Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Part 104 MCS


__ADS_3

*Di kamar chacha..


eughh..


Lenguhan pertama setelah hampir 30 menit gadis itu pingsan.


Chacha perlahan membuka kedua matanya ..


"Sayang, kamu gk apa apa kan ?"


"Kak Diki.."


"Dimana yang sakit, hem ?" tanya diki lagi dengan wajah penuh kekhawatiran..


Tiba tiba ibu masuk ke dalam kamar..


"Chacha, alhamdulillah kamu sudah siuman sayang.." kata ibu tersenyum lalu memberikan minum untuk chacha..


"Bu, kenapa dia di sini ?" tanya chacha dengan wajah tidak suka..


"Dia siapa ?" ibu bertanya balik lalu melihat ke arah diki.. "OH, CALON SUAMI KAMU ? ya nama nya juga calon suami harus selalu di samping calon istrinya kan, apalagi calon istrinya lagi sakit kaya gini.." goda ibu sambil menyunggingkan senyum nya..


Diki sampai menahan tawa nya mendengar jawaban ibu pada putrinya itu..


Chacha mengerutkan keningnya..


"Sudah ya ibu keluar lagi. Nanti ibu bawakan bubur buat kamu.."


Ibu lalu menepuk pelan bahu diki sambil tersenyum, setelah itu wanita itu pun keluar dari kamar anak gadis nya itu..


Dengan kepala yang masih sedikit pusing chacha memaksakan dirinya untuk bangun dan duduk bersandar di tempat tidur nya..


Diki tetap membantu chacha bangun meski chacha menolak bantuan nya dengan menepis tangan laki laki itu..


"Kak diki kenapa ada di kamar chacha ?" tanya chacha dengan wajah jutek


"Kamu tadi pingsan sayang.."


"Terus kenapa kak diki nggak bawa chacha ke kamar yang ada di bawah aja kenapa malah ke kamar chacha..??"


Diki tersenyum "Memang kenapa ? Kamar calon istriku bagus walaupun sedikit berantakan.." goda diki dengan mata yang terus menyapu setiap sudut kamar..


Ya, itulah yang membuat chacha malu saat sadar tadi melihat diki berada di kamarnya. Memang kamarnya tidak seberantakan itu, tapi ya tidak bisa di bilang rapi juga..


Chacha lalu memalingkan wajahnya..


Diki menggeser duduknya semakin mendekat ke arah chacha..


Di pegangnya dagu chacha agar gadis itu melihat ke arahnya..


"Aku kangen banget sama kamu cha.." kata diki dengan suara yang begitu lembut..


Chacha menggeleng cepat.. "Bohong..!! Chacha benci kak diki..!!" lalu dengan cepat dia memalingkan wajahnya lagi..


"hey, lihat aku sayang..." kata diki kini menangkup wajah gadisnya..


"Kak diki mending pergi aja sana..!! Tinggalin chacha..!! Lagian chacha juga udah di jodohin sama ibu.." kata chacha dengan menahan air mata nya. Chacha melepas tangan diki yang memegang kedua pipinya..


"Aku tahu, kamu di jodohin sama laki laki yang mengantarmu pulang tadi kan ?"


deg


"Kak diki jangan sok tahu..!! Udah sana mending pergi aja..!!" chacha kembali mengusir laki laki itu..


"Aku memang tahu. Ibu sudah memberitahu semua nya padaku.." jawab diki membuat chacha kembali menoleh ke arah nya..


"Ibu ?"


**


*Flashback On..


"Kamu teman nya chacha ?" tanya ibu lagi,


"Bukan..!!" jawab diki cepat

__ADS_1


"Terus kamu siapa ?"


"Saya calon suami chacha, tante..!!"


Saking terkejutnya dengan jawaban diki, mata ibu sampai melotot kedua alisnya ikut naik ke atas..


Setelah saling menatap beberapa detik, ibu lalu mengajak diki keluar dari kamar putrinya..


Ibu membawa diki ke balkon yang ada di lantai 2 rumah nya..


"Jelaskan apa maksud ucapan mu tadi ?" tanya ibu dengan wajah serius..


Diki lalu menceritakan awal mula pertemuan dia dengan chacha, setelah itu bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama dan diki mengatakan dia sudah meminta chacha untuk menjadi calon istrinya, tapi gadis itu meminta diki untuk langsung datang pada ibu nya.


Ibu terus menyimak dan mendengarkan setiap kata yang di ucapkan diki. Dalam sekejap wanita itu bisa menarik kesimpulan bahwa putrinya juga menyukai laki laki ini.


Diki juga menceritakan kenapa dia belum datang untuk menemui ibu. Hambatan apa yang membuatnya menunda kedatangannya sampai 4 hari setelah dia mengutarakan perasaan nya pada chacha.


"Tapi saya sudah menjodohkan chacha.."


deg


Wajah diki tiba tiba berubah, rahangnya terlihat mengeras..


Dalam sekali lihat ibu sudah tahu reaksi apa yang di tunjukkan anak muda di depan nya ini.


"Apa kamu benar benar mencintai chacha ?" tanya ibu..


Diki dengan cepat mengangguk


"Kalau begitu tanyakan pada chacha, apa dia lebih memilih bersama mu atau dia akan menerima perjodohan nya.."


Diki mengerutkan keningnya bingung. Bukankah seharusnya ibu melarangnya untuk mendekati chacha jika memang sudah di jodohkan. Tapi kenapa wanita ini malah meminta nya bertanya langsung pada chacha.


"Aku menjodohkan chacha karena tidak tahu bahwa dia sudah memiliki pilihan nya sendiri. Seandainya dia mengatakan bahwa dia sudah memilih kamu, tentu aku tidak akan mengenalkan nya pada laki laki mana pun.." kata ibu menjawab kebingungan diki


Diki lalu tersenyum, dengan cepat dia mencium punggung tangan ibu berkali kali sambil terus mengucapkan kata terimakasih..


"Kamu boleh memanggilku ibu.." kata ibu seraya menepuk bahu diki ..


Hanya satu orang yang dia ajak datang kerumah selama ini, yaitu dinda sahabat baik putrinya.


"Ngomong ngomong, seperti nya usia kamu tidak sama dengan chacha.." tanya ibu penasaran,


Diki mengangguk pelan "Usia saya sudah kepala 3 tante eh maksud saya ibu.." jawab diki, dia belum terbiasa memanggil wanita di hadapan nya itu dengan sebutan ibu, apalagi ini pertemuan pertama mereka.


Meskipun dia sering menjemput chacha, tapi chacha tidak pernah mengenalkan diki pada ibu nya, bahkan di persilahkan untuk masuk ke rumah gadis itu pun chacha tidak membolehkan nya.


"mungkin perbedaan usia saya dengan chacha 10 tahun.." sambung diki lagi menjelaskan..


Ibu terkejut saat tahu diki sudah kepala 3, pasalnya tidak terlihat sedikitpun bahwa laki laki yang ada di depan nya ini sudah berada di usia matang.


Dengan wajah tampan di tambah postur badan yang proporsional sama sekali tidak membuat diki terlihat berusia 30 tahunan. Ibu hanya mengira usia diki di atas putri nya beberapa tahun terlihat dari cara dia bertutur kata dan pembawaan nya yang dewasa.


Tapi ibu sama sekali tidak keberatan, karena nanti nya yang menjalani hubungan itu chacha bukan dirinya. Sebagai ibu dia hanya bisa mendoakan apapun yang menjadi pilihan putrinya itu adalah pilihan yang terbaik.


Setelah perbincangan panjang itu, mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar chacha. Ibu meminta diki untuk menemani chacha karena wanita itu mau menghubungi dokter untuk memeriksa putrinya.


Hanya 10 menit, dokter yang bekerja di klinik dekat rumah chacha itu sudah datang. Dokter mengatakan chacha hanya mengalami keram perut karena menstruasi, di tambah gadis itu sedikit dehidrasi.


Setelah dokter pergi ibu lalu memberitahu diki, bahwa chacha beberapa hari ini tidak berselera makan. Kadang ibu masih mendengar suara musik di kamar chacha di waktu menjelang dini hari. Itu menandakan putri nya juga mengalami gangguan tidur.


Mengetahui hal itu diki langsung merasa bersalah. Dia yakin itu karena perbuatannya, membuat chacha menjadi tidak bersemangat beberapa hari ini.


*Flashback Off..


**


"Apa kamu menerima perjodohan itu ?" tanya diki dengan menatap mata chacha intens..


"Bukan urusan kakak..!!" ketus chacha lagi dengan kembali memalingkan wajahnya. Terhitung sudah 3 kali chacha menoleh ke arah berlawanan dari lawan bicaranya..


Diki menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan nya perlahan..


"Cha, aku tidak akan memaksa mu untuk memilih ku.!! Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan aku juga begitu tersiksa beberapa hari ini menahan rindu padamu.."

__ADS_1


deg


Air mata chacha menetes begitu saja. Chacha dengan cepat menghapus air mata yang jatuh di pipi nya itu..


"Kalau gitu aku pergi sekarang cha. Sekali lagi maafkan aku.."


Diki lalu bangun berniat untuk keluar dari kamar chacha. Tapi baru saja diki ingin melangkah chacha memegang tangan diki, menahan lelaki nya agar tidak pergi lagi..


"Kak diki mau pergi lagi ninggalin chacha ?" tanya chacha dengan deraian air mata, padahal tadi dia yang mengusir diki berkali kali.. "Kalau kak diki berani melangkah keluar, chacha pastiin kak diki gak akan pernah lihat chacha lagi..!!"


Diki menoleh lalu kembali duduk di sisi ranjang.


"nggak sayang aku gak akan kemana mana.." Jawab diki lalu sedetik kemudian dia memeluk chacha begitu erat. Menumpahkan segala kerinduan yang tertahan beberapa hari ini.


Chacha menangis di pelukan laki laki itu..


"Maaf sayang maaf.." diki mengusap usap rambut belakang chacha dengan pelan..


Tanpa mereka sadari, ibu diam diam melihat kejadian itu dari pintu kamar chacha yang tidak tertutup.


Ibu meneteskan air mata haru nya mendengar semua perkataan diki pada chacha. Diki juga begitu sabar menghadapi chacha, laki laki itu bahkan sama sekali tidak meninggikan suara nya pada chacha..


TokTokTok


Ibu mengetuk pintu kamar chacha. Saat itu juga kedua sejoli itu langsung melepaskan pelukan mereka. Chacha pun buru buru menghapus jejak air mata nya..


Ibu tersenyum sambil berjalan menghampiri keduanya. Wanita itu lalu meletakkan semangkuk bubur dan air putih hangat di atas meja..


"cha, kamu makan dulu bubur nya mumpung masih hangat.." Ibu mengangkat mangkuk itu berniat ingin menyuapi putrinya..


"Biar saya aja bu yang nyuapin chacha.." diki menawarkan diri, tanpa menolak ibu langsung memberikan mangkuk itu pada calon menantunya..


Ya, ibu sudah yakin dengan diki meski baru beberapa jam mereka bertemu..


"Tunggu..tunggu.." chacha memicingkan kedua matanya melihat diki dan ibunya..


"Kenapa kakak manggil ibu, ibu ? Terus kenapa ibu begitu ramah sama kak diki, padahal ibu sudah menjodohkan chacha sama kak bayu kan ?" tanya chacha meminta penjelasan pada kedua nya..


Ibu dan diki reflek saling pandang lalu tersenyum kecil..


"Ibu yang meminta calon menantu ibu ini untuk memanggil seperti itu. Lalu untuk perjodohan kamu dengan andrew, lupakan saja. Ibu mau kamu bahagia dengan pilihan kamu sendiri.." jawab ibu sambil mengusap pucuk kepala putrinya..


"Lalu persahabatan ibu dengan tante rini gimana ?" tanya chacha khawatir takut keputusan nya akan merusak persahabatan ibu nya dengan tante rini yang tidak lain adalah orang tua dari bayu..


"Kamu tidak perlu khawatir, jika rini memang tulus bersahabat dengan ibu pasti dia akan mengerti dan tidak memaksakan kehendaknya tentang perjodohan ini.."


Chacha lalu memeluk ibunya dari samping "Makasih bu. Chacha sayang banget sama ibu.."


Setelah berpelukan dengan putrinya, ibu pun keluar lagi dari kamar chacha. Dia berniat untuk menghubungi sahabatnya, rini.


Sementara diki, dia mulai menyuapi chacha sedikit demi sedikit..


"Kak..." tanya chacha di sela sela makan nya..


"hem.."


"Kak Diki jawab jujur sama chacha, sebenarnya kak diki kemana selama beberapa hari ini ?"


Diki menarik nafas nya, bingung mau mulai dari mana bercerita pada chacha..


"Maaf aku belum bisa cerita sekarang.." jawab diki


"Kenapa ? Oh chacha tahu.. Kak diki sebenarnya sudah punya kekasih kan ? Terus kak diki gak ngabarin chacha beberapa hari ini karena kak diki lagi sama wanita itu.. bener kan ?"


Bukan nya menjawab pertanyaan chacha, diki malah tertawa geli mendengar ocehan gadisnya itu..


"Jangan mikir aneh aneh, bisa ?" tanya diki..


"Ya abisnya kak diki susah banget jawab pertanyaan chacha. Padahal tinggal bilang aja yang sebenarnya, biar chacha gak mikir aneh aneh lagi.."


"Sungguh menggemaskan.." batin diki melihat chacha begitu lucu dengan wajah penasaran bercampur kesal nya..


"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera memiliki kamu seutuhnya cha.."


"Cha, besok aku akan datang lagi untuk melamar kamu dan aku mau lusa kita harus sudah menikah..!!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2