Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 7 (Kecelakaan)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 7 (Kecelakaan)


Waktu berputar terasa cepat. Sepuluh hari menjelang pernikahan, aku masih sibuk bekerja.


Cuti menikah yang diberikan hanya tiga hari menuju hari-H, jadi aku tidak bisa banyak membantu dalam persiapan pernikahan di Cirebon.


Untungnya, keluargaku dan keluarga Annisa memahami situasi di sini.


“Ki, lu di panggil pak Hendra.” Kata salah seorang temanku yang sama-sama teknisi mesin.


Sedangkan pak Hendra adalah atasanku, biasanya dia yang mengatur pembagian tugas antara aku dan yang lain.


Dia sudah paham keahlian dari mekaniknya masing-masing, biasanya jika dipanggil seperti ini, ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


“Okesiap, makasih, ya.” Segera aku berlalu menghadap pak Hendra dan meninggalkan temanku.


Tok.. Tok.. Tok


“Permisi, Bapak manggil saya?” Sapaku setiba di ruangan pak Hendra.


“Iya, Ki. Bisa tolong pergi ke cabang yang kedua, betulkan mesin di line 4? Urgent soalnya mesin di sana lagi di pakai project untuk deadline minggu depan. Harusnya si Pito yang membantu tim di sana untuk memperbaiki. Tapi, hari ini dia gak masuk kerja, lagi sakit.” Ucap pak Hendra.


“Baik, Pak, saya segera kesana sekarang.”


“Bawa mobil perusahaan saja, Ki. Ambil akses jalan tol biar lebih cepat, soalnya dikejar waktu.” Pak Hendra memberi arahan lagi sambil menyodorkan kunci mobil dan STNK-nya.


“Surat jalan sudah disiapkan, kamu tinggal ambil di resepsionis bawah, ya.” Tambahnya kemudian.


“Baik, Pak. Saya pamit dulu ya.” Tanpa menunggu lama, akupun menuju lobi bawah dan mengambil surat jalan.


Setelah mempersiapkan beberapa peralatan, aku menuju parkiran mobil lalu pergi menuju tempat yang di tuju.


Seperti kata pak Hendra, aku mengambil akses ke jalan tol, karena di jam-jam sekarang, jalanan biasa rawan dengan kemacetan.


Mobil mini bus hitam ini terus melaju membawaku menyusuri jalan tol yang lengang.


Tiba-tiba saja aku teringat ibu dan bapak. Pasti mereka sedang sibuk mengurusi segala keperluan untuk pernikahanku. Begitupun dengan Annisa dan keluarganya.


Sudah sedewasa ini, tapi aku belum bisa membahagiakan ibu dan bapak. Belum bisa membuat mereka bangga.


Sudah sedewasa ini, namun belum ada pencapaian yang bisa aku banggakan di depan mereka. Bahkan, sekedar mengumpulkan modal untuk membuka usaha sendiri saja, aku belum bisa.


Ibu, bapak, doakan anakmu ini semoga kelak bisa membuat kalian bangga dan bahagia.


Murotal surat Ar-Rahman menemani sepanjang jalan menuju ke anak perusahaan tempatku bekerja.


Tiba-tiba saja mobil yang kukendarai mengalami pecah ban, dan mengakibatkan mobil sedikit oleng. Untungnya, aku melaju dalam kecepatan yang tidak terlalu tinggi.


Tiba-tiba dari belakang, terlihat sebuah mobil kolbak bermuatan banyak, melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mobilku, sebisa mungkin kuatur posisi mobil yang oleng akibat pecah ban.


Namun tiba-tiba.. Bruuukkkkkk....!! Duarrrr....!!


Mobilku terpental akibat tabrakan yang cukup keras dengan mobil kolbak tersebut, dan tiba-tiba semuanya gelap.


***


Sebuah ambulance melaju dengan kecepatan tinggi membawa tiga korban kecelakaan di ruas tol arah bogor. Salah satunya, Rizki.


Akibat kecelakaan tersebut, mobil kolbak putih yang bermuatan overload mengalami rusak parah, mobil mini bus hitam yang di kendarai Rizki pun mengalami hal yang sama.


Pihak polisi segera menghubungi keluarga Rizki dan memberitahukan bahwa dia telah dibawa menuju salah satu rumah sakit di Jakarta.


***


Sementara itu, di Cirebon.


Bapak dan ibu terlihat khawatir, terlebih ibu yang tidak berhenti menangis sejak mendapatkan kabar buruk dari pihak kepolisian.


Mereka lalu segera bergegas pergi ke rumah sakit dimana Rizki berada.

__ADS_1


Di perjalanan, Syauqina yang merupakan adik dari Rizki tidak berhenti menenangkan ibu. Mereka berusaha tegar sambil berdoa agar Rizki baik-baik saja.


Annisa dan ummi pun tidak kalah kagetnya, saat di beritahu oleh bapak tentang musibah yang menimpa anak Rizki.


Mereka pun berlalu menyusul ibu dan bapak untuk memastikan kondisinya.


Di dalam mobil yang dikendarai ummi, Annisa tidak berhenti berdzikir.


“Semoga mas Rizki tidak kenapa-kenapa ya, Ummi.” Nada suaranya terdengar sangat khawatir.


“Kita berdoa saja ya, nak. Semoga tidak ada hal serius yang terjadi kepada Rizki”


“Iya, Ummi. Bapak dan Ibu pasti sangat khawatir sekali. Qodarullah, musibah datang saat pernikahan kami sudah dekat. Tidak masalah dengan apapun, yang terpenting mas Rizki baik-baik saja.” Sahut Annisa dengan muka yang terlihat sangat panik.


***


Setelah menempuh lima jam perjalanan, akhirnya Annisa dan ummi Yuna tiba di rumah sakit. Di sana, sudah ada bapak, ibu dan juga adik Rizki satu-satunya.


Mereka sedang menunggu Rizki di ruang operasi. Menurut dokter, dia mengalami pendarahan di otak dan harus segera di operasi.


Annisa terhenyak tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Air mata mengalir begitu saja.


Di dalam dzikir dan doa, dia tidak henti menyebut nama calon suaminya.


***


Dua jam berlalu, semua menunggu dengan cemas. Dalam tangis yang diiringi doa, mereka memiliki harapan yang sama, semoga operasi berjalan lancar.


Tidak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar diikuti para perawat yang memboyong ranjang pasien menuju ruang perawatan.


Semua yang menunggunya segera menghampiri dokter dan bertanya mengenai keadaan Rizki.


“Operasi berjalan lancar, beruntung hanya ada satu titik pendarahan di otaknya, sehingga tidak memiliki resiko yang tinggi. Namun, sepertinya pemulihan akan cukup lama. Mengingat, Rizki terpental cukup jauh dari tempat kecelakaannya.” Dokter menjelaskan dengan detail kepada pihak keluarga.


Ada lega di hati mereka, namun rasa khawatir belum sepenuhnya hilang, karena mereka belum melihat sama sekali kondisi Rizki.


Dokter mempersilakan mereka untuk menunggu Rizki di ruang perawatan yang berada di lantai enam.


Di ruang perawatan, semua orang berkumpul. Tubuh Rizki yang dibaluti banyak kassa, membuat ibu semakin terpukul.


Kondisinya begitu lemah, belum ada tanda-tanda dia akan sadar. Selang oksigen membantu pernafasan Rizki agar tetap stabil, dan jarum infus menancap di tangannya membantu pemeliharaan cairan di dalam tubuh, selain itu, infus di gunakan sebagai media untuk memasukan obat ke pembuluh darah.


Bapak duduk di samping Rizki sambil terus membacakan dzikir di telinganya.


Ibu terlihat lelah dan bersandar di kursi tamu dengan dzikir dan berdoa yang tiada henti.


Sedangakan ummi Yuna menemani ibu untuk sedikit menghiburnya bahwa semua akan baik-baik saja.


Di tempat lain, Annisa dan adiknya Rizki yang bernama Syauqina tengah sibuk mengurus administrasi di rumah sakit tersebut.


Usia Nisa dan Syauqina hanya terpaut dua tahun saja, membuat mereka akrab selayaknya teman dekat.


Beberapa kali, Nisa memeluk calon adik iparnya tersebut untuk menenangkan, juga menyemangatinya.


“Seperti yang Qina bilang ke Mbak, kalau mas Rizki adalah laki-laki yang kuat. Dia pasti akan segera sadar dan pulih” Hiburnya sambil mengelus penuh kasih calon adik iparnya tersebut.


Setelah selesai mengurus administrasi, Annisa dan Qina hendak menuju ruang perawatan, namun langkah mereka terhenti saat mendengar suara seorang wanita yang ditemani seorang laki-laki menanyakan keberadaan Rizki kepada resepsionis.


“Mbak, atas nama Rizki Hanif Arroyan yang kecelakaan tadi siang di ruang perawatan mana, ya?” tanya dia sambil terisak.


Nisa dan Qina pun saling berpandangan. Belum sempat pihak resepsionis menjawab, Annisa lalu menyebutkan bahwa mereka adalah pihak keluarganya.


“Saya Sheila, dan ini Ajis, kami temannya Rizki. Kondisinya sekarang bagaimana,? Apa dia baik-baik saja?” tanya dia dengan penuh khawatir.


“Mas Rizki belum sadarkan diri, Mbak” Jawab Annisa,


“Mbak ikut saja dengan kami, untuk melihat langsung kondisinya.” tambahnya lagi.


Mereka pun berjalan bersama menuju ruang perawatan.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Annisa memperhatikan Sheila yang terlihat sangat khawatir.


Nisa merasa, bahwa ada sesuatu antara dia dan calon suaminya, namun Nisa tidak mau su’udzon, dia langsung beristighfar atas prasangkanya.


“Maaf, kalau boleh tahu, kalian siapanya Rizki? Kebetulan saya sahabatnya sekaligus teman kost. Rizki sering cerita, tapi saya belum pernah sama sekali bertemu keluarganya.” Ajis mencoba memecah keheningan tatkala mereka berada di dalam lift untuk menuju ruang perawatan di lantai enam.


“Saya, Hajar Syauqina, adiknya Mas Rizki. Dan ini, Mbak Annisa, calon istrinya.” Jawab Qina memperkenalkan diri.


Sontak Sheila langsung melihat ke arah Annisa, memperhatikan wajahnya dalam-dalam.


Hatinya semakin hancur. Bukan saja kabar bahwa orang yang dicintainya terbaring lemah karena kecelakaan, namun kenyataan bahwa kini, calon istri dari orang yang dicintainya berada tepat di depan mata.


Kendati begitu, dengan cepat dia mengendalikan diri, dan menata ulang perasaannya. Dia sadar bahwa dirinya pun sudah menjadi istri orang lain.


Namun, kenyataan bahwa Rizki benar-benar akan menikah, menjadi hal yang paling di sesali. Karena dia sudah tidak punya lagi kesempatan untuk kembali ke pelukan Rizki.


***


Di ruang perawatan.


Bapak dan Ibu pamit ke luar untuk cari makan, sekaligus memberi ruang agar teman-teman Rizki tidak canggung saat menengok anaknya.


Ummi Yuna sudah kembali ke Cirebon, karena di sana ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.


Sementara Annisa dan Syauqina, diminta ibu untuk tetap menemani Rizki.


Sheila menangis sejadi-jadinya. Dia tidak henti mengucapkan maaf. Dan mendoakan agar Rizki cepat sadar.


Ajis menepuk-nepuk pundak Sheila untuk menenangkan.


Terlihat tegar, namun sebenarnya tidak. Dari sorot mata, terlihat Ajis menahan tangis melihat kondisi sahabatnya.


Sheila terus mengajak ngobrol Rizki, meski dia tahu tidak akan ada respon. Tapi, dia berharap Rizki bisa mendengar suaranya.


Dia berharap Rizki akan sadar saat mendengar Sheila bercerita. Seperti dulu saat mereka masih bersama, Rizki selalu antusias mendengar apa pun yang di ceritakan olehnya.


Annisa yang sedari tadi tengah sibuk membaca Al-Qur’an kecil di tangannya, sesekali menengok ke arah Sheila.


Nisa semakin yakin bahwa Sheila memiliki hubungan lebih dari teman dengan Rizki.


Tapi dia tidak menghiraukan, menurut Nisa, dia belum memiliki hak apa pun atas diri Rizki, karena belum ada ikatan sah di antara mereka.


Suara ponsel berdering dari tas yang di bawa Sheila, segera dia pamit keluar untuk mengangkatnya.


“Halo, Mas.” Sapa Sheila kepada si penelepon.


“Kamu dimana, sayang? Aku baru pulang, kata mbok Inem kamu pergi sambil nangis-nangis, kamu gak apa-apa, kan?” tanya pria tersebut penuh khawatir.


“Gak apa-apa, Mas. Ini temanku masuk rumah sakit. Tadi aku syok, karena ini teman dekatku, bisa dibilang sahabatku.”


“Mas ke sana jemput kamu, ya? Itu kamu di RS mana?”


“Gak perlu, Mas. Aku udah mau pulang kok.”


“Yasudah, kamu hati-hati. Mas tunggu kamu pulang.”


Sambungan telepon terputus. Sheila kemudian pamit pulang dan meminta tolong untuk secepatnya diberi tahu jika Rizki sudah sadar.


Sementara itu, di rumah Sheila.


Suaminya mendapat kabar dari perusahaan bahwa Rizki mengalami kecelakaan saat hendak memperbaiki mesin di perusahaan cabang.


Karena yang dialami Rizki termasuk kecelakaan kerja, maka mereka meminta agar dirinya mengurus segala dokumen yang dibutuhkan untuk klaim asuransi kecelakaan kerja.


Barulah dia sadar bahwa ternyata istrinya pergi menengok Rizki. Dadanya memanas, pipinya merah menahan amarah. Pantas saja dia pergi sambil nangis-nangis, ternyata perasaan dia kepadanya masih belum berubah!


“Syukurlah Rizki mengalami kecelakaan! Semoga saja kondisinya semakin memburuk. Agar dia menghilang dari hidup istriku, tanpa harus aku sendiri yang turun tangan.” Batinnya.


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2