
Ceklek..
Pintu kamar terbuka memperlihatkan chacha dengan muka bantal nya dan sangat terlihat jelas betapa lelah nya wajah wanita itu. Bagaimana tidak lelah, diki terus menggempurnya semalaman penuh. Bahkan ketika menjelang pagi pria itu masih saja meminta jatahnya.
Hoaammm...
Chacha menguap di depan ibu...
"emm bu, kenapa ada di sini ??" tanya chacha saat melihat orang di depan nya
Ibu tersenyum.. "ayo makan dulu, dad sudah menunggu kalian di bawah.." ujar ibu tanpa menjawab pertanyaan chacha
Setelah mengatakan itu, ibu pun kembali turun ke lantai 1..
*Di dalam kamar...
"Kak.. Bangun.." ujar chacha seraya mengguncang tubuh sang suami pelan..
"Ayo ih. bangun.. Di bawah ada dad bara sama ibu nungguin kita..." sambung chacha lagi masih duduk di sisi tempat tidurnya..
eughhh...
Diki merentangkan kedua tangannya sambil melenguh..
"5 menit lagi, yank.." katanya tanpa berniat membuka mata..
"No..!! Ayo, bangun.." kali ini chacha menarik paksa agar suami nya itu mau membuka mata nya..
"okay okay... Mandi bareng yuk.." ajak diki yang kini sudah duduk dan menyandarkan kepalanya di headboard..
"Gak mau..!! Chacha capek tahu..!!" tolak chacha dengan wajah yang di tekuk..
Diki mencubit pipi chacha gemas.. "Biar lebih efisien waktu, sayang.." katanya lagi dengan tersenyum menggoda sang istri
"Ck..." chacha berdecak lalu meninggalkan diki menuju kamar mandi nya..
"Sungguh menggemaskan.."
*Di meja makan..
Dad bara dan ibu menemani anak dan menantu nya sarapan..
"Jadi kapan kalian akan berangkat bulan madu ??" tanya dad bara di sela sela sarapan diki dan chacha..
"Aku sih terserah chacha, dad. Kapan saja aku ready.." jawab diki menaik turunkan alisnya melihat sang istri..
"Gimana sayang ?? Kapan mau berangkat ??" kini dad bara bertanya pada putri nya..
"Minggu ini dad, memang nya kenapa ??" tanya chacha
"Sayang, sebenarnya dad ingin meminta izin kamu..."
Chacha menghentikan kegiatan sarapan nya, "Izin ??" beo chacha..
"Iya, dad akan membawa ibu mu untuk tinggal bersama dad di Jerman.."
Wajah chacha tiba tiba berubah sedih..
Ibu dan diki pun hanya bisa diam menyimak dan membiarkan mereka saling bicara, sebab ini pembicaraan antara ayah dan anak perempuan nya.
__ADS_1
"Dad tidak bisa meninggalkan perusahaan induk terlalu lama, sayang. Kamu tahu sendiri kakak mu, riko. Dia tidak bisa di andal kan.." sambung dad bara lagi..
Chacha masih diam...
"Dad akan membawa ibu untuk menetap di sana. Mungkin akan kembali ke tanah air sesekali.."
Diki menggenggam tangan sang istri ketika menyadari wanita nya itu hanya diam sejak tadi..
Chacha menoleh ke arah suami nya sekilas, lalu kembali menatap manik mata daddy nya..
Chacha tersenyum.. "Dad, sekarang ibu tanggung jawab daddy. Chacha nggak punya hak untuk melarang dan menahan ibu agar tetap di sini bersama chacha. Dad tidak perlu meminta izin chacha. Sebagai suami dad sangat berhak atas ibu.."
Dad bara mengembangkan senyumnya.. "Terimakasih sayang.." dad bara menggenggam tangan chacha yang lain..
"Tapi dad harus berjanji sama chacha, jangan pernah lagi menyakiti dan membuat ibu meneteskan air mata nya karena daddy..."
"Iya sayang. Dad janji akan selalu membuat ibu mu bahagia dan tidak akan pernah menyakiti nya lagi.."
Nyonya anetha meneteskan air mata haru. Akhirnya impian nya selama ini untuk berkumpul sebagai keluarga yang utuh sudah terwujud.
Kebahagiaan datang setelah lebih dari 20 tahun penantian nya. Kesabaran antara ibu dan putri nya itu akhirnya berbuah manis. Chacha yang tidak pernah bertanya akan sosok sang ayah karena dia takut menyakiti hati ibunya. Sementara ibu menutupi luka nya agar chacha, putri nya itu tidak khawatir dan sedih.
Begitulah ibu dan chacha, kedua wanita yang akhirnya menemukan kebahagiaan mereka masing masing. Ibu dengan cinta lama nya, sementara chacha dengan pria yang tidak sengaja di temui nya karena sebuah insiden kecelakaan di jalan.
Tentang jodoh, memang siapa yang tahu. Maka jika dia memang jodoh, dia akan kembali dengan cara yang menakjubkan. Maka jika dia memang jodoh, dia akan datang dengan cara yang tidak di sangka sangka.
*
*Sementara itu masih di sebuah villa...
"Kamu mau kemana ??" tanya dinda ketika melihat suami nya kembali memakai jaket..
"Keluar sebentar yank, david menunggu ku di depan..." ucap bima..
Bima tersenyum lalu menghampiri sang istri..
"Tunggu di sini saja ya, di luar dingin..." katanya seraya menarik selimut sampai sebatas dada istri nya..
Wajah dinda kembali di tekuk.. "Aku janji hanya sebentar.. Okay ??" katanya dengan sangat lembut..
"Janji ya sebentar ??" dinda mengacungkan jari kelingking nya..
Bima mengangguk pelan lalu menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking mungil dinda..
Setelah itu bima pun segera keluar dari villa itu menuju salah satu mobil dimana asisten nya itu berada..
"Ada apa ??" tanya bima langsung tanpa basa basi seperti biasanya..
"Bos, ada kabar buruk. Baru saja dokter keluarga havidi yang berada di Jerman mengabarkan bahwa Tuan yuda saat ini kondisi nya kritis.."
Bima melebarkan kedua matanya..
"Apa maksud mu ?? Bagaimana bisa ???"
"Salah seorang ART disana mengatakan mereka menemukan tuan yuda tergeletak di kamar mandi.." sambung david lagi menjelaskan kronologi yang tadi dia dengar dari pekerja di mansion tuan besar nya..
"Siapkan penerbangan ku hari ini juga.."
"Baik bos.."
__ADS_1
*
Setelah mengatakan itu bima pun kembali masuk ke dalam villa..
"Sayang..." dinda memanggil suami nya..
Bima kembali tersenyum, tapi raut wajah nya menunjukkan sesuatu yang aneh..
"Ada apa ??" tanya dinda seraya menepuk sisi tempat tidur nya..
Bima pun duduk di samping sang istri..
"Tidak ada apa apa, sayang.." jawab nya berbohong..
Dinda menangkup kedua pipi suami nya..
"Lidah mu bisa berbohong, tapi mata mu tidak bisa..!!" kata dinda menatap lekat manik mata indah milik sang suami..
Bima tiba tiba menjatuhkan kepalanya di bahu sang istri..
Dinda pun reflek mengusap punggung suami nya pelan.. "Katakan sayang. Ada apa ?? Jangan di pendam sendiri. Aku ingin berbagi segala nya dengan mu. Susah senang. Sedih Bahagia. Aku ingin merasakan nya bersama mu.." kata dinda panjang lebar..
"Sayang, seperti nya aku harus pergi.." kata bima dengan raut wajah sedih..
"Dad yuda kritis. Sepertinya dia jatuh di kamar mandi..."
Deg!!
Tiba tiba saja air mata dinda sudah menggenang di pelupuk matanya..
"Aku ikut..!!"
"Jangan sayang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan anak kita.." jawab bima seraya mengusap perut dinda..
"Aku ikut..!!" dinda kembali mengulangi ucapan nya tadi..
"Tapi...."
"Aku ikut..!!" Belum sempat bima menyelesaikan kalimat nya, dinda langsung memotong.
"Okay sayang. Tapi kita harus konsultasi dulu ya ke dokter kandungan. Apakah kamu boleh melakukan penerbangan jarak jauh..." kata bima seraya merapikan anak rambut yang menutupi ajah sang istri..
*
*Hari keberangkatan..
Setelah melakukan konsultasi pada dokter obgyn keluarga havidi, dinda pun di izinkan untuk melakukan penerbangan karena usia kandungan nya juga sudah lebih dari 14 minggu. Usia kandungan ini sudah cukup aman bagi ibu hamil untuk naik pesawat dan usia kandungan ini juga ibu hamil sudah melewati masa masa mual dan sudah lebih kuat secara fisik.
Bukan hanya bima dan istrinya yang berangkat ke Jerman hari ini. Ayah dan bunda pun setelah mengetahui kabar buruk ini langsung meninggalkan semua pekerjaan mereka.
*Di pesawat..
"Are you okay, sayang ??" tanya bima melihat raut wajah sang istri yang sangat tegang..
Dinda mengangguk.. "Aku hanya sedikit mual, mungkin karena sudah lama tidak naik pesawat.." ucap dinda..
"Sebentar..." kata bima lalu menekan satu tombol untuk memanggil pramugari disana..
"Ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu ??" tanya nya..
__ADS_1
Bima pun meminta pramugari tersebut memanggil dokter obgyn wanita yang di sengaja di ikut sertakan nya dalam perjalanan ini. Sebab bima tidak mau mengambil resiko, dokter obgyn itu harus standby 24 jam selama mereka di pesawat..
"Ada apa, tuan ??" dokter obgyn wanita itu pun sudah berada di ruangan privasi untuk bima dan istrinya di dalam pesawat tersebut..