
#Mengejar Cinta Suamiku part (De Javu)
Sudah satu minggu Annisa diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Ummi membawa pulang Annisa ke rumah kontrakan Rizki, namun dia sama sekali belum bertemu dengan istrinya.
Ummi masih menunggu kondisi Annisa benar-benar pulih untuk memberi tahukan kepadanya tentang keadaan dia yang sudah memiliki suami.
Rizki sangat merindukan Annisa, tapi dirinya tidak bisa berbuat apa pun. Bahkan hanya sekedar memeluknya saja tidak bisa.
Dia terus berdoa, semoga ingatan Annisa bisa pulih secepatnya.
Ummi dan Annisa sedang sarapan pagi bersama, Annisa yang hendak pergi kuliah terlihat sibuk menata buku-buku yang akan dibawa ke kampus.
"Hari ini pergi kuliahnya dijemput Fatur lagi?" Tanya Ummi.
"Iya, Ummi."
"Apa kamu nggak ingat sama sekali tentang statusmu, Nak?"
"Maksudnya apa? Ummi selalu tanya hal yang sama tanpa menjelaskan apa pun, membuat Nisa jadi bingung."
Suara klakson mobil sudah terdengar di halaman depan, Fatur sudah tiba untuk menjemput Annisa.
"Sudah cepat berangkat, yang jemput sudah datang." Suruh Ummi kepada Annisa.
Dia lalu mencium tanggan Umminya dengan khidmat. Anaknya kamudian berlalu dibalik pintu.
"Assalamualaikum." Ucap Annisa kepada Fatur saat membuka pintu mobil.
"Waalaikumsalam. Cerah banget hari ini."
"Memang biasanya nggak, ya?"
"Biasanya juga cerah, tapi hari ini lebih cerah, hehe." Annisa tersenyum mendengar gombalan dari Fatur.
Tanpa mereka sadari, Rizki sedari tadi mengintip dari balik pohon, melihat istrinya dengan pria lain membuatnya sangat terluka, apalagi Annisa bercanda tawa dengannya, semakin membuat Rizki sangat merasa kesal.
Memperhatikan Nisa dari jauh, bisa sedikit mengobati kerinduannya. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
Pernah suatu hari Rizki menyapa Annisa, tapi dia terlihat ketus kepadanya. Nisa terlihat tidak nyaman saat didekati oleh Rizki, hal itu membuat dia menyerah dan memilih melihat Annisa dari jauh.
Mobil sport hitam yang dikendarai oleh Fatur melaju meninggalkan rumah. Menyisakan kepulasan asap yang seketika hilang diterpa angin.
Rizki masuk ke rumah menemui Ummi, di sana dia menumpahkan segala isi hati.
Melihat menantunya tersiksa, hati Ummi mencelos.
"Sebaiknya kita katakan kepada Annisa perihal hubungan kamu dengannya."
"Apa Nisa akan percaya, Ummi?"
"Ada buku nikah dan foto-foto pernikahan kalian, juga foto terakhir kali sebelum musibah itu terjadi. Nanti biar Ummi yang jelaskan."
"Iki takut itu akan membuat Nisa jadi nggak nyaman, Ummi."
"Tapi kamu juga tidak bisa bersembunyi terus. Kalau terus-terusan begitu, bagaimana kamu bisa membantu dia mengembalikan ingatannya?"
Rizki termenung, dia menyeka wajah menghapus kekalutannya.
"Baik Ummi, Iki setuju. Pulang kuliah Nisa sore nanti, mari kita bicarakan."
Ummi mengangguk menyetujui arahan Rizki. Nisa tidak boleh terus dibiarkan dengan lelaki lain.
Meskipun mereka hanya berteman, khawatir lama kelamaan akan membuat Annisa menjadi nyaman dan akan melupakan Rizki selamanya.
Terlebih, Fatur sangat menyukai Annisa. Meskipun Fatur sudah mengetahui kebenarannya bahwa Annisa dan Rizki sudah menikah, tapi dia seolah tidak perduli.
Fatur justru memanfaatkan situasi ini untuk menggantikan Rizki di hati Annisa.
***
Setibanya di kampus, Fatur membukakan pintu mobil, Annisa pamit dan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya.
"Tunggu..." Ujar Fatur mengentikan langkah Annisa yang hendak masuk kelas.
Dia berjalan ke arah Annisa, saat tiba di hadapannya, dia berjongkok mengikatkan tali sepatu Annisa yang terlepas.
Hal itu membuat pikiran Nisa seolah de javu. Dalam ingatannya terlintas momen yang sama di sebuah tempat wisata, laki-laki itu mengikatkan tali sepatu Annisa dan mengecup keningnya.
Namun, Annisa tidak mengingat siapa lelaki itu. Dia berusaha mengingat karena bayangan itu sangat nyata baginya, Annisa masih terus berusaha menelaah setiap momen dalam hidupnya, mencoba menemukan sosok yang hadir dalam bayangan itu.
Namun, kepalanya justru merasa kesakitan. Sangat sakit! Hingga membuatnya tidak sadarkan diri.
Fatur kaget mendapati tubuh Nisa yang ambruk, untungnya dengan sigap dia mampu menangkap tubuh Annisa dan segera menggendongnya kembali ke mobil.
Di dalam mobil, Annisa terus memegangi kepalanya yang terasa menusuk. Fatur khawatir dan bertanya apakah akan ke rumah sakit?
Tapi, Annisa menolak. Dia minta tolong kepada Fatur agar diantarkan pulang.
"Apa kamu belum sarapan?"
"Sudah." Jawab Nisa dengan lemah
"Lantas kenapa bisa sampai pingsan? Apa kamu sakit?"
__ADS_1
Annisa menggelengkan kepala.
"Aku berusaha mengingat sosok itu."
Fatur mengernyit, tidak mengerti dengan ucapan Annisa.
"Sosok itu? Apakah mungkin kamu sudah mengingat momen-momen kita dulu?"
Fatur merasa khawatir Nisa akan mengingat sosok Rizki, dia lalu mencari alasan agar Nisa menyangka bahwa sosok itu adalah dirinya.
Annisa terdiam, dia berusaha menenangkan diri dan pikirannya. Meski Fatur berkata begitu, namun hatinya seolah berkata sebaliknya.
Sosok itu? Siapa sebenarnya orang yang dia lupakan? Mengapa hatinya terasa sakit saat membayangkan sosok itu padahal sama sekali dia tidak mengingatnya.
Nisa menarik nafas dan memejamkan matanya untuk mencari ketenangan.
Fatur terlihat ketakutan, dia berharap agar Nisa amnesia selamanya. Dia takut akan kehilangan Annisa jika ingatannya sudah kembali, apalagi kini hubungan mereka semakin dekat, dia tidak rela jika kedekatan ini sia-sia.
Sesampainya di rumah, Fatur memanggil Ummi dan meminta tolong memapah Annisa karena dia menolak di gendong. Annisa takut berdosa karena mereka bukan muhrim.
Ummi dengan sigap memboyong Annisa ke dalam kamar, meski khawatir namun Fatur harus pergi untuk mengurus pekerjaannya.
Ummi membaringkan Annisa di kamar, dengan penuh kasih sayang, Ummi terus mengelus kepala anaknya yang terlihat kesakitan.
"Apa yang kamu pikirkan sampai kesakitan begini, Nak?"
"Tadi di kampus tali sepatu Nisa lepas, Ummi. Fatur membantu mengikatkannya, hal itu membuat bayangan di pikiran Nisa.
Nisa merasa pernah berada di momen itu dengan seorang pria di tempat wisata yang banyak bunga-bunga, dan bangunan di atas air, tempat itu persis seperti Venezia, padahal Nisa belum pernah ke Venezia."
Nisa mencoba membagi kebingungan kepada Umminya. Ummi beranjak dari ranjang, dia mengambil kamera yang saat itu di bawa oleh Annisa saat berwisata dengan Rizki di Bogor.
Ummi membuka salah satu foto Annisa yang berada di kebun bunga, di belakangnya berdiri bangunan mewah yang di apit oleh kanal air.
"Apa tempat itu seperti dalam foto ini?"
Annisa meraih kamera untuk melihat foto yang ditunjukan oleh Ummi.
Dia tersentak saat melihat foto itu sama persis dengan yang ada dalam bayangannya.
"Ini Nisa kan, Ummi? Kapan Nisa ke tempat ini? Tempatnya sama persis dengan bayangan yang sekilas ada di ingatan Nisa."
Ummi masih bungkam, dia beranjak keluar untuk mengambil buku nikah Annisa dan Rizki, juga tidak lupa album foto yang berisi momen pernikahan mereka.
Annisa yang masih kebingungan mencoba mengingat kembali sesuatu yang dia lupakan, tapi hal itu malah membuat kepalanya semakin sakit.
Ummi datang, dia memberikan buku nikah dan album foto itu kepada Annisa.
Bersamaan dengan saat Nisa melihat foto itu satu persatu, Ummi menceritakan segalanya tentang hubungan Annisa dan Rizki.
Sampai saat kepergian mereka ke Bogor yang menyebabkan dirinya celaka hingga membuat kehilangan ingatannya.
Annisa shock, dia masih belum percaya dengan apa yang dilihat dan didengar olehnya. Tapi, semua bukti ini valid, bukan rekayasa.
Dia menatap foto Rizki saat di tempat wisata itu, postur tubuhnya sama persis dengan sosok yang ada dalam bayangan Annisa.
Benarkah lelaki itu suaminya? Lelaki yang tempo hari mendekatinya namun diacuhkan begitu saja.
Annisa menangis, dia berusaha keras mengingat suaminya, namun nihil. Ummi memeluk Annisa untuk menenangkan.
"Sekarang, kamu harus kembali ke kodratmu sebagai istri. Malam nanti, Ummi akan menyuruh suamimu pulang ke sini. Meski belum mengingatnya, perlakukan dia dengan baik."
"Ummi.. Apakah Nisa akan berdosa karena dekat dengan lelaki lain sementara Annisa sudah punya suami?"
"InsyaAllah tidak, Nak. Karena kamu sedang dalam keadaan sakit dan kehilangan akal karena separuh ingatanmu hilang, Allah maha pemaaf."
Annisa mengangguk, pelukan Ummi membuatnya merasa tenang.
"Setelah suamimu kembali, Ummi juga harus kembali ke kampung. Ingat pesan Ummi baik-baik ya, Nak."
Ummi memegang kedua pipi Annisa, menegaskan perkataannya. Annisa mengangguk.
Nisa kembali melihat foto-foto kebersamaannya dengan Rizki. Berharap, dia bisa segera mengingat suaminya.
Nisa membayangkan sehancur apa hati suaminya karena dia tidak bisa mengingatnya.
"Maafkan aku." Lirihnya dalam hati. Annisa terpukul karena merasa bersalah kepada suaminya. Kenapa bisa, dia sampai melupakan orang penting dalam hidupnya.
Dari foto-foto ini, terlihat jelas bahwa mereka saling mencintai. Tapi, bagaimana bisa sosok suaminya sama sekali tidak bisa diingat.
Annisa beristighfar beberapa kali merasakan kepalanya yang semakin sakit.
***
Malam hari sepulang bekerja, Rizki datang membawa tas besar berisi baju dan barang-barangnya.
Sebelum kembali ke rumah ini, dia tinggal di kosan dengan Ajis.
"Nisa sudah tidur, tadi siang dia pingsan. Fatur mengantarkannya ke sini." Rizki kaget mendengar orang yang dicintainya pingsan.
"Apa sekarang dia baik-baik saja, Ummi?"
"Dia baik-baik saja. Ummi sudah menceritakan semua tentangmu kepadanya."
__ADS_1
"Apakah Nisa percaya?"
"Tentu saja percaya, semua bukti itu sangat kuat."
Ummi lalu menceritakan semua yang dialami Nisa tadi siang.
"Iya, Ummi. Rizki pernah mengikatkan tali sepatu Nisa saat di tempat wisata itu." Rizki menangis saat mengingat kembali momen kebersamaannya dengan Nisa.
"Besok Ummi harus pulang lagi ke kampung. Titip Nisa, ya. Kamu harus sabar dalam membantu dia memulihkan kembali ingatannya."
"Terimakasih banyak Ummi, tolong tetap doakan kami agar mukjizat datang memulihkan kembali ingatannya." Ummi mengangguk.
"Sudah malam, sekarang kamu pergi ke kamar, ya. Temani Nisa dan istirahatlah."
Rizki mengambil tas dan membawanya ke kamar. Dengan ragu, dia mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban.
"Boleh Mas masuk?"
Tetap hening.
Mungkin Nisa sudah tidur.
Rizki membuka pintu kamar yang tidak di kunci.
Terlihat Annisa yang sedang berbaring, namun dia belum tidur.
"Bisa kita bicara, Mas?"
Setelah mengimpan tas di sofa kamar, Rizki menghampiri Annisa.
"Tentu, apa yang mau kamu sampaikan?" Tanya Rizki penuh kelembutan.
Rizki senang kini Annisa berada lagi di sampingnya.
Annisa bangun dan duduk di tepi ranjang menghadap ke arah suaminya.
"Aku akan menjalankan tugasku sebagai seorang istri dengan baik, tapi aku punya satu permintaan kepada anda."
Ucap Nisa berbicara dengan formal membuat Rizki merasa kehilangan sosok istrinya yang ceria, konyol dan suka menggoda dirinya.
Nisa yang sekarang sangat berbeda, dia terlihat dingin dan tidak suka kepadanya.
"Permintaan apa itu?"
"Tolong jangan menyentuhku. Meskipun anda suamiku, tapi saat ini anda orang asing. Aku sama sekali tidak bisa mengingat tentang anda. Dan akan sulit bagiku melayani lelaki yang terasa asing di hidupku. Tidak mudah 'melakukannya' tanpa rasa cinta."
Rizki menghela nafas, keadaan ini terasa seperti karma baginya.
Dia teringat pernah mengatakan hal yang sama kepada Annisa saat awal pernikahan mereka.
"Tidak masalah, kita masih punya banyak waktu. Sekarang kamu istirahat, ya."
Ucap Rizki menirukan ucapan Nisa pada malam itu, malam pertama mereka, namun Rizki menolaknya mentah-mentah.
Mendengar perkataan itu, membuat pikiran Nisa kembali memunculkan bayangan di momen yang sama.
Momen saat dirinya mengucapkan hal yang sama kepada suaminya. Annisa memicingkan mata, berusaha mengingat kembali saat itu.
Alih-alih mendapatkan ingatan tentang hari itu, kepalanya justru malah terasa sakit lagi.
Nisa segera membaringkan diri di kasur dan memilih untuk tidur. Pikirannya sudah lelah, seharian ini otaknya dipaksa untuk mengingat banyak hal, hingga membuat kepalanya terasa sangat sakit. Annisa memejamkan mata dan tertidur.
Setelah memasukan seluruh baju dari dalam tas ke lemari, Rizki merenung di balkon kamar, menatap istrinya yang sudah terlelap.
Keadaan benar-benar berbalik, kini dirinya tidak di inginkan oleh Annisa, sama persis seperti dulu, saat dia tidak menginginkan Annisa.
Rizki menghampiri Annisa yang sudah pulas. Dia duduk di tepi ranjang, menatap istrinya dalam-dalam, sama seperti dulu saat Annisa menatapnya.
Rizki membelai rambut istrinya, dia menceritakan momen bahagia dengan Annisa.
Mendengar suara Rizki, Annisa terbangun, namun dia berpura-pura tidur, mendengarkan semua yang dikatakan suaminya.
Sesekali Rizki menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
"Mas rindu, Nis.. Rindu Nisa yang ceria, yang konyol, yang manja, yang paling bisa membuat Mas tertawa."
Tangis Rizki pecah di hadapan Annisa yang dikiranya masih lelap, padahal Nisa mendengar semuanya sejak tadi.
"Cepat kembali sayangku, Mas rindu."
Annisa yang mulai merasa tidak nyaman karena Rizki terus membelai rambutnya, berpura-pura menggeliat dan berpindah posisi membelakanginya.
Kini Rizki menyadari bahwa istrinya sudah terjaga, dia tidak mau membuat Nisa menjadi tidak nyaman.
Rizki memilih mundur dan pergi ke balkon untuk menenangkan pikiran.
Di langit , bintang bertaburan saling berkerlip, bulan sabit semakin memperindah pemandangan langit malam ini.
Di keheningan ini, Rizki berdoa semoga Allah mengirimkan keajaiban kepada Annisa agar secepatnya pulih dan kembali mengingat dirinya.
Dia sangat tersiksa karena merindukan Annisa, dia sangat ingin memeluknya dan meminta maaf karena tidak bisa menjaganya dengan baik sehingga membuat Annisa celaka.
Rizki terlihat sangat lelah, dia kemudian berbaring dan tertidur di sofa. Annisa yang sedari tadi mendengarkan setiap gerak-gerik Rizki, menyadari bahwa kini suaminya sudah tertidur.
__ADS_1
Dia mengambil selimut, dan menutupi tubuh Rizki agar tidak kedinginan. Matanya menatap dalam ke arah Rizki seolah merasa bersalah karena sudah bersikap sinis kepadanya.
Bersambung..