
#Mengejar Cinta Suamiku part 31 (Bertepuk sebelah tangan)
Rizki memapah Annisa, membawanya ke suatu tempat dengan mata tertutup. Dia hendak memberi kejutan kepada istrinya.
Setelah tiba, perlahan Rizki membuka penutup mata, Nisa terharu melihat yang ada di hadapannya.
Kamar mewah di hotel ternama kota Cirebon, dekorasinya sangat cantik, dengan taburan kelopak bunga mawar merah dan putih.
Di ranjang bersprei warna putih, kelopak bunga dibuat bentuk hati, dan di tengah-tengah bentuk hati itu, ada sebuah kotak perhiasan cantik.
Rizki membuka kotak tersebut, sebuah kalung dan cincin dengan berlian kecil membuat Nisa terharu, Rizki segera menyematkan cincin itu di jari manis istrinya.
“Aku beli cincin ini pakai tabungan hasil kerja paruh waktu. Alhamdulillah, bisa belikan kamu berlian meskipun kecil, semoga nanti bisa belikan yang lebih besar.” Kata Rizki.
“Terimakasih, Mas. Bagi Nisa, besar atau kecil sama saja, yang penting buat Nisa adalah cinta Mas.”
“Kalau itu jangan ditanya, Mas mencintai kamu lebih dari apa pun.”
Kemudian Rizki memakaikan kalung dengan liontin bertuliskan huruf N&R yang berarti ‘Nisa dan Rizki’.
Nisa terlihat sangat bahagia, dia memeluk Rizki dan mengecup bibirnya beberapa kali.
Kamar yang dikelilingi lilin aroma terapi terlihat sangat romantis, aroma mawar dari kelopak bunga menambah semerbak setiap sudut ruangan.
Nisa menuju jendela dan menatap pemandangan lampu-lampu dari atas ketinggian hotel, mengagumi betapa indahnya bumi ini.
Rizki menghampiri dan memeluknya dari belakang, di telinga Nisa, dia mengucapkan “Happy anniversary, sayang.” Yang membuat Nisa merinding.
“Happy Anniversary juga sayang.” Balas Nisa.
“Sudah selesai haidnya?” Pertanyaan Rizki membuat Nisa tertawa.
“Sudah, sayang.”
“Alhamdulillah, berarti malam ini Mas bisa nik-matin lagi tubuhmu yang indah ini.” Perlahan tangan Rizki mulai mengge-rayangi badan istrinya.
Nisa berbalik menghadap Rizki, dia tersenyum memandang suaminya yang sedang horney karena sudah puasa selama 10 hari.
“Iya, sekarang sudah boleh. Nisa sudah bersuci, Mas bebas nik-matin tubuh Nisa sepuasnya.”
Perlahan Rizki membuka resleting gamis Nisa, dan menarik gamis berwarna mocha tersebut. Sayangnya, Nisa memakai tangtop dan legging yang membuat tubuh indahnya tidak serta merta terlihat saat gamis di lepaskan.
Sambil terus mengge-rayangi tubuh Nisa, Rizki melepaskan pakaian yang masih menutupi tubuh istrinya satu persatu, hingga tidak ada lagi yang melekat, hanya menyisakan pemandangan indah yang membuat Rizki semakin bergai-rah.
‘MasyaAllah.. SEMPURNA’ Batin Rizki.
Tubuh yang jenjang itu begitu mulus, kulit yang putih semakin bersinar diterpa cahaya lampu kamar, wangi tubuh Nisa membuat Rizki semakin tidak tahan.
Rizki menggendong istrinya ke ranjang, di sana dia mencum-bu Nisa dengan penuh kasih sayang, menci-umi leher-nya, turun hingga menepi di bagian sensitif istrinya.
Annisa semakin mengeram merasakan kenik-matan yang sulit dijelaskan. Mendengar desa-han istrinya membuat Rizki semakin semangat.
Dia terus mencumbu tanpa melewatkan bagian-bagian sensitif, memberi kesempatan kepada istrinya agar merasakan puncak kenik-matan lebih dulu. Tidak lama kemudian, Rizki sampai di puncak hingga membuat tubuhnya kelelahan.
Nisa tersenyum, begitupun dengan Rizki. Dia membelai rambut Nisa dan mengecup keningnya.
__ADS_1
“Terimakasih, sayang.” Ucap Rizki yang terlihat sangat puas.
Nisa mengangguk, mereka kemudian terlelap di balik selimut putih.
***
Suara deru mesin mobil menemani perjalanan menuju ke Jakarta. Nisa menyalakan murotal agar tidak terlalu hening.
Hari minggu membuat kondisi lalu lintas sedikit padat, meskipun mereka berada di jalan tol.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Nisa dan Rizki berada di jok depan, sedangkan Naura di jok belakang.
Sesekali, Nisa melirik Naura dari kaca spion di dalam mobil, Naura sedang terlelap, dia merasa bersalah karena sudah berpikiran yang tidak-tidak.
Nisa tidak memikirkan lagi apa yang dikatakan Ummi dan Syauqina, tapi dia juga tidak sepenuhnya melupakan, Nisa tetap akan berhati-hati.
Mereka menepi di rest area untuk melaksanakan sholat Dzuhur.
“Cantik sekali Mbak kalungnya.” Ucap Naura saat melihat kalung yang terpasang di leher Nisa.
Mereka berada di tempat wudhu khusus wanita, Nisa membuka hijab sehingga kalung itu terlihat.
“Oh iya, ini hadiah dari Mas Rizki.”
“Oh, hadiah anniversary, ya Mbak?”
“Iya.”
“Kemarin Naura cari Mbak di rumah, tapi nggak ada, terus Ummi memberi tahu katanya Mbak lagi honeymoon sama Mas Rizki, biasanya Mbak pamit dulu kalo mau pergi kemana-mana.”
“Iya, Mbak. Ummi kayaknya nggak suka sama aku.”
“Bukan nggak suka, mungkin belum kenal jadi begitu.” Ucap Nisa menghibur.
Meski kenyataannya Ummi memang tidak menyukai Naura karena melihat gelagatnya yang aneh, namun Nisa menutupi itu semua, khawatir akan menyinggung perasaannya.
“Mbak beruntung banget, hidup Mbak sempurna.”
“Sempurna bagaimana?”
“Dikelilingi orang-orang yang menyayangi Mbak dengan tulus, terutama Mas Rizki. Mbak beruntung punya suami seperti dia.”
Nisa mulai tidak enak mendengar perkataan Naura. Namun dia enggan mempermasalahkannya.
“Alhamdulillah.. Suatu saat, kamu juga pasti akan ketemu jodoh yang baik.” Nisa menghibur. Naura menggeleng, dia tidak setuju dengan ucapan Annisa.
“Aku gak mau yang lain Mbak, aku mau Mas Rizki. Tolong Mbak, tolong bujuk Mas Rizki supaya mau menjadikanku istri keduanya. Sejak masuk ke rumah kalian, aku melihat Mas Rizki begitu memperlakukan Mbak seperti ratu, Mbak begitu di manjakan, diperhatikan, lama-lama aku jatuh cinta kepada suamimu Mbak. Aku pernah menuliskan surat memohon agar dia mau menjadikanku istri keduanya, tapi dia menolak mentah-mentah. Bahkan dia sama sekali mengacuhkan-ku. Aku adalah anak broken home, belum pernah merasakan bagaimana rasanya diperlukan seperti Mbak. Tolong Mbak.. Tolong bujuk Mas Rizki agar....”
Plakkk....!!!
Belum selesai Naura berbicara, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Dada Nisa bergemuruh, pipinya merah menahan amarah, air matanya mengalir seiring rasa kecewa yang di rasakan Nisa.
“CUKUP, DAN BERHENTILAH BERMIMPI, JANGAN LANCANG!” Ucap Nisa dangan tenang namun terkesan tegas dan lantang.
__ADS_1
Naura memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan tersebut. Dia mentap tajam ke arah Nisa, mendengar dengan jelas apa yang dikatakannya. Naura tersenyum, senyum yang menakutkan seperti para psikopat.
Naura mendorong tubuh Annisa dengan keras hingga membentur dinding, menarik paksa kalung berinisial N&R yang dipakainya.
“Bagaimana kalo N&R itu adalah Naura dan Rizki?” Dia memakai kalung itu di lehernya, dan menatap lekat dirinya di pantulan cermin tanpa memperdulikan Nisa.
Nisa maju dan hendak merampas kembali miliknya, tapi dengan sigap tangan Naura berhasil menepis Nisa.
Dengan sangat terpaksa, Nisa menjambak rambut Naura hingga membuatnya tidak berkutik, kalung tersebut diambil kembali olehnya, Nisa lalu melepaskan Naura.
“Jangan berani-berani menyentuh apa pun yang bukan milikmu.”
Kata Nisa berbisik di telinga Naura dengan nada sangat tegas, seolah menegaskan agar Naura tidak mengganggu rumah tangganya.
Naura tersulut emosi, dia mengambil gunting kecil dari dalam tasnya, dia mendekat dan hendak menusuk pundak Nisa dari belakang, namun Nisa berhasil menghindar dan merebut gunting itu darinya.
Nisa menatap Naura, seolah tidak percaya dengan apa yang akan dilakukannya. Orang yang selama ini sangat dia percaya, ternyata adalah seorang monster. Ternyata Naura adalah orang yang dapat dengan mudah melukai orang lain ketika dirinya emosi.
Air mata Nisa meleleh, membayangkan kedekatan mereka selama ini, membayangkan kebaikan Annisa yang dibalas seperti ini oleh orang yang sudah dianggap adik olehnya.
Mendengar ada keributan, Rizki berlari mendekati mereka, dia mendapati istrinya yang sedang menangis, sambil memegang gunting, Rizki juga menoleh ke arah Naura yang sedang dikuasai amarah.
“Ada apa ini?” Tanya Rizki penuh khawatir.
“Orang yang sudah aku anggap adik sendiri, ternyata adalah seorang monster, Mas.” Tangis Nisa pecah.
Rizki menatap tajam ke arah Naura, seolah meminta penjelasannya.
Posisi Naura kini tersudut, dia melihat tatapan Rizki yang marah kepadanya. Melihat orang yang dicintainya marah, membuat perasaan Naura kalut, dia kabur keluar dan melarikan diri.
Nisa mengejarnya, namun Naura terus berlari sekuat tenaga, membuat mereka semakin menjauh dari rest area.
Naura terus berlari, menyusuri bahu jalan tol yang terasa menyengat akibat sinar matahari, Nisa khawatir melihat Naura yang sedang kalut, Nisa terus memanggilnya, berharap dia akan berhenti, namun Naura terus berlari tanpa memperdulikan Annisa.
Rizki jauh tertinggal di belakang, kecepatan lari Naura dan Nisa membuatnya kelelahan.
Naura terus memikirkan tatapan Rizki, tatapan kemarahan itu membuat pikirannya semakin kacau.
Kini, tidak ada lagi yang berharga dari hidupnya, bahkan orang satu-satunya yang diharapkan dapat menyembuhkan luka masa kecil, sekarang malah berbalik membencinya.
Dia teringat kembali masa kecilnya yang penuh luka, disiksa bibinya, diperlakukan seperti pembantu, dihardik oleh sepupu yang merupakan anak bibinya, dia bahkan pernah di lecehkan oleh pamannya.
Saat melihat Rizki, dia berharap bisa merasakan kasih sayang seperti yang Nisa dapatkan, dia perlahan mendekati Rizki dan pernah memberinya surat agar mau menikahinya menjadi istri kedua.
Saat menerima surat itu, Rizki menolaknya dengan halus, dia meminta kepadanya agar hal ini tidak diketahui oleh Annisa, karena Rizki takut Annisa akan sakit hati.
Naura mengerti bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi dia masih bertahan dengan harapan suatu saat Rizki akan menerimanya. Namun kini, Rizki melihatnya dengan tatapan kebencian, membuat Naura putus asa.
Rizki membencinya karena dia tahu dirinya sempat akan melukai Annisa. Naura tahu betul, siapa yang menyakiti Annisa tidak akan diberi ampun olehnya. Hal ini membuat pikiran Naura sangat kacau.
Ditengah pelariannya, dia memutuskan untuk menyudahi penderitaannya selama ini, Naura berlari ketengah jalan dan....
Braaaakkkkkkkk....
Tubuh Naura terhempas oleh benturan mobil truk besar, seketika darah mengucur dari kepalanya membanjiri jalan aspal yang panas.
__ADS_1
Bersambung...