
#Mengejar Cinta Suamiku part 27 (Pelecehan Seksual)
Rizki dan Annisa berada di sebuah restoran ternama, mereka sengaja meluangkan waktu untuk makan berdua, di sana mereka memesan ruangan VIP agar lebih nyaman, dimana hanya ada mereka saja tanpa berbaur dengan pengunjung lain.
Rizki mempersilakan Nisa memesan apa pun yang diingankannya.
“Mas kok ngajak makan di tempat mewah seperti ini? Padahal di warung makan pinggir jalan juga nggak papa.” Kata Nisa terlihat segan.
Baginya ini terlalu mewah, dia khawatir akan merepotkan suaminya. Pantas saja sebelum pergi, Rizki menyuruhnya untuk memakai gamis cantik yang baru saja di belinya.
“Jangan khawatir, Mas lagi dapat bonus lumayan. Anggap aja ini perayaan karena ingatan kamu sudah pulih. Pesan aja yang kamu mau, kalo nggak, nanti Mas marah!” Ucap Rizki dengan membelai pipi istrinya.
Mendengar ucapan itu, Nisa senang karena banyak menu favoritnya. Dia memesan beberapa piring makanan. Tidak lupa dengan minuman yang bisa menyegarkan tenggorokan.
Ruangan ini berukuran sekitar enam meter persegi dengan dekorasi dinding yang elegant, memakai desain kedap suara, kelebihan lainnya, ruangan ini tertutup, membuat privasi di sini menjadi aman.
Waiters datang dengan nampan berisi makanan yang dipesan, Nisa yang sedari tadi menahan lapar seketika menjadi sumringah melihat kedatangan mereka.
Sejak pagi, Nisa sengaja tidak makan nasi karena tahu suaminya mengajak makan malam di luar, wajar saja jika kini perutnya keroncongan saat aroma makanan menyeruak.
Meskipun sudah lapar, tapi melihat plating makanan yang begitu cantik membuat jiwa motretnya tergugah.
Nisa mengambil ponsel dan mengumpulkan semua piring makanan untuk di potret satu persatu.
“Eeet.. Ett.. Mas jangan di sentuh dulu makanannya, mau Nisa fotoin dulu.” Ucap Nisa sambil merebut piring makanan dari Rizki yang nyaris saja di aduk-aduk.
“Ini makanan cantik gini kok Mas sampai hati mau langsung aduk aja tanpa di foto dulu.” Tambahnya membuat Rizki terkekeh.
Melihat istrinya fokus memotret makanan membuat dia ingin menggoda Nisa yang malam ini terlihat sangat menawan di matanya.
Rizki mengambil kembali piring dan tangannya hendak menyendok makanan tersebut.
“Iih, Mas awas ya kalo berani-berani nyentuh makanan yang belum di foto, simpan nggak, atau Nisa...”
“Atau apa? Hmm” Rizki menarik tangan Nisa membuat dia berada dalam dekapannya.
Nisa kaget, kini wajahnya hanya berjarak satu senti dengan Rizki.
“Atau ini...muachhhh” Nisa mengecup bibir suaminya.
Tidak puas hanya mendapat kecupan, Rizki mendekap kedua pipi Nisa dengan tangannya, wajah mereka semakin berdekatan, sangat dekat, hingga kedua bibir itu saling mengecup dengan mesra, seolah Rizki sedang menumpahkan segala rindu yang selama ini dipendam olehnya.
Tok.. Tok.. Tok
Mereka kaget saat mendengar pintu diketuk, dengan sigap Rizki melepaskan tubuh istrinya. Waiters kembali masuk dengan membawa pesanan mereka. Nisa terlihat salah tingkah, namun menyembunyikannya dengan kembali memotret makanan di meja.
Semua pesanan sudah tersaji, Nisa sudah selesai memotret tanpa ada yang terlewatkan, kini waktunya mereka menyantap makanan yang aromanya sudah menggoda sejak tadi.
***
Suara ponsel Annisa berdering beberapa kali membangungkan dirinya yang sedang istirahat karena merasa tidak enak badan.
Rizki sudah pergi bekerja sejak jam delapan tadi. Nisa memilih libur kuliah karena badannya sedikit demam.
“Assalamualaikum,” Ucap Nisa mengangkat telepon.
“Waalaikumsalam, aku di luar. Bisa bicara sebentar?”
“Aku lagi nggak enak badan, Kak.”
__ADS_1
“Sebentar aja, ya. Tolong!” Fatur sedikit memaksa.
“Yasudah, sebentar Kak, aku kedepan.” Nisa mematikan telepon dan meraih hijabnya. Dia membuka pintu untuk menemui Fatur.
“Kenapa kamu menghindar terus dari aku?” Cecar Fatur saat melihat Nisa di hadapannya.
“Aku udah menikah, Kak. Hubungan kita hanya partner bisnis, wajar kalo aku menolak bertemu jika tidak ada kaitannya dengan pekerjaan.”
“Rupanya ingatan kamu sudah kembali, pantas saja!”
“Maksudnya apa, Kak?”
“Apakah kamu memang sepolos itu?” Ucap Fatur terlihat emosi.
Nisa tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya, dia memilih diam karena malas berdebat.
“Jadi, setelah ingatan kamu kembali, kedekatan kita selama ini benar-benar nggak ada artinya sama sekali buat kamu?”
“T-tapi Kak, baik saat aku amnesia atau nggak, perasaanku tidak berubah. Kak Fatur sudah aku anggap seperti Kakak ku sendiri.”
Fatur semakin marah mendengar perkataan Annisa, dia kecewa kebaikannya selama ini tidak ada artinya sama sekali.
Bahkan saat amnesia pun, Annisa tidak pernah melihat dirinya, kehadiran Fatur baginya hanya dianggap sebagai Kakak.
Fatur yang sangat terobsesi untuk memiliki Nisa menjadi marah saat kenyataan itu tidak sesuai harapan.
Dia semakin mendekat ke arah Annisa, namun Nisa menghindarinya dengan terus mundur ke belakang hingga tubuhnya menyentuh dinding dan membuatnya tidak bisa menghindari Fatur lagi.
Fatur semakin dekat, tubuhnya menghimpit Nisa. Tangan Fatur disandarkan ke dinding hingga membuat kepala Annisa tidak bisa menoleh karena tehalang oleh tangannya yang kekar.
“Katakan kamu menyukaiku, Nis.” Ucapan Fatur kini terdengar sebagai ancaman bagi Nisa.
“CEPAT KATAKAN!” Teriak Fatur padanya.
Nisa semakin ketakutan, mulutnya seolah terkunci untuk berkata sesuatu.
Fatur semakin marah karena Annisa tidak kunjung menuruti keinginannya.
Dia mendekap wajah Annisa dengan paksa hendak mencium bibirnya, dengan kekuatan yang tersisa, Nisa berontak sekuat tenaga.
Namun tenaganya tidak bisa mengimbangi Fatur yang sedang tersulut emosi.
Fatur terus mendekapnya, memaksakan diri untuk bisa mengecap bibir wanita pujaannya.
Blamm... Bukk.. Bukk.. Bukkk..
Rizki datang menyelamatkan istrinya, tinjunya tidak berhenti memukuli laki-laki kurang ajar ini.
Berani-beraninya dia hendak menyentuh istrinya! Rizki memukuli Fatur tanpa ampun, membuat badannya ambruk tidak berdaya.
Nisa yang sedang sakit menjadi tambah terkulai lemah saat diperlukan seperti itu oleh Fatur. Nisa mengalami trauma yang cukup dalam hingga membuat tatapan dan pikirannya kosong.
Melihat Fatur sudah sangat kesakitan, Nisa menyentuh pundak Rizki untuk menyuruhnya berhenti memukuli Fatur.
Rizki menuruti perintah Annisa dan segera membawanya ke dalam rumah. Dia menidurkan Annisa di kamar, mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
Rizki menenangkan Annisa yang terlihat sangat trauma akibat ulah Fatur.
Rizki benar-benar ingin membunuh laki-laki itu jika saja Annisa tidak melerainya.
__ADS_1
Baginya, tidak ada ampun bagi siapa saja yang berani menyakiti Annisa.
Annisa menangis di pelukan Rizki, dia masih terbayang saat Fatur memperlakukan dirinya dengan keji.
“Kamu tenang aja sayang, Mas akan menuntut dia agar dia mendapatkan hukuman atas perlakuan pelecehan seksual kepada kamu.” Ucap Rizki penuh emosi.
Annisa mengangguk, tubuhnya begitu lesu karena shock dengan kejadian tadi.
***
Rizki mengumpulkan seluruh bukti dan menyewa pengacara handal untuk menuntut perlakuan Fatur.
Hari ini, Rizki menyambangi rumahnya untuk memutuskan kontrak kerja dan mengambil barang yang sudah selesai di kerjakan.
Tok.. Tok.. Tok..
Rizki mengetuk pintu dengan keras karena sedari tadi tidak ada jawaban.
“Gua tahu lu di dalam, cepet buka! Atau gua dobrak pintunya.”
Tidak lama pintu berwarna coklat itu terbuka. Rizki langsung nyelonong masuk meski Fatur belum mempersilakannya.
Fatur menyadari dirinya bersalah, hingga membuatnya tidak berani menatap Rizki.
“Gua pasti udah bunuh lu kalo saja Nisa tidak menyuruh gua buat berhenti. Lu bayangin, orang yang udah dijahatin masih bisa-bisanya kepikiran untuk nyelametin lu. Apa lu waras, bisa-bisanya setega itu kepada wanita baik-baik?”
Rizki adalah orang yang sabar dan tidak banyak bicara, namun saat seseorang mengusiknya, Rizki bisa menjadi orang yang tegas dan pemberani.
“Maaf, Bang. Saya nggak maksud melakukan itu.”
“Simpan semua pembelaan lu di hadapan polisi nanti. Gua nggak butuh! Lu bertindak bodoh di tempat yang banyak di taruh CCTV, itu sama aja kayak lu bunuh diri. Satu lagi, kontrak kerja antara lu dan Annisa dibatalkan! Gua kesini mau ambil produk yang udah jadi. Yang masih di produksi, lu tanggung sendiri kerugiannya.”
Rizki berkata dengan tegas, lalu pergi meninggalkan Fatur sendiri.
Fatur merenungi kebodohannya yang tidak bisa menahan emosi hingga membuat banyak kerugian bagi dirinya.
Terlebih, bagi nama baiknya yang selama ini di idolakan oleh banyak wanita.
Karirnya sebagai selebgram pasti akan hancur saat netizen mengetahui perbuatannya terhadap Nisa.
‘Kenapa lu bodoh banget, Tur. Nisa sekarang pasti sangat benci sama gua’ Lirih Fatur dalam hati.
Fatur benar-benar tulus mencintai Annisa, hanya saja, dia tersulut emosi saat mengetahui cintanya bertepuk sebelah tangan.
‘Nisa, kamu begitu nyata, tapi sangat sulit kugapai, seperti bayangan yang datang di siang hari, namun menghilang saat mentari tenggelam.
Kamu seperti air yang mampu menyegarkan, namun tidak bisa ku genggam.
Kamu datang bak pelangi yang memberi banyak warna dalam hidupku yang hampa, namun sesaat kemudian menghilang tanpa jejak.
Bahkan, sekedar dalam mimpi saja kamu enggan datang.
Mengapa harus kamu yang kucintai begini dalam? Seseorang yang hatinya sudah di kunci oleh orang lain, hingga tidak mungkin bagiku membukanya.
Nisa, tolong aku. Sepertinya aku akan tenggelam dalam perasaan yang tidak bertepi’
Bersambung...
__ADS_1