Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku
Episode 13 (Sisi Lain Annisa)


__ADS_3

#Mengejar Cinta Suamiku part 13 (Sisi Lain Annisa)


Waktu cuti menikah yang diberikan perusahaan kepadaku masih tersisa satu minggu lagi.


Annisa sedang mengurusi orderannya. Sedangkan aku, hanya duduk di halaman depan.


Sebenarnya sudah kutawarkan bantuan, sekedar packing dan tempel resi saja tidak sulit dan tidak memerlukan keahlian khusus, yang penting teliti.


Tapi Nisa menolak, dia terus menyuruhku untuk istirahat. Padahal sejak pernikahan kami, kerjaanku hanya tidur dan sesekali menonton tv.


Sebenarnya tidak nyaman, karena aku merupakan orang yang tidak bisa diam. Hari ini kuputuskan membantu Ummi di toko.


Aku pamit pada Annisa. Seperti biasa, dia melarang. Tapi aku memaksa, karena tidak ada kegiatan, membuatku menjadi jenuh. Akhirnya dia mengizinkan. Aku berangkat menyusul Ummi yang sudah lebih dulu pergi sejak tadi pagi.


Setiba di pasar, terlihat pegawai Ummi sedang sibuk melayani pembeli yang cukup padat.


“Kebetulan kamu datang, Ki. Kami sedang kewalahan melayani pembeli. Tapi, apa nggak merepotkan?“


“Iki malah jenuh, Ummi. Makanya Iki ke sini biar bisa bantu-bantu.”


“Alhamdulillah kalau gitu, tolong kamu tanya pembeli sebelah sana, apa yang dibutuhkan. Dari tadi belum ada yang melayani karena yang lain sibuk.”


“Siap, Ummi.”


Toko grosir Ummi ini lengkap dengan harga yang cukup murah, makanya toko ini tidak pernah sepi. Selain itu, saat hari raya, Ummi loyal memberi THR kepada pelanggannya.


“Assalamualaikum, Ummi. Nisa ada nggak?”


Seorang perempuan sebaya dengan Annisa menyapa. Kebetulan toko sedang tutup karena sudah masuk waktu shalat Dzuhur.


Semua karyawan Ummi, terutama yang laki-laki diwajibkan untuk berjamaah di Masjid. Sepertinya, semua pelanggan sudah paham, karena setiap masuk waktu shalat, pelanggan menjadi sepi.


“Waalaikumsalam, Eh, Wafa. Nisa di rumah, dia tidak ikut ke sini karena lagi banyak orderan. Ada apa memangnya?”


“Kirain ada, soalnya suaminya ada hehe. Wafa boleh minta tolong titip ini ke Nisa?”


“Apa ini, sayang?”


“List nama-nama warga kampung sebelah yang layak mendapatkan bantuan bulan ini, Ummi. Nama yang masuk list diantaranya beberapa janda yang kurang mampu, dan anak yatim, juga lansia. Totalnya 35 orang. Keuangan laporan sudah Wafa kirim di email. Titip ini ya, Ummi. Soalnya Wafa ada acara di kampus, nggak bakal sempat ke rumah Nisa.”


“Iya, nanti Ummi sampaikan. Terimakasih, ya Nduk. Hati-hati di jalan.”

__ADS_1


Setelah mengucap salam, perempuan bernama Wafa itu pergi dengan sedikit terburu-buru.


Dari perbincangan Ummi dan Wafa, sepertinya mereka mengadakan acara bakti sosial.


Aku yang baru selesai shalat berjamaah masih berdiri mematung memperhatikan Ummi yang sedang membaca list nama penerima bantuan pada sehelai kertas di tangannya.


“Apa itu, Ummi?” Aku mencoba menanyakan kepada Ummi karena penasaran.


“Oh, ini list nama orang yang layak menerima bantuan, Ki.”


“Ummi dan Nisa adalah donaturnya?”


Ummi menggeleng.


“Nggak sepenuhnya. Jadi, sejak di pondok, saat Nisa duduk di bangku kelas dua SMA, dia membentuk sebuah komunitas, namanya komunitas DURIPERI yaitu  singkatan dari Dua Ribu Perhari. Mereka mengumpulkan uang dua ribuan dari para santri lainnya, mereka juga membuka donasi dari web dan media sosial yang dikelola Annisa. Sejak saat itu, setiap sebulan sekali, Nisa dan teman-temannya sering datang langsung untuk memberikan sedekahnya. Biasanya berupa sembako, kalau masih ada uang lebih dari para donatur, ya diberikan juga dengan uangnya.”


Nyesss...


Selain sholehah dan lemah lembut, kini aku menemukan sisi lain Annisa, yakni dermawan. Satu poin tambahan yang seharusnya bisa menjadi alasan untuk mengagumi Nisa.


Dibalik hidupnya yang sederhana, ternyata banyak jiwa yang merasakan manfaat kebaikannya.


Saat sedang asyik menikmati istirahat sambil mengobrol dengan Ummi, tiba-tiba aku mendapat telepon dari Bapak. Bapak bilang Ibu sakit.


Annisa terlihat sangat khawatir, dalam perjalanan menuju rumahku, Nisa tidak berhenti berdoa untuk kesembuhan Ibu.


“Mas, berhenti dulu di swalayan pas belokan sana, ya.”


 Annisa menunjuk ke arah supermarket yang berada di perempatan lampu merah.


“Mau beli apa memangnya,?”


“Tadi pas telepon, Bapak bilang, Ibu tidak mau makan. Nisa mau belikan buah, supaya ada makanan yang masuk ke perut Ibu.”


Aku mengangguk tandak setuju.


Dia sampai sebegitunya memperhatikan Ibu. Aku yang anaknya saja tidak sempat berpikiran ke situ. MasyaaAllah.


***  


“Assalamualaikum”

__ADS_1


Sapa kami bersamaan ketika mendapati Bapak menyambut di depan pintu.


“Waalaikumsalam, aura pengantin baru nikah itu selalu beda, ya. Membawa aura positif, hehe. Nggih, masuk. Ibu ada di kamar.”


“Demamnya masih tinggi Pak?”


Kataku sambil berjalan menuju kamar Ibu.


“Masih, padahal sudah minum obat dari dokter.”


Annisa segera menghambur mendekati Ibu. Menempelkan tangan di dahi untuk mengecek suhu tubuhnya.


“Subhanallah, panas sekali Bu. Annisa kompresin, ya”


“Ndak perlu merepotkan Nduk. Ibu cuma demam biasa. Sebentar lagi juga sembuh. Bapak memang begitu, selalu bikin orang khawatir, padahal sudah Ibu bilang, jangan beri tahu kalian.”


“Lho, mana boleh begitu, Bu. Itu tandanya Bapak sangat mengkhawatirkan Ibu. Ini Annisa bawakan buah, supaya ada makanan yang masuk ke perut Ibu. Annisa mau ke dapur ambil air buat kompres, ya. Ibu mau makan buah apa? Nanti sekalian Nisa kupasin.”


“Pir saja ya, Nduk. Maaf loh, Ibu jadi merepotkan”


“Annisa tidak merasa direpotkan kok, Bu.”


Dia lalu pergi ke dapur dengan membawa dua biji buah pir. Sebenarnya, Annisa membawa beberapa macam buah. Ada apel merah, pir, jeruk dan pepaya.


Tapi Ibu hanya memilih dua buah pir saja. Tak lama, dia kembali dengan membawa air untuk kompres, dan piring berisi buah yang sudah di potong-potong.


Dengan telaten, dia mengurus Ibu. Mengompres, memijat, membalurkan obat gosok ke setiap badan Ibu. Gerakannya sangat mahir, sepertinya dia sudah terbiasa melakukan ini kepada Ummi. Mereka saling mengobrol, sesekali Annisa menghibur Ibu.


Mereka tidak kelihatan seperti menantu dan mertua, kedekatan Ibu dan Annisa, mengalahkan kedekatanku dengan Ibu.


Aku senang melihat mereka, terlebih melihat banyak sisi lain dari kepribadian Annisa, rasanya menjadi sedikit insecure. Bagaimana Allah bisa menghadirkan perempuan sebaik ini untuk diriku yang memiliki banyak kekurangan?


Annisa manis, pintar, sholehah, tapi kenapa begitu sulit bagiku untuk mencintainya? Aku harus bagaimana? Sudah seminggu menjadi suaminya, tapi belum bisa menunaikan kewajibanku.


Sebagai seorang lelaki, berada satu kamar dan tidur satu ranjang dengan perempuan sudah pasti menumbuhkan syahwat.


Apalagi, ini pertama kalinya bagiku dan juga bagi Annisa. Tapi, aku ingin menempatkan syahwat kepadanya dengan cinta, bukan hanya karena nafsu semata. Agar Annisa mendapatkan haknya, lahir dan juga batin.


Itulah kenapa aku selalu mengindarinya, terlebih, Nisa sering menggodaku dengan pakaian-pakaian minim yang dia kenakan saat hendak tidur.


Dia tidak pernah meminta, apalagi menyuruhku melakukannya dengan paksa. Dia paham bahwa aku belum siap menyentuhnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2