Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Part 110 MCS


__ADS_3

*Di dalam ruangan rumah sakit..


Belum sempat david dan riko menghampiri bima pintu ruangan kembali bergeser..


deg


"Dinda.." gumam chacha saat melihat chacha terbaring di atas hospital bed rumah sakit itu..


"Chacha.." kata dinda saat mendengar suara sahabatnya..


Chacha buru buru menghampiri sahabatnya. "Kamu sakit apa din ? Jangan bilang kamu jatuh lagi seperti kemarin ? Astaga.. kamu Kenapa nggak kabarin aku sih..??" Chacha terus bertanya tanpa henti..


Dinda tersenyum bahagia karena bisa bertemu lagi dengan sahabat satu satu nya itu..


"Heh. Kau tidak lihat ?" Bima mengangkat satu tangannya yang masih terpasang infus..


huh


"Syukurlah, bukan kamu din yang sakit.."


Dinda tidak bisa lagi menahan tawanya melihat kepolosan sahabatnya itu..


"Astaga..!!" Bima menggelengkan kepalanya "Siapa yang menyuruh mu datang kesini..??" ketus bima


"Aku.." diki maju lalu menggenggam tangan chacha.. "Kau lupa dia milikku sekarang ?" tanya diki dengan wajah menantang..


"Ck, sudah sudah.." bunda melerai perdebatan antara bima dan sahabatnya..


Setelah itu mereka semua berdiri melingkar di posisi nya masing masing di samping bima dan istrinya berbaring .


"Bagaimana bim rasanya kena peluru ?" tanya riko meledek..


"Tidak begitu buruk.." jawab bima asal yang langsung mendapat tatapan tajam dari istri kecilnya..


Semua orang langsung tertawa melihat bima yang tiba tiba nyali nya ciut saat berhadapan dengan sang istri..


"Kalau udah ada pawangnya hewan buas sekalipun pun langsung menyembunyikan taringnya.." kata riko semakin meledek..


Bima menelisik satu satu, seperti nya ada yang aneh..


"David. Kenapa kau diam saja..??" tanya bima pada asisten nya "Kau tidak senang aku sudah siuman ?" tanya nya lagi membuat david langsung membantah..


"Tidak bos, bukan begitu..!!"


"Kalau begitu kau jangan pulang dulu. Aku ingin bicara 4 mata dengan mu..!!" kata bima lagi..


"Lalu aku ?" dinda memotong pembicaraan suaminya


"Oh iya.. Maaf sayang.. Maksudku dengan mu dan anak kita juga.." kata bima sambil mengusap perut istrinya yang membuat para sahabat nya tercengang..


"Apa ? Anak kita ?" beo riko


"Jangan bilang..." chacha menggantung ucapan nya serata menutup mulut nya yang sedikit terbuka..


Dinda mengangguk pelan dengan tersenyum ke arah chacha..


"Astaga.. dinda.. Selamat ya sayang.. Aku ikut bahagia mendengar kabar baik ini.." kata chacha sambil menggenggam tangan sahabatnya..


"Selamat ya bim, aku tidak menyangka bibit yang kau tanam langsung berkembang.." kata riko menggoda sahabatnya


"Selamat bro. Aku juga tidak menyangka di antara kita ternyata kau yang akan lebih dulu menjadi seorang Ayah.." giliran diki memberi selamat pada bima


Sebenarnya dinda dan chacha ingin mengobrol lebih banyak, tapi bima sama sekali tidak mengizinkan istrinya itu turun dari ranjang rumah sakit. Alasan pertama karena bima tidak mau jauh lagi dari istrinya dan alasan kedua tentu saja karena pakaian yang di pakai istri kecil nya itu hari ini sangat menggoda iman para lelaki.


Setelah cukup lama, akhirnya chacha, diki dan riko pun pamit pulang. Dan di ruangan hanya tersisa bima, david dan istri nya dinda. Sementara orang tua mereka sudah lebih dulu keluar ruangan rumah sakit entah kemana..


"Jadi apa masalahmu ? Kenapa kau sejak tadi begitu murung ?" tanya bima heran


"Aku minta maaf bos. Aku yang membuat kau berada dalam bahaya..!!" kata david sambil menundukkan kepalanya


Bima mengerutkan keningnya.. "Apa maksud mu ??" tanya bima belum mengerti,


David hanya diam tidak menjawab pertanyaan sang bos..


"Aaa.. Aku tahu.. Pasti orang tua itu yang mengatakannya padamu ?" tanya bima seperti biasanya, dia selalu tahu sebelum david mengatakan nya..


David langsung mendongakkan kepalanya kaget..


"Sudahlah, kau tidak perlu terkejut begitu..!!" kata bima dengan menyunggingkan senyumnya "Kau tidak perlu mendengarkan ucapan orang tua itu.. Fokuslah pada pekerjaan mu..!! Ingat, aku yang menggaji mu bukan dia..!!"


"Aww.. Sayang kenapa kamu mencubit ku..?" tiba tiba bima mengaduh dan mengusap pinggang nya yang di cubit oleh sang istri di balik selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua ..


"Kenapa kamu selalu menyebut daddy dengan orang tua itu ? Aku tidak suka..!!" kesal dinda sambil cemberut..


"Lalu aku harus menyebut nya apa ? Lagi pula dia memang sudah tua..!!" balas bima tidak merasa bersalah..


"Itu tidak sopan..!! Apa kamu mau anak kita juga menyebut mu dengan sebutan seperti itu, hem ?"


deg


Lagi lagi dinda kembali membuat bima kalah berdebat..


Sementara sejak tadi david terus menahan tawa nya melihat perdebatan sengit antara bos dan nyonya muda nya..


"Karena kau menertawakan ku, aku akan memotong gaji mu 30%.." kata bima menatap david dengan tersenyum licik..


"Tapi bos.."


"40%..."

__ADS_1


"Bos..."


"45%. Jika kau terus membantah aku pastikan bulan ini kau tidak menerima gaji mu.." kata bima lagi semakin membuat david tidak berkutik..


"Aw.." pekik bima lagi


"sekarang apa lagi ?" tanya bima kembali kesakitan karena istri nya itu sekali lagi mencubitnya di tempat yang sama..


"Jangan sembarangan potong gaji orang..!!" kata dinda marah "Kak david, jangan khawatir. aku pastikan bulan ini kakak menerima 2x gaji.." kata dinda dengan menaik turunkan kedua alisnya..


David langsung mengembangkan senyumnya "Terimakasih nyonya muda..." kata david penuh kemenangan


Sementara bima sudah menekuk wajahnya kesal..


"Kenapa ? Om tidak mau memberikan gaji 2x lipat untuk kak david ?" tanya dinda saat suami nya hanya diam tidak merespon ucapan nya..


"Kalau om tidak mau, aku pulang sekarang dan besok aku tidak mau datang lagi kesini..!!" ancam nya


"Okay sayang okay.. apapun untuk mu.." jawab bima pasrah.


"Kau puas ??" tanya bima seraya kembali memberikan tatapan tajam pada asisten pribadi nya


David benar benar bersyukur memiliki nyonya muda yang pengertian seperti Dinda. Wanita itu bisa membuat singa yang super garang tersebut tak berdaya lagi.


"Kau tunggu di luar. Dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam..!!" perintah bima pada david


"Kenapa ?" tanya dinda memotong..


"Aku akan memberi pelajaran padamu.." bisik bima tersenyum licik..


deg


"Jangan macam macam om. Aku sedang mengandung.." kata dinda dengan wajah sedikit ketakutan..


"Astaga.. Aku berharap tidak mendengar apapun dari luar.." Batin david sambil melangkah keluar


"Kau tahu berapa aku harus mengeluarkan biaya untuk menggaji david tiap bulan ?"


Dinda menggeleng dengan wajah polosnya..


"35 juta.."


deg


"Wah besar sekali ternyata gaji seorang asisten pribadi seperti kak david itu.." kata dinda terkejut


"Itu hanya gaji belum termasuk tunjungan yang aku berikan tiap bulan.."


"emm, tapi kan suami ku ini memiliki uang yang lebih dari cukup untuk membayar lebih dari 10 asisten pribadi seperti kak david.." kata dinda mencoba menenangkan suami nya seraya mengusap dada bidang nya pelan..


"Karena kamu memintaku untuk menaikkan gaji david 2x lipat, maka kau yang harus membayar sisanya.."


"Tapi kan aku tidak memiliki uang sebanyak itu.." kata dinda murung..


"Kamu tidak harus membayarnya dengan uang sayang.. Ada cara yang lain yang lebih mudah.." ucap bima dengan menyunggingkan senyumnya


"Apa itu ?" tanya dinda kembali dengan wajah polosnya..


"Ini.." kata bima seraya mengusap bibir dinda pelan dengan ibu jari nya..


Cupp


Tanpa aba aba bima mengecup bibir itu sekilas..


"YAAA..."


Teriak dinda saat suami nya tiba tiba mengecup bibirnya..


"Kenapa ?" tanya bima dengan menaikkan alis nya "Apa kamu tidak merindukan ku ?"


Dinda lalu memegang tangan suaminya lalu meletakkan tangan itu di atas perutnya..


"Bukan hanya aku yang merindukan mu, tapi si kecil juga rindu Papi nya.."


"Papi.." beo bima, lalu sedetik kemudian dia langsung mengembangkan senyumnya..


"Aku suka panggilan itu.. Papi.." ulangnya lagi dengan tersenyum bahagia.. "eh, tunggu. Apa kamu sudah periksa ke dokter kandungan ?" tanya bima


Dinda menggeleng pelan..


"Kenapa ?"


"Karena aku ingin suami ku yang menemaniku ke dokter kandungan.." jawab dinda sedih, karena dia ingat beberapa kali menolak ajakan bunda dan ayah nya yang ingin menemani nya memeriksakan kandungan..


deg


"Maaf sayang.." kata bima bersalah "Kalau begitu kita periksa sekarang.." lanjut nya lalu meminjam ponsel istrinya.


Sedetik kemudian dia langsung terhubung dengan david yang berada di luar. Bima meminta david untuk segera masuk ke dalam ruangan..


"Ada apa bos ?" tanya david siaga..


"Panggilkan dokter kandungan ke ruangan ku sekarang..!!" perintah bima


"Tidak perlu om, kita bisa ke ruangan nya nanti.." kata dinda tidak enak jika harus memanggil dokter tersebut ke ruangan perawatan suaminya


"Tidak apa apa sayang. Kamu lupa rumah sakit ini milik suami mu..?"


"Tunggu.." bima menghentikan langkah asisten nya "Pastikan dokter kandungan itu wanita.." kata bima lagi

__ADS_1


"Astaga.. Posesif nya..." gerutu david dalam hati..


Tiba tiba pintu bergeser setelah david keluar dari ruangan itu..


"Bim.. cepat sekali kau siuman. Aku kira kau akan lama berbaring di sana.."


Bima memutar bola matanya malas.. "Untuk apa kau kesini ??" tanya bima "Apa dokter sepertimu tidak punya pekerjaan sampai berkunjung ke ruangan ku di jam sibuk seperti ini ??"


"Aku hanya ingin melihat keadaan sepupuku. Apa kau masih hidup atau tidak.."


"Sepupu.." gumam dinda


"Hai..Cantik.." goda dokter Tian pada istri sepupunya..


Brug..


Bima melemparkan 1 buah apel yang berada di atas meja tepat ke wajah dokter itu. Untung saja laki laki itu sigap menangkap nya, kalau tidak sudah di pastikan apel itu akan mengenai wajah tampan nya..


"Thanks.. Kau tahu saja aku belum makan.." kata dokter tian santai sambil menggigit apel yang di lempar bima tadi


"Tunggu..Tunggu.." kata dinda menyela.. "Tolong jelaskan, sebenarnya dokter ini siapa ?"


"Aku ?" tunjuk dokter tian ke wajah nya sendiri..


Dinda mengangguk pelan..


"Aku sepupu suami mu. Sebastian tapi kamu bisa memanggilku Tian.." kata dokter itu sambil mengulurkan tangannya dan jangan lupakan senyumnya khas casanova yang mengerikan..


Bima langsung menepis tangan Tian sebelum istrinya membalas uluran tangan dari laki laki itu..


"Jangan sentuh istriku..!!" tegas bima


Tian kembali tersenyum meledek "Dasar bucin..!!" umpat nya yang langsung mendapat tatapan tajam dari bima


"Eh ngomong ngomong, apa kamu tidak kegerahan berbagi selimut seperti itu.." tanya tian pada dinda.


Dinda hanya menjawab dengan senyuman .


"Padahal tadi aku lihat baju yang kamu pakai hari ini sangat bagus. Sayang bukan jika tertutup seperti itu.."


Kini bukan hanya apel lagi yang bima lempar, tapi satu keranjang penuh buah dia lemparkan pada sepupu lucknut nya itu..


"KELUAR..!!" Bentak bima pada tian membuat istrinya sampai terkejut


Tian kembali menyunggingkan senyum kemenangan nya "Santai brother. Aku hanya bercanda.."


"Kalau kau tidak mau keluar sekarang. Aku pastikan izin praktek mu di cabut hari ini juga..!!"


deg


Tian terkejut dengan ancaman sepupu nya itu.. Laki laki itu sadar, dia pasti kalah telak jika berhubungan dengan kekuasaan dan kekayaan yang di miliki bima.


"Okay cantik. Berhubung pasien ku sudah menunggu. Jadi seperti nya aku tidak bisa lama lama di sini.." ucap tian yang langsung membuat dinda menahan tawa nya..


Tian lalu keluar dari ruangan itu bertepatan dengan seorang dokter wanita yang masuk bersama david..


"Bos, ini dokter kandungan yang kau minta.." kata david


Tiba tiba David dan dokter itu pun di buat heran saat melihat buah buahan yang berserakan di lantai..


"Bos, ada apa ini ? Kenapa buah buahan ini bisa berjatuhan seperti ini..??" tanya david seraya mulai memunguti buah buahan tersebut..


"Kena gempa.." jawab bima asal yang membuat dinda kembali tertawa kecil..


"Dokter. Tolong periksa istriku.." kata bima kini pada dokter spesialis kandungan tersebut..


"Sepertinya kita harus melakukan USG.." kata dokter itu sesaat setelah memeriksa dinda


"Kalau begitu lakukan sekarang..!!"


"Tapi tuan, semua peralatan ada di ruangan saya.." katanya lagi dengan sopan


"Pindahkan saja kesini..!!" dengan gampang nya bima memerintahkan dokter tersebut membawa semua peralatan ke ruangan perawatan nya.


Ucapan bima itu langsung membuat ketiga orang termasuk dinda terkejut.. "Maaf dokter. Nanti saya dan suami saya yang akan ke ruangan anda.." kata dinda memotong percakapan suami nya dan dokter tersebut..


"Tapi..." Belum sempat bima menyelesaikan ucapan nya dia sudah mendapat tatapan tajam dari sang istri..


Kini giliran david yang menahan tawa nya. Padahal saat ini ingin sekali dia tertawa terbahak bahak..


Dokter itu pun pamit setelah istri dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja meminta dia kembali ke ruangan nya..


"Kak david. Apa bunda ada di luar ??" tanya dinda saat dokter itu sudah pergi..


"Beliau ada di ruangan CEO bersama Tuan Arya dan Tuan Yuda.." jawab david..


Ternyata sejak tadi ketiga orang tua itu berada di ruangan pribadi milik bima yang ada di rumah sakit ini.


"Om, aku boleh aku keluar sebentar..?"


"Tidak boleh..!!" tegas bima tanpa bertanya untuk apa istrinya meminta izin keluar..


"Seperti nya bunda membawa baju ganti untuk ku. Aku ingin mengambil nya om.." rengek dinda menjelaskan..


"David. kau dengar ?" tanya bima pada asisten nya..


Laki laki itu lalu mengangguk cepat.. "Baik nyonya muda, saya akan mengambilkan baju ganti anda.."


Dinda kembali menggelengkan kepalanya "Astaga.. suami ku ini benar benar perhatian sekali.." ledek dinda dengan wajah kesal..

__ADS_1


"Makanya, jangan sekali kali lagi kamu memakai baju seperti ini tanpa seizin dariku.."


...****************...


__ADS_2