Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 28 (Darah Langka)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 28 (Darah Langka)


Pagi ini Rizki dan Annisa hendak pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi psikiater, trauma yang dialami Annisa tempo hari membuat jiwanya tidak tenang.


Nisa sering mimpi buruk tentang kejadian itu, dia juga menjadi ketakutan saat berada di keramaian, hal ini membuat Rizki khawatir terhadap psikisnya Nisa,hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi berkonsultasi.


Setibanya di rumah sakit, terlihat antrian yang panjang meskipun hari masih pagi.


Mereka segera mendaftar untuk menuju poli yang di tuju. Beruntung di poli tersebut, Nisa mendapat antrian nomor tiga.


Saat menunggu antrian, Rizki melihat suami Sheila yang sedang serius berbicara dengan staff bagian administrasi.


“Pak Alex,” Rizki menyapa


“Maaf, Pak, ada apa? Sepertinya sedang dalam kondisi urgent?”


Melihat kedatangan Rizki, Alex terlihat tidak suka, dia masih ingat saat dirinya memukul Rizki di cafe karena Rizki dan Sheila saling bertemu di belakangnya, membuat Alex murka.


“Kamu membuntuti Sheila sampai ke sini?” Tanya Alex.


“Bukan, Pak. Saya sedang mengantar istri.” Rizki menunjuk ke arah Annisa.


“Apa Sheila sakit, Pak?” Tanya Rizki sedikit ragu.


“Dia keguguran, dan mengalami pendarahan hebat, sehingga harus di transfusi darah.”


“Innalillahi wainna ilaihi raajiu’n.. Saya turut berduka, Pak. Semoga Sheila baik-baik aja.”


Alex mengangguk tanpa mengucapkan apa pun lagi.


Seorang staff rumah sakit mendekati Alex dan memberi tahu bahwa stok darah yang diminta di PMI sedang kosong.


Annisa yang sedari tadi menyimak pembicaraan Rizki dengan Alex ikut bergabung.


Alex terlihat kalut, kemana lagi dia harus mencari stok darah untuk istrinya? Sedangkan, keadaan Sheila benar-benar sedang kritis.


“Maaf, Pak, kalo boleh tahu golongan darahnya apa?” Tanya Annisa.


“Golongan darahnya Rh null, jenis golongan darah ini memang sangat langka, di dunia baru beberapa orang saja yang dilaporkan memiliki golongan darah ini. Sepertinya Sheila mewarisi dari almarhum ayahnya. Golongan darah ini hanya bisa menerima transfusi dari jenis yang sama. Saya mencoba mencari ke sana-sini tapi belum juga menemukan orang yang memiliki golongan darah sama.”


“MasyaAllah, Pak, saya memiliki golongan darah yang sama dengan Mbak Sheila.”


Alex langsung menoleh ke arah Nisa, dia seperti menemukan air di tengah gurun pasir.


“Apa kamu serius?”


“Iya, Pak.”


“Apa kamu bersedia berbagi darahmu untuk Sheila? Saya mohon, berapapun akan saya bayar.”


Alex berlutut dan menelungkupkan tangannya sebagai bentuk permohonan.

__ADS_1


“Tapi kamu sendiri sedang tidak sehat, Sayang.” Rizki merasa keberatan karena kondisi Annisa pun sedang tidak sehat.


“Kita tanya dokter, ya. Kalo memungkinkan untuk mendonor, tolong jangan melarang Nisa.”


Rizki menatap istrinya, dia semakin mengagumi Nisa dengan segala kelebihannya.


Berkali-kali Rizki menyakiti hati Annisa karena Sheila, namun dia sama sekali tidak menaruh dendam kepadanya.


Bahkan kini, dia dengan suka rela memberikan darahnya kepada Sheila.


Mereka bertiga berlalu menuju ruangan untuk pengambilan darah.


Dokter memberitahu bahwa kondisi Nisa cukup sehat untuk menjadi pendonor.


Mereka lega, akhirnya proses pengambilan darah pun dilakukan.


“Terimakasih banyak, Mbak. Saya janji akan bayar berapa pun yang Anda minta,” Ucap Alex saat melihat Nisa sudah selesai melakukan pengambilan beberapa labu darah.


“Saya mendonorkan darah, Pak. Bukan menjualnya.”


“Anggap saja sebagai bentuk terimakasih saya.”


“Saya tidak mau menerima bentuk terimakasih dalam bentuk uang. Jika ada waktu, traktir kami makan bersama sebagai pengganti rasa terimakasihnya.”


Rizki kaget mendengar ucapan Annisa, dia sungguh tidak ingin bertemu lagi dengan Sheila. Dia takut itu akan menyakiti hati Nisa.


“Baik, setelah Sheila pulih, saya akan mengabari kalian untuk makan bersama.”


“Sayang, kenapa kamu malah minta diundang makan bareng mereka?” Rizki yang sedari tadi merasa bingung, akhirnya bertanya kepada Annisa.


“Lho, emangnya kenapa? Mas takut jatuh cinta lagi setelah bertemu dengan Sheila?” Imbuh Nisa menggoda.


“Husst, ah! Di hati Mas sekarang cuma ada kamu. Jangan suudzon buuuu, dosaaa.” Rizki menggoda balik Nisa dengan mencubit hidungnya.


Nisa tersenyum, sebenarnya tanpa Rizki memberitahu pun Nisa sudah tahu. Dia berkata begitu hanya untuk menggoda Rizki dan melihat ekspresinya yang lucu karena takut Nisa cemburu.


Kini, tiba giliran Annisa masuk untuk diperiksa. Di dalam, mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk berkonsultasi dengan psikiater. Pantas saja, perharinya pasien yang datang ke poli psikiater dibatasi.


***


“Mas..”


“Iya, Sayang.”


Rizki dan Annisa sedang berada di balkon kamar menikmari suasana malam yang sunyi dan gelap.


Bulan dan bintang seolah malu-malu untuk menampakkan diri.


Rizki, berada di kursi seberang yang terhalang meja dari posisi duduk Annisa. Mereka, menyeruput kehangatan kopi di tengah dinginnya suasana malam.


“Mas, tahu nggak?...”

__ADS_1


“Enggak..”


“Iiihhh, dengerin dulu” Rengek Nisa.


“Kan kamu nanya-nya ‘tahu atau nggak?’, kan Mas nggak tahu.” Jawab Rizki bercanda.


“Makanya dengerin dulu sampai selesai, kan tadi belum selesai pertanyaannya.” Nisa semakin merengek dengan bibir monyong kesal.


“Yaudah, maaf. Coba mau tanya apa?”


“Mas tahu nggak..? Kalo Nisa itu sayaaaaaaang dan cintaaaaaaa banget sama Mas.” Ucap Nisa dengan memberikan jari love kepada Rizki.


“Sama, Mas juga cintaaaaaa dan sayaaaaaang banget sama Nisa.” Rizki membalas dengan menirukan gaya bicara Nisa dan memberikan jari bentuk love kepadanya.


Melihat kelakuan suaminya, Nisa tersenyum gembira namun sedikit geli.


“Nisa kadang mikir nanti kalo kita punya anak, Nisa pasti bakal cemburu ke anak kita karena nanti kasih sayang dan perhatian Mas bakal lebih besar ke anak kita.” Nisa menyangga dagu dengan tangannya di meja sambil menatap Rizki.


“Sini sayang, sini mendekat.” Rizki melambaikan tangan menyuruh Nisa mendekat ke arahnya.


Nisa tersipu, dia mencondongkan badannya untuk mendekat ke arah Rizki.


Annisa lalu memejamkan mata, dan memonyongkan sedikit bibirnya, seolah sudah siap menunggu kecupan Rizki.


Rizki tersenyum dan menyentil kening Nisa, “Aawwwh... Sakiiiittttt, Mas!” Nisa merengek lagi sambil mengelus keningnya yang disentil tadi.


“Pikiran macam itu. Lagian, masa anak kecil mau punya anak.” Rizki tertawa melihat tingkah Nisa.


Nisa mendelik, dia merajuk kepada suaminya, persis seperti seorang anak yang merajuk kepada ayahnya.


Rizki mendekat, dia duduk bersimpuh di hadapan Nisa sambil memegang tangannya.


“Dengerin Mas, rasa sayang itu berbeda-beda versinya, tidak bisa di sama ratakan. Mas sayang Nisa, sayaaaang banget, Mas juga sayang Ibu, Bapak, Syauqina, dengan versi dan porsi yang berbeda. Begitu pun dengan kehadiran anak kita nanti, Mas pasti sangat menyayanginya, namun dalam versi dan porsi yang berbeda dengan rasa cinta dan rasa sayang Mas ke Nisa.” Rizki menjelaskan dengan penuh kelembutan, mencoba menghalau rasa khawatir Nisa. Mendengar itu, Nisa tersenyum dan mengangguk.


“Kalo gitu, ayo kita bikin anak perempuan yang cantik, Nisa pengen punya anak perempuan.”


“Semoga secepatnya Allah titipkan kita anak seperti yang Nisa harapkan, ya.”


“Aamiin, tapi berdoa juga harus diiringi dengan ikhtiar kan, Mas?”


Rizki mengangguk, “Kalo gitu, ayo kita ikhtiar dulu bikin anak.” Tambah Nisa.


“Sekarang?” Rizki terlihat kaget.


“Iya, sekarang! Ayo...” Nisa merengek lagi.


Rizki tersenyum geli, dan terlihat salah tingkah, dia menggendong Annisa ke dalam dan membaringkannya di ranjang.


Malam ini, lagi-lagi mereka hanyut dalam kenikmatan memadu cinta dengan diawali doa dan harapan agar segera dititipkan janin di rahim Annisa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2