kutatap dia lekat-lekat, gadis ini sebenarnya manis. Hanya saja, hatiku masih dibutakan oleh cintaku kepada Sheila, sehingga aku tidak bisa melihat perempuan lain, selain dirinya.


Dia mengangguk, ada bulir bening yang meluncur dari matanya.


Tapi dia tetap tersenyum manis, sangat manis. Kurasa jika pria lain yang ada di posisiku saat ini akan jatuh cinta kepada senyumannya.

__ADS_1


“Sebenarnya Nisa sudah tahu kalau Sheila itu orang spesial untuk Mas,”


Aku sedikit kaget, dan melihat kepadanya dengan tatapan penuh tanya.


“Tahu darimana? Bahkan orangtua dan adik Mas saja tidak tahu, karena belum pernah di kenalkan kepada mereka. Apa kamu tahu dari Ajis?” Kucoba menebaknya. Karena memang yang tahu segalanya adalah Ajis.


Dia menggelengkan kepala, aku semakin penasaran. Darimana di mengetahui kalau Sheila itu mantan pacarku?


“Terus?” tanyaku lagi


“Sheila sendiri yang menceritakan semuanya kepada Nisa saat di rumah sakit. Dari cerita dia, Nisa bisa menyimpulkan bahwa Mas menikahi Nisa itu untuk menghindari Sheila. Nisa hanya jadi pelarian dari kisah cinta kalian yang gagal.”


“Kalau kamu sudah tahu sejak awal bahwa hanya jadi pelarian, kenapa kamu tidak memutuskan untuk membatalkan khitbahannya?”


“Karena Mas, adalah orang yang selalu Nisa minta di dalam doa. Nisa yakin itu adalah cara Allah untuk mempertemukan kita. Nisa tidak peduli apa pun tentang masa lalu Mas, biarlah masa lalu itu tetap menjadi milik Mas, Nisa tidak akan ikut campur, yang penting kedepannya kita sama-sama berubah lebih baik lagi. Nisa janji akan membuat Mas jatuh cinta kepada Nisa melebihi Mas mencintai Sheila.”


Aku mengerti apa yang dikatakan oleh Nisa. Rupanya, gadis ini sudah tertarik kepadaku sejak pertemuan malam itu.


Saat aku menolongnya di kegelapan malam dengan keadaan hujan lebat.


“Maksudnya? Nisa tertarik sama Mas saat pertama kali Mas datang kesini untuk mengkhitbah?”


Tanyaku pura-pura tidak mengerti, aku ingin tahu apakah dia akan jujur kepadaku tentang peristiwa malam itu?


Dia menggelengkan kepala, perlahan dia merubah posisinya dan semakin mendekatiku. Jarak kami sangat dekat, aku bahkan bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Dari alisnya yang tebal dan tertata rapi meski tanpa pensil alis, bulu matanya yang lentik, hidung mancungnya, dan bibir mungilnya yang seksi dengan olesan lipgloss.


“Mas ingat gak? setahun lalu pernah menolong seorang perempuan yang terjebak di jalanan, dimana sekitarnya hanya sawah dan perkebunan kopi, di sebuah gubuk tengah malam dan hujan yang sangat lebat, Mas memutuskan berhenti dan menolong perempuan tersebut? Perempuan itu adalah Nisa. Saat itu, Nisa sangat ketakutan karena phobia gelap, ditambah petir yang besar. Yang lebih mengenaskan, Nisa tidak bisa menghubungi siapa pun karena ponsel mati. Kedatangan Mas waktu itu, benar-benar pertolongan Allah yang sangat nyata. Nisa tidak henti-hentinya mengucap syukur.”


Dia berbicara dengan suara yang lembut dan sedikit pelan dengan tatapannya yang semakin mendalam.


Muaachhh...


Lagi, dia mencium keningku. Lalu beranjak pergi dari tempat duduknya tanpa membiarkan aku berkata apa pun lagi.


‘Anak ini sangat agresif sekali’ gerutuku dalam hati.


Tapi memang tidak salah, karena kami sudah halal. Bahkan jika mau, dia bisa saja melakukan lebih dari itu kepadaku.


Tapi aku tahu, Nisa masih menghormati keputusanku untuk tidak ‘melakukannya’ sebelum ada rasa cinta.


Aku takut jika memaksakan ‘melakukan’ itu dengannya tapi hatiku masih di bayang-bayangi Sheila, yang kupikirkan saat melakukan itu nanti adalah Sheila, bukan Annisa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2