Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 35 (PHK)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 35 (PHK)


Setelah sekali mengikuti majelis ilmu, Rizki dan Annisa menjadi ketagihan. Setiap minggu, mereka rutin mengikuti majelis ilmu yang diselenggarakan oleh Masjid tersebut.


Mendalami ilmu agama, membuat cara pandang mereka berubah. Tidak lagi terbuai dengan dunia, tidak pula merasa khawatir menghadapi cobaan dalam hidupnya baik yang telah berlalu, atau yang akan datang menghadang di masa depan.


Sahabat sekaligus keponakan Rasulullah, yakni Ali Bin Abi Thalib pernah berkata,


“Apapun yang menjadi takdirmu, pasti akan mencari jalannya sendiri untuk menemukanmu.”


Suatu kalimat sederhana tapi sarat dengan makna.


Takdir baik atau buruk pasti akan mendatangi, suka atau tidak, gembira ataupun duka, sekalipun mencoba lari darinya pasti akan mendatangi kita.


Rizki dan Annisa memegang teguh keyakinan itu, bahwa dalam hidup pasti akan bertemu dengan takdir yang membawa kebahagiaan, pun yang membawa kesedihan, silih berganti sesuai waktunya.


Rizki menyodorkan satu sendok makanan untuk menyuapi Annisa, sedari tadi Nisa menyaksikan suaminya yang sedang lahap menyantap nasi goreng yang dibuat Nisa dengan penuh cinta.


“T-tapi..”


“Ayo aaaa...”


Nisa akhirnya membuka mulut, satu sendok nasi goreng berhasil mendarat di mulutnya.


Padahal, hari ini Nisa sedang puasa sunnah, tapi membatalkannya karena enggan mengecewakan Rizki yang sedari tadi mengajaknya makan bersama.


Nisa tidak sempat izin kepada suaminya, pun semalam dia kesiangan untuk sahur. Jadilah dia mengawali puasanya lima menit sebelum adzan subuh berkumandang.


Biarlah, menyenangkan suami akan mendapat pahala juga, pikirnya.


Akhirnya mereka menyantap sarapan pagi bersama. Matahari semakin meninggi, kicau burung seperti bernyanyi dan tidak berhenti sejak matahari terbit, seolah bersorak gembira menyambut hari kamis. Rizki mengeluarkan sepeda motor hendak berangkat kerja, meski Nisa sering menyuruhnya memakai mobil, namun bagi Rizki menggunakan motor lebih cepat sampai ditujuan, dengan begitu dia bisa menghemat waktu.


“Mas berangkat dulu ya sayang.”


“Iya, Mas hati-hati di jalan ya.” Nisa mencium tangan suami dengan khidmat.


“Oke sayang.”


Setelah mengucap salam, dan menciumi seluruh bagian di wajah Nisa, Rizki berangkat menyusuri jalanan kota Jakarta ditemani cuaca yang sedikit dingin.


Nisa melanjutkan aktivitasnya membereskan rumah, setelah selesai dia membaca kembali novel favoritnya.


Sudah hampir satu bulan Nisa menutup toko online yang selalu ramai pembeli, selain belum ada karyawan, dia juga masih menikmati hari-harinya yang dihabiskan dengan melakukan hal-hal yang disukai.


Saat jenuh, sesekali Nisa scroling sosial media miliknya untuk mengetahui update terbaru tentang berita yang cukup menggemparkan dunia dua minggu ini.


Berita dari negeri tirai bambu dimana banyak manusia berjatuhan akibat sebuah virus yang cukup mematikan. Selain mudah menular, virus ini juga sudah banyak memakan korban.


Hingga pemerintah China memberlakukan sistem lockdown untuk memutus rantai virus tersebut.


Nisa bergidik ngeri, sebuah virus yang bahkan bentuknya saja tidak kelihatan tapi bisa membunuh manusia dengan mudahnya.


Diberitakan, virus tersebut berasal dari sebagian manusia yang tinggal di sudut kota China sering mengkonsumsi kelelawar, tapi belum jelas kebenarannya karena belum ada pemberitahuan jelas dari WHO mengenai virus ini.


Besar kemungkinan virus ini akan terus menyebar karena sangat mudah menular, begitu yang di beritakan oleh media lokal maupun mancanegara.


***


Sebulan sejak berita yang dilihat oleh Nisa tempo hari di sosial media, virus sudah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Mereka menyebutnya Covid-19.


Setiap hari korban meninggal dan korban yang tertular virus itu semakin banyak, hingga pemerintah Indonesia memberlakukan sistem yang sama dengan China, yakni melakukan lockdown.


Seluruh aktifitas yang dirasa tidak penting dilarang, polisi berjaga dimana-dimana.


Penjual masker seolah mendapat lotre karena pemerintah mewajibkan seluruh warga untuk memakainya membuat penjualan meningkat drastis, banyak warga yang tiba-tiba alih profesi menjadi pembuat masker, pedagang masker pun bermunculan di pinggir jalan.


Tidak hanya itu, pemerintah juga menganjurkan menggunakan handsenitizer untuk menjaga tangan tetap higienis.


Handsenitizer menjadi barang langka yang banyak dicari masyarakat. Subhanallah, sungguh fenomena luar biasa.


Jalanan kota Jakarta yang biasa padat, kini lengang, hanya sesekali yang melintas, itupun sangat jarang sekali.


Para perusahaan berhenti beroperasi, hanya perusahaan yang bergerak di bidang paling krusial saja yang diperbolehkan beroperasi.

__ADS_1


Para pekerja di rumahkan, sebagian tetap bekerja dari rumah atau mereka menyebutnya Work From Home.


Para pelajar melaksanakan kegiatan sekolah secara online, mall yang biasa ramai kini sepi tak berpenghuni.


Subhanallah, sungguh Nisa merasa takjub dengan kebesaran Allah, seolah-olah DIA sedang menegur manusia melalui pandemi ini.


Wabah yang disebabkan oleh sebuah virus hingga membuat banyak perubahan besar di seluruh dunia.


Korban semakin banyak berjatuhan, virus sudah menyebar ke hampir seluruh negara di dunia membuat perekonomian menjadi terpuruk.


Tak terkecuali perusahaan tempat Rizki bekerja, mereka memberhentikan banyak karyawan karena perusahaan tidak beroperasi sehingga membuat mereka kesulitan membayar gaji karyawan.


Semakin lama keadaan semakin genting, Rizki ikut merasakan dampak buruk dari pandemi ini, dia terpaksa di berhentikan oleh perusahaan, tidak hanya Rizki, beberapa timnya juga bernasib sama.


Surat pemberhentian sudah ditanda tangani, pihak perusahaan berjanji akan membayar kompensasi dan memberikan pesangon secara penuh paling lambat dua minggu kedepan.


Rizki menarik nafas panjang, merasa tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Namun percuma saja dia protes, segala yang telah ditetapkan oleh atasannya tidak bisa di ganggu gugat.


Suami Sheila yang merupakan manager di perusahaan tersebut bahkan sudah mengupayakan agar Rizki tidak diberhentikan, tapi kata mereka keputusan sudah final.


Mereka hanya akan mempekerjakan orang-orang yang memiliki posisi penting saja agar bisa memotong biaya produksi dan meminimalisir kerugian.


Meski kecewa, dia meyakini ini adalah takdir yang harus dilewati.


Rizki pulang dengan wajah lesu, Nisa yang menyadari ekspresi tidak biasa itu mencoba menghiburnya, dia tidak bertanya apa pun.


Jika suaminya sedang terlihat sedih, biasanya Nisa menyiapkan kopi kesukaan Rizki, setelah itu memasak makanan favoritnya, tidak lupa Nisa juga memijit badan suaminya, hingga menyenangkannya di ranjang.


Ini adalah cara Nisa untuk menghibur suaminya, setelah suasana hati Rizki membaik, tanpa ditanya oleh Nisa, Rizki akan menceritakan semuanya.


Pun dengan apa yang terjadi hari ini, Rizki mengajak Nisa untuk mengobrol. Nisa sudah menyiapkan dirinya jika saja terjadi sesuatu yang buruk.


Awalnya, Nisa mengira suaminya itu terinfeksi virus Covid-19, tapi ternyata dugaannya salah.


Setelah Rizki menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat, Nisa mengucap hamdalah.


“Alhamdulillah..” Ucap Nisa sumringah.


“Loh, kok alhamdulillah?” Rizki heran.


“Jadi maksudnya kamu gembira Mas di PHK?” Rizki masih terheran-heran melihat ekspresi Nisa yang santai.


“Bukan begitu, Nisa lebih takut kehilangan Mas daripada kehilangan pekerjaan Mas. Uang bisa dicari, rezeki bukan berasal dari perusahaan itu, rezeki berasal dari Allah. Rezeki kita sudah ada jatahnya, semua akan tercukupi hingga waktu kita di dunia habis, Allah sudah jamin itu. Saat satu pintu rezeki tertutup, Allah akan buka pintu yang lain, itulah kenapa Nisa nggak merasa khawatir Mas.”


Nisa tersenyum, sama sekali tidak ada gurat ketakutan dalam wajahnya. Dia memegang tangan suaminya, membelai dan mengecup tangan itu dengan mesra, Rizki merasa tenang mendengar ucapan istrinya.


Betapa beruntungnya dia, saat hati gundah istrinyalah yang mampu menenangkan.


Inilah alasan mengapa Rasulullah menganjurkan untuk menikahi wanita sholehah, karena dalam keadaan apa pun wanita sholehah akan selalu menyenangkan suaminya.


Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, "Wanita dinikahi karena empat perkara ; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya ; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari Muslim).


Nabi tidak melarang untuk menikahi wanita yang cantik, Nabi juga tidak melarang untuk menikahi wanita yang kaya, tapi jika ingin beruntung Nabi menganjurkan memilih wanita yang baik agamanya.


Rizki beberapa kali mengucap syukur karena telah memilih Nisa yang baik agamanya daripada Sheila, sehingga membuatnya merasa sangat beruntung.


“Mas janji akan berusaha membuka pintu rezeki yang lebih lebar untuk membahagiakanmu.” Ucap Rizki menatap lekat wajah istrinya.


“Jangan hanya mengejar lebarnya, tapi berkahnya juga ya, Mas.” Nisa mengingatkan.


“Iya sayang.”


Otak Rizki berputar memikirkan apa yang harus dia kerjakan, haruskah jualan? Atau mencari pekerjaan lain?


Ah mustahil! Saat pandemi seperti ini mencari kerja seperti mencari batu berlian yang tertanam di dasar tanah.


Bukan mencari, pihak perusahaan justru banyak yang memberhentikan karyawannya secara sepihak.


Rizki kembali berpikir, dia tidak mungkin diam saja dalam situasi ini, meski tabungannya cukup banyak, tapi jika digunakan dalam jangka waktu lama tanpa berusaha pasti uang itu akan habis.


Tiba-tiba dia kepikiran untuk mencoba memulai usaha yang selama ini di impikan olehnya. Tapi, tabungannya tidak cukup, dan kekurangannya banyak.


Apakah harus minjam ke bapak? Ah, tidak boleh begitu, dirinya sudah berjanji tidak akan memakai uang orangtua untuk mewujudkan mimpinya.

__ADS_1


Nisa menyodorkan sebuah buku rekening lengkap dengan kartu ATM-nya. Rizki merasa bingung dan bertanya untuk apa dia memberikan buku tersebut.


“InsyaaAllah tabungannya cukup untuk menambah kekurangan modal.”


“Mas tidak bisa menerimanya, itu uang kamu.” Rizki mengembalikan buku rekening itu kepada Annisa.


“Pakai saja dulu, anggap Nisa adalah investor, jika sudah kembali modal, Mas bisa bayar.” Nisa sedikit memaksa.


Rizki masih merasa tidak enak, itu adalah uang yang Nisa kumpulkan dari hasil jualan online-nya, bagaimana mungkin Rizki bisa seenaknya menggunakan uang itu untuk keinginannya.


“Mas nggak bisa, itu uang hasil keringat kamu sampai bela-belain sering begadang buat update stok jualan.”


“Mas,” Nisa berbicara lebih serius sambil memegang pipi suaminya.


“Nisa nggak ngasih uang ini secara cuma-cuma, anggap saja Nisa ikut tanam modal. Nanti Mas bisa bagi hasil dengan Nisa dari keuntungan bisnisnya.” Nisa berusaha meyakinkan suaminya.


“Daripada uang ini hanya menjadi penghuni rekening yang perbulannya dipotong biaya admin dan pajak. Kalo Nisa pakai buat menanam modal di bisnis Mas, uang itu akan kembali bahkan Nisa bisa mempunyai keuntungan dari bagi hasil nanti.”


“Baiklah kalo sistemnya seperti itu Mas setuju.”


Nisa sumringah akhirnya suaminya luluh. Rizki merasa senang menemukan titik terang dari mimpinya selama ini, meskipun dia harus menguras tabungan milik Nisa dan juga miliknya.


Ini bentuk ikhtiar, Allah tidak akan menyianyiakan ikhtiar dari hamba-Nya yang bersungguh-sungguh. Rizki yakin bisa menjalani usahanya dengan baik.


Rencananya Rizki akan pulang dan menetap di kampung untuk memulai bisnisnya. Dia akan mencari sebuah tempat yang dirasa cocok dan strategis.


Tentu dia akan membicarakannya terlebih dahulu dengan Annisa dan keluarga, tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan yang besar, apalagi usahanya ini membutuhkan modal yang sangat besar.


Tapi, bukankah untuk memancing ikan yang besar, kita perlu mengeluarkan umpan yang besar pula? Begitu pun dengan usaha.


Akan ada banyak rintangan, Rizki paham betul soal itu, maka dari itu dia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi segala resiko yang terjadi.


"Nisa ikhlas kan meminjamkan uang ini?" Tanya Rizki seolah belum yakin.


"Sangat, sangat, sangat ikhlas Mas."


"Baik, terimakasih banyak sayang."


"Iya Mas. Jadi kapan Mas akan mulai mencari tempatnya? Apakah akan mencari di sekitar sini?"


"Nggak sayang, Mas berencana untuk pulang kampung dan memulai usaha di sana. Bagaimana menurutmu?"


"Ini serius Mas?" Tanya Nisa tidak percaya. Hal yang selama ini diinginkannya ternyata terjadi juga. Nisa bisa terus dekat dengan Ummi dan keluarga mertua yang dia sayangi.


"Iya sayang, menurutmu gimana?"


"Nisa setuju, malah seneng banget dengernya." Jawab Nisa dengan wajah berseri-seri.


"Terus nanti kuliah kamu bagaimana?"


"Bisa lanjut di Cirebon kok, di kampung halaman kita Universitasnya nggak kalah bagus dengan di sini."


"Tapi kampus sekarang kan kampus favoritmu"


"Yang penting ilmunya, Mas bukan kampusnya. Hehe"


"Baiklah sayang, Nanti Mas coba bicarakan dulu dengan Bapak dan Ibu, juga dengan Ummi. Mas mau minta izin Ummi dulu karena pakai uang kamu untuk tambahan modal."


"Ummi pasti setuju kok Mas."


"Iya sayang, tapi Mas pengen denger pendapat mereka dulu. Mas nggak mau gegabah mengambil keputusan. Modal yang dikeluarkan tidak sedikit, Mas harus belajar dari Ummi yang sudah lama menggeluti dunia bisnis. Mas juga pengen dengar pendapat Bapak yang sudah lama menjadi wirausaha." Timpal Rizki


"Baiklah Mas kalau seperti itu Nisa setuju. Kapan Mas akan menghubungi mereka?"


"Secepatnya, setelah Mas sudah mendapatkan jawaban dari istikharah. Selain minta petunjuk dari orang tua, kita juga harus terlebih dahulu meminta petunjuk kepada Allah."


"Iya Mas, Nisa setuju. Semoga ini langkah awal yang baik untuk kehidupan kita."


"Iya sayang, Aamiin."


Rizki lalu menghitung keseluruhan tabungan yang dimiliki olehnya dan Annisa. Dia juga menghitung modal yang diperlukan secara rinci, dari mulai biaya sewa tempat dan lain sebagainya.


Menjadi wirausaha di bidang permesinan sudah menjadi cita-citanya sejak awal, tapi meski begitu, Rizki tidak bisa sembarangan, dia harus memperhitungkan dengan detail setiap pengeluaran yang dibutuhkan untuk meminimalisir pengeluaran yang overload.

__ADS_1


Jika bisa, dia ingin menggunakan uang Nisa sesedikit mungkin, akan lebih membanggakan baginya memulai dengan modal hasil sendiri, tapi apa mau di kata? Keadaan seolah memaksa dirinya untuk nekat memulai usaha. Semoga saja dari musibah ini, ditambah tekadnya yang kuat akan membawa Rizki ke sebuah jalan usaha tetap yang bisa merubah nasibnya.


Bersambung...


__ADS_2