Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 8 (Pemulihan)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 8 (Pemulihan)


Sudah sepuluh hari Rizki terbaring di rumah sakit, namun dia masih belum sadar sejak di operasi tempo hari.


Dokter menjelaskan bahwa Rizki mengalami koma. Seharusnya, hari ini adalah pernikahan Rizki dan Annisa, namun rupanya takdir berkata lain.


Akibat kecelakaan tersebut, Rizki justru malah mengalami koma dan pernikahan mereka harus tertunda.


Bapak sudah berbicara dengan Annisa, bahwa jika ada pria lain yang mengkhitbahnya, dia boleh menerima. Karena, dokter pun tidak bisa memastikan kapan Rizki akan bangun dari komanya.


Namun, Annisa memutuskan untuk menunggu Rizki apapun yang akan terjadi padanya.


Mereka dengan setia menemani Rizki sambil tidak berhenti memanjatkan doa agar Rizki segera sadar dan sehat kembali.


Sheila masih sering menengok, ditemani Ajis dan teman-teman Rizki yang lainnya.


“Seharusnya hari ini pernikahan kalian kan?” Tanya Sheila kepada Annisa ketika mereka hanya berdua di ruang perawatan.


“Iya. Qodarullah, mungkin bukan waktunya, Mbak” Jawab Annisa sambil tersenyum dan menatap Sheila.


“Kalau bukan jodohnya gimana? Keadaan Rizki seperti ini. Dokter sendiri tidak bisa memastikan kapan dia akan bangun.”


“Tidak masalah Mbak. Terlepas mas Rizki jodoh saya atau bukan, setidaknya saya tidak meninggalkan dia dalam keadaan sedang down.” Masih dengan senyum manisnya, Annisa menjawab setiap pertanyaan dari Sheila.


“Mbak, apakah saya boleh bertanya sesuatu?” Sambungnya.


Sheila yang masih tertegun dengan perkataan Nisa lalu mengangguk mengiyakan.


“Antara Mbak dan mas Rizki, apakah ada hubungan lebih dari teman? Saya mengamati dari awal masuk rumah sakit, Mbak yang paling terpukul dengan apa yang menimpa mas Rizki dari pada teman-teman yang lainnya. Maaf kalau pertanyaan saya berlebihan dan terkesan kepo. Tapi, saya berhak tahu kan, Mbak?” Annisa bertanya dengan santun.


Sheila yang sedari awal merasa cemburu kepada Annisa, seolah mendapatkan moment untuk membuat Nisa berubah pikiran menikahi Rizki.


Dia menarik nafas panjang, dan menceritakan semuanya kepada Annisa. Sesekali mereka melirik Rizki yang masih terkapar tidak berdaya.


Sheila juga mengatakan kalau dia sangat menyesal memutuskan Rizki hanya untuk menikah dengan laki-laki kaya.


Annisa mendengarkan setiap cerita dari mulut Sheila dengan seksama. Tidak ada rasa marah, cemburu atau apa pun dalam hatinya, karena dia tahu, saat ini Rizki belum menjadi siapa-siapa baginya.


Mereka hanya baru terikat dengan janji khitbah, itupun, bapak mempersilakan Annisa jika suatu saat dia mau mundur dari ikatan ini.


“Maaf kalau semua ceritaku membuat kamu cemburu, tapi itulah kenyataannya.” Ucap Sheila menutup pembicaraan.

__ADS_1


Annisa masih memperhatikan Sheila. Dia tersenyum lalu mendekat ke arahnya.


“Tidak, Mbak. Saya sama sekali tidak cemburu, karena mas Rizki belum menjadi hak saya sepenuhnya.” Ucap Nisa dengan lembut.


“Kamu beruntung, Nis. Mas Rizki bilang, dia sangat mencintaimu, karena berkat kamu, dia bisa melupakanku. Aku sempat mikir kalau dia berbohong, supaya aku berenti berharap kepadanya. Tapi ternyata dia benar-benar sudah punya calon istri, dan sekarang calon istrinya tepat berada di hadapanku. Aku sangat menyesal menyia-nyiakan orang sebaik dia.”


Annisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan Sheila kepadanya. Kini, dia tahu kebenarannya.


Alasan mengapa Rizki ingin segera menikah secepatnya, alasan kenapa Rizki meminta dicarikan istri kepada orangtuanya.


Meskipun ada sesak di dada Annisa mendengar bahwa dia hanya dijadikan pelampiasan, tapi dia menyembunyikan semua itu dibalik senyumannya.


“Menurut saya, mas Rizki memilih jalan yang tepat. Karena kalau tidak secepatnya memberi tahu Mbak bahwa kami akan menikah, Mbak pasti akan berharap lebih jauh lagi dan Mbak akan berdosa jika benar-benar meninggalkan suami dengan alasan yang tidak syar’i. Seorang wanita tidak boleh meminta cerai dari suaminya apabila haknya masih terpenuhi. Yang saya dengar dari cerita Mbak, suami Mbak masih menjalani segala kewajibannya dengan baik. Dilihat dari segi mana pun, tidak boleh meninggalkan suami hanya karena alasan belum move on dari masa lalu. Mas Rizki, tidak ingin ikut berdosa karena menjadi alasan Mbak untuk bercerai. Itulah sebabnya dia segera memberi tahu agar Mbak berhenti melakukan hal-hal seperti ini, saya khawatir suami Mbak tahu dan akan menyalahkan mas Rizki atas perbuatan yang Mbak lakukan.”


“Kamu menilai hanya sebatas cerita aja, Nis. Kamu gak tau apa yang aku rasakan.”


Dia lalu menghampiri Rizki dan duduk di sebelah hospital bed sambil menatap Rizki lekat.


Dia melihat, tangan Rizki sedikit bergerak. Sheila mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.


Tangan Rizki bergerak, perlahan matanya terbuka. Dengan masih mengumpulkan tenaga, Rizki melihat ke sekelilingnya.


“Mas Rizki. Akhirnya kamu sadar, Mas. Ini aku, Sheila. Aku disini, Mas. Aku lega sekarang kamu udah sadar.” Ucap Sheila penuh kegembiraan.


Dia lalu menelepon ibu dan bapak yang sedang berada di mushola. Nisa juga memberi tahu ummi Yuna di Cirebon yang masih mengurusi pekerjaannya.


Tidak lupa, Annisa juga mengabari Syauqina yang sudah kembali ke pondok.


Semua merasakan hal yang sama, bahagia dan tidak berhenti mengucap syukur kepada-NYA.


Namun, saat Rizki belum sadar sepenuhnya, Sheila sudah harus pulang karena sebentar lagi suaminya kembali dari tempat kerja. Dia lalu pamit kepada Rizki dan Annisa.


Tidak lama, bapak dan ibu datang ditemani dokter lalu segera memeriksa Rizki. Dokter mengatakan kalau kondisi Rizki sudah stabil, tinggal menunggu pemulihan.


Semua yang berada di sana mengucap hamdalah. Ibu bahkan tidak berhenti memeluk dan mencium Rizki, bersyukur bahwa anaknya mendapat keajaiban sehingga bisa sadar kembali dari koma.


“Alhamdulillah, Nisa senang mas Rizki sudah sadar. Sekarang Nisa bisa kembali ke kampung dengan tenang.”


Nisa berkemas membereskan beberapa pakaian, barang, dan buku yang dibawanya.


“Nak, terimakasih kamu tidak meninggalkan anak Ibu dalam kondisi seperti ini. Kamu justru setia menemani Ibu dan Bapak di sini saat menjaga Rizki. Masalah pernikahan kalian, kita tunggu sampai kondiri Rizki benar-benar pulih, ya.”

__ADS_1


“Nggih, Bu. Nisa ikut bagaimana baiknya.”


“Mas, alhamdulillah, Allah memilih Mas menjadi salah satu manusia yang mencicipi mukjizatnya sehingga Mas bisa bangun dari koma. Nisa senang Mas sudah kembali. Sebentar lagi ummi ke sini, Nisa pamit pulang.”


Rizki hanya bisa mengangguk. Dia belum mampu berbicara karena badannya masih terasa lemas.


***


Sudah satu bulan Rizki melakukan pemulihan dengan mengikuti serangkaian terapi.


Kini, dia sudah benar-benar pulih. Rizki bahkan sudah bisa makan dengan baik.


Luka operasi di kepalanya juga sudah membaik. Dokter sudah memperbolehkan Rizki pulang dalam tiga hari kedepan.


Sheila masih sering datang dengan Ajis. Mungkin karena itulah pemulihan Rizki menjadi lebih cepat.


Tidak dipungkiri, Rizki bahagia setiap kali Sheila ada di dekatnya.


Sejenak, dia melupakan kenyataan bahwa Sheila sudah menjadi milik oranglain.


Dia tahu, bahwa kini kehadiran Sheila benar-benar membantunya kembali semangat untuk sembuh.


“Ki, karena sekarang kondisi kamu benar-benar sudah pulih. Aku mau bertanya satu hal, boleh?”


Rizki yang sedang makan di suapi oleh Ajis mengangguk tanda setuju. Bapak dan ibu sedang mengurus administrasi untuk kepulangan Rizki, sehingga di ruangan tersebut, hanya ada mereka bertiga.


“Kamu benar-benar akan menikah? Apa kamu  benar-benar mencintai perempuan itu, Ki?”


Rizki menoleh ke arah Sheila.


“Seperti yang aku bilang waktu itu, aku sangat mencintai calon istriku. Dan harusnya kami menikah sebulan yang lalu, tapi karena kecelakaan ini, semua itu harus tertunda. Tolong, jangan berharap apa pun lagi dariku, La. Saat kamu memutuskan untuk menikah dengannya, hubungan kita udah selesai. Jadi jangan pernah berpikir untuk bercerai hanya untuk mengulang masa lalu. Bagiku, itu gak mungkin, La.” Tegas Rizki padanya.


“Baiklah, Ki. Aku akan berhenti saat menyaksikan akad nikahmu nanti. Saat aku yakin bahwa aku tidak mungkin lagi kembali denganmu.” Tegas Sheila dengan menitikan air mata.


Ajis yang sedari tadi diam saja mendengar pembicaraan mereka, menoleh tajam ke arah Sheila, memberi isyarat kepadanya untuk diam dan tidak menekan Rizki dengan hubungan masa lalunya.


***


Hari ini Rizki sudah di izinan pulang. Kondisinya semakin membaik dan pendarahan di otaknya sudah sembuh, namun dokter menyarankan kepada Rizki untuk rutin memeriksakan kondisinya, terlebih jika Rizki merasakan ada yang tidak beres dengan kepalanya.


Mereka pergi dari rumah sakit dengan gembira. Terlebih Rizki yang merasa beruntung karena diberikan kesempatan kedua untuk hidup, setelah kecelakaan parah yang menimpanya.

__ADS_1


 Bersambung...


__ADS_2