Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Mengambil ayahku


__ADS_3

Habibah menatap Lee dengan sendu, tak kalah sendu dari wajah penuh harap laki-laki yang mencintainya.


"Walaupun aku tidak pantas." Lee tersenyum sedikit.


"Justru bagiku, aku tidak pantas kau jadikan pilihan. Sungguh aku sadar diri dengan status seperti ini." Habibah menundukkan wajahnya.


"Dan sayangnya aku tidak punya keinginan untuk memilih selain dirimu. Harusnya aku sudah menyerah karena masa lalu yang membuatku menciut, nyaliku terkadang dipukul mundur oleh kenyataan yang tak bisa di rubah. Tapi ku rasa aku benar-benar mencintaimu sehingga apapun alasannya aku harus mengejar mu sebelum terlambat." ucapnya sangat tulus, bahkan terlihat sedih.


Mendengar kata mengejarmu, sungguh itu mengingatkan dengan luka ketika menikah dengan Bram saat itu. Lelah...


"Bukankah harus berusaha sebelum gagal?" sambung Lee lagi.


"Itu aku." Habibah menutup matanya yang mulai terasa perih.


"Aku akan pergi besok, jika kau memintaku menemui Ibu." Lee membukakan pintu mobil itu lagi untuk Habibah.


Namun gadis itu tak juga masuk, berpikir dan kemudian menarik nafas. "Katakan juga padanya, aku akan menikah denganmu."


Lee membulatkan matanya, sejenak kemudian ia mengusap mata yang terasa mengabur. Sungguh tak yakin Habibah akan menerima dirinya di pagi itu.


"Asal kau tidak membagi hatimu kepada siapapun." sambung Habibah lagi.


"Aku berjanji tidak akan ada wanita lain selain dirimu, baik itu kemarin, sekarang, dan nanti." Lee berjanji, meyakinkan Habibah dengan sepenuh hati. "Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku tidak akan membiarkanmu kepayahan hanya untuk mendapat perhatian dariku. Aku akan selalu memprioritaskan dirimu. Aku_"


"Aku hanya butuh bukti." Habibah melewatinya masuk ke dalam mobil, dan Lee meraih tangan halusnya.


"Aku tidak akan lama, dan segera membuktikan padamu." Lee tersenyum melihat wajah yang terlihat malu padanya.


"Tentu saja. Atau akan ada orang lain yang mengirim bunga seperti dirimu." gurau Habibah meliriknya sedikit.


"Coba saja, aku akan memukulnya hingga tak bisa berdiri." Lee tersenyum hangat.


Tak berapa lama mereka sudah kembali ke pesantren tersebut. Lee meraih topi polos miliknya dan memakainya seperti biasa.


"Baru saja kau menjadi Ustadz Lendra."


Lee terkekeh sambil mematikan mesin mobil itu, memandang beberapa orang santri yang keluar dari pagar tinggi tersebut. "Lihatlah Santri laki-laki jika sedang keluar dari pesantren. Awalnya mereka memakai kopiah yang rapi, lengkap dengan sarung dan wudhu. Tapi setelah berada di tempat yang baru mereka akan mengganti sarungnya dengan jeans yang keren, dan kopiah dengan topi. Kau tahu alasannya?" Lee bertanya kepada wanita yang sedang memperhatikan dirinya itu.

__ADS_1


Habibah menggeleng.


"Karena kepala mereka terasa dingin, dan tidak percaya diri jika tidak di tutup. Tapi merasa berbeda jika selalu memakai kopiah saat bergabung dengan teman-teman sesama muda, maka topi seperti ini adalah pilihan." Lee menunjuk topinya.


Habibah mengangguk, itu memang benar. Sering melihatnya tapi tidak terlalu memperhatikan alasannya.


"Itu tidak penting. Yang lebih penting bagiku adalah ingin secepatnya menikah." ucap Lee menoleh Habibah dengan senyum tak berhenti.


"Pergilah, jangan sampai menyesal karena tidak pernah melihat ibumu." ucap Habibah masih di dalam mobil yang berhenti tersebut.


"Ya, aku akan pergi bila perlu malam nanti." Lee tak mau menunda.


Habibah tersenyum manis dan kemudian turun dari mobil tersebut.


Masuk sejenak mengantarkan Habibah hingga ke dalam, dan berpamitan kepada Bibi Rumini.


Bahkan setelah salam, Lee masih ingin bicara. "Aku pulang." pamitnya lagi.


Habibah mengangguk, menyaksikan laki-laki yang baru saja melamarnya menoleh beberapa kali, hingga mobilnya melaju.


Mendadak hatinya kosong melihat mobil itu menghilang di ujung jalan. 'Tak mungkin jika itu sebuah rindu. Bahkan baru beberapa detik melihat dia tersenyum tulus.'


"Astaghfirullah. Dia belum makan."


Cinta membuat kenyang, dia terkekeh sendiri.


Mulai hari itu, Habibah mencoba untuk ikhlas untuk semua yang sudah berlalu, bahwa apa yang terjadi sudah kehendak Allah SWT semuanya. Dan yang paling penting saat ini dia sudah tidak merasa sendiri.


Ada Lee yang selalu memberi kabar, ada Rudy Utama yang masih saja merasa kurang meskipun sudah memberikan semuanya kepada Habibah, rasa bersalah dan berdosa kepada putrinya tersebut tidak bisa hilang begitu saja.


"Ayah akan memberikan kepemimpinan kantor media utama padamu." ucap Rudy di hari itu, Habibah sengaja menginap di rumah Utama.


"Tidak Ayah, Ayah masih muda dan belum membutuhkan pewaris. Aku ingin menikmati kebebasan sebelum akhirnya tidak bisa mengelak dengan pekerjaan yang ayah berikan." tolaknya halus.


Rudy tak bisa memaksa, lagipula kedatangan putrinya dan bersedia tinggal di sana untuk beberapa hari sudah membuat Rudy sangat bahagia.


Tapi dua hari berikutnya Habibah sedikit resah, lantaran Lee tak memberi kabar. Entah apa yang terjadi di negara orang tersebut hingga laki-laki yang mencintainya itu malah hanya berdiam.

__ADS_1


Ragu namun kemudian menekan nomor ponselnya, khawatir dan rindu tentu membuat Habibah tak sungkan menghubunginya lebih dulu.


"Ibu meninggal." suara Lee bergetar dari seberang sana, sudah tentu dia sedang bersedih.


"Lee, maaf aku tidak ada bersamamu. Atau aku akan menyusul?" ucap Habibah dengan suara halusnya, dia sungguh ingin ada di sana.


"Tidak perlu, besok aku sudah kembali."


"Ya."


Sungguh ajal siapa yang tahu, beruntung Habibah memintanya datang hari itu untuk menemui ibunya. Paling tidak sudah melihat wajahnya secara langsung, untuk pertama dan terakhir kali. Terlepas dia adalah orang yang jahat, tapi tetap saja dia seorang ibu.


Habibah melamun di balkon lantai dua itu, masih memikirkan Lee yang jauh di sana, dengan kesedihan dan hanya sendiri.


"Papa aku mohon."


Sayup Terdengar suara yang tidak asing di bawah sana. Merengek dan sungguh membuat suasana hati Habibah berubah 180 derajat. Ia segera turun melihat bagaimana keadaan di bawah sana.


"Larisa Papa mohon kau mengerti, kenyataan sudah cukup menjelaskan bahwa kau bukan anak kandungku. Maka yang berhak menikahkan mu adalah Wali hakim, penghulu itu sendiri." jelas Rudy kepada Larisa yang masih saja melalui lengan Rudy Utama.


"Tidak Papa, aku hanya putrimu, aku tidak mau menjadi anak yang tidak punya ayah, sedangkan Mama sedang ada dipenjara." tangis Larisa pecah di ruangan besar itu.


"Maaf Larisa, Papa tidak bisa."


Langkah Habibah terdengar menuruni anak tangga, sambil terus menyaksikan bagaimana Larisa memohon dan menangis untuk di nikahkan.


'Bram.' gumam Habibah di dalam hati, tahu persis jika laki-laki yang diinginkan Larisa adalah Bram satu-satunya. Artinya mereka sudah sepakat akan menikah.


"Papa!" Panggil Larisa dalam tangisnya. Sementara Rudy Utama hanya diam tak mau membuat perdebatan.


"Pergilah Larisa, jika ada laki-laki yang akan menikahkan dirimu, dia hanyalah ayah kandungmu. Tapi mengingat kalian tidak terlibat hubungan keluarga, ibumu tidak menikah dengan ayahmu, maka kau hanya boleh di nikahkan oleh wali yang lain."


"Aku tidak butuh ceramah darimu, kau hanyalah gembel yang sedang di pungut ayahku!" bentaknya kesal kepada Habibah.


"Dan sekarang keadaannya berbalik. Kaulah gembel yang tak punya Ayah." balas Habibah pelan, tidak dengan amarah tapi cukup membuat Larisa terbakar.


"Brengsek, wanita murahan! Kau merebut Bram dariku dan sekarang merebut Papa! Kau mengambil semua milikku!" Larisa mengamuk ingin menyerang Habibah, tentu Rudy tidak diam saja dan memegangi Larisa.

__ADS_1


"Tidak Larisa. Aku tidak mengambil apapun. Jika kau menganggap aku merebut Bram maka sekarang kau sedang mendapatkannya. Kau pantas mendapatkan Bram, tapi maaf, kau tidak bisa mengambil Ayahku. Milikku akan tetap milikku walaupun kau sudah berusaha mempertahankannya. Begitupun suamiku, ambillah! Sejak awal dia memang milikmu."


__ADS_2