
Bima menatap lekat lekat wajah sendu istri nya.
Kemudian membenamkan kecupan di kening wanita itu, dalam dan lama. Sebuah ciuman yang seolah mampu mengalirkan betapa bima sangat mencintai istri nya itu.
Dengan satu tangan nya yang melingkar di pinggang belakang sang istri, membuat tubuh keduanya sudah tidak berjarak lagi.
Hembusan nafas bima pun terasa hangat di wajah dinda..
Mereka saling menatap mata satu sama lain. Dan entah siapa yang memulai, kini bibir mereka kembali menempel sempurna.
Sedetik kemudian bima langsung mengangkat tubuh istri nya ala koala style sebab bima menyadari sulit mengimbangi tubuh nya yang tinggi menjulang. Apalagi dinda terus berjinjit meskipun bima sudah menundukkan mencoba mensejajarkan posisi mereka.
Beruntung nya bunda dan ayah masih berada di kamar mereka.
Ciuman panas itu berlangsung beberapa lama. Hanya beberapa detik mereka berhenti, itu pun karena mereka merasa sudah kehabisan oksigen. Dan setelah itu kembali bibir mereka beradu, menyesap dan saling bertukar saliva..
Dinda lalu menunjuk ke sebuah pintu dengan satu tangan nya karena tangan yang lain melingkar di atas bahu bima, posisi wanita itu masih berada di gendongan suami nya dan tentu saja sama sekali tidak berniat melepaskan tautan bibir mereka.
Bima yang mengerti pun langsung berjalan ke arah pintu yang di maksud.
Setelah di dalam kamar, bima membaringkan istrinya di atas kasur berukuran king size.
Tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala istri nya dengan lembut..
"Aku rindu dengan kalian berdua.." gumam nya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Dinda mengangguk pelan seraya tersenyum kecil, "aku pun merindukan mu, om.." balas dinda sambil mengusap pipi suami nya..
Bima yang duduk di sisi tempat tidur kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri..
Tiba tiba..
Tok tok tok..
Suara pintu di ketuk..
"Non, maaf bibi ganggu. Non dinda mau buat coklat hangat, ya ? Mau bibi buatkan, non ??" pekik bibi yang ternyata baru datang lalu melihat ada gelas, bubuk coklat, dan jangan lupakan ponsel dinda yang tertinggal di dapur, maka nya bibi langsung tahu siapa orang yang ada di dapur tadi..
Bima menghentikan kegiatannya, padahal bibirnya hanya berjarak satu centi lagi dari bibir sang istri..
"Nanti saja bi, biar saya yang bikin sendiri.." jawab dinda sedikit berteriak..
"Ya.." jawab dinda singkat..
Sedetik kemudian, bima kembali melancarkan aksi nya. Wajah nya kembali mendekat, dinda yang seolah tahu apa yang akan di lakukan suami nya pun langsung menutup kedua matanya..
Tok tok tok..
Huh
Bima menghela napas panjang..
__ADS_1
"Astaga..!!" gumam nya kesal sambil menjatuhkan wajah nya di bahu dinda..
"Sayang.." suara bunda memanggil..
"Ya bun.." lagi dinda menjawab dengan sedikit berteriak
"Bunda dan ayah tunggu di meja makan, ya.." ucap bunda memberitahu bahwa ini sudah waktu nya untuk sarapan pagi..
"Iya bun.."
Terdengar suara langkah kaki bunda berjalan menjauh dari depan kamar dinda..
Dinda mengusap belakang rambut suami nya..
"Kita sarapan dulu ya om.." ucap dinda,
Bima menggeleng, "Kamu saja. Aku tidak berselera.." ucap bima lesu,
"Ihh.. Ayoo, bangun.!!" dinda mencoba mendorong tubuh suami nya untuk segera berdiri..
"Aku tidak lapar. Aku hanya ingin istirahat sebentar.." kata bima yang memang dia merasa sangat lelah karena sudah 2 hari tidak bisa memejamkan mata nya. Bahkan dia pun belum makan, hanya air mineral yang menjadi sumber energi nya selama 2 hari ini.
"Baiklah. Kalau begitu om tunggu saja di sini ya, nanti aku bawakan sarapan untuk mu.." kata dinda seraya membantu bima berbaring dan menyelimuti tubuh suami nya dengan selimut tebal nya..
Dinda mengusap kepala suami nya, lalu memberikan kecupan singkat di kening bima..
__ADS_1
"Beruang kutub, We love you.."