Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 24 (Gondola Penyebab Celaka)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 24 (Gondola Penyebab Celaka)


Kami sedang berada di sebuah tempat wisata cukup populer di Bogor. Perjalanan dari hotel ke sini hanya sekitar setengah jam saja.


Di sini, terdapat berbagai macam bunga yang ditanam dalam sebuah kebun.


Yang membuat tempat wisata ini semakin populer karena tempat ini di desain sama persis dengan Venezia, yaitu tempat wisata populer di Itali dimana bangunan-bangunannya berdiri di atas air.


Di sini, terdapat gondola yang siap mengantarkan kita menyusuri setiap kanal air untuk mengelilingi bangunan-bangunannya yang dibuat sama persis seperti di Itali.


Tempatnya romantis, dan sangat Instagramable.


Annisa sudah menyiapkan kamera dan tripod untuk mengambil foto kami, dengan begitu kita tidak perlu repot-repot minta di fotokan oleh orang lain.


Kami tidak melewatkan setiap spot cantik untuk berfoto. Annisa terlihat gembira, aku pun merasakan hal yang sama.


“Mas, kita naik gondola itu, yuk.”


Sepertinya dia tertarik menaiki gondola untuk menyurisuri setiap bangunan di sini tanpa harus lelah berjalan kaki.


Saat hendak turun untuk menaiki sebuah gondola itu, kakinya terpeleset, kepalanya membentur sebuah dinding bangunan yang berada di tiap sisi kanal air, Annisa terjatuh dan tenggelam di kanal itu.


Aku kaget, namun dengan segera meloncat ke dalam kanal untuk menolongnya.


Kanal air ini cukup dalam meski hanya danau buatan yang di desain menyerupai laut seperti di Itali.


Sebenarnya, Annisa pandai berenang, tapi tadi dia berteriak bahwa kakinya keram dan membuatnya tidak bisa berenang dengan baik.


Aku memboyong tubuh Annisa dan menariknya ke tepi. Dia terlihat sedikit lemas namun masih dalam keadaan sadar.


Semua pakaiannya basah kuyup, aku mengambil jaket yang sudah kulepaskan terlebih dahulu saat hendak menolongnya, kuselimuti dia dengan jaket itu.


Semua orang memperhatikan kami, bahkan tidak sedikit yang merekam musibah tadi.


Mereka yang peduli, bertanya kondisi Annisa. Namun kebanyakan dari mereka hanya menonton, ini membuatku menjadi tidak nyaman, apalagi seluruh baju Annisa basah.


Aku menggendong Annisa menuju ke parkiran mobil. Kondisinya lemas hampir tak sadarkan diri, hingga beberapa kali aku bertanya keadaanya tetap dia tidak di respon.


Segera aku membaringkan dia di dalam mobil dan melihat kondisi kakinya, terlihat memar dan sedikit bengkak.


Kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Aku sangat takut terjadi apa-apa padanya.


Dalam perjalanan, aku tidak melepaskan tangannya yang terasa sangat dingin.


“Sayang...”


Aku memanggil Annisa untuk memastikan keadaannya, namun masih tidak ada respon.


Annisa pingsan, dan itu membuatku sangat cemas, air mata mengalir tanpa kuminta, melihat kondisinya sekarang membuatku jadi berfikiran yang tidak-tidak.


Benturan di kepalanya tadi sangat keras, aku takut terjadi sesuatu kepadanya.


Sesampainya di rumah sakit, para perawat dan dokter yang bertugas di IGD dengan sigap membawa Annisa untuk diperiksa.


Selang infus sudah menancap di tangannya. Tidak kusangka, liburan ini akan menyebabkan celaka.


Aku sangat gusar, karena Annisa belum juga sadar. Setelah pemeriksaan selesai, dia lalu di pindahkan ke ruang perawatan.


Baju gamis Annisa yang basah kuyup sudah diganti dengan baju pasien yang di sediakan oleh rumah sakit.


Saat Annisa diperiksa, aku membeli satu set pakaian sebagai baju ganti karena jarak rumah sakit ini cukup jauh dari hotel, aku tidak ingin meninggalkan Annisa sendiri.


Melihat dia terbaring lemah seperti ini menguras semua semangatku.


Aku menggenggam tangannya tanpa henti, mengelus rambutnya, berharap dia segera sadar.


Dokter datang, dia menyuruhku menandatangani surat untuk pemeriksaan lebih lanjut mengenai kondisi Annisa.


Dengan cepat, aku membubuhkan tanda tangan di selembar kertas yang dibawanya.


Annisa dibawa untuk dilakukan CT-scan, dokter khawatir terjadi sesuatu di kepalanya akibat benturan tadi.


Setelah satu hari menunggu, alhamdulillah kondisi kepala Annisa baik-baik saja.


Annisa mengalami trauma di kepala namun tidak menyebabkan pendarahan. Dokter menyarankan dia di rawat inap selama tiga hari untuk memantau keadaanya.


Bagian terparah ada di kakinya, akibat terpeleset tadi, sendinya mengalami pergeseran, atau dalam istilah medis disebut dislokasi sendi.


Dokter menyarankan dia untuk rutin fisioterapi agar dapat berjalan kembali seperti biasanya.


Sudah sore namun Annisa belum juga sadar. Meskipun dokter bilang tidak ada yang serius, tapi aku benar-benar khawatir.


Tok.. Tok.. Tok..


Terdengar suara pintu diketuk dari luar.


Siapa yang datang? Kami menggunakan kamar VIP dan tidak mungkin ada pasien lain.


Aku juga belum mengabari keluarga di kampung, aku takut mereka akan khawatir, rencananya, aku akan menunggu Annisa hingga sadar, baru kemudian memberitahu mereka.


Aku membuka pintu, seorang pria terlihat sangat khawatir dan menghambur masuk menuju ranjang pasien Annisa.


Fatur? Darimana dia tahu Annisa mengalami musibah?


Aku menyusul menghampirinya, dia terus memandangi Annisa tanpa mempedulikan ku.

__ADS_1


Dari tatapannya, dia terlihat sangat khawatir. Ternyata benar tebakanku selama ini, Fatur memiliki rasa kepada Annisa.


“Darimana kamu tahu dia terluka?”


Fatur melihat ke arahku.


“Aku melihatnya di Instagram, ada seorang yang meng-upload video saat Annisa terjatuh, video itu FYP dan di re-upload kembali oleh seseorang di Instagram hingga sampai kepadaku. Perkenalkan, saya Fatur temannya Annisa. Anda pasti Kakaknya, ya?”


Dia mengulurkan tangan mengajakku bersalaman. Aku tersenyum sinis, bisa-bisanya dia mengira aku Kakaknya Nisa.


“Kenalkan, saya Rizki, suaminya Annisa.”


Ujarku menjabat tangannya dengan penuh kemenangan.


Seketika dia memandangku dari bawah kaki hingga ke atas kepala.


“Jangan bercanda, Bung. Annisa masih 18 tahun.”


Ucapnya dengan tertawa.


“Memangnya ada larangan seseorang yang berusia 18 tahun tidak boleh menikah?”


Aku mulai naik darah dibuatnya.


Dahinya mengernyit seolah masih belum percaya dengan apa yang aku ucapkan.


“Anda benar-benar serius?” Tanyanya masih belum yakin.


“Untuk apa bercanda di saat genting seperti ini!”


Dia termenung, menatap Annisa dan melirik lagi ke arahku. Dari wajahnya, dia tidak bisa menyembunyikan bahwa dirinya sedang kecewa.


“U-Ummi.. Um..mii..” Lirih Annisa memanggil dengan nada suara yang lemah.


Aku dan Fatur segera menghambur ke arah Annisa. Ada rasa lega saat mengetahui bahwa dia sudah sadar kembali.


“Sayang, alhamdulillah kamu udah sadar.” Aku memeluknya karena merasa bahagia.


Namun, tiba-tiba Annisa melepaskan pelukanku dan menghalau tubuhku darinya.


“Astagfirullah.. Kamu siapa? Jangan sentuh aku,. Kemana Ummi? Dimana saya?” Ucap Annisa terlihat panik dan bingung.


Aku dan Fatur saling berpandangan, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Annisa.


Fatur yang dari tadi tidak yakin aku adalah suaminya, melihat Annisa berkata demikian semakin meyakini bahwa aku berbohong.


“Ini Mas, sayang. Suamimu.” Ucapku padanya.


Ada apa dengan istriku? Kenapa dia tidak mengenali suaminya sendiri.


Dokter melihat kembali hasil CT-scan, namun tetap tidak menemukan sesuatu yang serius.


Namun, dokter menjelaskan bahwa hal ini mungkin saja terjadi.


“Benturan akibat pukulan benda tumpul, kecelakaan, atau terjatuh dapat menyebabkan seseorang kehilangan ingatannya.”


Aku shock mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Annisa.


Bagaimana bisa ini terjadi, ya Rabbi..


Hatiku sungguh kacau, rasa sakit ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


“Apakah ini permanen, Dok?” Tanyaku dengan ragu-ragu.


Meski ragu, tapi aku perlu mengetahui keadaan Annisa yang sesungguhnya.


“Intensitas amnesia pada penderitanya berbeda-beda. Bisa ringan atau berat. Pada kondisi ringan, amnesia terjadi dalam jangka pendek, dan kesempatan pulihnya lebih besar. Namun pada kondisi berat, bisa saja menyebabkan gangguan mental dan tidak bisa pulih dalam jangka waktu yang sebentar.”


Duniaku seolah runtuh mendengar kenyataan ini. Kenapa harus Annisa? Baru saja kami mengecap bahagia, kali ini, Allah memberikan ujian yang teramat berat.


Air mata sudah tidak dapat terbendung lagi, sesak di dada tidak bisa kutahan lagi, aku menangis sejadi-jadinya di ruangan ini, dokter menyemangatiku untuk tetap tegar.


“Dalam kondisi Annisa, hasil CT-scan tidak menunjukan hal buruk. Dia mengalami cedera otak ringan, amnesianya masih berpeluang besar untuk pulih, kamu dan keluarga hanya perlu berusaha membantu mengembalikan ingatannya. Namun, tidak boleh dipaksa, karena saat otaknya dipaksa mengingat sesuatu, sakit kepalanya akan kambuh dan itu akan berbahaya untuknya.”


Meski kacau, namun aku masih bisa mencerna dengan baik setiap ucapan dokter.


Aku menelepon Ummi, namun tidak memberitahukan kondisi yang sesungguhnya, akan kuceritakan langsung saat Ummi tiba di sini.


Aku hanya bilang kepadanya bahwa Nisa terpeleset dan kakinya mengalami dislokasi sendi.


Saat kembali ke ruang perawatan, aku melihat Fatur masih setia menunggu Annisa di sampingnya.


“Apa dia mengenalimu?”


Tanyaku kepadanya,


“Iya, dia mengenaliku sebagai temannya. Apa Anda sungguh serius dengan ucapan tadi bahwa Anda suaminya,?”


Fatur berkata degan nada mengejek.


Bagaimana bisa Nisa mengenali Fatur, sedangkan tidak denganku?


Dokter datang untuk memeriksa keadaan Annisa. Sebelum pergi, aku bertanya kepadanya, mengapa aku tidak ada dalam ingatan Annisa?


“Dalam kasus cedera otak ringan, justru orang paling pentinglah yang pertama dilupakan olehnya.”

__ADS_1


Astagfirullah.. Ya Rabbi, kenapa cobaan-MU harus seberat ini?


***


Malam hari, rombongan Ummi dan keluargaku tiba di rumah sakit. Mereka datang dengan khawatir.


Sebelum masuk ke ruangan Annisa, aku menjelaskan terlebih dahulu kondisi sesungguhnya yang dialami oleh Annisa.


Ummi menangis, mengucap istighfar untuk menenangkan hatinya.


“Kamu yang sabar ya, Nak. Kita sama-sama berjuang memulihkan kembali ingatan Annisa.”


Ucap Ummi menyemangati ku. Kami lalu bersamaan memasuki kamar perawatan.


Annisa langsung gembira saat melihat Ummi datang. Namun, dia tidak mengenali Ibu, Bapak, dan Syauqina.


Segala yang berhubungan denganku sama sekali tidak diingat olehnya.


Aku keluar diikuti oleh Ibu, Bapak dan Syauqina. Dalam pelukan Ibu, aku menangis sejadi-jadinya.


Mungkinkah ini hukuman untukku karena telah menyakiti hati Annisa waktu itu?


Apakah ini karma bagiku karena dulu sempat menyia-nyiakan Annisa dalam hidupku?


“Ibu, tolong terus doakan Annisa agar bisa pulih secepatnya. Iki nggak sanggup kehilangan dia, Bu.”


Ibu ikut menangis karena prihatin dengan takdir yang kuterima, dia mengelus punggungku dengan penuh kasih sayang.


Bapak menepuk-nepuk pundakku, dan Syauqina mengelus kepalaku.


Setidaknya aku masih punya mereka, alasan agar aku bisa bertahan menghadapi ujian berat ini.


“Tanpa kamu minta, Ibu akan mendoakan yang terbaik untukmu. Kamu harus tetap semangat, Annisa pasti pulih.” Lirih Ibu menyemangatiku.


Ujian ini seolah memotong paksa kakiku, hingga rasanya aku tidak kuat lagi berdiri menjalani hari-hari.


Namun aku bisa apa? Selain berpasrah pada takdir yang kujumpai.


Suka tidak suka, aku harus tetap melewatinya. Aku harus kuat demi Annisa, aku harus bisa mengembalikan lagi ingatannya.


Ummi masih di dalam bersama Fatur untuk menemani Annisa. Awalnya, Ummi bingung dengan kedatangan Fatur. Namun setelah kujelaskan, Ummi paham dan membiarkan Fatur tetap di sini.


Saat keluar kamar, aku menanyakan hal-hal yang membuatku penasaran.


“Ummi, ingatan Annisa sebatas mana? Apa dia sama sekali tidak mengingatku?”


“Tidak, Ki. Sosok kamu tidak ada sama sekali dalam ingatannya. Annisa cerita bahwa dia ingat berada di Jakarta untuk kuliah dan mengembangkan usahanya dengan Fatur. Ingatannya hanya sampai di sana.”


Ummi menceritakan dengan perasaan terpukul. Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Annisa dengan baik.


“Maafkan Iki, Ummi. Iki tidak bisa menjaga Annisa dengan baik.” Ucapku penuh sesal.


Seandainya waktu bisa diputar, aku tidak akan memberitahu Annisa tentang tempat wisata itu, dengan begitu, tidak akan ada kejadian gondola yang menyebabkan celaka, sehingga menyebabkan Annisa amnesia.


“Ini takdir, Ki. Kamu harus ingat itu! Segala yang terjadi di dunia ini berjalan sesuai tulisan di lauhul mahfudz. Tidak boleh kamu berprangka buruk terhadap takdir Allah. Setiap kejadian buruk pasti ada kebaikan di dalamnya.”


Astagfirullah.. Aku sudah khilaf. Ummi benar, tidak ada takdir buruk, semua pasti ada hikmahnya.


Mendengar ucapan Ummi memberikan kekuatan baru untukku. Kekuatan untuk bisa menjalani hidup beberapa waktu tanpa Annisa.


“Setelah Nisa diperbolehkan pulang, Ummi izin beberapa waktu tinggal di rumahmu ya, Ki. Dan sepertinya kamu harus tinggal terpisah dulu dengan Annisa.”


“Baik, Ummi.”


“Kamu jangan khawatir, nanti Ummi akan jelaskan kepadanya tentang dirimu.”


“Dokter bilang jangan dipaksa, Ummi. Jika Nisa terlalu berpikir dengan keras mengingat, kepalanya akan sakit, bisa bahaya.”


“Ummi tidak akan memaksa dia mengingatnya, Ummi hanya akan menjelaskan kepadanya tentang yang dialaminya sekarang. Bagaimana pun, kalian sudah suami istri. Tidak bisa seterusnya pisah rumah.”


“Iya, Ummi. Tolong bantuannya ya, Ummi. Rizki nggak sanggup kalo harus berpisah dengan Annisa. Rizki nggak bisa Ummi.”


"Akan Ummi usahakan segala yang terbaik untuk kalian."


"Mas, jangan lemah! Dimana sosok Kakak yang selalu Qina lihat ketegarannya dalam menghadapi segala hal. Bahkan, Mas bisa mewujudkan untuk bisa bekerja di PT yang Mas inginkan. Jangan lemah, Qina nggak suka lihat Mas lemah."


Adikku yang sejak tadi diam kini angkat bicara, semua keluargaku mensupport dengan baik. Mengahalau segala kekhawatiran yang kurasakan.


"Terimakasih Dek, doakan Mas tetap kuat, ya."


Fatur keluar dari kamar tempat Nisa dirawat, dia menghampiri kami yang dari tadi menunggu di depan kamar ini.


"Annisa menanyakan ponselnya, dia menyuruhku mengambilnya di Ummi."


Ummi menatapku, seolah bertanya tentang keberadaan ponsel Annisa.


Aku teringat saat dia hendak naik gondola kemarin, ponselnya di pegang dan ikut terlempar ke danau di tempat wisata itu.


Tidak memungkinkan bagi mereka mencarinya, karena kanal pada danau itu cukup dalam dan pasti penuh lumpur.


Padahal di ponsel Annisa banyak foto-foto kami yang bisa dijadikan alat bantu untuk memulihkan ingatannya.


Begitulah takdir berjalan, baik atau buruk, dia berjalan rapi sesuai ketentuan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2