
Beep Beep..
Pukul 2 dini hari waktu Jerman, ponsel bima terus berdering. Dinda yang mendengar suara yang mengganggu tidur lelap nya pun langsung bangun dan mencari sumber suara tersebut...
"David...." gumam dinda,
Bima yang tertidur di samping sang istri sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara bising ponselnya. Mungkin karena beberapa hari terakhir pria itu kurang tidur membuatnya malam ini tidur begitu lelap..
"Halo bos..." kata david di balik sambungan tersebut
"Kak ini aku dinda. Ada apa kak.???" tanya dinda dengan suara berbisik agar tidak mengganggu suami nya yang sedang tidur
"Sorry dinda. Aku tidak tahu. Ada kabar buruk, Tuan Yuda mengalami gagal jantung. Kondisi nya semakin kritis, sebaiknya kamu dan bos bima segera datang ke rumah sakit..."
Deg!!
Jantung bunda berdegup kencang. Seluruh tubuhnya terasa gemetar...
"B-baik kak.. Aku dan mas bima segera kesana..."
Dinda pun langsung menutup sambungan telepon dari david lebih dulu...
"Sayang..." dinda mulai membangunkan bima pelan pelan
"Yank..." katanya lagi seraya menggoyangkan bahu suami nya
"hem.." jawab bima singkat dengan mata yang masih terpejam..
"Kita ke rumah sakit sekarang. Dad Yuda ingin bertemu dengan kamu..."
Deg!!
Kalimat yang di bisikan dinda di telinga suami nya itu sontak membuat kedua netra bima terbuka sempurna..
Detik itu juga bima langsung bangun dari tidurnya...
Dengan terburu buru bima langsung mengganti baju nya tanpa mengatakan sepatah kata pun pada dinda..
Meski begitu dinda tetap mengerti...
Setelah mereka berdua selesai berganti baju, kedua nya pun langsung naik ke dalam mobil menuju rumah sakit...
*Di rumah sakit...
Deg!!!
__ADS_1
"Apa apaan ini ??? Kenapa daddy ku di tutup selimut seperti ini, hah ???" tanya bima ketika dia dan istri nya masuk ke dalam ruang perawatan dad yuda
"Dokter. Pasang kembali alat alat itu. Cepat !!! Atau kau mau rumah sakit ini tidak bisa beroperasi lagi, haha ???" bentak bima dengan tatapan membunuh pada dokter yang sedang merapikan alat alat yang tadi masih terpasang di tubuh tuan yuda..
"Bim, tenang nak. Kamu harus ikhlas, ini sudah jalan Tuhan..." Ayah mengusap punggung bima mencoba menguatkan menantu nya..
"Ikhlas untuk apa ayah ??? Aku tidak mengerti..."
"Vid, cepat cari rumah sakit lain. SEKARANG !!!" bentak bima pada david sang asisten
David tidak menjawab, dia hanya diam menunduk dengan raut wajah yang begitu sedih
"David..!! Kau dengar tidak, hah ???" bima menarik kerah baju david..
David tetap diam..
grep!!
Dinda sejak tadi hanya diam dengan lelehan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya langsung memeluk tubuh bima dari belakang..
"Sayang. Lepaskan..!!" kata bima pada istrinya
Dinda tidak menjawab..
"Lepaskan aku bilang..!!" bima tanpa sadar membentak dinda
"Dad yuda udah nggak ada mas.." gumam dinda menahan isakan tangis nya..
"Nggak. Nggak mungkin..!! Daddy ku masih ada. Lihat. Dia sedang tidur.. Lebih baik kalian semua keluar. Biarkan dad istirahat..!!"
Semua orang merasa khawatir dengan keadaan bima saat ini. Trauma masa lalu nya seolah kembali lagi. Ketika dia mulai bisa menerima daddy nya lagi, kenapa secepat ini takdir memisahkan mereka.
"Dinda. Lepaskan aku..!!" bima terus berusaha melepaskan tangan dinda yang melingkar di perutnya..
Tiba tiba...
Hushhhh....
Tanpa sadar bima mendorong tubuh sang istri hingga terhuyung kebelakang...
Semua orang yang disana sangat terkejut melihat kejadian itu. Tapi bima tidak menyadari bahwa dia hampir saja mencelakai istri dan anak nya..
"Sayang..." ayah dan bunda langsung menghampiri putri mereka..
"Aku nggak apa apa.." kata dinda tersenyum getir ketika menyadari suami nya tidak mengkhawatirkan nya. Kembali dinda mencoba mengerti...
__ADS_1
David sampai tidak habis pikir kenapa bos nya itu tidak menyadari apa yang sudah dia perbuat tadi.
"Sayang. Sebaiknya kita keluar dari sini, biarkan ayah yang bicara dengan suami mu..." ucap bunda yang sangat khawatir atas kejadian barusan
Dinda menggeleng, " nggak bun, mas bima pasti membutuhkan aku..!!" kata dinda lagi
"Tapi sayang.. Tadi kamu hampir saja jatuh karena....."
Dinda menggeleng cepat saat tahu bunda nya akan berkata apa..
"Aku tidak apa apa bun..."
Tiba tiba...
"Dad, bangun dad... Jangan seperti ini..!! Apa kau tidak lelah hanya berbaring di sini terus menerus, hem ???" bima membuka selimut yang menutup kepala dad yuda
Wajah dad yuda sudah memucat, tapi ada garis senyum di kedua sudut bibirnya.
"Aku akan sangat membenci mu kalau sampai kau tidak juga membuka mata..!! Ayolah tua bangka..!! Cepat buka mata mu..!!!"
Air mata bima sudah jatuh, tapi dia tetap denial.
Bima menyangkal, dia membohongi diri nya sendiri. Pria itu tidak mau mengakui bahwa sebenarnya dia tahu daddy nya sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Dad bangun dad. Hiks..hiks.. Jangan tinggalkan aku..!! Aku tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini..!!" akhirnya bima menyadari.. Dia menangis sambil memeluk jasad dad yuda...
Tapi sekali lagi, tanpa bima sadari ada hati seorang wanita yang kembali tergores luka...
Dinda diam saja. Dia terus berusaha untuk mengerti posisi bima saat ini.
Sementara ayah dan bunda yang melihat ekspresi di wajah putri mereka menjadi sangat sedih, betapa dinda sangat berusaha untuk tetap baik baik saja saat ini.
*3bulan kemudian...
Sudah 3 bulan sejak kepergian dad yuda. Bima kembali menjadi sosok yang dingin. Tapi kali ini lebih parah, karena bukan hanya pada orang lain bima bersikap seperti itu, tapi pada istri nya pun dia sangat dingin seolah tidak ada lagi yang bisa menjadi semangat untuk diri nya..
Hari hari di jalani dinda dengan penuh kesabaran. Dinda tidak mau menuntut banyak pada suami nya. Bahkan memeriksakan kandungan nya saja dinda tidak mengajak bima atau bahkan hanya sekedar memberitahu perkembangan bayi di perutnya saja dia takut.
Dinda mencoba terus mengerti bahwa bima seperti ini karena trauma nya. Ya, trauma masa lalu yang kembali membuat bima menutup diri dari orang orang yang ada di sekeliling nya termasuk dinda..
Seperti hari hari yang lalu, di meja makan saat ini hanya ada keheningan. Tidak ada lagi kata cinta yang di ucapkan bima, tidak ada lagi percakapan walaupun hanya sebatas menanyakan kabar satu sama lain.
Cupp..
"Aku berangkat..." ucap Bima setelah menyelesaikan sarapan pagi nya,
__ADS_1
Ya, hanya itu interaksi di antara mereka, bima tidak pernah lupa untuk mengecup kening atau kepala dinda setiap berangkat bekerja. Tapi hanya sebatas itu, tidak ada lagi percakapan bahkan sekedar memeluk saja tidak pernah lagi bima lakukan.
Setiap hari dinda menahan diri untuk tidak menangis, dan sampai pada akhirnya air mata dia tidak lagi bisa keluar.