
Larisa dipaksa pulang bersama sopir Rudy Utama, menyisakan Habibah yang masih berdiri menatap kepergian anak mantan istri Ayahnya tersebut.
"Ayo kita masuk." ajak Rudy Utama kepada Habibah.
"Bukankah Ayah sangat menyayanginya?" tanya Habibah tak menutupi rasa cemburu itu masih ada, setelah dulu ia menyaksikan betapa Rudy mengutamakan Larisa, sedangkan ia hanya dapat menahan sedih.
"Ya, tapi sekarang aku sangat menyayangimu. Jangan sampai sikap kasihan dan tidak tega terhadapnya malah membuat Ayah kehilangan dirimu." Rudy memegang kedua belah pundak Habibah.
Dia tersenyum, mengerti bahwa Rudy sedang mempertahankan dan sangat takut kehilangan dirinya.
"Cukup Bram yang akan menyesal setelah ini, dan Ayah tidak ingin menyesal untuk ke sekian kalinya." Rudy memeluk Habibah sejenak.
"Terimakasih Ayah." jawabnya halus, sungguh membuat hati bergetar. Sedih sekali mendengarnya ketika mengingat bagaimana ia tumbuh tanpa ayah dan Ibu, dan itu semua karena Marisa, bahkan memfitnah Hiko berselingkuh dengan Mayra, agar istri asisten ayahnya tersebut bersedia ikut membunuh istrinya.
"Ayah sangat menyayangimu." ucap Rudy lagi dengan mata berembun.
*
*
*
Malam yang kedua kalinya, ijab kabul akan terucap lagi dari Bram untuk Larisa. Mau tak mau, sebagai laki-laki ia harus bertanggung jawab terhadap kekasihnya yang sudah memberikan segala-gala padanya itu. Ya, walaupun hatinya masih ada di tempat lain.
"Saya terima, nikah dan kawinnya Larisa putri binti Marisa Mila dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"
Di sambung kata Sah dari semua orang.
"Akhirnya kita menikah." gumam Larisa pelan ketika Bram menyematkan cincin di jari manisnya.
Bram menoleh ayahnya yang saat ini mengalami stroke dan tidak bisa berjalan. Hanya duduk di kursi roda dengan menatap sedih Bram dan Larisa.
"Maaf Ayah, akhirnya aku harus menikah dengan Larisa. Aku gagal mempertahankan istriku." bisik Bram memeluk Frans Ayahnya.
"Semua salahku." ucapnya sedikit kaku, stroke membuatnya kesulitan bicara.
"Tidak Ayah. Akulah yang tidak bisa menjaga istriku." ucapnya lagi semakin erat memeluk Frans.
"Tidak Bram. Kau tidak tahu yang sebenarnya."
Bram melonggarkan pelukannya, menatap ayahnya dengan penuh tanya.
"Sebenarnya, Tuan Raharja menginginkan Habibah menikah dengan Putra Hiko." ucapnya sedih.
Sangat membuat Bram terkejut. "Lee?"
"Tuan Raharja mempercayakan Habibah kepada anak Hiko, karena memang Hiko sudah banyak berkorban untuk Habibah dan ibunya. Bahkan kehilangan istri dan hampir kehilangan nyawa." Frans menarik nafas berat. "Tapi saat Tuan Raharja mulai sakit parah, Lee malah tidak pulang dari Singapura, dengan alasan sedang menyelesaikan sesuatu. Dan aku menyarankan agar menikahkan Habibah dengan dirimu."
__ADS_1
"Ayah_" Bram urung bicara, merasa tenggorokannya kering tercekat.
"Ternyata, semua yang bukan milik kita tentu tak bisa di miliki dengan paksa." ucap Frans lagi dengan berkaca-kaca.
Walaupun menyayangi cucu Raharja itu dengan tulus, tapi Frans sangat sadar jika memaksakan kehendak untuk menjadikannya menantu adalah salah.
Bram jadi berpikir jika kehadiran Lee yang selalu ada bersama istrinya bisa jadi sudah di rencanakan oleh pria bermata sipit tersebut. Jangan-jangan saat ini laki-laki itu sedang mendekati Habibah, atau malah? Bram melepaskan kopiahnya dan mengusap wajah berkali-kali, pikirannya menduga-duga, hatinya gelisah, ingin rasanya mendatangi Habibah saat ini juga.
"Bram." Larisa memeluk suaminya yang sedang resah diambang pintu.
"Ya." jawab Bram kemudian masuk dan beristirahat sejenak. Menikah tak membuatnya tenang.
Sedangkan di rumah Rudy Utama, seseorang sedang bertamu dengan beberapa bag berisikan sesuatu. Dia datang dengan wajah datar, melangkah yakin di rumah besar yang beberapa bulan lalu ia sempat mengacaukan pernikahan Larisa di sana.
"Lee?" Rudy menyambut anak mantan asisten ayahnya tersebut. Tentu kebenaran yang sudah terungkap tak lepas dari peran dirinya.
"Maaf, aku datang mengganggu." ucapnya menunduk hormat.
"Ya, tidak masalah." Rudy sangat senang dia datang, walau sedikit berpikir laki-laki muda itu tidak mungkin datang begitu saja.
"Aku ingin bertemu Habibah." ucapnya duduk berhadapan dengan Rudy Utama.
"Tentu saja, dia ada di atas." Rudy menyipitkan matanya, tapi mungkin keduanya memiliki urusan.
"Sebenarnya, aku sudah melamar putrimu." ucapnya tanpa basa-basi. Tentu membuat Rudy lumayan terkejut. "Maaf, aku begitu lancang." ucapnya lagi kemudian menunduk.
Hening...
Hingga terdengar suara langkah menuruni anak tangga, keduanya masih belum berubah dalam posisi canggung dan terkejut.
"Ayah." panggil Habibah masih berdiri.
"Oh, hemmm... Ayah... Sebentar!" ucapnya kemudian beranjak meninggalkan keduanya menuju kamarnya.
Habibah menoleh ayahnya tersebut, heran rasanya dengan sikap tak biasa Rudy Utama.
"Ada apa?" tanya Habibah kepada Lee yang hanya diam.
"Tidak ada apa-apa. Ini untuk mu." Lee menyerahkan tiga buah bag berisi pakaian.
"Apa?" tanya Habibah penasaran.
"Pakaian." jawabnya masih terlihat serba salah.
"Kau kenapa?" Habibah menanyainya.
"Aku sudah mengatakan kepada Ayahmu, bahwa aku sudah melamar mu." ungkap Lee jujur.
__ADS_1
"Lalu?" Habibah duduk dan menatapnya serius.
"Aku tidak tahu, ayahmu menerima ku atau tidak."
Habibah terkekeh mendengar keraguan dari laki-laki yang selalu optimis tersebut.
"Aku khawatir." sambung Lee lagi.
Habibah semakin terkekeh geli.
"Ayo."
Habibah menarik lengan baju Lee dan mengajaknya ke ruangan kamar sekaligus ruangan Ayahnya.
"Ayah." panggilnya mengetuk pintu, dan kemudian langsung terbuka.
"Asal anakku bersedia." ucap Rudy tanpa mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan padanya.
"Tapi aku hanya bekerja di perusahaan kontraktor bangunan yang gajinya tidak seberapa?" ucap Lee berterus terang.
"Dan kau yakin akan mampu menghidupi putriku." ucap Rudi lagi.
"Aku yakin." jawab Lee benar-benar serius.
"Baiklah. Kalian akan menikah Minggu depan, di sini!" Rudy menunjuk tempat mereka berpijak.
"Terimakasih. Aku berjanji tidak akan mengecewakan putrimu."
Lee menunduk hormat dengan wajah penuh haru.
Hari berlalu begitu cepat, satu Minggu yang di rencanakan Rudy itu sudah di depan mata. Pesta meriah dengan ribuan undangan meramaikan rumah besar direktur Media Utama itu.
Habibah melihat bayangan dirinya di depan cermin, riasan yang sempurna dan gaun yang mahal melekat di seluruh tubuhnya. Pernikahan bak putri raja itu tak pernah ia bayangkan sebelumnya, bahkan mendapatkan Bram saja dia sudah amat bersyukur ketika itu.
Ternyata Allah memberikan hak yang lain setelah apa yang dia perjuangan sebelumnya.
Sungguh Allah maha mengetahuinya, bahwa apa yang kita inginkan, apa yang kita perjuangkan, belum tentu yang terbaik untuk kita. Allah memberikan kebahagiaan tak terduga, dari orang yang tidak diduga pula.
"Saya nikahkan Anakku, Habibah binti Rudy Utama dengan Lendra Hinata dengan mas kawin Seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Habibah binti Rudy Utama dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
Sah!
Sah!
Sah!
__ADS_1
"Alhamdulillah."