
"Terimakasih." suara halus Habibah dapat di dengar Rudy Utama.
"Makanlah yang banyak, kau harus tetap sehat dan baik-baik saja ketika kembali ke pesantren Bibimu." ucap Lee akhir-akhir ini sedikit lebih banyak bicara.
"Iya." jawab Habibah langsung membuka kotak makan di tangannya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Lee lagi.
"Tidak." dia tersenyum sedikit, jari halusnya sedang memegang kotak dan sendok.
Lee berlalu meninggalkannya, menuju keluar karena memang dia sedang ada urusan hari ini.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
Suara seseorang membuat Lee menoleh, pria itu urung membuka pintu mobil milik Habibah.
"Ah, ha...hanya sebentar." ucap Rudy lagi terdengar gugup.
Lee menutup kembali pintu mobilnya, dan menuju tempat duduk di halaman kantor polisi tersebut.
"Terimakasih." ucap Rudy lagi belum mendapatkan jawaban apapun.
"Bicaralah, aku sedang ada urusan." ucap Lee kemudian menatap sekeliling mereka dengan sengaja.
Rudy merasa senang, akhirnya bisa mendengarkan sebuah kalimat dari anak laki-laki yang dianggap putranya.
"Aku ingin minta maaf. Maafkan aku karena tidak tahu kehadiran anakku sendiri." Suaranya pelan penuh penyesalan.
Lee menoleh cepat, memperhatikan Rudy Utama yang setiap detiknya terlihat serba salah. "Kau memang bodoh!"
Rudy sungguh terkejut dengan jawaban Lee padanya.
"Jangan bermimpi untuk menjadi seorang ayah dari anak kandungmu sendiri. Apalagi berharap menggantikan ayahku yang cacat tak berguna bagimu, tapi dia jauh lebih baik bagiku."
"Tapi aku ayahmu Nak." pelan Rudy terdengar sedih.
"Kau hanyalah laki-laki pengecut yang menyia-nyiakan istri demi wanita lain. Aku tidak menyukaimu." jawab Lee dengan berani.
"Aku minta maaf." Rudy berkata dengan tulus.
Lee tak menjawab, hatinya sangat kesal harus berbicara dengan Rudy Utama.
"Aku ingin kau mendapatkan kehidupan yang layak." sahutnya lagi.
"Aku sudah mendapatkan kehidupan yang baik." sahutnya mencoba bersabar menghadapi Rudy Utama.
"Bukan begitu Nak, aku ingin kau pulang ke rumah. Jadilah putraku seutuhnya, agar rasa bersalahku ini sedikit berkurang." ucapnya memohon.
"Maaf, aku tidak berhak tinggal di rumahmu." Lee beranjak dari duduknya, namun Rudy meraih tangannya.
"Tunggu! Dengarkan aku sebentar." pinta Rudy lagi.
__ADS_1
Lee menarik nafas kemudian kembali duduk.
"Kau ingin aku seperti apa agar kau bisa memaafkan aku dan pulang?" tanya Rudy membujuk Lee penuh harap.
"Kau ingin aku pulang ke rumahmu? Bersama dengan istrimu?" tanya Lee terlihat tak suka.
"Ya, dia_"
"Aku tidak mau." Lee benar-benar beranjak dan pergi.
"Lee, tunggu." Rudy tak menyerah. Ia mengejar Lee dan menahannya lagi. "Aku mohon Nak, pulang dan lihat bagaimana kehidupan yang seharusnya kau dapatkan."
Lee tampak berpikir, mata yang menyipit itu menatap tajam. "Ada syaratnya!"
"Katakan saja." Rudy kembali merasa senang.
*
*
*
Sementara di tempat lain, Bram tampak termenung di kursi tunggu rumah sakit. Mendengar kabar yang tidak baik beberapa hari yang lalu membuat ibunya harus dirawat di rumah sakit. Belum lagi ayahnya yang ada di dalam tahanan, ia juga harus menjaga ibunya siang dan malam.
"Pak Bram, ibu Anda ingin bicara." seorang perawat baru saja keluar dari ruangan rawat tersebut.
"Terimakasih." Ia melangkah masuk.
Ranjang berwarna putih semakin membuat hati Bram bersedih. Terlalu sering ibunya masuk rumah sakit, dan sekarang terulang lagi karena berurusan dengan Rudy Utama dan keluarganya.
Pikirannya menerawang kepada Habibah. Teringat hari lalu ia berbicara kepada Rudy Utama untuk menarik tuntutannya, tapi malah caci maki yang ia dapatkan.
Hanya ada satu cara untuk membebaskan ayahnya juga Habibah. Tapi... lagi-lagi ia ragu akan mendapatkan jalan keluar malah masalahnya akan semakin bertambah.
"Bram..."
Sesak dan pelan suara ibunya.
"Ya. Aku di sini Ibu." jawabnya menggenggam tangan ibunya.
"Bebaskan ayah dan istrimu." pintanya untuk kesekian kali.
Bram tersenyum, tak menjawab karena memang ia tidak tahu jalan keluarnya.
"Jangan menyia-nyiakan istrimu, atau kau akan menyesal." ucapnya lagi.
"Iya, aku berjanji akan mengeluarkan Ayah dan Habibah." Bram meyakinkan ibunya.
"Ya." Ibunya mulai menutup mata kembali, pengaruh obat membuatnya mengantuk.
Bram menarik nafas beratnya, sejenak memandangi wajah tuanya melahirkan dan membesarkannya. "Aku harus melakukan sesuatu, Ibu harus baik-baik saja, semua harus baik-baik saja."
__ADS_1
Tak menyia-nyiakan waktunya, Bram keluar dari rumah sakit itu menuju suatu tempat yang dia yakini akan mendapatkan solusinya. Ya, dia yakin sekali dengan keputusan ini pada akhirnya.
"Aku sedang menuju rumahmu." ucap Bram sedang menghubungi seseorang.
Tak lama kemudian ia sudah sampai di rumah yang tidak asing lagi.
"Bram."
Larisa langsung mendekati, memeluk Bram seperti biasa.
"Kita harus bicara." ucap Bram tanpa basa-basi.
"Aku tahu." Larisa tak melepaskan pelukannya, tetap bergelayut manja seiring langkah mereka masuk ke dalam rumahnya.
Entah harus memulai dari mana, tapi Bram yakin sekali jika Larisa sudah tahu semuanya.
"Mau minum apa?" tanya Larisa mendongak wajah Bram yang tampan.
"Tidak perlu, aku benar-benar ingin membicarakan hal penting padamu." tolak Bram.
"Apa itu?" Larisa bertanya dengan lembut.
"Bisakah kau menarik tuntutan orangtuamu? Kau tahu jika Ibu sedang sakit saat ini." Bram berbicara serius.
Larisa masih mendengarkan, tangannya tak melepas lengan kokoh Bram yang selalu menarik.
"Aku mohon Larisa, aku tidak bisa seperti ini, berada dalam kerumitan yang sulit diakhiri." sambung Bram lagi.
"Bukankah kau sudah berjanji akan menikahi aku Bram?" tanya Larisa bukannya menjawab permintaan Bram.
"Ya, dan itu sulit jika keadaan sedang seperti ini." jawab Bram mencoba membuat Larisa mengerti.
"Baiklah, aku akan berbicara kepada Mama dan Papa. Tapi setelah itu kita menikah."
"Tolong bebaskan semuanya agar Ibu tidak memiliki beban pikiran lagi."
Larisa menautkan alisnya. "Kau ingin Habibah bebas?"
"Ya."
"Tapi setelah itu kau ceraikan dia."
"Apa?" Bram sungguh tak percaya dengan permintaan Larisa. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu, setelah kesepakatan lalu bahwa dia mau menjadi yang kedua asalkan Bram menikahinya. Dan sekarang malah berubah.
"Aku tidak akan melakukannya!"
"Jika tidak maka aku tidak mau!" bentak Larisa kepada Bram.
"Kalau begitu kita tidak akan pernah menikah." kesal Bram kemudian beranjak.
"Aku juga tidak mau membebaskan siapapun!" teriaknya membuat Bram berhenti.
__ADS_1
"Kau sudah menyakitiku, membagi cintamu kepada wanita itu, kau ingkar janji. Kau bilang hanya aku satu-satunya, tapi sekarang kau berubah. Kau sudah berjanji akan menceraikan dia dan kembali padaku tapi ternyata semua bohong. Dan... Kita sudah tidur bersama, kau juga tetap tidak mau menceraikan dia. Kau jahat... Sangat jahat Bram!"
Larisa menangis terduduk di lantai, dia benar-benar bersedih dan marah dengan sikap Bram yang tidak memberikan kepastian.